Daniel pulang ke rumah Pram pagi itu, tepat pada saat Icha sedang sarapan pagi bersama dengan Bik Yati dan Pak Narto.
"Assalamualaikum..." Daniel memberi salam ketika ia masuk ke dalam rumah.
Icha pun menjawab salam itu, "Wa'alaikumsalam, loh... Niel? Kirain kamu bareng Mama Dina sama Papa..." heran Icha yang melihat Daniel hanya datang sendiri.
“Den… sarapan dulu…” tawar Bik Yati yang dibalas Daniel dengan senyuman dan anggukan. Bik Yati kembali ke dapur setelahnya.
"Loh? Emangnya Mama sama Om Pram belum dateng?" Tanya Daniel lagi lalu duduk di salah satu kursi meja makan, ia menghadap langsung pada Icha.
"Belum... sarapan dulu deh, nih..." Icha menyodorkan piring dan juga alat makan kepada Daniel yang disambut pria muda itu dengan senyum canggung.
"Kenapa kamu? Jangan canggung gitu, kata papa sekarang rumah kamu disini juga... ya elaaah," omelan Icha membuat Daniel tersenyum lebih lebar.
"Bukan gitu... cuman ga nyangka aja loh. Sekarang pagi siang malem bisa liat kamu terus..." jawab Daniel diikuti tawa cengengesan.
Icha menunjukkan ekspresi pura-pura kaget, "Jangan gila ndrooooo... gak mungkin juga malem-malem, mau ku geplak? Hah?"
Daniel mencomot roti bakar isi coklat di piring Icha, "Ngomel mulu ih... kayak ibu tiri."
Mata Icha langsung membulat mendengar perkataan Daniel, "Apaaah? Sini aku geplak sini!" Kesal Icha, ia berdiri hendak memukuli Daniel dengan sendok selai yang ada di tangannya.
"Eh... Eh... ada apa?" sela Pram melerai putra dan putri mereka yang serasa akan segera baku hantam di atas meja makan.
"Ini nih Paaa... Maaa... Daniel bilang aku ngomel-ngomel kek ibu tiri... ih dasar cowok ngeselin," Icha maju mau menyerang dengan cakarannya namun kaus Icha ditahan oleh Pram, membuat gadis itu tak bisa bergerak maju.
"Udah... udah... Niel kamu enggak boleh godain Icha kayak gitu loh, sekali lagi kamu jahilin Icha biar mama yang jewer kuping kamu itu!" tegas Dinandra pada anak semata wayang dari pernikahan pertamanya.
Ada yang aneh dari diri Daniel, Dinandra memperhatikan pakaian Daniel yang masih sama dengan pakaian yang ia pakai di pesta semalam. Dan lucunya Daniel tidak lagi mengenakan kemeja di dalamnya melainkan kaus dalam.
"Kamu dari mana sayang? Kemana kemeja kamu? Kok pakai kaus doang gitu?" Dinandra menghardik Daniel dengan pertanyaan bertubi-tubi, membuat anak lelakinya itu tergagap.
"I—itu... Ma... ketinggalan di mobil, terus semalem capek banget jadi langsung tidur," bohong Daniel.
Pram duduk di samping Icha, sementara Icha mengoleskan selai ke roti papanya. Meski begitu Pram dan Icha tetap fokus pada Daniel dan Dinandra. Dinandra menginterogasi Daniel dengan begitu teliti, mungkin inilah yang dinamakan feeling dari seorang ibu.
"Kamu tidur dimana? kata si mbok kamu enggak ke rumah kok... jangan bohong ya sama Mama," Dinandra memicingkan matanya, menaruh kecurigaan penuh pada Daniel.
"Ya— ampun Maaa... jangan ngadi-ngadi deh, Ma... aku semalem maen ke rumah temen aja, karena males pulang ya tidur deh disono Maaa..." lagi-lagi Daniel berbohong.
"Oke... awas ya kalo ketahuan bohong, Mama potong duit jajan kamu sebulan," ancam Dinandra.
"Mama sama Icha kok jadi sama gini? Sama-sama kayak ibu tiri..." ucap Daniel lalu mencomot roti yang baru saja Icha pakaikan selai, memasukkannya ke dalam mulut dengan cepat dan bergegas naik ke lantai atas.
"Eh!!! Dasar!!!" kesal Icha, pada akhirnya ia pasrah lalu mengambil selembar roti lagi.
Pram dan Dinandra hanya bisa saling pandang dan tertawa, ada kehangatan keluarga yang tercipta dari pernikahan Pram dan Dinandra.
-
Kamar Daniel sudah di bersihkan oleh Pak Narto dan juga Bik Yati beberapa hari yang lalu, sebelum pesta pernikahan. Pada akhirnya Daniel menempati kamar kosong yang berada tepat di samping kamar Icha. Icha juga tidak protes sama sekali, entah karena perasaannya yang perlahan sudah memudar, atau karena ia sudah menyukai orang lain. Gadis itu belum bisa memastikan jawaban dari dalam hatinya.
Daniel merebahkan punggungnya di atas kasur empuk yang kini sudah menjadi miliknya. Tubuhnya terasa sangat lengket dan bau, pria muda itu bergerak bangun dan duduk di pinggiran ranjang, ia melepaskan satu persatu kaus dan celana panjangnya, kemudian memasukkan baju kotor itu ke keranjang. Entah apa yang Daniel rasakan saat ini, tiba-tiba saja ia berjalan menuju ke depan cermin besar yang menyatu dengan pintu lemari pakaiannya.
Mata Daniel terbelalak melihat pantulan bayangan di dalam cermin, ia dapat melihat banyaknya tanda merah yang bersarang di tubuhnya. Tanda yang menjadi saksi pergulatan Daniel dengan sosok gadis yang ia tak tau siapa.
"Apa-apaan ini?" merasa panik, Daniel pun bergegas mengunci pintu ruangan itu dengan rapat. Jelas yang ia takutkan adalah Dinandra, bagaimana jika mamanya tau kalau tubuhnya dipenuhi oleh tanda merah dari seorang perempuan?
Daniel begitu penasaran dengan gadis yang bersama dengannya pada malam kemarin, gadis itu pergi begitu saja setelah apa yang mereka lakukan. Sebenarnya hal itu sangat membuat Daniel insecure, ia jadi berpikir apa saja kekurangan dari dirinya karena gadis itu sampai pergi begitu saja.
“Apa aku sudah buat salah malam itu? Bisa-bisanya aku terbangun sendirian… sementara gadis itu bahkan masih perawan…” kata Daniel berbicara sendiri.
“Bagaimana kalau dia sampai hamil… setidaknya kan dia harus membutuhkan aku?” Daniel begitu over thinking tentang apa yang terjadi.
Pria muda itu pun akhirnya memutuskan untuk pergi mandi saja, guyuran shower dengan air hangat akan membantu otak dan tubuhnya menjadi segar kembali. Setidaknya setelah mandi ia bisa beristirahat dengan pikiran yang damai.
-
Ponsel Icha berdenting.
Dari : Victory
Hai Cha, aku kangen.
Mata Icha membelalak ketika melihat isi pesan itu. “MAKSUDNYA APASIH? Bikin frustasi aja deh ini orang…”
Ke : Victory
Jan ngadi-ngadi ye, dasar bocah prik
Dari : Victory
Iya beneran kok, aku kangeeeeen.
Ngerjain kamu
WKWKWKWK
“Nah kan emang udah ku duga… bocah prik ini lumayan ga punya kerjaan banget sampe nge-chat yang enggak berbobot kayak gini…” kesal Icha.
Ke : Victory
BODO!
Dari : Victory
Jalan yuk… nonton kek, ke mana kek gitu.
Mau ga?
Mau ya?
Harus banget mau sih, kan kamu pesuruh aku
Ke : Victory
Enggak.
Lagi libur.
Dari : Victory
Oke… aku jemput ya 30 menit lagi, dandan yang cantik ya
Buat dilempar ke ikan hiu
Ke : Victory
Bisa ga sih kalo ga buat orang kesal mulu?
Dari : Victory
Engga bisanya khusus dan ekslusif buat kamu ?
“Hadeh! Bisa darah tinggi aku kalo berhubungan terus sama ini orang…” Icha mengomel sendiri di dalam kamarnya.
Icha masih menimbang-nimbang apakah ia akan pergi dengan Victory, atau mendiamkannya saja. Tenaganya sudah cukup terisi, dan ini hari libur… seenggaknya Vic pasti akan membawanya ke tempat yang bisa menaikkan mood.
TOK! TOK!
“Cha! Bukain pintu dong, aku mau ngobrol…” suara Daniel terdengar dari luar pintu kamar Icha.