#24

1861 Words
"Apakah ini ajakan negosiasi? Kenapa kamu bisa seyakin ini?" tanya Daniel pada gadis bersurai cokelat yang berada di depannya saat ini. "Menurutmu... apa?" gadis itu balik bertanya kepada Daniel. Daniel meringis. "Hiiiss... bagaimana aku bisa serius menanggapi negosiasi dengamu, cara ngomongmu saja bertele-tele." Daniel membenarkan posisi tas di punggungnya, memberi kode bahwa ia tidak tertarik lagi dengan pembicaraan ini dan ingin segera pergi, namun itu hanyalah trik Daniel. Gadis itu meraih ponsel dari tangan Daniel, mengetikkan nomornya di layar ponsel pria muda itu, lalu mengembalikkannya ke dalam saku kemeja Daniel. "Monica Livia, hubungi aku sebelum pukul delapan belas dan kita akan membicarakan hal ini lebih lanjut..." gadis itu melengos setelahnya, meninggalkan Daniel yang mematung dengan rasa penasarannya yang belum tuntas. "Monica Livia..." ucap Daniel lalu kembali membenarkan posisi tubuhnya, ia berbalik pergi setelah punggung gadis itu menghilang di balik koridor. Daniel menuruni anak tangga, dari jarak sepuluh meter ia melihat Icha bersama dengan kedua sahabatnya di area loker, entah sedang membereskan atau mengacak-acak karena memang kegiatan ketiga orang itu terlihat amat heboh. Daniel tersenyum tipis lalu beranjak dari area itu, sebenarnya ia tidak bermaksud datang ke fakultasnya Icha. Ia mampir karena kebetulan melihat gelagat aneh gadis bernama Monica Livia yang tertangkap mata sedang mengikuti Icha sejak masuk ke area kampus, dan terjadilah adegan saling membuntuti. *** Icha meringis ketika melihat petisi sepanjang lima meter terpasang di salah satu sisi pagar kampus. Selebaran petisi itu hampir dipenuhi oleh tanda tangan warga kampus. "Hebat banget... aku jadi famous sekarang... luar biasa!" ucap gadis itu ketika melewati petisi itu. Rere sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. "Cha... kamu bukan cuma famous, kamu jadi artis sekarang... artis jalur skandal!" Ririn terbahak mendengar ocehan Rere kemudian menoyor dahi Icha saking lawaknya. "Aduh! Ya udah sih jangan noyor aku juga... bisa begok nih!" Icha menoyor balik kepala Ririn yang kemudian diakhiri dengan gelak tawa ketiga gadis itu. Disisi lain banyak pasang mata yang menatap dan mendengarkan candaan ketiganya. Ada yang meringis, ada yang menghujat, ada juga yang netral. Bahkan ada beberapa yang masih menyapa Icha seperti tidak terjadi apa-apa. "Eh... eh... kamu tau enggak Cha?" Ririn membuka pembicaraan. "Apa?" tanya Icha. Ririn menunjuk orang-orang yang sempat menyapa Icha tadi. "Kamu lihat kan? Jangan percaya dengan mereka-mereka itu..." Rere berdehem. "Hmmm... mulai lagi dah, menularkan over thinking ke Icha." Ririn mengangkat dua jarinya. "Enggak loh, beneran... ini fakta! Mereka yang menyapa kamu tuh enggak sepenuhnya murni mau nyapa tau nggak." Icha memutar bola matanya malas. "Ya... kalo gitu apa dong?" "Bermuka dua... mereka yang menyapa kamu itu, pasti ada di antara mereka yang tanda tangan di petisi yang kita lewatin tadi itu." ujar Ririn. "Gini deh Rin, mau mereka muka dua kek... mau muka tiga kek, enggak apa-apa! It's okay! Kita hanya harus menjadi orang yang baik, nanti mereka akan sadar dengan sendirinya kalau apa yang mereka pikirkan tentang kita itu sepenuhnya salah... that's all." jawab Icha panjang lebar. Rere manggut-manggut mendengarkan ucapan Icha. "Bener banget, aku setuju sih... good Aruna Teguh!" ledek Rere di akhir kalimatnya. "Ya udahlah... ga asik sih kalian!" Icha merengut. Ririn dan Rere terbahak, mereka berhasil membuat Icha kesal. Namun itu tidak bertahan lama, sedetik kemudian mereka kembali terbahak bersama. *** Pukul tujuh belas tepat, Daniel melihat jam dari layar ponselnya. Hatinya masih ragu untuk menghubungi Monica Livia. Ragu karena ia tidak mau dipermainkan, bagaimana jika Monica Livia hanyalah salah satu fansnya yang mau menjebak dirinya, atau mungkin dia hanyalah gadis gila yang mau cari perhatian. Daniel merasa harus menghubungi gadis itu. Sosok gadis itu terlihat familiar, dan lagi... kalau gadis itu tidak serius dengan ucapannya, untuk apa dia membuntuti Icha sampai mau mendorong Icha saat di tangga siang tadi. Pada akhirnya Daniel mendial nomor ponsel gadis itu. Tuuut, Tuuut, Tuuut... bunyi sambungan telepon yang belum diangkat oleh si gadis. Daniel mematikan sambungan telepon itu, namun ia kembali meneleponnya. "Hallo..." terdengar suara elegan berasal dari seberang. Daniel menghela napas, "Hallo... ini aku Daniel, dimana kita bertemu?" Terdengar kekehan kecil sang gadis di telepon seberang, kekehan penuh kemenangan. "Aku akan kirim alamatnya." jawab gadis itu lalu telepon itu terputus. Tak lama kemudian Daniel menerima lokasi yang dikirimkan oleh Monica lewat aplikasi w******p. Tak menunggu lama, Daniel segera berangkat menuju ke lokasi alamat itu. Cukup mudah bagi Daniel menemukan lokasi Monic. Ternyata ia tinggal di salah satu Penthouse di daerah Jakarta Barat, sekitar 20 menit dari rumah. Ting Tong! Daniel menekan sekali bel pintu rumah Monic. Ia melihat jam di layar ponselnya yang kini menunjukkan pukul tujuh belas lewat tiga puluh empat menit. Tak sabar menunggu lama, Daniel pun menelepon nomor gadis itu, namun tidak diangkat juga. "Hah! Sial! Jangan-jangan ini orang cuma main-main sama aku!" Emosi Daniel memuncak. Daniel mengetikkan pesan chat w******p kepada gadis itu. Ke : Monica Livia Aku di depan, kalau kamu enggak buka dalam 5 detik aku bakal pulang Segera setelah chat itu terkirim tiba-tiba pintu rumahnya pun terbuka. Sosok Monica muncul dari balik pintu itu sembari tertawa. Ia sedang menertawai Daniel yang sedang emosi karena dirinya. "Kenapa? Kok marah-marah sih? Masuk dong..." ucap gadis itu. Daniel menenangkan kembali gemuruh dalam dadanya, ia benar-benar emosi tadinya tapi ketika melihat senyum licik gadis itu emosinya perlahan memudar. Ia teringat bahwa gadis di depannya ini amat licik seperti ular, gadis ini pasti akan selalu memancing emosinya ketika ada kesempatan, dan jika Daniel terpancing sedikit saja maka itu adalah kemenangan besar untuk gadis itu. Daniel mengikuti langkah kaki gadis itu menuju ke dalam, Monica menyalakan lampu dan ruangan itu menjadi terang benderang. "Maaf, aku tadi habis mandi... dan aku memang sengaja membuatmu emosi," ucapnya tanpa beban. Daniel tersenyum jahil. "Iya, aku tau kok. Rasanya aku mulai paham dengan kelicikanmu, ular berbulu kelinci." Monica terbahak, namun ia sebenarnya kesal karena emosi Daniel cepat surut. "Kenapa harus kelinci dan bukan domba?" "Domba itu gendut, sementara kamu kan kecil dan lucu, saking lucunya sampai aku ingin meremasmu dengan tanganku sendiri." jawab Daniel. Monica tersenyum lalu datang kepada Daniel dengan dua gelas white wine. "Aku hanya punya ini, silahkan... jangan sungkan." Daniel meraih gelas dari tangan Monica. "Kau tidak mencampur sesuatu di dalam minuman ini kan? Aku bisa benar-benar meremasmu jika kamu melakukan itu." "Yang benar saja... hentikan dulu pembicaraan remas meremas kelincimu, bagaimana jika kita langsung ke point utamanya?" Monica duduk di sofa seberang tepat berhadapan dengan Daniel. Daniel meneguk white wine di gelasnya itu sekali, sedikit saja. Ia harus mengantisipasi agar tidak masuk ke perangkap apa pun. "Jadi bagaimana rencanamu?" tanya Daniel. "Kita akan buat Victory jauh dari Icha," ucap Monica sembari menyesap wine di gelasnya. Daniel tersenyum licik. "Caranya?" "Kamu harus menjalani skandal itu, akuilah kalau kau benar-benar mencintai Icha, buat skandal itu menjadi satu kebenaran. Selanjutnya... saham Om Randy dan Om Pram pasti akan turun drastis, posisi dalam yayasan akan dipertanyakan... dan saat itu aku akan masuk sebagai penyelamat saham dengan syarat. Vic pasti tidak akan menolakku lagi." jelas Monic. Daniel terdiam, ia menatap kosong ke arah gelas wine yang ada di hadapannya. Tiga detik kemudian ia membalas tatapan Monic, menelaah kata-kata yang dilontarkan gadis ini membuat Daniel yakin bahwa Monic bukanlah sembarang gadis. Ia pasti punya pengaruh yang besar dalam kerajaan bisnis di negara ini. Daniel yang sejak awal tidak mengenal Monic menjadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis ini. Dari penthouse yang ditinggalinya ini saja sudah membuat Daniel yakin jika Monic adalah anak orang kaya raya. "Aku harus memikirkan kembali rencanamu ini, setidaknya aku harus memastikan bagianku benar-benar akan ku dapatkan bukan?" sanggah Daniel. "Artinya kamu setuju dong?" tanya Monic. Daniel mengangkat gelasnya. "Tentu... boleh aku minta segelas lagi?" Monic mengangkat gelasnya lalu bersulang dengan Daniel. Senyum kemenangan menghiasi wajahnya yang memang cantik itu. Setelahnya ia beranjak menuju rak tempat dimana ia menyimpan wine-wine mahalnya. "Bagaimana jika Red Wine?" tanya Monic Ia tidak menunggu persetujuan Daniel dan membawa sebotol Red Wine ke atas meja, tanpa permisi ia juga menuangkan wine itu ke gelas Daniel. Sampai tak terasa Daniel sudah menghabiskan dua gelas Red Wine itu. Monic sendiri tampak sudah kepayahan, wajahnya sampai bersemu merah. "Boleh pinjam toilet?" tanya Daniel. Monic menunjuk arah menuju toilet, dan Daniel segera beranjak pergi. Entah apa yang telah Monic lupakan, seakan rasa mabuknya lari entah kemana, gadis itu bergegas mengejar Daniel yang pergi ke toilet. Sesampainya di depan pintu toilet, Monic menemukan Daniel keluar dari dalam toilet itu dengan kemeja putih di tangannya. Monic tak bisa berkata-kata, bibirnya menganga menatap benda yang ada di tangan Daniel. Sementara Daniel menatap kemeja itu bergantian dengan tatapan matanya kepada Monic. "Kenapa bisa kemeja ini ada padamu?" tanya Daniel setengah tak percaya. "Itu... punya temanku," bohong Monic. "Jangan berbohong padaku. Aku tau kau itu licik, tapi aku yakin seliciknya kamu pasti kamu tidak akan berbohong dengan adanya barang bukti seperti ini..." sela Daniel. Monic berbalik, ia hendak berjalan menjauh, kembali ke sofa namun Daniel dengan sigap menangkap satu tangannya lantas mendorong tubuh gadis itu, menghimpitnya ke dinding. "Yak! Lepaskan!" Teriak Monic. Daniel terkekeh. "Jelaskan padaku! Aku tak peduli kamu mau teriak karena tidak akan ada orang yang datang kesini." "Sudah kubilang, itu punya temanku!" Monic bersikukuh, ia masih tak mau mengakuinya. Daniel memperlihatkan kemeja itu kedepan mata Monic. "Lihat! bisa baca kan kamu? Ae-Ros! Kemeja ini milikku, mamaku selalu membuatkan label perak di setiap pakaian yang aku punya, dan kamu masih bilang ini punya temanmu? Teman yang mana?" hardik Daniel. Monica Livia tak bisa membantah lagi, gadis itu lemah seketika. Ia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Salahnya juga tidak menyimpan kemeja itu dengan baik, setelah dicuci ia malah meletakkan kemeja itu di atas keranjang mesin cuci yang terletak di dalam toilet. Apa semua gadis itu bisa seceroboh Monica Livia? Karena Aruna Yeorisha pun sama halnya. Entahlah, yang jelas Monic tidak bisa mengelak lagi. Posisinya sudah terjepit dua kali, dijepit oleh tubuh Daniel dan dijepit oleh kata-kata Daniel. Cukup mengherankan juga, selain suka meremas ternyata Daniel juga suka menjepit gadis licik semacam Monica Livia ini. "Jawab!" bentak Daniel. Monic masih bungkam, matanya memerah, ia meringis karena pergelangan tangannya mulai perih. "Jangan macam-macam, aku dengan pasti bisa melaporkanmu atas penganiayaan karena di rumah ini ada kamera CCTV." Monic tertawa sinis. "Jangan kira aku takut, aku sudah mengetahui rencanamu, dan ooowww... aku yakin kamu juga dalang dibalik berita skandal itu. Oh ya, aku sudah merekam semua pembicaraan kita, kalau kamu enggak percaya kamu bisa mendengarkannya sekarang juga." Daniel merogoh ponselnya dari dalam saku yang sudah merekam suara selama hampir dua jam. Daniel melepaskan tangan Monic, ia masih belum mematikan rekam suara itu lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. "Akui saja jika kamu adalah gadis yang tidur denganku malam itu." ujar Daniel. Monic tertawa seperti orang gila. "Kalau iya kenapa?" Daniel meringis. "Dasar gadis sinting!" "Sudah selesai mengumpatnya? Kalau gitu silahkan pulang..." ucap Monic. Daniel memegangi dahinya yang berdenyut, ia berpikir kenapa kesialan datang kepadanya lewat gadis bernama Monica Livia. Gadis yang tidur dengannya terobsesi pada laki-laki lain, dan juga ingin menghancurkan adik tirinya. Sungguh gila. "Bukan apa-apa, tapi kalau sampai kamu hamil karena malam itu bagaimana? kamu jangan seperti bocah labil deh... udah dewasa tau nggak. Aku pulang sekarang." ucap Daniel. Daniel beranjak ke arah pintu keluar setelahnya, Ia meninggalkan Monic yang mematung di samping kemeja miliknya. Gadis itu meraih kemeja itu lalu membantingnya ke lantai, menginjak-injak kemeja itu lalu menendangnya. "b*****t! Dasar cowok b******k!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD