Sultan Mah Bebas.

2243 Words
Sabtu pagi keesokan harinya. Kiranti bangun sedikit kesiangan. Dia lupa untuk menset alarm hp barunya. Hari mulai terang. Sebentar lagi jam 6 pagi. Dia menyadari ada tangan melingkar di perutnya. Satu kaki di atas betisnya. Dia pun ingat si Om tidur memeluknya tadi malam. Walau malu tapi ini terasa nyaman. Seperti inikah rasanya tidur dalam pelukan lelaki. Mengingat hari mulai terang. Kiranti menggeliat mecoba melepaskan diri dari pelukan si Om. Tersentak dia menyadari ada yang keras di belakangnya. Tepatnya di dekat b*k*ngnya. Rupanya adik si Om lagi glory morning. Si Om yang menyadari ada gerakan mulai terjaga. Membuka mata sebentar lalu segera mengeratkan pelukannya terhadap Kiranti. Dan kembali tidur. "Lepaskan Om. Aku mau bangun." pinta Kiranti. "Bentar lagi. Aku masih belum puas meluk kamu sambil tidur." jawab si Om malas. "'Adik' Om bangun tuh. Aku jadi tidak nyaman." protes Kiranti. "Benarkah? Ya sudah." kata si Om sambil melepaskan pelukannya. Kiranti bangun dengan jantung berdegup kencang. Gila nih si Om sudah tidur meluk, pagi pagi 'adiknya' bangun pula. Bikin aku cemas saja. Batin Kiranti. Mending aku mandi dulu deh. Kiranti pun bergegas mengambil pakaian ganti dan mandi. Selesai mandi si Om sudah bangun tapi masih malas turun dari ranjang. Masih nyaman berbaring. "Tadi malam aku bermimpi memeluk bidadari dari khayangan. " si Om mencoba menggoda Kiranti. "Aku mimpi dipeluk monster. Seramnya." jawab Kiranti. "Aku bukan monster." kata si Om tidak terima disamakan dengan monster. "Suka suka aku dong. Kan itu mimpiku." balas Kiranti. "Memangnya mimpi bisa diatur?" tanya si Om. "Om mau nanya nih." kata Kiranti meminta izin. "Apaan? Tanya saja langsung." si Om mengizinkan. "Begini lho Om. Waktu di kota J. Kan Om ninggalin saya sendirian di apartermen 2 hari beruntun. Terus sekarang Om bawa saya ke sini dekat dengan desa saya. Apa selama in Om tidak takut saya kabur? " tanya Kiranti. Si Om malah tertawa sebelum menjawab. "Di apartermenku di kota J memangnya kamu punya uang untuk kabur? Apalagi hari pertama kamu bahkan tidak punya pakaian yang layak selain pakaian minim dari klub malam." jawab si Om. "Tapi hari kedua kan ada uang dan pakaian layak Om." sahut Kiranti. "Memangnya kamu tahu jalan? " tanya si Om. "Tidak. Tapi bisa pake aplikasi GO-JEK ke terminal atau stasiun kereta api." sahut Kiranti. "Memangnya kamu berani?" tanya si Om. "Berani dong Om." jawab Kiranti. "KTP mu kan masih sama aku." balas si Om. "Iya juga ya Om." Kiranti nyengir. "Nih KTP mu. Aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu tidak akan kabur" si Om menyodorkan KTP Kiranti. "Wew tak takut aku kabur setelah dapat KTP kembali." sindir Kiranti. "Ngapain kamu kabur? Nanti siang setelah urusan di sini selesai. Kita ke desa mu. Masih mau kabur?" tanya si Om. "Benaran nih Om?" tanya Kiranti tidak percaya. "Serius. Aku mau mandi dulu ah. Mandiin dong." perintah si Om dengan maksud menggoda. "Ogah. Rugi banyak aku nanti." ketus Kiranti. "Harusnya untung banyak kan aku cowok seksi dan ganteng." si Om narsis. "Kita belum nikah Om" teriak Kiranti. Sedangkan si Om buru buru kabur ke kamar mandi. Selesai si Om mandi, keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi. "Ayo sarapan" ajak si Om. "Di mana Om? tanya Kiranti. " Di hotel saja kan dikasih voucher sarapan." kata si Om. "Ok." balas Kiranti singkat. Mereka pun turun ke cafetaria hotel dan mulai sarapan. Selagi sarapan, karyawan hotel menghampiri meja mereka. "Maaf Pak. Bapak yang bernama Erick Wijaya Gunawan?" tanya karyawan hotel. "Betul saya." jawab Erick. "Begini Pak. Mobil pesanan Bapak telah tiba. Nomor polisinya * **** **. Supir sudah siap mengantar Bapak ke mana saja." jelas karyawan hotel. "Ok. Selesai sarapan saya check out." sahut Erick. "Siap Pak. Selamat menikmati perjalanan anda." hormat si karyawan. Selesai sarapan, Erick dan Kiranti berkemas. Kemudian check out dari hotel. Menaiki mobil yang telah tersedia. Erick meminta diantar ke sebuah Bank. "Memangnya Bank buka hari sabtu Om?" tanya Kiranti. "Tutup. Spesial untuk saya tetap buka." Jawab si Om. "Kok bisa Om?" tanya Kiranti bingung. "Bisa dong kan saya Sultan." jawab si Om narsis. Iyalah Sultan mah bebas, batin Kiranti. Sampai di Bank tujuan. Mereka disambut manager dan teller. Rupanya mereka sudah tahu bahwa Erick akan datang. Erick menarik uang 1 miliar rupiah. Kemudian dimasukkan ke dalam koper kosong yang tadi ada di dalam mobil mereka. Kiranti hanya terpana takjub melihat uang sebanyak itu. "Untuk apa uang sebanyak itu Om? Kan ada kartu kredit atau kartu debit." tanya Kiranti. "Buat shopping yang hanya bisa menggunakan uang tunai." jawab si Om. Kiranti hanya mengangguk padahal tidak mengerti. Perjalanan dilanjutkan ke toko emas dan perhiasan. "Pilih cincin couple yang kamu suka." perintah si Om kepada Kiranti. "Untuk apa Om?" tanya Kiranti bingung. " Pilih saja. Tidak usah banyak tanya." perintah si Om lagi. Selagi Kiranti memilih cincin couple. Erick memilih beberapa kalung, beberapa gelang dan beberapa mata kalung yang semuanya terbuat dari emas. Tidak lupa membeli beberapa emas batangan berukuran 100gram. Setelah Kiranti memilih cincin couple dari emas bermatakan berlian. Erick membayar dengan kartu debitnya. Total hampir 1 miliar rupiah. Lagi lagi Kiranti tertegun melihat angka yang tertera. Ini benar benar belanja ala Sultan. Sultan mah bebas. Tinggal gesek kartu saja beres. Aslinya sih tidak juga. Uang dalam kartu kan merupakan hasil kerja si Sultan. Tidak salah juga sekali kali mereka menikmatinya. Perjalanan berlanjut ke sejenis toko kue dan pernak pernik.. Di sana, Erick membeli berbagai macam manisan dan pernak pernik. Berlanjut dengan makan siang di sebuah rumah makan. Awalnya Erick mengajak sang supir ikut makan bersama. Tapi sang supir enggan meninggalkan mobil karena menjaga barang bawaan mereka. Sang supir minta dibungkuskan makanan dan minta pelayan mengantarkan ke mobil. Si supir ingin makan di mobil sambil menjaga barang bawaan. Erick dan Kiranti pun hanya makan berdua. Siap makan mereka kembali ke mobil. Perjalanan pun dilanjutkan dengan berangkat ke desa asal Kiranti. Waktu telah menunjukkan jam 1 siang lewat beberapa menit. Diperkirakan mereka akan tiba di desa asal Kiranti jam 3 sampai jam 4 sore. Itu jika perjalanan lancar tanpa kendala. Kiranti merasa bahagia karena dia akan segera berjumpa kembali dengan ayah ibu nya. Dia benar benar rindu desa dan orang tuanya. Sesampainya di desa asal Kiranti. "Maaf pak. Rumah mana yang akan kita tuju? Bapak bisa beri tahu jalannya?" tanya Pak supir. Belum sempat Erick menjawab. Kiranti langsung memberikan arahan dengan semangat. "Lurus terus pak" "Nanti simpang empat belok kanan pak" "Di depan nanti belok kiri pak" Begitu seterusnya Kiranti mengarahkan jalan ke pak supir. Sampai tibalah mereka di depan sebuah rumah semi permanen. "Ini rumahnya pak." jelas Kiranti. Supir menghentikan mobil. Kiranti dan Erick segera turun dari mobil. Kiranti berlari menuju pintu tanpa perduli hal lainnya. Dia langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. "Ayah Ibu, Kiranti pulang" teriaknya. Tidak ada sahutan. Hanya keheningan tanda tidak ada aktivitas manusia di dalam. Kiranti mengeluarkan HP dan melihat jam. Jam 3.35 sore. Kiranti menyadari kemungkinan ayah dan ibunya masih di ladang. Biasanya waktu mengikuti ayah ke kebun, mereka akan pulang jam 5 sore. Jika rumah tidak ada orang berati ibunya juga ikut ke kebun. Padahal kondisi ibunya sudah kesusahan untuk berkebun. Mengingat itu Kiranti bersedih hati karena belum bisa membahagiakan ayah dan ibunya. "Kok sepi?" tanya si Om yang menyusul Kiranti. "Mungkin ke kebun Om" jawab Kiranti. "Jam berapa biasanya mereka pulang?" tanya si Om lagi. Si Om kemudian duduk di kursi teras rumah. "Biasanya jam 5 kadang lewat sedikit." jawab Kiranti. "Heemmm 1 jam lebih lagi. Kita tunggu sajalah." kata Erick. Tak lama kemudian seorang wanita tua lewat depan rumah Kiranti. Kiranti menyapanya dan berbincang. "Mbah Iyem." panggil Kiranti "Iki sopo yo" tanya Mbah Tukiyem "Ini aku Kiranti mbah." jawab Kiranti. "Eh Kiranti? Benaran Kiranti? Kok beda jauh? Makin ayu tenan. Sampai pangling mbah." kata Mbah Tukiyem. Mbah Tukiyem adalah tetangga sebelah rumah Kiranti. Wajar saja si Mbah pangling. Penampilan Kiranti benar benar jauh berbeda dengan sebelum meninggalkan desa. Wajah yang sudah terawat, kulit yang semakin putih berkat skincare. Pakaian yang bagus. Benar benar membuat penampilan Kiranti semakin sempurna. Beda dengan dulu. Kulit yang sedikit hitam sedikit kusam akibat paparan sinar matahari selama di ladang. Belum wajah yang tidak pernah dirawat. Pakaian yang sederhana. "Iya Mbah ini benaran Kiranti lho" kata Kiranti berusaha meyakinkan Mbah Tukiyem sekali lagi. "Maaf Mbah. Apa Mbah tahu di mana ayah ibu ku sekarang?" tanya Kiranti. "Tadi Mbah lihat mereka di kebun pak lurah. Lagi bantu bantu pak lurah membersihkan kebun dari rumput. Sebentar lagi mungkin pulang. Soalnya Mbah lihat kerjaannya sudah hampir selesai tadi. Tunggu saja." jawab Mbah Tukiyem. Benar juga 15 menit kemudian tampak Pak Suroso Kasman dan Ibu Siti Aminah sedang berjalan pulang dari kejauhan. Tentu saja Kiranti mengenali sosok kedua orang tuanya. Walaupun jarak mereka masih jauh. Dia pun melambaikan tangan dengan gembira. Sementara ayah ibunya malah menatap bingung melihat mobil dan 3 orang asing di depan rumah mereka. Mereka melangkah pulang dengan penuh tanda tanya. Mereka yakin salah satu adalah supir mobil. Sedangkan pasangan muda adalah majikan si supir. Ada perlu apa orang kaya tersebut di rumah mereka. Itu yang menjadi pertanyaan mereka. Sampai di depan pagar rumah. Mereka melihat dengan bingung. Baru saja hendak bertanya. Si wanita sudah berseru duluan sambil menghambur memeluk sang Ibu. "Ayah Ibu, Kiranti pulang" Barulah mereka mengenali putri mereka. "Kamu Kiranti anakku" suara Siti Aminah bergetar dengan air mata yang tidak terbendung. Sementara Pak Suroso segera merangkul keduanya dan menangis bahagia. Rasa rindu tidak tertahankan lagi. Apalagi selama ini mereka selalu diliputi kecemasan akan nasib putri mereka ini. Melihat putri mereka pulang dengan selamat adalah suatu berkah bagi mereka. Walaupun sang putri kemungkinan telah kehilangan kesucian, mereka tidak akan mempermasalahkan karena itu bukan keinginan sang putri. Asalkan pulang dengan sehat tanpa kekurangan sesuati, sudah membuat mereka sangat bahagia. Setelah puas melepas rindu. "Kamu baik baik saja nak? tanya ayah Suroso. "Baik Yah." jawab Kiranti. Ketiganya mulai masuk ke dalam rumah setelah Pak Suroso membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. "Ada tamu ya nak? Siapa dia? tanya Ayah Suroso. "Oh iya. Aku sampai lupa. Dia Om Erick. Orang yang telah menebusku dari klub malam Yah." jawab Kiranti. "Jadi si Amir b*j*ng*n menjualmu ke klub malam? K*p*r*t" kata Pak Suroso. "Dia menjualku ke agen. Agen itu yang membawaku ke klub malam kota J. Terus Om Erick yang menebus saya sebelum sempat ditawarkan ke p*l*ngg*n. Jadi saya masih perawan Yah" jawab Kiranti. Pak Suroso pun memanjatkan doa pujian kepada Tuhan. Pak Suroso kemudian menyuruh Kiranti untuk menghidangkan minuman. Dia bermaksud membersihkan diri dulu setelah pulang dari kebun. Setelah selesai membersihkan diri. Pak Suroso bergegas ke teras untuk berbincang dengan tamunya. Sementara Kiranti dan Ibunya memasak untuk makan malam. Demi menjamu tamu, ayam peliharaan pun dipotong. Pak Suroso berbincang akrab dengan Erick. Walaupun baru jumpa, sepertinya tidak masalah untuk menjadi dekat. Dari perbincangan akhirnya Erick tahu masalah yang menyebabkan Kiranti dibawa ke klub malam. Dari hutang 30 juta yang naik jadi 45 juta. Tidak lupa Pak Suroso berterima kasih kepada Erick karena mau menebus Kiranti. Bahkan sampai mengantar Kiranti pulang. Tetapi akhirnya Pak Suroso dikejutkan oleh perkataan Erick. "Maaf Pak, Saya tidak bermaksud mengantarkan Kiranti untuk dipulangkan kepada Bapak. Maksud saya ke sini adalah mengantarkan dia ketemu Bapak. Agar bisa saya bawa selamanya." kata Erick menyampaikan maksud kedatangannya. "Maksud Pak Erick ingin memiliki Dia. Dengan uang yang telah Pak Erick keluarkan?" tanya Pak Suroso yang menebak maksud lain Erick. "Jadi Pak Erick tidak rela? Jangan kurang ajar Pak!!! " lanjut Pak Suroso mulai emosi. "Tenang Yah. Maksud saya memiliki Kiranti dengan meminang putri Ayah sebagai istri saya. Yah." sahut Erick. Suasana hening. Cukup lama baru Suroso sadar maksud perkataan Erick. "Baik. Saya terima maksud anda. Tapi segala keputusan ada di tangan Kiranti. Bila dia setuju, saya tidak masalah. Kita tanyakan dulu kepada dia." ujar Suroso. Dia pun berteriak memanggil Kiranti agar keluar dari dapur. Kiranti yang mendengar panggilan sang ayah, segera keluar untuk menemui sang ayah. "Ada apa Yah?" tanyanya setelah di teras. "Nak Erick memintamu jadi istrinya. Kamu bersedia?" tanya Suroso kepada Kiranti "Boleh saya bicara dulu dengan Om Erick?" jawab Kiranti. Kiranti menarik si Om ke samping rumah agar bisa bicara berdua saja. "Apa maksud Om?" Kiranti bertanya. "Saya mau kamu jadi istriku." jawab si Om. "Tapi saya ingin menikah dengan orang yang mencintai dan dicintai oleh saya." sahut Kiranti. "Sayalah orangnya." Erick berkata dengan pede nya. "Saya tahu Om mencintai saya. Tapi saya masih ragu apakah saya mencintai Om. Saya tidak tahu bagaimana perasaan saya terhadap Om." ragu Kiranti. "Tidak apa apa. Belajarlah mencintai saya. Terimalah lamaran saya dulu." kata Erick sambil mengeluarkan cincin couple yang mereka beli tadi pagi. Kemudian meraih tangan Kiranti dan menyematkan cincin ke jari Kiranti. "Baiklah saya terima lamaran Om." Erick pun segera memeluk Kiranti. "Lepaskan jangan peluk peluk." Keduanya kembali ke teras. Menyampaikan hasil pembicaraan tadi. Pak Suroso sangat bersyukur dan menangis. Bu Aminah yang baru keluar setelah masak pun bingung. Setelah tahu apa yang terjadi, dia memeluk Kiranti dan menangis bahagia. Jalan jodoh memang aneh. "Pak toyo tolong turunkan barang- barang tadi." perintah Erick pada pak supir yang bernama toyo. Pak toyo segera menurunkan semua barang dari mobil termasuk koper pakaian Erick dan Kiranti. Kiranti menarik masuk koper pakaiannya. Erick menarik koper pakaian ke sampingnya. Setelah itu dia menunjuk barang- barang yang ada. "Ini barang seserahan dari saya untuk keluarga Bapak." kata Erick kemudian. "Koper yang ini berisi uang tunai. Tas itu berisi emas dan perhiasan. Sedangkan kotak itu berisi manisan dan pernak pernik seserahan." Erick menjelaskan. Sesuai perkataan Erick kepada Kiranti tadi pagi. Uang itu memang untuk membeli sesuatu yang hanya bisa dibeli tunai yaitu Kiranti. Sultan mah bebas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD