Shopping ala Sultan

2338 Words
Kamis pagi keesokan harinya. Waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Erick terbangun dari tidurnya. Seperti biasa dia akan bangun pukul 6 pagi setiap harinya. Tidak peduli jam berapa pun dia tidur pada malam harinya. Menegakkan badannya, dia melirik sekilas ke arah sampingnya. Dimana Kiranti masih terlelap karena sulit tidur pada malam harinya. Biasanya Kiranti sudah terjaga sebelum hari terang. Erick menyunggingkan senyum ketika melihat Kiranti. 'Indahnya' batin Erick. Erick segera turun dari ranjang bergegas mandi. Karena harus segera berangkat kerja. Sebelum masuk kamar mandi dia sempat memainkan HP sebentar. Kiranti terjaga karena pergerakan Erick. Setelah meregangkan tubuh sejenak, dia menegakkan tubuhnya sehingga posisinya duduk di atas ranjang. Dengan wajah dan rambut khas bangun tidur, dia melihat si Om yang berlalu masuk ke kamar mandi. Masih dalam mode malas, dia melihat ke sekeliling. Setelah kesadaran penuh, dia berniat untuk memasak sarapan pagi. Tapi seketika itu juga dia tersadar bahwa tidak ada apa-apa di kulkas si Om. Mengingat itu dia hanya duduk melamun saja berpikir apa yang harus dikerjakan. Erick keluar dari mandi hanya dengan kaos dalaman serta celana dalam model boxer. Kiranti membuang muka ke samping. Sedikit jengah karena si Om. Si Om tetap cuek saja. Menuju lemari pakaian dan memakai setelan kerjanya. Bel pintu berbunyi. Erick segera membuka pintu. Sementara Kiranti memeriksa isi kopernya. Mencari pakaian yang sepantasnya dia kenakan nanti setelah mandi. Mengingat pakaian yang dibawa dari klub malam sudah pasti model terbuka semua. Jadi dia harus mencari yang paling tertutup dari yang terbuka. Orang yang datang adalah pengantar makanan. Ternyata sebelum masuk kamar mandi, dia memesan makanan via online. Pengantar makanan yang sudah kenal dengan Erick menyerahkan makanan yang dipesan. "Wew tumben bawa cewek Bang" kata si pengantar makanan. Tentu saja si pengantar makanan dapat melihat ke dalam karena apartermen Erick berukuran minimalis. "Urus saja kerjaan lu. Pergi sana." usir Erick. "Gitu aja marah Bang. Ga seru ah." balas si pengantar makanan. "Pergi sana atau gue laporin bos lu kalau lu malas-malasan dan main- main saat ngantar makanan" ancam Erick. "Iya deh Bang gue pergi dulu. Jangan lapor Boss gue". mohon si pengantar makanan. Erick segera masuk. Kiranti yang telah selesai memilih pakaian hendak ke kamar mandi. " Mau makan dulu atau mandi dulu? " tanya Erick. 'Baiknya temani saya sarapan dulu deh" pinta Erick kepada Kiranti. Kiranti membatalkan niat mandi. Segera menuju meja makan dan menyantap sarapan yang baru saja tiba. Mereka berdua pun sarapan bersama. Bagi Erick ini layaknya sarapan ditemani kekasih. Walaupun belum ada status apapun di antara mereka. Semua masih menggantung. "Mau tinggal di apartermen atau ikut saya ke kantor?" tanya Erick sambil menikmati sarapannya. "Di apartermen saja deh Om. Baju saya model terbuka semua. Malu dipakai ke kantor Om." jawab Kiranti sambil menunduk karena malu menjelaskan perihal pakaiannya. "Baiklah jangan ke mana-mana ya. Tunggu saya kembali. Saya usahakan pulang sebelum jam 12 siang. Kita makan di luar nanti. Setelah itu shopping pakaian buat mu." kata Erick. "Iya Om. Lagian saya tidak kenal tempat ini. Mana berani ke mana-mana. Apalagi pakaian saya model begitu, malu mau keluar apartermen." sahut Kiranti. "Ok. Jangan sembarangan buka pintu ya. Hati-hati." ucap Erick. "Sama Om juga hati-hati di jalan. Saya tunggu Om pulang." balas Kiranti. Ya Kiranti memang harus menunggu si Om pulang karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Erick berangkat menuju kantor. Ia tiba jam 7.45 pagi. Walau masih ada waktu 15 menit sebelum kegiatan kantor dimulai, sudah banyak karyawan yang telah hadir dan bersiap-siap memulai aktivitas. Para karyawan menyapa Erick yang berlalu menuju lift yang akan membawanya ke lantai ruangan Erick. Erick membalas sapaan para karyawan sambil berlalu. Sampai di depan ruangannya. Rina sekretaris Erick menyapa. Erick membalas sapaan dan menanyakan jadwal kerja hari ini. "Ada jadwal meeting nanti siang?" tanya Erick. "Tidak ada pak. Jadwal meeting klien hari jam 9 nanti. Dan ada beberapa dokumen yang harus Bapak periksa dan tanda tangani. Dokumen tersebut sudah saya letakkan di atas meja Bapak." jawab Rina. "Baiklah, kalau ada klien minta ketemu nanti siang tolong dialihkan ke besok saja. Saya ada keperluan penting nanti siang.". perintah Erick kemudian. Erick tidak jadi masuk ke ruangan kantornya. Ada waktu 10 menit sebelum mulai kerja. Bisa untuk berbincang sejenak dengan Bayu. Dia pun melangkahkan kaki ke ruangan Bayu yang berada di sebelah ruangannya. Mengetuk pintu ruangan Bayu. "Siapa?" tanya Bayu. "Saya Bay, Erick." jawab Erick sambil membuka pintu. Erick pun melangkah masuk. "Ada apa, Rick? Masalah semalam? Mau kamu apakan gadis itu?" tanya Bayu. Memang tidak ada rahasia di antara keduanya selain rekan kerja atasan dan bawahan, keduanya juga teman dekat yang sudah seperti saudara sendiri. Saling bertukar cerita masalah pribadi sudah biasa mereka lakukan. "Entahlah Bay. Aku juga tidak tahu mau bagaimana. Ada rasa senang ketika melihat tatapan matanya. Rasa suka ketika melihat wajahnya. Mungkinkah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? " kata Erick yang masih bingung. "Kamu saja tidak tahu apalagi aku, Rick. Papa dan Mama sudah tahu? " tanya Bayu yang tidak bisa memberikan solusi apa-apa. Bayu memang memanggil orang tua Erick dengan sebutan papa dan mama. Karena orang tua Erick pun sudah menganggap Bayu seperti anak sendiri. Mereka pula yang meminta Bayu agar memanggil Papa dan Mama. "Belum. Bisa digantung aku kalau mereka tahu." balas Erick. "Belum tentu juga Rick" sahut Bayu. "Ya. Masalahnya aku bingung harus jelasin bagaimana kepada Papa dan Mama. Tidak mungkin aku bilang langsung aku beli istri ke mereka. Apa kata mereka nanti?!! " jelas Erick. Keduanya terdiam berpikir cukup lama. Sampai akhirnya Erick memutuskan balik ke ruangannya. Tiba di depan konter Rina yang berada di samping pintu ruangannya. Rina sibuk dengan kerjaannya. "Rina. Tolong pesankan 2 tiket ke kota S buat besok sore. 1 atas nama saya. 1 lagi atas nama ini" perintah Erick sambil menyerahkan KTP Kiranti ke Rina. KTP Kiranti meman dipegang Erick. Setelah penanda tanganan kontrak perjanjian pembelian, segala surat menyurat Kiranti diberikan ke Erick. Termasuk juga KTP Kiranti. Setelah memoto KTP tersebut dikembalikan Rina kepada Erick. "Cantik Pak" puji Rina ketika melihat pas foto Kiranti di KTP. "Iya" sahut Erick. "Saya tunggu hasilnya segera" perintah Erick. "Siap Pak. Nanti saya laporkan jika sudah selesai." sahut Rina. Erick pun bergegas masuk ke ruangannya. Langsung duduk di kursi kerjanya. Kemudian memeriksa dokumen yang berada di meja kerjanya. Dia cukup puas dengan kerja Rina yang sangat teliti memeriksa dokumen tersebut sebelumnya. Hampir semua langsung dia tanda tangan setelah selesai diperiksa ulang. Tinggal 1 yang sedikit bermasalah. Mungkin dia akan meminta Bayu untuk menghandle dokumen tersebut setelah meeting dengan klien jam 9 pagi. Karena waktu telah menunjukkan pukul 9 kurang sedikit. Terdengar ketukan di pintu yang diyakini sebagai klien yang akan datang hari ini. Erick mempersilahkan masuk. Terlihat Bayu membuka pintu dan menemani klien masuk. 2 orang klien masuk diikuti oleh Bayu. Erick bangkit dari kursi kemudian menjabat tangan kedua klien. Mengajak klien duduk di sofa yang tersedia. Pembahasan kontrak kerja antara Erick ditemani Bayu dengan kedua klien pun dimulai. Sempat disela oleh Rina yang masuk membawa minuman dan cemilan untuk para tamu dan Erick juga Bayu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 11.10 setelah pembahasan selesai. Kedua klien meninggalkan ruangan Erick setelah saling berjabat tangan. Semuanya tersenyum puas. Ada sedikit yang harus direvisi dari kontrak kerja. Tapi sudah hampir deal. Jadwal berikutnya hari selasa bakal segera ditanda tangani kontrak tersebut. Sepeninggal kedua klien. Erick menyerahkan dokumen yang sedikit bermasalah ke Bayu. "Coba kamu cek dokumen ini. Ada sedikit kesalahan di sana. Tolong handle. Aku mau pulang dulu." pinta Erick kepada Bayu. "Mau mengurus wanita semalam?" tanya Bayu sambil tersenyum nakal. Erick tidak menjawab hanya tersenyum kecil kepada Bayu. Dimana Bayu sudah mengerti arti senyuman tersebut. Erick pun berlalu meninggalkan ruangan. Berpesan kepada Rina bahwa dia akan pulang dan tidak ingin diganggu. Rina mengangguk tanda mengerti. Dalam perjalanan ke tempat parkiran, pesan dari Rina masuk ke HP Erick. Isinya adalah nomor kode booking pesawat buat ke kota S besok sore. Memang Rina adalah sekretaris andal. Sampai di dalam mobil Erick segera melajukan mobil kembali ke apartermennya. ***Kiranti**** Sepeninggal Erick ke kantor untuk bekerja. Kiranti kebingungan tanpa tahu kegiatan selanjutnya. Akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan apartermen Erick. Menyapu terus mengepel lantai. Membersihkan sofa dan perabot dengan kemoceng dan kain lap. Setelah beres semua, waktu telah menunjukkan jam 10.40. Kiranti pun hanya duduk termenung di atas sofa. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dia pun tertidur karena bosan. ***Erick*** Erick singgah sebentar ke toko pakaian yang ada di pinggir jalan. Dia membeli beberapa helai kaos untuk wanita. Juga beberapa helai celana panjang wanita berpinggang karet. Hal ini karena dia mengingat Kiranti tidak mungkin memakai gaun-gaun seksi pemberian klub malam jika ingin ke mall. Setelah selesai dia melajukan mobil kembali ke apartermen. Sampai di apartermen waktu telah menunjukkan jam 12.20. Setelah membuka pintu, dia mendapati Kiranti yang tertidur di sofa. Sempat melihat dan terpesona memandang wajah terlelap Kiranti cukup lama. Dia pun membangunkan Kiranti. "Bangun cantik. Kita mau keluar makan siang. " kata Erick sambil menguncang bahu Kiranti. Kiranti pun tersadar dari tidurnya. "Eh Om sudah pulang. Kok cepat pulangnya? " tanya Kiranti. "Saya kan sudah janji pulang cepat untuk mengajakmu makan siang dan shopping." kata Erick mengingatkan Kiranti akan janji Erick tadi pagi. "Eh iya. Aku lupa Om" kata Kiranti dengan tersenyum cengir. "Ganti bajumu dengan ini. " perintah Erick sambil menyodorkan paper bag berisi pakaian yang dia beli tadi. Soalnya Kiranti menggunakan gaun terusan sampai setengah paha dengan kaos Erick sebagai luaran. Paha yang setengah terbuka mengundang perhatian Erick. Kiranti yang sadar akan hal itu tersipu malu. "Jangan dilihatin terus Om. Aku malu." kata Kiranti sambil menyambar paper bag dari Erick. Dia pun bergegas masuk ke kamar mandi. Mungkin bergegas karena malu setengah paha yang terbuka terus ditatap si Om. Si*l dia tahu aku lihatin batin Erick. "Kita mau ke mana Om? " tanya Kiranti yang telah selesai ganti pakaian. Dengan pakaian kaos dan celana panjang karet. Penampilan yang sangat sederhana. "Kita ke mall yyy. Makan siang dulu. Terus shopping baju mu dan keperluan dapur." jawab Erick. "Asik. Tapi Om yang bayar kan? Soalnya aku kan kere, tak punya uang." sahut Kiranti. "Amanlah. Saya yang bayar. Kamu tinggal ambil saja." ujar Erick meyakinkan Kiranti. Sesampainya di mall, mereka segera masuk ke salah satu restoran. Segera bersantap makan siang berdua. Perut yang lapar menyebabkan keduanya makan dengan lahap. Tentu saja banyak yang memperhatikan mereka berdua. Hal ini disebabkan perbedaan penampilan keduanya. Si Om memakai setelan jas yang kelihatan mewah. Sedangkan sang gadis hanya berpenampilan sederhana. Kedua acuh saja dengan tatapan orang lain. Kan mereka tidak mengganggu orang lain, jadi kenapa harus dipikirkan. Selesai makan siang, mereka berjalan mencari butik pakaian di dalam mall. Kiranti yang tidak tahu apa apa hanya mengikuti saja langkah Erick. Ketika sampai di salah satu butik, handphone Erick berbunyi. Erick menyuruh Kiranti masuk dan memilih pakaian lebih dulu. Sementara dia menjawab panggilan telepon. Kiranti masuk dan hendak memilih pakaian. Tetapi seorang karyawan butik menghardiknya. "Jangan pegang pakaian di sini. Nanti kotor. Kamu tidak akan sanggup membelinya" "Siapa yang tidak sanggup beli?" tanya Erick yang sudah menyusul masuk setelah selesai menelepon. Ada ekpresi marah di wajah si Om. Dia tidak terima Kiranti diremehkan. "Jangankan baju itu. Kamu saja bisa dia beli. Saya yang bayar" lanjut Si Om lagi dengan nada tinggi. "Ayo kita cari butik lain" ajak si Om kepada Kiranti. Si pelayan hanya bisa diam menundukkan kepala. Erick dan Kiranti pun berlalu meninggalkan butik. Ketika di depan toko handphone di sebelah butik tadi. Erick mengajak Kiranti masuk. Kiranti hanya mengikuti. Erick menunjuk salah satu hp seharga 11 juta rupiah. Setelah diperiksa dan tanpa kendala. Kemudian diset agar siap pakai. Erick membayar dengan kartu kredit. Hp baru disodorkan ke Kiranti. "Ini untukmu" kata si Om. "Benaran nih Om? Ini kan mahal." tanya Kiranti berbinar. "Ambil saja" kata si Om lagi. "Terima kasih Om" lanjut Kiranti bahagia. "Jangan panggil Om terus dong. Nanti orang kira kamu sugar babyku." pinta Erick. "Tapi kan saya memang sugar baby Om saat ini." sahut Kiranti. "Terserah kamu deh." Erick terpaksa mengalah. Sampai di butik lainnya. Kiranti langsung memilih pakaian. Dia mengambil beberapa dan mencoba satu per satu. Dia terlihat ragu karena harganya yang menurut Kiranti mahal. Walau pas di badan Kiranti. Sedangkan Erick yang melihat Kiranti ragu tapi baju cocok untuk Kiranti, langsung menyuruh penjaga membawa ke meja kasir. Begitu seterusnya. Sampai meja kasir penuh dengan pakaian yang telah Kiranti coba dan Erick anggap sesuai. Kiranti yang akhirnya merasa cocok dengan pilihannya hendak mengganti kembali dengan bajunya semula. Tapi Erick melarang. "Langsung pake saja. Lepaskan tag harganya buat discreen di meja kasir." perintah Erick. Waktu di meja kasir, Kiranti terkejut dengan tumpukan pakaian yang dia coba tadi. Erick langsung membayar dengan kartu kredit. Total jumlahnya tentu fantastis. Mereka berlanjut ke butik pakaian dalam dan pakaian tidur. Kejadian serupa juga terjadi di sana. Bedanya pakaian dalam tidak bisa dicoba. Hanya pakaian tidur yang boleh dicoba. Untuk pakaian dalam Erick asal memborong saja. Untung Kiranti memperingatkan dan mengambil pakaian dalam yang sesuai ukuran tubuhnya saja. Kiranti hanya bisa menggelengkan kepala melihat gaya belanja si Om. Karena semua barang untuk keperluan Kiranti sebenarnya Kiranti merasa tidak enak hati. Kedua tangan Erick dan Kiranti penuh dengan belanjaan pakaian Kiranti. Erick melanjutkan ke toko tas, di sana ia membeli 1 set koper yang terdiri dari 3 buah koper beda ukuran. Kemudian memasukkan pakaian belanjaan mereka ke dalam koper. Sekalian si Om meminta Kiranti memilih tas tangan wanita. Awalnya Kiranti menolak karena harganya yang fantastis menurut Kiranti. Tapi akhinya memilih satu yang harganya hampir 30 juta rupiah karena dipaksa terus oleh si Om. Selanjutnya diteruskan ke toko sepatu wanita. Di sana si Om ingin membelikan Kiranti high heels. Tapi Kiranti menolak karena tidak bisa menggunakan high heels. Akhirnya Kiranti memilih tipe yg flat shoes. Si Om diam-diam mengambil 2 pasang high heels. Terus dilanjutkan ke toko sepatu olahraga. Kiranti memilih 1 sepatu untuk lari dan 1 sneaker di sana. Mereka kemudian meletakkan dulu belanjaan ke mobil sebelum belanja keperluan dapur dan bahan makanan. Setelah itu mereka menuju supermarket. Membeli peralatan dapur, bahan- bahan masakan dan lain lain yang sekiranya dibutuhkan. Setelah itu dilanjutkan dengan makan malam. Selesai makan malam mereka pun pulang ke apartermen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD