Malam Pertama?

2030 Words
Si Om mendekati Kiranti. Seketika memeluk pinggang Kiranti dari belakang. Bibirnya mencium dan mengecup leher samping dan belakang Kiranti. Kiranti sempat kaget. Namun sadar bahwa mereka saat ini mereka adalah suami istri. Dan wajar bila si Om melakukannya. Hanya ada rasa malu di hati Kiranti. Ini adalah pertama kalinya dia mendapat cumbuan seperti ini. Sedikit risih namun tidak ada penolakan. Cukup lama si Om mencumbu Kiranti. Sampai akhirnya si Om menghentikan cumbuannya di leher Kiranti. Dia membalikkan badan Kiranti menghadapinya. Keduanya kini berhadapan saling menatap penuh arti. Si Om pun meraih belakang kepala Kiranti. Memajukan kepalanya. Diikuti pagutan ke bibir Kiranti. Kembali tiada penolakan. Malah Kiranti mulai membalas pagutan si Om. Cukup lama keduanya saling memagut. Sampai merasakan kurangnya oksigen yang menyebabkan sesak. Si Om dan Kiranti pun melepaskan pagutan dengan nafas terengah. Kembali saling menatap dengan senyum. Keduanya menikmati aktivitas mereka. "Boleh dong?" Si Om seolah olah meminta ijin. Kiranti pun hanya mengangguk. Tapi si Om tiba tiba mencubit hidung Kiranti. Membalikkan badan dan berjalan menuju ranjang. Membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Kiranti segera menyusul membaringkan tubuh ke atas ranjang di samping si Om. Rasa penasaran menerpa Kiranti. Disertai rasa gugup dan khawatir. "Jadi Om?" tanya Kiranti. "Kita istirahat saja dulu. Aku ngantuk semalam sulit tidur. Mana subuh sudah bangun. Kamu pasti juga capek dan kurang tidur. Besok malam saja kita 'bertempur' perdana di atas ranjang baru kamar kita. Aku merasa kurang nyaman untuk melakukannya secara perdana di sini." kata si Om. Si Om mengutarakan keadaannya saat ini. Kiranti merasa sedikit kecewa. Namun juga sedikit lega. Akhirnya tersenyum dan tidur tiduran saja di atas ranjang. Tidak lama kemudian si Om terlihat tertidur pulas. Kiranti memandangi wajah yang tengah terlelap. 'Tampan juga' batin Kiranti. Lagi tidur terlihat lucu juga. Ingin rasanya Kiranti mengelus rambut dan wajah si Om. Tapi ditahan karena tidak ingin mengganggu istirahat si Om. Tanpa sadar Kiranti juga ikut terlelap. Si Om terbangun sejam kemudian. Waktu masih sore. Dipandanginya Kiranti yang pulas dalam tidurnya. 'Manis dan cantik' batin si Om. 'Sekarang sudah jadi milikku'. Si Om terus memandangi wajah Kiranti sampai Kiranti terjaga dari tidurnya. Kiranti mengerjap ngerjakan mata dengan lucu. Dan keduanya pun saling memandang dalam jarak dekat. Senyum mengembang perlahan. Si Om membelai rambut Kiranti. Menikmati suasana mesra yang tercipta di antara mereka. Si Om pun menyandarkan badan di kepala ranjang. Kiranti bergeser dan menyandarkan kepala di d**a si Om. "Om. Kok di lantai ini kamarnya hanya 5 tanpa nomor pula? Ini kan hotel." tanya Kiranti. Memang betul juga kenapa untuk sebuah hotel di lantai mereka berada sekarang hanya ada 5 kamar. Dan tidak ada nomornya pula. Tentunya mengundang tanda tanya. "Ini lantai khusus pemilik saja. Dua kamar itu adalah ruangan kantor. Satu kantor untuk meeting darurat. Satu lagi kantorku. Tiga lainnya adalah kamar khusus. Yang ini adalah kamar khususku hanya aku, Papa dan Mama yang bisa mengaksesnya. Dua lainnya bisa diakses oleh keluargaku. Papa, Mama, Nainai, Yanto dan Karen. Termasuk juga Ai Farah dan keluarganya." jawab si Om. "Oh jadi gitu. Terus ini kamar kok kamar mandinya tidak pakai tirai seperti di apartemen Om?" tanya Kiranti. " Eehhhmm itu harusnya ada tirainya. Cuma si Awen nakal. Dia suruh lepasin kemarin." jawab si Om santai menyalahkan A Wen. Kening Kiranti berkerut sejenak. Tapi segera dia menyadari sedang diusili si Om. Bukannya A Wen ya Om Erick juga. "Jadi itu kerjaan Om?" tanya Kiranti dengan wajah kesal. " Bukan. Itu kerjaan A Wen." elak si Om. "Erick dan A Wen apa bedanya?" tanya Kiranti semakin kesal. "Beda dong. Huruf dan bacaannya saja beda jauh." jawab si Om kemudian tertawa. "Sama saja orangnya. Dasar nakal." sahut Kiranti mencubit pinggang si Om. Si Om yang sempat tertawa langsung mengadu kesakitan. "Lepasin dong. Sakit nih." pinta si Om. "Biarin saja sakit." gerutu Kiranti. "KDRT nih namanya." sahut si Om. Kiranti melepaskan cubitannya. Si Om mengelus pinggangnya. Tapi tersenyum melihat wajah cemberut Kiranti. "Weww ada mulut bebek." sahut si Om. Kiranti segera melayangkan bantal ke muka si Om. Sementara si Om malah tertawa senang. Berhasil menjahili Kiranti. "Keluar yuk. Bosan nih di kamar." ajak si Om. "Kemana Om?" tanya Kiranti. "Keliling Hotel saja. Ke kolam renang. Cafetaria dan Resto Hotel. Atau mau ke dapur. Lihat chef chef handal lagi masak." jawab si Om. Mendengar kata masak Kiranti langsung bersemangat. Karena dia memang suka memasak. "Dapur saja Om." usul Kiranti. Eh gawat kok malah dapur pikir si Om. Kan bau masakan dan panas pula. Si Om kini menyesal mengajak Kiranti keliling hotel. Apalagi tujuannya dapur. " Tidak takut panas di dapur?" si Om mencoba mengelak. "Tidak dong Om." balas Kiranti. "Boleh deh. Tapi kita dinner di Resto hotel ya." tawar si Om. "Aku yang masak ya Om?" pinta Kiranti. 'Tidak boleh. Aku mau makanan dinner ala barat gitu." tolak si Om. "Masakanku dak enak ya Om." sedih Kiranti. "Enak kok. Tapi ga sesuai tema dan tempat. Di Resto Hotel makanan ala barat gitu dong. Kamu masak di rumah saja. Pasti kumakan." ujar si Om. Senyum Kiranti kembali mengembang. "Yuk jalan." Kiranti segera bangun dan merapikan pakaian, wajah dan rambutnya. Si Om mengambil celana panjang dan mengganti celana pendeknya. Setelah siap keduanya bergegas keluar ruangan. Sampai di depan lift. Si Om menekan layar kecil pemindai sidik jari. Tidak lama pintu lift naik dan terbuka. Si Om menggenggam tangan Kiranti dan mengajaknya masuk ke dalam lift. Dalam lift si Om mendekatkan wajah ke sebelah wajah Kiranti dalam posisi berhadapan. Kiranti mengira si Om mau menciumnya. Segera memejamkan mata. Tidak tahunya si Om hanya menyebutkan beberapa deret angka. "****** . Password lift ini." bisik si Om di telinga Kiranti. Si Om pun kembali menjauhkan wajahnya. Kiranti hanya bisa malu karena salah menduga. "Nanti kita set ulang password lift dan pintu kamar hotel pakai sidik jarimu." ujar si Om. Saat ini mereka telah berada di dapur Hotel. Kiranti sangat senang melihat peralatan dapur hotel ditambah skill para chef yang handal dalam bekerja. Tentunya berbeda jauh dengan skill Kiranti yang hanya terbiasa memasak makanan tradisional. Dan ini merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi Kiranti. Sedangkan si Om hanya bisa menggerutu menahan bau masakan dan panas dapur. Tapi terpaksa dia tahan. Semua demi sang istri. Keringat bercucuran di dahinya. Kaosnya mulai basah oleh keringat. Sekali lagi dia berusaha sabar. Sampai akhirnya waktu telah menunjukkan jam makan malam. Si Om pun mengajak Kiranti ke Resto Hotel. Sambil menanyakan menu yang diinginkan Kiranti. Dikarenakan Kiranti telah melihat langsung makanan yang dimasak. Dia tinggal menyebut masakan sambil menunjuk chef yang memasak. Dia memesan dua macam hidangan yang menurutnya bakal enak dia cicipi. Sementara si Om memesan beef steak. Mereka pun menuju Resto Hotel. Mencari tempat duduk dan menunggu hidangan diantarkan. Tidak lupa memesan minuman. Pesanan segera datang tidak lama kemudian. Mereka pun menikmati dinner tersebut. Sekembalinya ke atas lantai atas. Si Om membantu Kiranti mensetting ulang pintu lift dan pintu kamar hotel agar bisa diakses dengan sidik jari Kiranti. Mereka kembali ke kamar mereka. Si Om yang sudah gerah ingin segera mandi. "Mandi bareng yuk." ajak si Om sambil masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam dia menghidupkan keran air panas untuk ditampung ke dalam bath tub. "Malu Om." ujar Kiranti. "Ngapain malu. Kita sudah resmi kok. Lagipula kamu mandi sendiri pun tetap saya nonton siaran langsung kamu mandi." sahut si Om. Jelaslah begitu. Dindingnya kaca transparan gitu. Tanpa tirai pula. Kiranti berpikir cukup lama. "Tapi kalau 'burung' Om naik gimana?" ragu Kiranti "Kamu puaskan dong si 'burung'." jawab si Om santai. "Tadi Om bilang mau di rumah Om aja 'pertempuran perdana' kita." ujar Kiranti. "Bisa kok kita saling memuaskan dan si ' burung' tidak harus masuk 'sarang'." sahut si Om sambil mengedipkan mata. "Masa sih bisa begitu?" tanya Kiranti. 'Pakai mulut dan tanganmu dong." jawab si Om sesuka hatinya. "Jijik Om." sahut Kiranti. "Pakai mulutmu mencumbui tubuhku. Pakai tanganmu memuaskan si 'burung'. Bisa kan?" bujuk si Om. "Tidak pandai Om." Kiranti masih ragu. "Belajar dong cara memuaskan suamimu ini. Ayo kita mandi." ajak si Om. Si Om segera melepaskan semua pakaiannya. Kini dia polos di depan Kiranti. Kiranti sedikit jengah melihat si Om polos tanpa menggunakan apa pun. Kiranti masih diam ragu. Si Om mendekat dan menjulurkan tangan. "Mau aku bantu lepaskan dress mu?" tanya si Om. Tangan nya sudah menggeser turun resleting dress Kiranti. Kiranti membiarkan saja aksi si Om. Dress pun jatuh ke lantai. Menyisakan Kiranti hanya dengan dalaman saja. Si Om pun mulai menarik lepas pengait Br* Kiranti. Tidak butuh lama Br* pun jatuh ke lantai. Sekarang kedua tangan si Om sudah meraih kedua sisi celana d*l*m Kiranti. Dengan satu tarikan ke bawah. Maka poloslah tubuh Kiranti. Si 'burung' sudah berdiri dengan gagah. Si Om merangkul tubuh polos Kiranti. Menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi. Air dalam bath tub sudah hampir penuh. Si Om mematikan keran. Si Om menyalakan shower dan menyetel air ke suhu yang dirasa pas. Selang shower diarahkan ke tubuh Kiranti. Setelah dirasa cukup basah dia pun menyabuni tubuh Kiranti. Tangan bergetar karena gugup. Ini pertama kalinya dia memandikan seorang wanita. Wajah Kiranti bersemu merah mendapat perlakuan si Om. Hatinya gugup namun senang. Si Om menyentuh leher turun ke punggung terus bergerak ke perut dan bagian sensitiv atas tubuh Kiranti. Dia pun mulai menyabuni kedua bukit kembar tersebut. Tentu saja sambil mempermainkan dan sedikit meremasnya. Kiranti sedikit melenguh merasakan suatu sensasi tersendiri dari aksi si Om. Sekarang si Om bergerak menyabuni bagian bawah tubuh Kiranti. Dimulai dari telapak kaki kiri kemudian naik sampai ke paha kiri Kiranti. Tentu juga sambil mempermainkan dengan mengelus elus paha Kiranti. Kemudian pindah ke kaki kanan Kiranti. Hal serupa kembali dilakukan. Tapi kali ini si Om lanjut ke area paling sensitive Kiranti. Si Om pun menggosok dengan cepat area tersebut. Kiranti tentu merasakan suatu sensasi tersendiri. Dia hendak menghentikan aksi si Om. Tapi si Om malah semakin gencar menggosoknya. Sampai akhirnya Kiranti merasakan hendak pipis. "Berhenti Om. Kiranti mau pipis." Si Om tidak perduli. Tetap dengan aksinya. "Lepaskan saja jangan ditahan." seru si Om. Tidak lama Kiranti pun merasakan cairan keluar dari area sensitive nya. Disertai rasa melayang ke atas langit. Rupanya itu bukan pipis tapi cairan pelepasan Kiranti. Rupanya itulah rasa o*****e. Pengalaman pertama buat Kiranti. Si Om menyabuni b****g Kiranti sambil sedikit meremasnya gemas. Setelah menyabuni tangan Kiranti juga. Tubuh Kiranti dibersihkan dari sabun. Tubuhnya masih sedikit lemas dan terasa masih melayang. Si Om menyerahkan selang shower ke Kiranti. Sekarang giliran Kiranti memandikan si Om. Kiranti mengambil nafas cukup lama. Dia memulai dengan menyiram tubuh si Om. Dilanjutkan dengan menyabun kedua tangan si Om. Sesekali Kiranti melirik 'burung' si Om. Kemudian menyabuni leher turun ke d**a sampai perut si Om. Kiranti berputar ke belakang si Om mulai menyabuni punggung si Om. Kemudian mulai menyabuni kedua kaki si Om bergantian. Terus menyabuni b****g si Om. Membalas perlakuan si Om tadi. Kiranti menampar b****g si Om dengan gemas. Si Om kaget namun kemudian tertawa. Ternyata Kiranti bisa nakal juga. Kali ini Kiranti menyabuni 'burung' si Om. Kiranti pun menggosok pelan 'burung' tersebut. Terasa keras. Namun si Om merasa tangan Kiranti kaku. Si Om pun menjulurkan tangan menuntun tangan Kiranti agar rileks. Pelan pelan melakukannya terus bertambah cepat hingga si Om mencapai pelepasan. "Terima kasih." bisik si Om di telinga Kiranti. "Sama sama Om." ujar Kiranti. Seusai membilas tubuh si Om. Keduanya pun berendam dalam bath tub. Si Om berada di belakang. Kiranti menyandarkan punggung di d**a dan perut si Om. Tangan si Om merangkul tubuh Kiranti melalui bahunya. Cukup lama keduanya berendam sampai akhirnya memutuskan untuk segera beristirahat. Membersihkan gigi. Mengaplikasikan perawatan tubuh untuk malam hari. Kemudian hendak berpakaian. Kiranti kaget tidak menemukan piyama tidur di kopernya. Hanya ada lingerie saja untuk pakaian tidur. Apakah harus mengenakan dress buat tidur. Tapi pasti tidak nyaman. Si Om memberikan piyama tidurnya dan memutuskan menggunakan kaos dan celana pendek saja untuk tidur. Walau piyama tidur si Om kebesaran buat Kiranti. Kiranti terpaksa memakainya. Untung pinggang celana menggunakan karet. Tapi bawahnya jadi slebor. Daripada pakai lingerie atau pakaian dalam doang. Bisa masuk angin besoknya. Keduanya masuk ke dalam selimut. "Aku kangen tidur memelukmu. Boleh ya?" ijin si Om. Kiranti menoleh sekilas kemudian menganggukkan kepala. Si Om pun dengan semangat 45 memeluk Kiranti dari belakang. Suatu hal yang pernah membuatnya candu berhari hari yang lalu. Keduanya pun terlelap untuk menyambut esok hari yang baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD