Surat Untuk Kiranti

1395 Words
Masih di dalam kamar Kiara. Si Om bergerak menuju meja belajar di kamar itu. Mengambil sebuah buku dan sebuah amplop. Ternyata sebuah diary dan sebuah surat. Pada surat tersebut bertuliskan 'Untuk kakak ipar K. '. Sedangkan diary dibuka oleh Erick sampai pada suatu halaman. "Ini diary adikku dan surat itu untukmu. Belum pernah ada yang membaca isi surat tersebut. Baca dulu diary ini pada halaman yang kubuka." jelas si Om lagi. Kiranti pun membaca isi diary pada halaman yang dibuka si Om. 'Hai koko Awen tersayang. Dia pasti datang. Aku sudah melihatnya. Percayalah padaku. Bacalah suratku untuk koko. Bacalah surat untuk koko setelah aku tiada. Satu surat lagi untuk dia. Jangan pernah buka surat untuk dia. ' Kiranti bingung membacanya. 'Siapakah dia yang dimaksud?' batin Kiranti. Si Om kembali menyodorkan sebuah surat. Di depan surat bertuliskan 'Untuk koko Awen' "Bacalah." pinta si Om. "Tapi ini surat untuk Om." tolak Kiranti. "Tidak apa apa bacalah." ucap si Om berusaha meyakinkan Kiranti. Hallo Ko Awen. Saat koko membaca surat ini, meimei pasti sudah tiada. Koko jangan bersedih. Jaga Papa Mama Nainai Ko Yanto dan Ce Karen baik baik. Aku yakin koko bisa karena koko adalah jagoan meimei. Istri koko akan berinisial depan sama denganku. Huruf K. Inisial belakang memang beda. Sorot matanya sama dengan sorot mataku. Percayalah padaku. Aku sudah melihat nya. Lukisanku akan membantu koko. Walau akibatnya mengurangi usia hidupku. Aku tidak menyesal. Berikan suratku untuknya setelah koko menikahinya. Sekali lagi aku ingatkan koko ucapanku. Calon yang akan koko kenalkan padaku hanya akan mengkhianati Koko. Dia tidak pantas untuk Koko. Dari meimei tersayang untuk koko terhebat meimei. 'Eh isi surat untuk si Om dari meimeinya sudah menjelaskan aku' batin Kiranti. Kiranti menatap si Om seolah meminta penjelasan. Si Om mengangguk untuk menghilangkan keraguan Kiranti. "Surat itu sudah ada sekitar 10 tahun lalu. Diberikan kepadaku sebelum meimei ku meninggal. Aku membacanya setelah dia tiada. Sedangkan surat untukmu belum pernah ada yang membukanya. Kamu boleh membukanya kapan saja." jelas si Om. 'Jadi yang dimaksud dia adalah aku. Bagaimana bisa Kiara memberikan surat untukku?' batin Kiranti. Sebenarnya ada apa ini. Kenapa terasa aneh. Kiara mampu meramalkan si Om dan aku. Padahal kami tidak pernah bertemu. Bahkan Kiara sudah meninggal. Kiranti menatap si Om dengan penuh tanda tanya. "Aku tahu kamu pasti ragu. Meimei Kiara memang mampu melihat masa depan. Mungkin karena kanker otaknya. Sayangnya tidak semua gambaran jelas. Karena itu dia hanya menulis namamu dengan inisial depan K. Karena inisial K itu juga, aku dan keluargaku terjebak oleh Bella. Nama dia Kristina Bella. Inisial K yang sama. Tapi untungnya aku curiga dengan sorot matanya yang tidak sama dengan Kiara. Dan setiap kali Kiara membocorkan rahasia masa depan kepada kami. Usia hidupnya akan berkurang. Aku yakin dia mengorbankan banyak usia hidupnya hanya demi memberitahu kami akan keberadaanmu." jelas si Om. Mata si Om berkaca ketika menjelaskan itu semua. Perlahan dia menangis dalam diamnya. Kiranti merangkul si Om. Mencoba berbagi rasa. Kiranti terharu dengan Kiara. Mama, Papa dan Nainai yang mendengarkan dari luar tidak kuasa menahan uraian air mata. Mereka memang membiarkan Erick yang menjelaskan semuanya kepada Kiranti. Alasan tidak ada seorang pun selain keluarga Gunawan yang boleh masuk. Adalah surat untuk Kiranti yang tidak boleh dibuka selain Kiranti sendiri. Dalam kondisi Erick sudah menikahi Kiranti. Surat yang mungkin isinya rahasia untuk Kiranti. Sebab pesan Kiara kepada Erick dan keluarganya tidak boleh melihat isi surat itu. Apalagi yang bukan keluarga. Terlebih sebelum Kiranti melihat isi surat tersebut. Dan kini surat itu telah berada di tangan yang berhak. Kiranti merasa ragu untuk membuka amplop surat tersebut. Tidak tahu pesan seperti apa yang ditinggalkan Kiara untuknya. Sungguh membuat penasaran. Setelah si Om mulai mereda tangisnya. Kiranti pun ingin segera membuka surat tersebut. Dengan hati hati dirobeknya ujung amplop. Lalu ditariknya isi amplop tersebut. Kertas putih berisikan tulisan keluar dari amplop. Segera Kiranti membuka lipatan surat tersebut. Mulai membacanya. Hallo Kak Kiranti. Kita tidak pernah berjumpa. Hanya melalui surat inilah, aku bisa menyampaikan rasa sayangku kepada kakak iparku ini. Kakak pemilik sorot mata yang sama denganku. Kakak mungkin kaget kenapa aku mengenal kakak. Perlu aku jelaskan bahwa aku sudah melihat kakak pada saat aku menulis surat ini. Jaga koko ku baik baik. Dia akan memberikan kebahagiaan yang sangat besar untuk kak Kiranti. Mungkin ko Awen akan sedikit konyol. Tapi dia sangat baik. Jangan sia siakan dia. Lukisan terakhirku adalah hadiah untuk Kak Kiranti. Mungkin belum selesai saat kakak menerimanya. Tapi hanya itulah hadiah yang bisa kuberikan selain koko ku. Lukisan itu yang akan menuntun koko ku mengenali kakak. Saat kakak membaca surat ini. Aku pasti sudah lama meninggal. Ada beberapa anak kecil yang terlihat olehku. Maaf aku sudah tidak bisa melihat terlalu jelas lagi. Aku doakan kakak dan koko ku selalu berbahagia. Salam sayang dari surga untuk kakak dan ko Awen. Mata Kiranti berkaca dan tidak mampu membendung air matanya lagi. Semua tumpah. Walau tidak mengenal Kiara tapi terasa sangat dekat. Kiara seolah sangat mengenalnya. Kiranti memberikan isi surat kepada si Om. Si Om memang kelihatan bingung melihat Kiranti menangis setelah membaca isi surat. Dia pun membaca surat tersebut. Air matanya pelan pelan mengalir memenuhi pipinya. Sekarang mereka pun tahu kalau Kiara telah mengetahui nama Kiranti. Hanya saja Kiara tidak pernah memberitahu mereka nama Kiranti. Nama Kiranti hanya tertulis dalam isi surat untuk Kiranti. Lukisan terakhir Kiara memang pernah dilihat Erick dan keluarganya. Dan ternyata dipersembahkan untuk Kiranti. Setelah semuanya tenang. Kiranti mulai mendekati lukisan. Pelan pelan menyibak kain putih penutup lukisan. Alangkah terkejutnya Kiranti melihat lukisan tersebut. Sosok seorang wanita setengah badan dengan latar putih. Memang latarnya belum selesai tapi gambar sosok wanita itu telah selesai. Yang mengejutkan Kiranti adalah wajah dan bentuk badan wanita dalam lukisan tersebut adalah Kiranti. Benar sangat mengejutkan seseorang yang tidak pernah berjumpa dengannya. Bisa melukis dirinya saat ini. Padahal ketika lukisan ini dibuat Kiranti hanyalah anak kecil berusia 9 tahun. Dan ini adalah lukisannya pada usia sekarang. Kiranti tertegun cukup lama. Sampai akhirnya disadarkan oleh pelukan ke pinggangnya oleh si Om. Kepala si Om bersandar ke bahu Kiranti. Sebuah pose yang sangat mesra. "Lukisan inilah yang membuatku mengejarmu malam itu. Aku mengenali wajahmu malam itu. Walau tidak tahu namamu saat itu." ucap si Om. "Jadi karena itu Om mengejarku dan menebusku malam itu? Bahkan tanpa ragu membayar mahal." tanya Kiranti. "Iya. Berapapun akan ku bayar." jawab si Om. "Wasiat Kiara jugalah yang membuatku langsung melamarmu kepada Ayah dan Ibu." lanjut si Om. Demi wasiat Kiara tidaklah masalah harus membayar mahal. Terutama buat Erick dan keluarganya. Semuanya sangat menyayangi Kiara. Sebuah kehilangan besar bagi keluarga. Terjawab sudah alasan si Om berani langsung melamar Kiranti. "Apakah Om tidak mencintaiku? Semua hanya demi wasiat Kiara?" tanya Kiranti. Sebuah pertanyaan yang mengejutkan si Om. Si Om harus mengambil nafas menenangkan diri terlebih dahulu. "Aku jatuh cinta pada lukisan tersebut. Aku jatuh cinta pada sesosok wanita yang aku kira tidak nyata. Sampai aku melihatmu malam itu dengan sorot mata mu. Sorot mata yang langsung merebut hati ku. Aku sadar wanita itu nyata bukan lukisan. Betul wanita itu kamu." jelas si Om. "Bagaimana dengan Rossa? Saat itu dia masih kekasih Om." tanya Kiranti. "Ketika melihat lukisan ini. Aku sudah putus dengan Rossa. Lebih tepatnya dia sudah mencampakkan aku. Aku yang sedang patah hati datang ke kamar ini. Mengingat ucapan Kiara yang benar adanya. Di saat itu aku penasaran dengan lukisan yang masih tertutup. Selagi Kiara masih hidup tidak pernah aku melihat dia melukis lukisan ini. Dia selalu menyembunyikan dari kami. Pertama kali melihat, aku langsung terpana. Aku langsung jatuh cinta pada lukisan ini. Apalagi di saat itu aku sedang terluka akibat pengkhianatan Rossa. Lukisan ini seolah menjadi pengobat luka. Seolah ditinggalkan Kiara untuk menghilangkan sakit hatiku." jelas si Om tanpa bermaksud menutupi apapun dari Kiranti. "Om masih mencintai Rossa?" tanya Kiranti. "Tidak. Sejak dia mengkhianatiku. Aku menutup hati ku dari dia. Apalagi sejak aku melihat lukisan dirimu. Perasaan untuk Rossa segera menguap." jelas si Om. "Kenapa Om tidak buka penutup lukisan sesaat setelah Kiara meninggal?" Si Om tidak menjawab. Dia berjalan menuju lemari berisi lukisan. Mengeluarkan sehelai kain. Membentangkannya, ada tulisan dari cat lukis di atasnya. Jangan buka sebelum ko Awen dicampakkan kekasih koko. Semuanya seperti telah diatur secara mendetail oleh Kiara. Gadis kecil yang benar luar biasa. "Om. Bolehkah aku mengunjungi makam Kiara?" tanya Kiranti. "Kiara diperabukan sesuai permintaannya sebelum meninggal. Besok kita bisa mengunjungi rumah abu tempat Kiara beristirahat untuk terakhir kalinya." jawab si Om.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD