Dalam perjalanan pulang. Kiranti melamun memikirkan nasibnya yang sungguh tidak terduga. Bagaikan mendapat jackpot dalam 2 hari beruntun. Kemarin dia ditebus dengan harga luar biasa. Hari ini diajak shopping dan dibelanjain pakaian, HP, tas, sepatu dengan harga luar biasa pula. Sebenarnya seberapa kaya si Om. Menghabiskan duit bagaikan punya pohon uang saja. Sementara Kiranti dan keluarganya entah harus bekerja berapa lama agar bisa mendapatkan uang sebanyak yg dihabiskan si Om dalam 2 hari ini. Memikirkannya saja Kiranti tidak sanggup.
Sesampainya di apartermen, waktu telah menunjukkan jam 19.25. Kiranti yang bergegas ingin membersihkan diri ditahan oleh si Om.
"Tunggu dulu. Jangan mandi dulu. Keluarkan surat surat dan barang berhargamu dari koper lamamu itu. Simpan barang milikmu yang masih kamu gunakan." perintah si Om.
"Kenapa Om? " tanya Kiranti.
"Kita buang koper dari klub malam itu dan isinya juga. Anggap kita buang sial. Ambil saja barang berhargamu." jelas si Om.
"Semua isinya juga Om? " tanya Kiranti.
"Ambil yang kamu butuhkan saja. Misalnya dompet , uang dan kartu identitasmu." jawab si Om.
"Mana ada uang Om, KTP kan masih sama Om. Dompet itu aku tidak mau." kata Kiranti.
"Baguslah jadi tinggal buang semua" kata si Om.
"Tapi skincare dan kosmestiknya mahal lho, Om." ujar Kiranti ragu ragu.
"Buang saja. Aku belikan yang baru besok. Sebaiknya semua barang dari klub malam itu kita buang semua." kata si Om.
"Baiklah Om." ujar Kiranti menuruti permintaan Erick.
"Ayo kita keluar sebentar. Sini kopernya." perintah Erick.
Kiranti memberikan koper ke Erick. Erick menyeret koper keluar apartermen diikuti oleh Kiranti.
"Tidak lama kan Om? Soalnya belanjaan tadi belum disusun." tanya Kiranti.
"Hanya sebentar. Kita kan cuma mau buang koper." sahut Erick.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu dari apartermen.
Sampai di sebuah jalanan di tepian kali. Erick turun dan membuka bagasi belakang. Menurunkan koper kemudian membuangnya ke dalam kali.
Bergegas kembali ke dalam mobil. Kemudian melajukan mobil kembali pulang ke apartermen.
Kembali ke apartermen. Kiranti ingin segera menyusun belanjaan mereka tadi.
"Masukan sayur dan daging ke dalam kulkas. Pakaian dan lainnya besok saja kamu susun ke dalam lemari." perintah si Om.
"Tapi lemari Om kan isinya penuh pakaian Om." bantah Kiranti.
"Besok kamu geser sebagian pakaianku. Atur dan susun sesuai keperluan. Aku yakin masih banyak ruang kosong dalam lemari kalau kamu pandai mengatur. Biasanya kan perempuan paling jago kalau mengatur pakaian." kata si Om.
"Iya, aku atur besok. Tapi jangan marah ya kalau berantakan Om." balas Kiranti.
"Atur yang rapi lah. Masa tidak bisa? " balas si Om dengan ketus.
"Sekarang susun tuh sayur dan daging ke dalam kulkas. Aku mau mandi dulu. Mau ikut mandi? tanya si Om sambil mengerling nakal.
" Huh. Enak di Om. Rugi di aku. Tak mau lah. Mandi sana duluan" jawab Kiranti sedikit emosi.
Erick pun mengambil pakaian ganti dan pergi membersihkan diri. Selesai mandi dia pun langsung naik ke atas ranjang. Duduk bersandar dan memainkan HP. Tujuannya memeriksa pesan dan email yang masuk. Sementara Kiranti segera bergegas mandi membersihkan diri. Setelah mengenakan piyama tidur yang baru dibeli tadi. Dia pun keluar dari kamar mandi. Ia mengambil HP baru yang dibelikan si Om tadi. Hatinya merasa senang memainkan gawai baru tersebut. Walau belum banyak aplikasi di HP nya. Dia mencoba menyetel HP menggunakan akun emailnya. Awalnya sedikit susah karena lupa password. Maklum Hp lamanya tertinggal di rumahnya di desa kampung halamannya. Lagian kalau dibawa pun pasti disita pihak klub malam. Setelah diingat ingat kembali password akhirnya lancar tanpa kendala. Hape pun telah resmi menggunakan data emailnya. f*******:, WA, telegram, YouTube dan lain lain pun segera terhubung menggunakan akunnya. Artinya hp ini pun resmi menjadi hp pribadinya. Bertambah senanglah hati Kiranti.
Selesai menyetting hp. Kiranti ingin segera tidur. Tidak lupa dia memasak nasi menggunakan rice cooker yang baru dibeli tadi. Awalnya kesulitan karena banyak tombol dibanding rice cooker yang dia gunakan di rumahnya. Setelah membaca petunjuk penggunaan semua beres. Dia pun ingin segera tidur. Dengan ragu dia menuju ranjang.
"Saya tidur di sana lagi Om?" tanya Kiranti kepada si Om yang masih berkutat dengan email di hp nya.
"Memangnya kamu mau tidur di lantai? Tentu saja di sinilah." jawab Erick sambil menepuk sisi sebelah ranjangnya yang kosong.
"Harusnya kita beli kasur lipat juga tadi biar aku bisa tidur di lantai." sahut Kiranti.
"Tidak boleh. Kamu harus tidur di sebelah aku. Kalau bisa aku ingin tidur memelukmu malam ini. " kata si Om sambil tersenyum nakal.
"Tidak boleh peluk peluk aku. Peluk guling saja sana." balas Kiranti dengan kesal.
Adegan ini terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang ngambek.
Drama minta peluk pun selesai.
Erick dan Kiranti pun terlelap dalam mimpi indah. Keesokan pagi nya jam 5.30 pagi, Kiranti lebih dulu terjaga. Segera dia bangkit dari ranjang. Bergegas mandi membersihkan diri. Enaknya ini di rumah si Om. Ada air panas buat mandi pagi ataupun larut malam. Tidak seperti di desa. Pagi pagi mandi air dingin. Walau di penampungan klub malam dulu juga tersedia air panas, Kiranti tidak bisa menikmatinya karena beban pikiran selama tinggal di sana. Siapa sih yang bisa bersenang hati tinggal di rumah dosa walau fasilitas lengkap.
Selesai mandi, Kiranti melanjutkan dengan memasak nasi goreng. Nasi sudah dimasaknya semalam sebelum tidur. Tinggal persiapkan bumbu dan telur saja. Wangi masakan memasuki hidung si Om yang baru saja terjaga dari mimpi indahnya.
"Baunya harum nih" kata si Om.
"Mandi dulu sana, baru sarapan. Sebentar lagi siap nih nasi goreng. " perintah Kiranti.
"Sarapan dulu deh enaknya." balas si Om.
"Jangan jorok, mandi dulu sana. " perintah Kiranti lagi.
"Iya deh. Kok kita seperti ini jadi mirip suami istri ya? tanya si Om bermaksud menggoda Kiranti.
Sepertinya dia mulai suka menggoda Kiranti dengan segala cara.
" Kan Kiranti memang istri simpanan Om." balas Kiranti menggoda si Om.
Gawat deh ternyata dia mulai berani balas menggoda batin Erick.
Erick segera mengambil pakaian dalam bersih dari lemari dan pergi mandi. Dia takut tidak sanggup menahan diri dari godaan Kiranti. Walau hanya godaan main main. Itu membawa perasaan tersendiri bagi jiwa seorang lelaki bernama Erick. Salah-salah bisa lepas kendali. Selesai mandi si Om keluar lagi lagi hanya dengan pakaian dalam.Kiranti yang jengah langsung memalingkan wajah ke tempat lain.
"Om kebiasaan banget sih pakai baju di luar kamar mandi" protes Kiranti.
"Kan bagus buat kamu cuci mata. Nih badanku masih seksi berotot lho." goda si Om.
"Nanti kuperk*s* lho Om" sahut Kiranti asal.
"Dengan senang hati. Aku rela serela relanya." balas si Om sambil tersenyum nakal.
"Tidak jadi deh Om. Rugi banyak aku." sahut Kiranti sambil merengut.
"Ya sudah. Sarapan dulu deh." kata si Om.
"Tuh nasi goreng Om sudah di piring." tunjuk Kiranti.
Sementara satu piring nasi goreng lainnya sudah di depan Kiranti yang sedang menunggu si Om duduk.
"Terima kasih Istriku." kata si Om.
"Belum nikah kita Om." balas Kiranti manyun.
"Kan istri simpanan ku. " goda si Om lagi.
Sambil duduk dan mengambil sendok untuk menyantap nasi goreng yang telah disiapkan Kiranti. Kali ini Kiranti tidak berani lagi balas menggoda si Om. Keduanya sarapan bersama.
"Terima kasih Om atas belanjaannya kemarin. " ucap Kiranti.
Kemarin ia lupa berterima kasih. Tidak baik tidak mengucapkan terima kasih ketika diberikan barang oleh orang lain. Itu pesan ayah yang selalu diingat Kiranti.
"Iya. Kalau kurang kita shopping lagi." balas Erick.
"Kamu susun tuh lemari pakaian. Agar pakaianmu bisa masuk juga."
perintah si Om.
"Iya Om" balas Kiranti.
"Kamu siapkan baju dan perlengkapanmu ke dalam koper. Kita mau keluar kota nanti sore. Sekalian juga siapkan bajuku tapi yang santai keluar rumah dan di rumah. Baju kerjanya 1 setel saja. Buat persiapan kalau dibutuhkan. Bajuku masukin ke koper di atas lemari." perintah si Om lagi.
"Siap Om. Memangnya mau ke mana kita Om." tanya Kiranti.
Waduh asik nih jalan jalan keluar kota batin Kiranti. Si Om memang top markotop. Hati Kiranti berbunga bunga.
"Honeymoon" jawab si Om.
"Belum nikah Om!!!!! " teriak Kiranti kesal.
"Iya. Jalan jalan saja. Bukan honeymoon." balas si Om sambil tertawa senang melihat Kiranti kesal.
"Aku berangkat kerja dulu. Ini password wifi rumah ini. Yang ini password kunci rumah. Kalau butuh uang, laci kecil dalam lemari ada uang 20 juta lebih. Kamu pakai saja kalau butuh. Kalau ada apa apa telepon saja, nomor kontakku sudah aku simpan di HP mu. Kamu cari saja pasti ada. Bye. " pamit si Om sambil meninggalkan pesan.
Erick keluar dari apartermen. Tapi segera balik lagi. Kiranti pun bingung melihatnya.
"Ada apa Om?" tanya Kiranti.
"Cium dulu dong kayak di film film gitu." pinta si Om.
"Ogah. Mau dicium sandal?" balas Kiranti.
"Tidak jadi deh".
Erick pun segera kabur dari apartermen menuju kantor nya.
Kiranti melanjutkan aktivitas dengan mencuci pakaian menggunakan mesin cuci. Tinggal masukan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Terus tekan tombol tombol yang ada. Bisa ditinggal deh. Tapi ada kendala di sini. Masalahnya adalah celana dalam si Om. Masa sih main pegang saja. Akhirnya diambil setelah menggunakan sarung tangan plastik. Malu dong dipegang langsung. Kan belum nikah.
Selanjutnya merapikan lemari pakaian. Setelah memindahkan pakaian si Om maka di dapat ruang kosong. Kiranti pun memasukkan pakaian yang dibeli kemarin. Kegiatan berikutnya yaitu bersih-bersih rumah. Kemudian menjemur pakaian. Teringat pesan si Om, Kiranti mengambil kopernya dan menyusun pakaian yang akan digunakan untuk keluar kota nanti. Tidak lupa pula ia mengambil koper si Om dan menyusun pakaian si Om ke dalam koper. Setelah semua beres terlihat sudah jam 11. Kiranti pun bergegas masak untuk makan siang. Tumis sawi dan telor ceplok menjadi pilihannya.
****
Sore harinya jam 3 sore. Si Om sudah pulang. Sesuai janjinya untuk berangkat jalan jalan keluar kota bersama Kiranti. Kiranti yang sudah tidak sabaran segera menyambut si Om.
"Kita berangkat jam berapa Om?" tanya Kiranti antusias.
"Aku mandi dulu. Setelah itu kita berangkat." jawab si Om.
"Aku tidak usah mandi?" tanya Kiranti.
"Eh mau mandi bareng? " goda si Om.
"Ihh si Om m*s*m. Maksudnya setelah Om mandi?" cetus Kiranti kesal.
"Tak usahlah. Kamu mandi setelah tiba di tujuan saja. Kalau aku harus mandi sekarang. Habis kerja gerah nih." kata si Om sambil berlalu ke kamar mandi setelah mengambil baju ganti.
Selesai mandi si Om keluar dengan pakaian keluar rumah yang santai. Kaos kerah dan celana jeans panjang.
Si Om membuka dan memeriksa kopernya Dia mengerutkan dahinya.
"Mana celana dalam ku? Kok tidak dimasukkan? Kamu mau aku siap tempur ya? " tanya si Om sambil mengerlingkan mata nakal.
"Om ambil sendiri deh. Malu aku ambilin dalaman Om. Belum nikah kita Om!!!" perintah Kiranti.
Terpaksa Erick mengambil sendiri dalaman nya yang harus dipersiapkan. Sementara itu Kiranti berganti pakaian. Setelah semua siap, mereka pun berangkat.
Sampai di dalam mobil, Kiranti melihat paper bag di kursi penumpang depan. Dia mengangkat paper bag bermaksud memindahkan agar dia bisa duduk di sana.
"Itu set skincare dan kosmetik untukmu" kata si Om.
Rupanya si Om masih sempat meminta Rina sekretarisnya untuk memesan skincare dan kosmestik secara online dan langsung diantar sejam kemudian. Si Om pun menepati janji membeli skincare dan kosmestik pengganti yang dibuang semalam. Mobil dijalankan meninggalkan apartermen. Hampir 1 jam kemudian mobil memasuki area parkir bandara. Kiranti pun tersadar bahwa mereka akan keluar kota menggunakan pesawat. Tidak seperti dugaannya yang menggunakan mobil.
"Kita naik pesawat Om? " tanya Kiranti.
"Tidak, kita jalan kaki" jawab si Om.
"Malas ah sama Om. Jawabannya tidak nyambung" balas Kiranti.
"Salah kamu sendiri. Sudah kita ke bandara tentu naik pesawat dong. " balas si Om tidak mau kalah.
Kiranti pun diam, malas berdebat sama si Om. Ujung ujungnya tetap dia disalahkan. Erick bergegas ke konter untuk mengurus parkir inap mobilnya. Setelah selesai mereka segera check in dan masuk ke ruang tunggu. Menunggu hampir 1 jam mereka pun dipersilahkan masuk ke dalam pesawat. Di ruang tunggu Kiranti sadar tujuan mereka adalah kota S. Tempat dia sekolah SMU dulu. Tidak jauh dari desa nya hanya 2 jam perjalanan darat.
Masuk ke dalam pesawat Kiranti gugup. Ini pertama kali ia naik pesawat. Harap maklum dia bukan dari kalangan berada. Si Om yang menyadari kegugupan Kiranti menggenggam tangan Kiranti.
"Santai saja." kata si Om menenangkan Kiranti.
Walau sepanjang perjalanan muka Kiranti pias. Akhirnya pesawat mendarat setelah kurang lebih 1 jam perjalanan. Hari telah gelap jam 8 malam waktu setempat. Rupanya jemputan telah siap. Sampai di hotel jam 9 malam.
Di lobi hotel, si Om mendekati Resepsionis hotel.
"Ada yang bisa saya bantu pak? " tanya resepsionis.
"Tolong pesanan atas nama Erick Wijaya Gunawan" jawab si Om sambil menyodorkan KTP nya.
Resepsionis pun mengecheck komputernya.
"Atas nama Pak Erick. Kamar 317 Standard size single bed ya Pak." kata Resepsionis.
"Betul" sahut Erick.
"Kok single bed Om? Bukan twin bed? " protes Kiranti.
"Kan aku ingin tidur memelukmu malam ini" jawab si Om santai.
"Ki.. " Kiranti yang hendak mengatakan kita belum nikah tersadar untuk tidak mengucapkannya di depan umum. Apalagi ini hotel bisa panjang urusannya nanti.
"Iya Om" kata Kiranti meralat ucapannya tadi.
Si Om pun tersenyum licik. Segera mereka menuju kamar mereka. Lalu mandi membersihkan diri bergantian. Si Om duluan. Setelah itu Kiranti. Kiranti yang keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur bergerak menuju ranjang. Kemudian naik dan berbaring. Sementara si Om masih sibuk dengan laptopnya. Begitu Kiranti berbaring, si Om mematikan laptop. Kemudian berbaring dan memeluk Kiranti dari belakang. Kiranti yang kaget hendak berteriak namun diurungkan.
"Apa apaan sih Om? Main peluk saja" protes Kiranti sambil meronta.
"Lho kan sudah diijinkan di depan Resepsionis tadi" jawab si Om.
Jadi itu maksud senyum licik si Om tadi. Untung banyak nih si Om.
"Om curang" protes Kiranti sambil kembali meronta. Pelukan si Om kuat banget susah lepasinnya.
"Sudah jangan meronta. 'Adikku' bangun tuh jadinya. Nanti ngamuk pula dia kalau kamu menggeliat terus." kata si Om.
Kiranti pun tenang. Tenang karena takut si Om berbuat lebih.
"Peluk saja ya. Awas berani macam macam!!!" ancam Kiranti.
"Iya cuma satu macam kok. Tidak macam macam." jawab si Om dengan senang.
Akhirnya keinginan tidur meluk wanita kesampaian juga. Walau gugup dan gerah di awal tapi lama lama kok nyaman nih. Sementara Kiranti juga merasakan hal yang sama karena ini pertama kalinya tidur dipeluk pria. Awalnya risih dan panas. Lama lama terasa nyaman. Rasanya kok mesra banget tidur begini. Karena nyaman keduanya pun tidur dengan lelap bersiap menyambut hari esok.