Vic menyesap white wine di gelasnya, entah sudah gelas keberapa, tapi pemuda itu merasa masih baik-baik saja. Sebagai seorang laki-laki yang sudah cukup dewasa Vic memiliki toleransi alkohol yang cukup besar.
Pemuda itu menggoyang gelas di tangannya secara perlahan, membuat cairan di dalamnya pun mengikuti irama. Pikirannya masih terganggu dengan pembicaraan Icha dan Daniel beberapa menit yang lalu. Ia memang sudah menduga bahwa Daniel menyukai Icha semenjak insiden di kampus waktu itu, namun ia sama sekali tak menyangka bahwa mereka akan menjadi saudara tiri.
“Icha…” Gumam Vic lalu menyesap kembali minumannya.
Tak lama berselang, tiba-tiba gadis itu muncul di hadapannya. Icha yang masih tidak menyadari keberadaan Vic itu pun hanya berlalu-lalang di sekitar Vic, membuat pemuda itu semakin penasaran dibuatnya. Vic merogoh sebuah topeng hitam dari sakunya, memakai topeng itu lalu berjalan menuju ke arah Icha.
“Miss, bolehkah aku mengajakmu berdansa?” Tanya Vic kepada Icha yang menoleh karena mendengar ajakannya.
Icha menatap Vic sejenak, meneliti pemuda itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambutnya. Pemuda itu memakai setelan jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih dengan dua kancing atas yang tidak dikancingkan berada di dalamnya. Tatanan rambut tanpa poni menjuntai membuat kharisma seorang CEO muda menguar dari seorang Victory Liandra Kim.
“Okay…” jawab Icha kemudian bersiap dengan posisinya.
Musik mengalun mengiringi pasangan yang tengah berdansa di tengah dance floor, gaun yang dikenakan Icha tampak gemerlap ketika lampu menyorot ke arah mereka berdua. Tidak ada pasangan lain lagi yang berdansa sehingga semua mata tertuju pada pasangan dansa terakhir yaitu Icha dan Victory.
“Aruna Yeorisha…” gumam Vic pelan.
Icha yang samar-samar mendengar gumaman pria di hadapannya itu pun menatap Vic penuh dengan tanda tanya. “Hm? Apa ada sesuatu?” tanya Icha.
“Tidak ada… hanya saja kamu tampak cantik sekali malam ini. Jadi heran…” jawab Vic, tanpa sengaja ia malam keceplosan menunjukkan sikap aslinya.
“Hah? Apa?” Tanya Icha, ternyata gadis itu tak jelas mendengarnya karena suara musik.
Vic bernapas lega ketika menyadari Icha tidak mendengar apa yang sudah ia katakan. Vic juga takut ketahuan, nanti Icha malah akan semakin meledeknya di kampus.
“Kamu cantik sekali…” jawab Vic lalu menyelipkan anak rambut Icha yang tak sengaja lepas dari koloninya.
Icha tersenyum mendengarnya. “Terima kasih.”
Mereka masih melanjutkan dansanya, tanpa mereka sadari musik sudah berganti hingga tiga kali namun mereka masih terus asik saling pandang dan mengobrol. Icha pun belum mengetahui siapa pria dibalik topeng yang sedang berdansa bersamanya itu.
-
Sementara itu dari balkon Daniel tampak sedang menikmati Red Wine langsung dari botolnya. Tatapan matanya lurus tertuju langsung kepada Aruna Yeorisha yang sedang asik berdansa dengan seorang pria bertopeng.
“Victory Liandra… ngapain dia disini?” tanya Daniel kemudian berbalik menghadap bintang.
Tidak ada lagi bintang yang berusaha Daniel raih dari langitnya yang bernama Icha. Kini bintang itu sudah dipetik oleh pemuda lain, dan Daniel hanya bisa untuk menerimanya dengan lapang d**a.
-
Akhirnya Icha melepaskan pegangannya pada Vic, membebaskan pria muda itu dari pesona seorang Aruna Yeorisha, dan juga sikap si gadis yang begitu sulit di tebak.
“Mau lanjut enggak ngobrolnya?” tanya Vic lagi.
Icha lumayan lelah saat ini sehingga ia mengiyakan ajakan Vic, keduanya pun pergi salah satu meja tamu yang tidak terisi. untuk sekedar duduk sembari memakan camilan.
Vic masih dengan memakai topeng dan Icha pun belum menyadarinya sama sekali. Sampai akhirnya Daniel datang bergabung di meja itu.
“Oh… hai! Siapa temanmu ini, Cha?” tanya Daniel.
“Emm… aku belum menanyakannya, kita masih saling memanggil dengan sebutan Miss dan Mr haha…” Icha terbahak setelahnya.
“Oh, kenalkan… saya Aeros Daniel Kang. Kakaknya Icha,” ujar Daniel sembari berdiri, menjulurkan tangan, mengajak si pria untuk berkenalan.
Vic merasa yakin bahwa Daniel sudah mengetahui indentitasnya, tatapan Daniel padanya disertai dengan senyum meremehkan. Vic pun berdiri dari duduknya, sebenarnya ia tak mau penyamarannya terbongkar secepat ini.
Vic membuka topengnya perlahan, membuat Icha terperanjat tanpa kata.
“Saya Victory Liandra… dari keluarga Kim. Senang berkenalan dengan anda Mr. Aeros.” Ucapnya dengan gaya savage.
“Vic? Oh my… Itu kamu? Jadi sejak tadi…” Icha jadi bingung sendiri, salah tingkah, karena sejak tadi Vic terus merayunya dan Icha pun menyukai cara Vic yang berbicara dengan sopan.
“Kaget… hehe… padahal tadinya aku mau kasih surprise,” Vic berbohong.
“Dasar ya kamu… jahilnya enggak ketulungan,” Icha menjewer kuping Vic.
Disaat bersamaan ternyata Selena dan juga Randy datang menghampiri mereka, melihat keadaan dimana Vic berteriak kesakitan dengan tangan Icha berada di kuping anak bungsu mereka.
“Loh… loh… ada apa ini?” tanya Selena.
“Eh… Mama a-aduh, Cha lepasin…mama sama papa aku nih…” kata Vic diakhiri dengan gumaman setengah berbisik kepada Icha.
Icha pun melepaskan jeweran di telinga Vic dengan cepat, gadis itu jadi salah tingkah. “Eh… hallo Tante… Om…”
“Oh… jadi ini ya temen kampusmu… pantesan maksa banget mau ikutan ke pesta…” Selena mencibir Vic sementara Randy duduk di salah satu kursi yang kosong.
“Hehehe…” Vic hanya membalas sindiran mamanya dengan tawa cengengesan, ia tidak tau harus menjawab apa lagi.
Tak lama kemudian Pram pun datang menghampiri, ia tak bersama dengan Dinandra karena istrinya sedang mengobrol dengan keluarga besarnya.
“Loh, ada apa nih? Kok rame banget…” tanya Pram sambil menyapu lembut rambut Icha. “Oh ya, Randy… Selena… kenalkan ini putriku, Icha,” lanjut Pram.
“Hai… Om… Tante…” Sapa Icha dengan senyum penuh kecanggungan.
Selena dan Randy tersenyum hangat. “Hai…sweety, sudah lama tidak melihatmu loh, terakhir ketemu kamu masih umur balita, gemesin banget,” kata Selena sembari mencubit gemas pipi Icha.
“Sudah besar ya sekarang… cantik kayak mamanya…” lanjut Randy, membuat Icha tersipu.
“Oh ya… tadi kenapa, aku melihat dari kejauhan, Icha sedang membully pria muda ini… apa kabar Vic? Masih ingat om nggak?” tanya Pram.
“Hehehe… hallo Om…” lagi-lagi Vic hanya menjawab dengan tawa cengengesan.
“Biasalah Pram, anak muda memang begitu, suka berantem, ternyata jodoh enggak kemana, ya? Pas gede baru ketemu…” goda Selena, membuat Icha semakin salah tingkah.
“Dia sudah lupa Pram, padahal dulu sering banget main bola waktu rumah kami masih di cibubur…” tukas Randy.
Pram terbahak setelahnya. Vic sama sekali tak menyangka bahwa ia pernah punya moment dengan ayahnya Icha. Ia sudah lupa dengan masa kecilnya dulu.
Sementara Daniel yang entah sejak kapan sudah tak berada lagi di meja yang sama dengan mereka. Ia sudah berpindah ke tempat lainnya sembari memperhatikan kedua keluarga yang sedang mengobrol itu.
Ada rasa cemburu dalam hati Daniel ketika melihat keluarga Vic yang masih lengkap, sementara dirinya tak lagi merasakan bagaimana sentuhan kasih sayang seorang ayah.