Tidur Seranjang

1407 Words
Mobil yang dikemudikan Erick melaju di jalanan. Dalam Mobil hanya ada keheningan. Erick fokus mengemudi. Kiranti hanya diam terpaku seraya melihat gedung dan lampu jalanan dari dalam mobil. Sambil memikirkan apa yang terjadi pada dirinya nanti. Suatu kewajaran karena dia sama sekali tidak mengenal pria yang telah menebusnya tadi. Memang pria ini kelihatan baik, apalagi sudah bersedia membayar 500 juta rupiah hanya demi dirinya. Mengingat itu adalah jumlah yang sangat besar. Bagaimana caranya membayar uang sebanyak itu. "Terima kasih Om. Sudah mau menolong saya" ucap Kiranti dengan tulus sekaligus memecahkan kesunyian dalam mobil. Erick hanya mengangguk saja menanggapi ucapan Kiranti. "Nama saya Kiranti Lestari" kata Kiranti lagi. "Saya tahu namamu. Kita bicarakan nanti saja. Biarkan saya fokus mengemudi dulu. " balas Erick. Bukan bermaksud arrogan memang Erick hanya ingin fokus mengemudi saja. Keadaan pun kembali hening. Sesampainya di suatu area parkir sebuah gedung tinggi, Erick memarkirkan mobilnya. Kemudian dia beranjak turun dan meminta Kiranti mengikutinya. "Ini dimana Om? Kita mau kemana? " tanya Kiranti yang mengikuti Erick turun dari mobil. Erick berputar ke belakang mobil dan mengambil koper Kiranti, lalu memberikan koper ke Kiranti. "Apartemen saya disini. Tidak mungkin saya bawa kamu ke rumah. Bisa-bisa saya digantung orang tua saya. Ayo ikut saya" jawab Erick. Mereka berjalan melewati lobby. Ada 2 orang satpam yang sedang bertugas. "Malam Pak Erick, tumben bawa cewek? Calonnya ya?" sapa salah satu satpam yang bernama Suprapto. "Malam juga pak. Iya nih calon istri." balas Erick sambil menggandeng tangan Kiranti. Kemudian terus berjalan ke arah lift. Kiranti terkesiap mendengar perkataan Erick. Walaupun berharap agar itu benar, tetapi Kiranti sadar statusnya hanyalah wanita yang ditebus Erick. Jadi sebaiknya tidak bermimpi terlalu tinggi. Setelah masuk ke dalam lift. Erick menekan tombol 16. Kiranti menyusul Erick masuk. Sampai di lantai 16. Erick keluar dari lift diikuti Kiranti. Sampai di depan pintu apartermen, Erick menekan layar dengan jempol nya. Pintu apartermennya memang menggunakan sistem sidik jari dan password. Erick membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. "Ayo masuk" katanya ke Kiranti. Kiranti pun masuk. Ternyata ini adalah apartermen tanpa sekat. Tidak ada kamar di dalamnya. Tempat tidur, dapur, ruang tamu ruang makan berada dalam satu ruang. Sedangkan kamar mandi dan toilet hanya dibatasi oleh kaca dengan pintu kaca pula. Transparan pula. Untungnya ada kain plastik yang dapat digeser untuk menutupi aktivitas dalam kamar mandi jika sedang digunakan. "Anggap saja rumah sendiri." kata Erick. Kemudian Erick menuju lemari pakaian mengambil handuk dan baju santai untuk tidur. Lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia berniat membersihkan diri terlebih dahulu. Badannya sudah terasa gerah oleh keringat dan bau asap rokok maupun bau alkolhol. Selagi Erick mandi, Kiranti duduk di sofa mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan apartermen. Terlihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hanya ada dapur di sudut belakang. Meja makan kecil dengan 4 kursi. Kamar mandi di sudut belakang lainnya. Di sudut depan ada ruang tamu dengan sofa tempat Kiranti berasa saat ini. Diam sudut depan lainnya ada tempat tidur ukuran besar. Di antara tempat tidur dan kamar mandi ada lemari pakaian. Benar-benar apartermen buat 1-2 orang penghuni. Cocok buat Erick yang sendirian. Cocok pula buat pasangan yang belum punya anak. Kiranti termenung dan berpikir dimana dia akan tidur. Apa di sofa tapi ukurannya tidak menunjang untuk tidur nyaman. Di tempat tidur tapi kan ada Erick yang pastinya tidur di sana. Erick yang selesai mandi keluar dengan kaos santai dan celana pendek santai. "Mandi dulu sana!" perintah Erick kepada Kiranti. Kiranti pun bergegas membuka koper pakaian dan mengambil gaun tidur serta perlengkapan mandi lainnya. Sempat ragu sejenak dan membolak balik pakaiannya. Akhirnya dia mantapkan diri untuk mengambil salah satu gaun tidur yang tidak terlalu mengekspos keseksian tubuhnya. Kemudian bergegas mandi membersihkan diri. Sementara Erick yang selesai mandi memilih duduk di atas ranjang bersandar ke dinding. Dia pun mengambil HP dan memeriksa pesan- pesan dan telepon yang masuk. Banyak pesan yang masuk ke chat grup Elite Populer. Isinya pada ghibahin masalah kejadian Erick di klub malam tadi. Kebanyakan sih hanya bercanda. Ataupun bertanya-tanya. Tapi yang paling membuat Erick sakit hati adalah chat dari Rossa dan Riko yang terkesan menghina Erick. Rossa : @Erick sudah tidak ada wanita lain ya? Sampai beli wanita p*l***r. Kasihan deh lu. Segitu tak lakunya. Riko : @Erick lepas dari Rossa. Hilang pesona Erick. Ternyata Rossa lebih bersinar. Riko : @Erick sudah putus asa ya. Memang sulit cari pengganti Rossa. Oh Rossaku memang the best. Itulah isi chat dari Riko dan Rossa yang dikirim ke chat grup Elite Populer. Masih ada beberapa chat lain dari Riko dan Rossa yang isinya kurang lebih senada. Ada chat dari Bayu, Rahayu dan Soni yang menegur Riko dan Rossa. Ada chat dari Rahayu yang tentu saja penasaran dengan apa yang terjadi dan bertanya tanya di chat grup. Wajar Rahayu kan berada di negeri seberang, tidak menghadiri acara Firman. Tapi dia tetap ikut dalam grup chat Elite Popular. Dan dia masih peduli dengan kabar dari anggota grup Elite Populer. Erick memilih mengabaikan semua dan malas membalas semua pesan yang masuk. Selesai mandi ragu-ragu Kiranti keluar dari mandi. Walau itu adalah gaun tidur yang paling tertutup yang dia pilih, tetap saja memperlihatkan keseksian tubuhnya. Erick yang sedang duduk bersandar di atas atas ranjang sambil memainkan hp pun tertegun melihat Kiranti yang menggunakan gaun tidur model tali tipis di pundak. Bahu dan tali br* terpampang jelas. Sungguh pemandangan indah tersendiri buat Erick. "Malu Om. Jangan dilihatin terus." ujar Kiranti membuyarkan lamunan Erick. "Lho kok pake baju tidur yang begitu? Tidak ada yang lain? " tanya Erick. "Tak ada Om. Dari sana kan memang dikasih baju tidur model begini semua. Baju tidur yang lain malah lebih seksi. Ada model lingerie pula Om. Lebih parah kan. " jawab Kiranti. "Ya sudah. Coba kamu cek lemari pakaian saya. Pilih kaos yang agak kecil buat luaran baju tidurmu. Saya takut tidak bisa menahan diri kalau bajumu seperti itu." kata Erick. Kiranti segera membuka lemari pakaian Erick. Memilih salah satu kaos dan kemudian memakainya. Kebesaran sih tapi lumayan untuk menutupi bahunya. Daripada bahunya terekspos dan menjadi santapan mata Erick. Tiba tiba saja perut Kiranti berbunyi menandakan lapar. Tadi sore dia memang hanya makan sedikit karena tidak selera akibat memikirkan bakal dijual. Erick yang mendengar itu pun tertawa. Kiranti merengut melihat Erick yang tertawa. Puas tertawa. "Lapar? " tanya Erick. Kiranti mengangguk malu. "Ada Indomie di laci. Masak sana. Kalau bisa masakin juga buat saya." kata Erick. Sebenarnya Erick tidak lapar. Hanya karena mengingat Indomie selera makannya tergoda. Kiranti memeriksa laci dan mengambil 2 bungkus Indomie. Kemudian memeriksa isi kulkas dan mengambil 2 butir telur. Isi kulkas nyaris kosong. Hanya berisi beberapa butir telur dan beberapa botol air mineral. Maklum isi kulkas pria single. Kiranti memasak Indomie. Setelah siap dipindahkan ke dalam 2 mangkuk. Dan disajikan ke atas meja. Erick pun segera menuju meja makan. Mereka berdua pun menyantap mie yang terhidang. Mirip sepasang kekasih yang sedang bersantap bersama. Selesai makan, Kiranti membersihkan meja dan mencuci peralatan masak dan makan yang mereka gunakan tadi. Sementara Erick membersihkan gigi. Setelah selesai mencuci peralatan makan, Kiranti juga membersihkan gigi. Waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Kiranti menuju ke sofa dan duduk. Dia ingin membicarakan hal terkait dirinya dengan Erick. Sementara Erick sudah berada di atas ranjang. Kelihatannya bersiap untuk tidur. "Maaf nama Om kalau tidak salah Erick ya? " tanya Kiranti ingin memulai perbincangan. "Betul. Kamu kan sudah dengar teman teman saya memanggil begitu" jawab Erick. "Maaf Om Erick, kalau saya boleh tahu. Apakah yang akan Om lakukan terhadap saya? " tanya Kiranti lagi. "Sudah tidak usah kita bahas itu sekarang. Besok baru kita bahas. Baiknya kita tidur beristirahat dulu." sahut Erick. Kiranti pun diam dan mengangguk. Tapi dia segera terkejut atas tindakan Erick selanjutnya. "Tidur sini" perintah Erick sambil menepuk sisi ranjangnya yang kosong. "Sebaiknya saya tidur di sofa saja Om." balas Kiranti mencoba menghindar. "Tidur di sofa akan membuat badanmu sakit. Tidur sini. Saya tidak akan macam-macam sama kamu." kata Erick. Kiranti melangkah dengan gugup ke arah ranjang. "Benar tidak macam-macam kan? " tanya Kiranti gugup. "Iya. Cepatan sudah larut malam ini" balas Erick. Kiranti pun naik ke ranjang dan membaringkan diri di sebelah Erick. Ada rasa cemas dan gugup yang luar biasa di wajahnya. Ini adalah pertama kali dia tidur seranjang dengan pria. Sebenarnya Erick pun merasa gugup karena ini pun pengalaman pertamanya tidur seranjang dengan wanita. Tapi Erick memilih mengabaikan dan segera tidur. Sangat sulit buat Kiranti untuk tidur karena masih cemas. Tapi karena rasa kantuk yang teramat dalam, akhirnya Kiranti pun terlelap dalam mimpi indah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD