Resepsi pernikahan Pram dan Dinandra akhirnya usai, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Daniel berjalan sedikit gontai memasuki lift, ia berniat pergi ke bar yang ada di lantai dasar Golden Tower. Di dalam lift Daniel tidak sendiri, ada orang lain juga yang memang berada disana terlebih dahulu.
"Ingin ke bar bersama?" tanya Daniel pada gadis itu.
Gadis itu pun membalas ajakan Daniel dengan senyuman lalu mendekat ke arah Daniel. "Tentu..." jawab gadis itu.
Malam semakin larut, obrolan kedua anak manusia yang berlainan jenis itu juga semakin seru. Daniel bahkan belum menanyakan nama si gadis ketika mereka sudah terbawa suasana dan melabuhkan sebuah ciuman yang panjang. Tak ada yang memperdulikan keduanya, tak ada yang memperhatikan keduanya, mereka hanya menikmati suasana yang mendukung. Penataan cahaya yang remang-remang menambah keestetikan bar milik Golden Tower ini.
"Mau naik ke atas denganku?" tanya Daniel kepada si gadis.
Gadis itu memicingkan matanya, menatap Daniel penuh rasa curiga. "Biar aku tebak... apa kamu benar-benar menginginkan aku?"
Daniel terkekeh. "Of course... baby..." jawab Daniel.
"So... let me..." si gadis dengan rambut panjang yang bergelombang indah itu pun kembali mendekatkan dirinya pada Daniel, melabuhkan banyak sentuhan yang semakin menuntut atas sesuatu.
"Aku nggak bisa menunggu terlalu lama..." segera setelah mengucapkan hal itu, Daniel menarik tangan si gadis, membimbingnya menuju lift.
Daniel menekan tombol enam dan pintu lift pun kembali tertutup. Di dalam lift yang sedang bergerak itu tidak membuat mereka untuk tetap bersikap tenang. Daniel semakin menjadi-jadi hanya karena mendengar suara surga yang keluar dari bibir si gadis.
Lift tiba-tiba terbuka ketika mereka sampai di lantai lima, seorang office boy memergoki mereka namun Daniel tidak mengindahkan. Si office boy pun tidak jadi masuk ke dalam lift, dia malah membiarkan para tamu itu berbuat sesukanya di dalam sana.
Dengan langkah yang terburu-buru kedua lajang itu pun akhirnya sampai ke depan pintu kamar yang sudah mereka pesan beberapa saat yang lalu. Tidak perlu menunggu lama dan mereka pun saling beradu di dalam sana, sungguh jiwa muda yang tak takut akan segala resiko di masa depan.
-
Di depan gerbang rumah Icha terparkir mobil sport milik Vic, lalu dimana pria muda itu? Victory sedang duduk di teras rumah Icha, ia sedang menunggu Icha yang mengambilkan air. Sebenarnya apa yang terjadi?
Semua diawali dengan situasi dimana Pram dan Dinandra memutuskan untuk menghabiskan malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri di salah satu kamar VVIP Golden Tower, hal itulah yang menyebabkan Icha harus pulang ke rumah bersama Pak Narto, namun Vic menyela pembicaraan Pak Narto dengan ayahnya Icha dan menawarkan diri untuk mengantar Icha pulang.
Icha menghampiri Vic dengan segelas air yang di sodorkan Icha kepada Vic. "Ini air madu untuk menetralisir alkohol..."
Vic pun menerimanya, lalu meminumnya hingga tandas. "Kok tau? Kalau air madu bisa menetralisir alkohol? Kamu bisa minum?" tanya Vic.
Icha menggeleng lalu terkekeh. "Bisa, aku bisa minum... tapi toleransi alkoholku rendah, aku hanya bisa minum segelas, dan cuma pada acara resmi saja... mmm... aku juga cukup pemilih, dan soal air madu... kalau papaku minum agak berlebihan aku biasanya disuruh buatin." jawab Icha.
Vic mengerucutkan bibirnya, memikirkan apa lagi yang bisa ia tanyakan pada kesempatan ini. Pria muda itu mengedarkan pandangannya kekiri dan kekanan, ia tidak menemukan mobil Daniel.
"Si Daniel kemana? Kok enggak ada tanda-tanda keberadaannya?" tanya Vic.
Icha juga baru teringat jika Daniel sudah tidak terlihat lagi sejak mereka duduk satu meja di pesta tadi. "Oh iya ya... kok enggak ada mobilnya? apa jangan-jangan dia pergi ke rumah Mama Dina ya?"
"Loh? Aku ngira Daniel udah tinggal bareng kamu disini... ternyata enggak... apa jangan-jangan Daniel merasa gak enak tinggal bareng kamu?" tebak Vic sembari mengelus-elus dagunya dengan jari.
Icha salah tingkah ketika mendengar tebakan Vic, dalam hati ia berpikir bagaimana bisa Vic mengetahui jika Daniel merasa tidak enak? Namun tidak enak pada apanya? Sebenarnya Icha pun berpendapat sama, namun ia tidak bisa mengutarakan pada Vic. Apa yang harus Icha katakan? Haruskah Icha mengatakan jika Daniel menyatakan cinta ada adik tirinya? Sungguh tidak masuk akal, pikir Icha.
"Jika kamu sudah selesai segera pulanglah... ini sudah sangat larut, kita bertemu lagi besok... aku sudah memutuskan untuk bilang ke papaku soal kerusakan mobil kamu. Ya… pasti aku akan kena omel, tapi... aku juga enggak mau jadi jongosmu terus," ujar Icha dengan sedikit emosi sebagai bumbunya.
"Wow... santai sedikit, Non. Coba dengerin lagu ini, Icha jangan marah-marah... takut nanti lekas tuaaa..." Vic menyanyikan sepenggal lagu yang sempat viral di semua platform musik masa kini.
Vic merasa Icha memang suka marah-marah dan lagu itu memang cocok untuknya, di setiap Vic menggodanya, menjahilinya, Icha akan selalu menampilkan ekspresi kesal yang murni dan alami tanpa dibuat-buat. Vic menyadari dengan benar bahwa dirinya memang tipe cowok yang menyebalkan namun akan menjadi satu-satunya yang dirindukan. Victory tercium terlalu percaya diri namun ia memang tampan, jelas saja ia akan dirindukan, dirindukan oleh siapa? Hmm… Icha? Atau Monica Livia, mantan tunangan Vic.
-
Cahaya terang benderang menyinari siluet sepasang anak manusia yang masih tertidur pulas. Helai demi helai pakaian yang berserakan dari depan pintu hingga terlempar tak tentu arah, kursi sofa yang terbalik, ranjang yang berantakan menjadi saksi peraduan mars dan venus malam tadi.
Si gadis mengerjap perlahan, ia mendapati dirinya dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Ia bergegas mengambil helai demi helai pakaian miliknya. Tidak perlu waktu lama untuk si gadis bersiap, dan dengan segera ia pergi meninggalkan tempat itu. Dia meninggalkan teman semalamnya itu begitu saja, tanpa sepatah kata pun.
Tak lama berselang, Daniel terbangun dari tidurnya. Masih dengan memicingkan mata Daniel melihat interior ruangan yang begitu asing pada penglihatannya. Ini bukan planet Mars melainkan sebuah kamar hotel. Daniel tersentak setelah menyadari dengan benar bahwa ia berada di dalam sebuah kamar yang asing.
“Aku dimana? Ada apa ini? Apa yang terjadi?” tanya Daniel pada dirinya sendiri.
Daniel memunguti celana miliknya lalu memakainya dengan cepat, pemuda itu masih mencari-cari kemeja miliknya yang entah terlempar kemana. Berselang lima belas menit sudah ia mencari namun tak kunjung ia temukan juga.
Daniel menghentikan pencarian kemeja miliknya lalu mengambil sebatang rokok yang ada di atas nakas sembari mengecek ponselnya. Daniel teringat tentang gadis cantik yang bersama dengannya semalam.
Tak menemukan korek, Daniel pun menyibak selimut di atas ranjang berseprai putih itu dan betapa kagetnya ia ketika mendapati noda darah disana.
“WHAT? b******k! Kenapa aku malah ngerusakin anak orang sih? Astaga… aku harus gimana?” maki Daniel, rasa sesal dan frustasi pada dirinya sendiri.
Sekarang ia harus mencari tau siapa gadis itu, namun yang menjadi masalah adalah Daniel sudah melupakan bagaimana rupa wajah si gadis. Hal itu membuatnya semakin frustasi, ia merasa bertanggung jawab pada gadis yang sudah ia nodai itu.