Misteri Kamar Misterius

1544 Words
Pagi hari nya. Kiranti sempat meminta kepada si Om agar mampir ke apartemen. Dirinya ingin membersihkan apartemen. Apalgi mengingat kekacauan yang dibuat si Om sebelum mereka tinggal di rumah keluarga Gunawan. Si Om mengatakan kekacauan sudah dibersihkan. Tapi Kiranti tidak percaya. Dia ingin melihat sendiri. Si Om pun membawa Kiranti ke apartemen. Dan benar kata si Om, apartemen bersih seolah olah ada yang mengurus. Kata si Om cukup pake jasa pembersih saja. Pesan online. Beres deh. Hanya sprei dan pakaian yang si Om cuci sendiri pakai mesin cuci. Rupanya si Om menyempatkan diri ke apartemen mencuci sprei dan pakaian kotor mereka hari itu. "Om cuci dalaman Kiranti juga?" tanya Kiranti. "Iya lah. Masa orang lain." jawab si Om santai. "Dak risih Om? Itu kan dalaman wanita." tanya Kiranti. "Tidak. Lagipula bau dalamanmu enak lho." sahut si Om sambil tersenyum nakal. " Om cium dalamanku waktu itu?" tanya Kiranti heran. Si Om hanya tersenyum dan mengangguk. Kiranti pun menggelengkan kepalanya tidak percaya kelakuan si Om. Adakah yang segila si Om? Dari apartemen tujuan berikut adalah Bank. Si Om ingin membuatkan rekening dan kartu kredit atas nama Kiranti sendiri. Sebenarnya Kiranti telah memiliki akun rekening waktu masih SMU di kota S. Cuma diragukan masih aktif atau tidak mengingat bahwa sisa saldo waktu ditinggalkan dulu sangat minim. Dan sudah lama tidak digunakan. Setelah di cek ternyata memang sudah dibekukan. Sedangkan untuk membuat rekening baru terkendala surat menyurat. KTP yang digunakan Kiranti saat ini masih KTP daerah asalnya. KTP dan kartu keluarga baru masih menunggu akte nikah dari kantor catatan sipil. Terpaksa si Om memberikan salah satu kartu kreditnya untuk pegangan Kiranti. Setelah semua surat menyurat pernikahan mereka selesai akan dibuat rekening baru untuk Kiranti. Memutuskan untuk makan siang dulu sebelum kembali ke rumah Papa. Kali ini Kiranti memilih makanan fast food McDonald. Dia sebenarnya hanya ingin menjahili si Om dengan menyuruhnya antri. Selagi si Om antri, Kiranti pun mencari tempat duduk. Dia mendapatkannya duduk menunggu. Tapi ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Si Om yang lagi antri disamperin 3 orang remaja tanggung. Mungkin sekitar 15- 16 tahun. Anak SMP atau awal SMU begitulah taksiran Kiranti. Salah satu dari mereka mulai menggoda si Om. Awalnya hanya menyenggol tubuh si Om. Tapi si Om tidak bereaksi marah. Hanya tersenyum tipis. Melihat reaksi si Om. Mereka mengira si Om tertarik. Semakin gencarlah aksi mereka. "Om. Bagi nomor kontaknya dong." pinta si penyenggol tadi. Si Om tersenyum tipis tidak menjawab. Hanya membayar pesanan saja. Kemudian berjalan ke arah Kiranti sambil membawa pesanan. Para cabe cabean mulai mengikuti si Om. "Om jadikan kita sugar baby Om dong." rayu salah satu dari mereka. Kiranti yang mendengar perkataan si remaja tersebut tersenyum menahan tawa. Jarak si Om memang sudah dekat kala itu. Si Om meletakkan makanan di atas meja makan tempat Kiranti duduk. Berbalik melihat mereka. "Aku sudah punya nih satu sugar baby." kata si Om sambil menunjuk Kiranti. Tapi cabe cabean tersebut masih keras kepala. Ngotot tidak mau menyerah. "Tambah lagi saja sugar babynya Om. Kan kita masih ok, segar muda dan menarik." kata salah satu dari mereka. "Jadikan saja kami sepaket sama kakak itu." rayu yang lainnya. "Kalian belum cukup umur. Badan masih kurus gitu beda dong dengan sugar baby ku." sahut si Om. "Makanya jadikan kita sugar baby Om juga. Biar dipupuk seperti kakak ini." rayu mereka lagi. Sambil tangannya merangkul lengan kanan si Om. Buset nih remaja tanggung. Berani amat. Malah si Om tetap tenang kali ini wajahnya hanya datar tanpa ekspresi senyum seperti tadi. Kiranti sendiri mulai terganggu juga atas aksi cabe cabean. "Tahukah kalian saya ini sugar baby resmi Om ini." ucap Kiranti sambil menaikkan tangan memperlihatkan cincin di jari nya. Seketika para cabe cabean mulai mundur. "Waduh istrinya tuh. Mending kita cari yang lain saja." salah satu dari mereka mengajak temannya pergi. Rupanya mereka takut juga kalau ketemu istri resmi. Bisa panjang perkara. "Yuk pergi. Salah sasaran nih. Aku kirain tuh sugar baby dia. Sama seperti kita." Mereka pun segera bergegas pergi meninggalkan si Om dan Kiranti. Sepeninggal mereka. Kiranti dan Erick tertawa lepas. "Om biasanya pasti banyak yang menggoda seperti tadi ya?" "Sesekali iya sih. Orang akunya ganteng begini." jawab si Om. Si Om narsis nih. Kiranti mencibir. "Gimana Om nolak biasanya?" tanya Kiranti lagi. "Tolak halus saja langsung sih. Tapi kalau yang ngotot seperti tadi. Biasanya aku tinggalkan saja. Jalan terakhir panggil petugas keamanan saja." Erick dan Kiranti pun pulang ke rumah. Mereka hendak mengantarkan Ayah Ibu dan Andi ke bandara untuk pulang ke kota S nanti sore. Ayah dan Ibu akan menginap semalam di hotel kota S sebelum pulang ke desa mereka. Tiket pesawat dan reservasi hotel telah dilakukan oleh Erick. Hanya mengirim kode booking kepada Andi. Andi berpamitan lalu memeluk kakak dan kakak iparnya bergantian. Setelah mengucapkan salam perpisahan dan memeluk Erick dan Kiranti. Ayah dan Ibu memasuki terminal keberangkatan mengikuti Andi. Kiranti menatap keberangkatan mereka dengan hati sedih. Lalu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Orang tua dan adiknya akan menjalani hidup mereka seperti biasa. Membiarkan Kiranti yang akan menjalani hidup baru di kota ini. Pulang dari Bandara, Erick sedikit kecewa karena ternyata penataan ulang kamar tidurnya belum selesai. Perabotan pesanan khusus masih ada beberapa yang belum siap dipasang. Ada sedikit kendala dalam pemasangan. Dan baru akan siap besok. Terpaksa Erick dan Kiranti menggunakan kamar lama Kiranti. Sesuai dengan keinginan si Om yang ingin melakukan 'pertempuran perdana' di ranjang baru kamarnya. Maka si Om pun terpaksa menahan hasratnya. Buat Kiranti sebenarnya tidak masalah melakukan 'pertempuran perdana' di mana. Tapi tentu saja dia menuruti kehendak si Om. Beberapa waktu tinggal di rumah keluarga Gunawan membuat Kiranti sudah cukup paham situasi rumah tersebut. Dirinya sudah mulai mampu menyesuaikan diri dengan gaya hidup perkotaan dan rumah tersebut. Malam ini si Om membawa dia ke kamar misterius. Hatinya deg degan. Ini pertama kalinya dia akan mengetahui isi sebenarnya ruangan tersebut. Nainai, Papa dan Mama hanya melihat dari luar kamar tersebut. Erick mengajak Kiranti memasuki kamar. Kiranti mengedarkan pandangan ke sekitar kamar tersebut. Kamar dengan perabot dan furniture yang tidak berbeda dengan kamar lainnya. Hanya dipenuhi dekorasi tokoh tokoh kartun wanita. Penghuninya dulu dapat dipastikan anak perempuan. Terdapat satu foto ukuran besar yang terpajang di dinding kamar. Foto dari seseorang yang sama dengan yang Kiranti lihat di ruangan kantor Erick. Demikian juga dengan foto yang terpajang dalam pigura di atas meja belajar. Terdapat juga 3 buah lukisan di dinding. Ada beberapa lukisan yang terletak di lemari khusus. Serta satu buah benda petak terbungkus kain putih. Sepertinya sebuah lukisan yang sedang dikerjakan. "Ini kamar adik bungsuku." ujar si Om tanpa perlu ditanya. Kiranti mendengarkan dengan serius. Tentu saja dia ingin tahu tentang adik bungsu si Om. Selain informasi dari Rina bahwa adik bungsu si Om telah meninggal. Tidak ada informasi lainnya. "Adikku meninggal di usia 9 tahun. 10 tahun yang lalu. Harusnya dia berusia 19 tahun sekarang. Sama dengan usiamu." jelas si Om. "Maaf Om. Kok bisa meninggal?" tanya Kiranti penasaran. "Kanker otak. Didiagnosis dokter sejak usianya 6 tahun. Karena penyakitnya dia hampir tidak pernah kemana mana. Hanya kamar ini dan rumah sakit saja tempat di berada selama sakit. Hobinya melukis. Dari mulai sakit terus melukis hingga meninggal. Yang ada di kamar ini semua adalah lukisannya. 3 yang terbagus di pajang di dinding." jelas si Om lagi. Kiranti hanya menganggukkan kepala. Terus memperhatikan lukisan di dinding. Sangat bagus menurut Kiranti. Walau tidak mengerti seni, Kiranti yakin pelukisnya pasti sangat handal. "Yang terbungkus kain putih adalah lukisan terakhirnya yang belum selesai. Jika kamu belum siap mental sebaiknya jangan lihat." jelas si Om melanjutkan. Kiranti semakin penasaran. Tapi juga ragu untuk melihatnya. Si Om bilang perlu persiapan mental khusus untuk melihatnya. Jadi Kiranti belum ingin melihatnya sekarang. "Maaf Om. Siapa nama adik bungsu Om?" tanya Kiranti. Sepertinya si Om terlalu asik menjelaskan tentang si adik tapi lupa memberitahu nama adiknya. "Kiara Gunawan." jawab si Om. "Nama yang cantik Om. Secantik pemiliknya." ujar Kiranti jujur. "Kamu perhatikan sorot mata di foto Kiara. Pasti kamu teringat sesuatu." perintah si Om. Kiranti pun memperhatikan foto Kiara. Sorot matanya memang terasa tidak asing. Tapi Kiranti tidak bisa mengingat siapa yang sorot matanya seperti itu. "Ada apa dengan sorot mata Kiara di foto Om?" tanya Kiranti bingung. Si Om menghela nafas. Kemudian menatap Kiranti. Si Om mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri foto dan memberikan kepada Kiranti. Kiranti menerima ponsel dan melihat. Ternyata foto Kiranti sendiri. "Ada apa dengan foto saya Om?" tanya Kiranti semakin bingung. "Bandingkan sorot mata kalian." perintah si Om. Kiranti melakukan permintaan si Om. Deg. Hatinya seketika berdesir. Kenapa bisa sama batin Kiranti. Kenapa aku bisa lupa batin Kiranti yang menyadari maksud si Om. Ternyata sorot mata keduanya sama. Setelah terdiam cukup lama. Barulah Kiranti sanggup berbicara. "Maaf Om. Aku sering dengar suara sesuatu di kamar ini dari kamarku malam malam." tanya Kiranti. "Kapan?" tanya si Om balik. "Waktu kita dimarahin karena Om bilang kuda kudaan. Terus malam malam selanjutnya juga." jawab Kiranti. "Oh yang malam itu. Itu suaraku waktu masuk kamar ini. Terus yang malam lainnya mungkin Papa Mama Yanto Karen atau mungkin juga Nainai. Kami sering ke kamar ini malam malam kalau rindu Kiara." jelas si Om. Lega perasaan Kiranti. Suara yang sering dia dengar bukanlah suara makhluk gaib. Tapi keluarga Gunawan. Hanya tinggal masalah lukisan tertutup kain putih saja. Tapi Kiranti masih belum berani membuka kain putih tersebut. Hanya berani menatap saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD