Icha sampai di depan rumahnya pada pukul 20 lewat seperempat. Vic ikut turun dan membantu mengeluarkan pouch sedang berisi baju ganti Icha yang tidak terpakai dari dalam bagasi mobilnya.
"Enggak apa-apa nih kalo aku gak nganter sampai rumah?" tanya Vic dengan ekspresi kurang enak.
"Enggak apa-apa sih, kenapa emang? Harus ya? Kayak orang pacaran aja..." jawab Icha asal.
"Idih... amit-amit jadi pacar kamu, ya udah sih... aku pulang ya?" celetuk Vic, berpamitan pada Icha lalu masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Hooh! Hati-hati di jalan ye, aku masuk dulu... bye!" Icha berpamitan pada Vic gadis itu melangkah masuk ke area halaman rumahnya.
Icha berbalik lagi untuk melambai ke arah Vic yang ternyata belum beranjak.
"Bye, Cha!" Vic membalas lambaian Icha.
***
"Assalamualaikum... Icha pulang!" seru Icha ketika membuka gagang pintu.
"Ehem... ya udah sih yang habis pulang pacaran," celetuk Rere ketika melihat batang hidung Icha yang kemudian diikuti oleh ledekan Ririn.
"Cieee... cieee..." sambung Ririn.
"Aaaapasih kalian... siapa juga yang mau pacaran sama si songong itu, oh iya... udah lama kalian nungguin?" jawab Icha kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
"Huh... ga asik kamu Cha!" kesal Ririn karena Icha mengubah topiknya.
"Baru setengah jam kok, belum lama lah, by the way... songong apa songong? Songong tapi diajak jalan maaaauuuu...." Ririn menjawab pertanyaan Icha masih disertai dengan ledekan.
"Lah iya... mau juga diajak pergi WKWK," tukas Rere.
"Hmmm udeh ye udeh..." kesal Icha.
"Oh iya... terus gimana soal masalah yang kemarin?" tanya Rere dengan raut wajah serius.
Icha menghembuskan napas, berusaha menenangkan dirinya mulai gundah karena pertanyaan Rere barusan. Padahal ia baru saja pulang dari kegiatan healingnya bersama Vic tapi malah disuguhkan lagi oleh permasalahan yang seperti tak ada ujungnya ini.
"Enggak tau lah... jadi bingung juga. Pokoknya aku ikutin apa kata papa saja sih... ribet mikirnya Re..." jawab Icha.
"Terus gimana? Besok kamu ke kampus?" tanya Ririn dengan raut wajah khawatir.
Icha merengut, hilang sudah rasa suka citanya. Sejujurnya ia ingin ke kampus, yang ia khawatirkan saat ini adalah bagaimana dengan pandangan teman-teman kampusnya nanti. Beritanya sudah tersebar dengan cepat, dan mungkin hanya tikus dan kucing saja yang tidak tau masalah ini. Hatinya begitu berat untuk memutuskan pergi atau tidaknya ia ke kampus esok hari.
"Mungkin pergi... mungkin juga enggak. Jujur deh aku takut... ngeri membayangkannya tau nggak, Rin." jawab Icha sembari memegangi kepalanya.
"Husss husss ya sudah, mending kita nonton netflix aja, gimana?" Rere mengganti topik kali ini.
Sebenarnya Rere jadi panik sendiri ketika melihat raut muka Icha yang nampak kembali stress, padahal Icha baru saja pulang jalan-jalan. Semua juga gara-gara Rere yang membuka pembicaraan tentang masalah berita skandal itu.
Ririn menatap Rere lalu menggeleng dua kali, mereka berdua menyesal karena sudah membahas ini dengan Icha. Seharusnya mereka mengajak Icha healing dengan menonton bersama saja, dan bukannya membahas masalah.
"Nonton apa ya enaknya?" tanya Ririn.
"Nonton zombie aja... biar seru teriak-teriak," saran Rere.
"Oke... boleh tuh, zombie yang di sekolah itu loh," sambung Icha.
"Sip... meluncur," balas Rere penuh semangat.
Mereka bertiga pun beranjak ke kamar Icha, Rere dan Ririn akan menginap malam ini. Artinya mereka akan bebas begadang sampai subuh, entah untuk menonton atau pun untuk mengobrol hal-hal seru.
Pada akhirnya Icha memberi respon baik, itu artinya Icha sudah tidak lagi memikirkan masalah yang mereka bahas tadi. Memang lebih baik seperti ini, melupakan masalah dan menggantinya dengan sesuatu yang bisa menciptakan mood bagus. Bukannya selesai dengan bahagia, berlarut-larut dengan masalah akan membawakanmu tiket VVIP gratis menuju rumah sakit jiwa.
Biarkahlah masalah itu selesai dengan sendirinya, tugas Icha cukup dengan menjalaninya saja. Takdir tidak akan mencurangi waktu, mereka akan berakhir pada saat yang tepat. Meskipun tidak tau kapan akan berakhir. Begitu bukan?
***
Pada akhirnya Icha memutuskan untuk pergi juga ke kampus. Namun ia tidak sendiri, Rere dan Ririn selalu berada disampingnya. Kedua gadis itu memang sudah mempersiapkan baju ganti untuk dipakai berangkat ke kampus bersama Icha.
Memang benar apa yang sudah dikatakan oleh Icha, tatapan warga kampus tampak mengerikan ketika mereka melihat kehadiran Icha. Icha sendiri cukup merasa ngeri ketika mendapati spanduk bertuliskan "SEGERA VONIS DO ARUNA DAN DANIEL"
"Serem banget warga kampus kita ini..." gumam Icha lalu mengeratkan tali hodienya.
"Tenang aja sih, Ririn pasti siap menonjok siapa saja yang datang membully kamu Cha," tukas Rere yang diikuti dengan anggukan mantap dari Ririn.
"Betul Cha, aku pasti bakal jotos mereka satu persatu," lanjut Ririn.
"Tapi beneran deh, situasi seakarang tuh dimana-mana serem banget, ngeri aku... liat deh mereka pasti lagi ngomongin aku," Icha mulai terbawa suasana yang memicu paranoid dalam dirinya.
"Udah enggak usah dipikirin... ayo kita ambil barang-barang di dalam lokermu," ajak Rere.
Ketiga gadis itu pun pergi ke tempat dimana loker mereka berada, tak jauh dari tempat itu terdapat toilet namun harus melewati tangga untuk sampai kesana.
"Re... Rin... aku pengen pipis dulu deh, kebelet banget dari tadi perasaan," kata Icha pamit pada kedua sohibnya itu.
"Ok, Cha... hati-hati ya, kalo ada apa-apa jangan lupa harus telepon," Rere mengingatkan.
Apalagi situasi saat ini, bisa-bisa saja Icha menjadi korban dari pihak lain yang merasa muak dengan Icha dikarenakan pemberitaan palsu itu.
Selesai dengan hajatnya, Icha pun beranjak meninggalkan toilet itu. Namun entah kenapa sejak tadi perasaannya tidak enak, seperti ada suara langkah kaki yang berada tak jauh dari dirinya, mengikutinya. Suara yang samar-samar namun senada dengan langkah kakinya. Begitu pula saat ia berhenti, langkah kaki yang ia dengar itu pun ikut berhenti.
"Hmmm... kok seperti ada yang ngikutin? a-apa jangan-jangan ada hantu penunggu kampus," gumam Icha. "Ah, nggak mungkin deh, ngaco banget..." lanjutnya.
Icha akan menuruni anak tangga sebelum sebuah suara tertahan mengusik indera penderngarnya. Icha berhenti sejenak, mencoba mendengarkan suara itu dengan lebih saksama namun nihil.
"Loh? Tadi kayaknya ada orang deh," Ujar Icha sembari menengok ke belakang namun tidak ada siapa-siapa disana.
Gadis itu pun menganggap hal itu sebagai angin lalu dan meneruskan langkah kakinya. Ia berpikir itu hanyalah suara kucing atau suara angin atau apalah, yang jelas Icha merasa ia cukup aman untuk saat ini.
***
"Mmmmmhhh... mmmmm," suara seorang gadis dengan hodie berwarna hitam yang tengah berusaha melepaskan diri, ia berontak tanpa ampun, tudung kepalanya lepas memperlihatkan surai berwarna coklatnya. Gadis itu memakai kacamata hitam serta makser berwarna hitam.
"Siapa kamu? Kenapa kamu membututi Icha? Hah?" hardik Daniel ketika ia berhasil mengunci tangan dan kaki gadis itu.
Dengan cepat Daniel menurunkan maskernya diikuti dengan melepas kacamata gadis itu, si gadis pun menyembunyikan wajahnya ke samping namun tangan Daniel sigap menangkap dagu lancip nan rapuh milik gadis itu.
"Siapa kamu? Hah?" tanya Daniel ketika kedua manik mereka bertemu.
Ternyata Daniel tidak mengenali gadis itu, namun rambut coklat bergelombangnya terasa tidak asing. Daniel merasa begitu familiar namun juga ragu-ragu. Ditatapnya lagi mata gadis itu.
"Siapa kamu?" suara Daniel melembut. "Apakah aku mengenalmu?" tanya Daniel kembali.
Gadis itu balik menatap mata Daniel. "Tidak... kita bukan orang yang saling mengenal, dan tolong lepaskan aku!" jawabnya sembari berusaha melepaskan diri dari kuncian Daniel pada pergelangan tangannya.
Daniel memutar bola matanya malas. "Jangan berharap aku melepaskanmu dengan mudah, kamu belum menjelaskan apa maksudmu mengikuti Icha sejak tadi... aku melihat dengan jelas kamu membuntuti Icha, kau mau lihat videonya?"
Ucapan Daniel membuat gadis itu tercengang, ia tak menyangka akan sesial ini, bagaimana bisa ia tertangkap kamera. Namun ia merasa beruntung karena tidak jadi mendorong Icha di tangga tadi.
"A-aku... ingin mencelakainya," ucap gadis itu sembari terkekeh kecil.
Manik Daniel membulat mendengarnya. "Orang jahat bisa sejujur ini juga rupanya? Kalau begitu ayo! Aku antar kamu ke kantor polisi sekarang juga..." ucap Daniel dengan nada bicara yang meninggi.
Daniel bergegas, gadis itu terseret dengan kasar namun ia malah terkekeh seperti psikopat. "Apa kamu benar-benar mau membawaku ke kantor polisi? Kamu tidak punya cukup bukti... hehe."
Langkah Daniel terhenti. "Hei gadis licik! Katakan apa maumu sebenarnya... aku cukup penasaran."
Daniel melepaskan kunciannya pada pergelangan tangan gadis itu. Memberi kesempatan untuk mendengar sesuatu yang sepertinya menarik untuk Daniel ketahui. Bisa jadi ini menjadi jalan untuk menghentikan semua masalah yang terjadi. Kecurigaan Daniel semakin menjadi ketika tanpa sengaja gadis itu mengeluarkan ponselnya, gantungan ponselnya seperti pernah Daniel lihat entah dimana.
Gadis itu tersenyum tipis, senyuman polos namun menyimpan kelicikan layaknya ular betina. "Apa kau benar-benar akan membiarkan Icha yang kamu cintai itu jatuh ke pelukan orang lain?"
Daniel tertegun ketikan mendengar pertanyaan dari mulut gadis itu, ia menatap setengah tak percaya. Dari mana gadis ini bisa mengetahui perihal perasaannya kepada Icha?
“Jangan asal deh… kamu tau apa? Kalau cuma mendengar dari berita online lebih baik kamu pulang dan bermain dengan bonekamu saja, jangan ikut campur dengan urusan orang lain… ngaco!” ledek Daniel.
Daniel bersandar di dinding koridor, ia mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya ke sudut bibirnya. Baru saja Daniel menyalakan rokok itu namun secepat kilat gadis itu merampasnya dari Daniel lantas menghisap rokok itu dengan santainya.
“Bibirmu manis juga, bagaimana kalau kita berkerja sama? Aku bukanlah tipe gadis yang suka bermain boneka… aku suka bermain pria,” si gadis terkekeh lalu menghembuskan asap rokok itu ke wajah Daniel.
Pria muda itu tidak mengelak, ia membiarkan gadis itu melakukan apapun. Daniel hanya sedang mencoba menyelami maksud si gadis, semakin jauh pembicaraan mereka semakin membuat Daniel penasaran. Daniel iyakin ada banyak rahasia dalam diri gadis itu.
“Jadi… apa maumu?” tanya Daniel.
Gadis itu tersenyum lagi. “Kamu dapat Icha… dan aku mendapatkan kembali milikku…Victory.”