#16

1075 Words
Hari pernikahan pun tiba, moment yang begitu sakral untuk pasangan yang saling mencintai. Dekorasi bernuansa putih dan emas membuat aula golden tower terlihat begitu berkilauan dengan penataan lampu-lampu hias dan juga bunga dengan warna senada. Aruna Yeorisha mengantar ayah tercintanya menuju ke altar, ada rasa berat hati melepas tangan ayahnya disana namun ia bahagia. Mulai hari ini mungkin ia harus berbagi kasih sayang ayahnya dengan ibu sambungnya, tapi itu tak mengapa. Ia sudah dewasa, dan suatu saat nanti ia juga ingin berada di altar yang sama. Icha mengambil posisi di sebelah ayahnya. Di atas altar itu sudah tersedia sebuah meja dengan beberapa kursi yang akan menjadi tempat duduk pasangan pengantin, tempat dimana kedua mempelai akan melamgsungkan Ijab Qabul. Icha dapat melihat ayah dari Dinandra atau kakeknya Daniel sedang duduk bersama penghulu, mereka tampak berbincang sambil tersenyum sesekali. Musik menggema di aula megah itu, pintu pun terbuka dengan begitu lebarnya. Lampu-lampu menyoroti mempelai wanita dengan balutan gaun panjang berwarna putih, menjuntai berkilauan seperti kristal di tengah es. Kemudian datanglah Daniel, siap dengan posisinya. Menggandeng tangan ibunya hingga sampai ke altar. Mereka berjalan pelan sembari melempar senyum ke setiap tamu undangan yang hadir disana untuk menyaksikan janji suci kedua mempelai yang sudah tidak muda itu. Sesampainya di altar, Daniel mengambil tangan Pram lalu menyatukannya dengan tangan Dinandra, ibunya. Daniel tersenyum lalu memberi anggukan pertanda bahwa ia mengijinkan ibunya untuk bersama dengan Pram. Dinadra dan Pram tersenyum hangat, Pram menepuk bahu Daniel pelan lalu melakukan tos ala anak muda, membuat gelak tawa para tamu undangan. Pram menuntun Dinandra duduk di tempat yang sudah di sediakan, tempat dimana ayah Dinandra, ayah dan ibu Pram serta penghulu tengah duduk untuk segera melangsungkan Ijab Qabul. Sayang sekali, ibunya Dinandra sudah lama tiada karena penyakit kronis. Dinandra yang teringat akan ibunya pun mulai bercucuran air mata ketika melihat ayahnya yang saat ini akan memulai prosesi Ijab Qabul. "Sudara Prameswara Nugrasa Bin Danung Nugraha saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Dinandra Zayra Binti Rahardi dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dibayar tuuuuunai," ucap ayahanda dari Dinandra. Yang langsung dibalas dengan mantap oleh Pram. "Saya terima nikah dan kawinnya Dinandra Zayra Binti Rahardi dengan maskawinnya yang tersebut dibayar tunai." "Sah!" Sela si bapak penghulu kemudian diikuti oleh semua tamu undangan. "Alhamdulillah!" ucap bapak penghulu kemudian melanjutkan dengan doa. Setelah prosesi Ijab Qabul selesai kini sepasang pengantin itu pun berpindah ke atas panggung, dengan kursi singgasana berwarna keemasan yang berada di tengah hamparan bunga. Bosan untuk duduk saja akhirnya kedua mempelai itu pun beranjak dari duduknya, mereka pergi mengambil minum sekalian menyapa keluarga dan kerabat serta klien-klien bisnis Pram yang berkesempatan datang. "Hei! Pram!" sapa seorang pria yang nampak seumuran dengan ayahnya Icha itu. Pram langsung menyunggingkan senyum ketika melihat pria yang menyapanya itu, ia mengajak Dinandra untuk dikenalkan dengan pria tersebut. "Hey! Brother... lama kita enggak ketemu..." kata Pram lalu melakukan tos selayaknya anak muda pada jamannya. "Oh ya, kenalin ini Dinandra... Dina ini Randy Kim, sahabat lama ku. Kami kuliah sama-sama di Aussie..." "Hay! Saya Dina... nice to meet..." jawab Dinandra. "Hay, nice to meet you... you look perfect bersama Pram... oh ya! Tunggu sebentar... Mam! Mam!" Randy memanggil istrinya yang ternyata sedang mengobrol dengan salah satu klien yang juga menghadiri pesta itu. "Yes, Pa! Ooow! Very beutifull... Congratulations Mrs. Nugraha! Nice to meet.... Kenalkan saya Selena istrinya Mas Randy," Selena mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang kemudian di sambut dengan hangat oleh Dinandra, kemudian bercipika-cipiki ria. Melihat Pram yang asik mengobrol dengan suaminya Selena juga menyapa Pram, "Hey, Pram... Congratulations ya..." "Terima kasih Mrs. Kim..." jawab Dinandra. "Makasih ya Sel... Oh ya... Na, Selena ini juga kuliah bareng kita waktu itu, cuma ya... mereka main belakang makanya cepat nikah." Cibir Pram untuk menggoda rekan business sekaligus kerabat mereka itu. Keempat orang yang sedang bersilaturahmi itu pun tertawa dan bercanda disana, tak seperti Victory Liandra Kim yang sedang kesal entah kenapa. Pemuda tampan dengan postur tubuh sempurna itu tampak sedang menyesap wine di gelasnya sedikit demi sedikit, menatap kesal ke arah Aruna Yeorisha yang sedang berdansa dengan seorang pemuda yang tidak lain adalah Aeros Daniel. Disinilah Victory baru mengetahui bahwa Icha dan Daniel sudah menjadi kakak beradik tiri, namun melihat pemandangan itu malah membuat Vic kebakaran jenggot. “Oh man… kenapa aku harus kesal sih… itu kan kakak tirinya,” gumam Vic sembari kembali menyesap white wine di gelasnya. - Daniel mengajak Icha pergi ke balkon dan gadis itu pun mengiyakannya, entah apa yang akan mereka berdua bicarakan disana. Vic yang melihat hal itu pun tetap memantau pergerakan keduanya dengan mengikuti mereka dari belakang tanpa ketahuan. Daniel bersandar di pembatas balkon sembari menatap Icha yang berada pada posisi berlawanan, gadis itu tengah menikmati taburan bintang-bintang di malam itu. “Cha, sekarang kita sudah resmi jadi kakak adik. Bisakan kamu enggak ngejauhin aku?” Kata Vic membuka percakapan. “Hmmm… mungkin bisa, kurasa aku sudah bisa sekarang…” jawab Icha. Daniel memicingkan matanya, “Sudah bisa? Kemarin enggak dong? Jadi sekarang kamu sudah enggak ada perasaan nih sama aku?” Icha menimbang-nimbang dalam pikirannya, “Iya… kurasa aku sudah mulai melupakan kamu Niel…” jawab Icha lalu mengangguk disertai sunggingan senyum. “Beneran? Secepat itukah?” Daniel semakin penasaran dibuatnya, sebenarnya ada rasa tak terima dalam hati Daniel ketika mendengar jawaban Icha. “Iya, kupikir aku sekarang bisa leluasa memanggilmu kakak…” jawaban Icha semakin mantap. “Okay… aku hargai keputusanmu, Cha.” “Thank you.” Icha tersenyum sekali lagi, kemudian menoleh ke belakang, melihat ayah dan ibu sambungnya yang sedang menikmati jalannya pesta di hari bahagia. “Cha…” panggil Daniel. “Iya… ada apa?” “Mungkin ini karma bagi aku… kamu tahu, aku sudah jatuh cinta sama kamu ketika kamu sudah melepas perasaan kamu ke aku…” Daniel mendongakkan kepalanya, menatap langit luas. “Iya… I know, aku juga berharap kamu menemukan orang yang tepat nantinya…” Icha tersenyum. “Tapi… aku masih perlu banyak waktu buat move on, Cha… apalagi kita akan bertemu setiap hari mulai sekarang… haruskah aku pergi saja dari rumah?” Daniel terkekeh setelahnya. “Jangan ngadi-ngadi deh… dasar…” “Tapi itu benar… aku enggak bisa move on secepat itu ketika aku baru memulai perasaan ini… doakan aku sanggup deh Cha.” Daniel menatap gadis itu, ada ketulusan di dalamnya. Sadar bahwa perasaan terlarang tidak akan pernah berhasil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD