Pesta Makan Malam

2384 Words
Sara tersentak bangun saat seseorang meraba tubuhnya ,samar ia melihat Robin tengah sedang menyusupkan jemari tangannya ke dalam pakaiannya . Spontan Sara langsung terduduk tegak dan menepis tangan Robin. "Kita sudah sampai." Robin berbisik di telinga Sara. Sara segera merapikan pakaiannya dan melirik ke arah Zen asisten sekaligus bodyguard Robin yang duduk di kursi pengemudi. Ia berharap Zen tak melihat perbuatan Robin padanya. Sara keluar dari mobil dan mengikuti langkah Robin yang memasuki sebuah Villa yang indah dan besar. Perempuan itu segera melihat ke sekeliling dan mempelajari situasinya. Ia sedikit putus asa ketika melihat Vila ini tampak dikelilingi hutan. Sulit bagi dirinya untuk melarikan diri. Jika ia berniat untuk kabur, bisa bisa ia tersesat di dalam hutan. Robin berjalan cepat menaiki tangga dan menuju sebuah ruangan di ujung koridor yang merupakan kamar tidur untuknya dan Sara selama mereka tinggal di Villa tersebut. Sesekali Sara memberikan senyum kepada beberapa pelayan yang tampak sibuk membersihkan beberapa kamar tidur dan ruangan lainnya. Kamar tidur sepasang pengantin baru itu besar dan begitu terang dan hangat. Perlahan Sara membuka jendela dan terpukau saat melihat pemandangan indah terbentang di hadapannya.Hutan dan bukit yang begitu hijau menyejukan pandangannya. Sesaat Sara menutup matanya untuk bisa merasakan angin dingin pegunungan yang menerpa wajahnya. Sara terkejut dan menggeliat ketika Robin tiba-tiba menciumi lehernya dari belakang. Robin merasa tergoda melihat leher jenjang dengan kulit yang halus dihadapannya. Melihat penolakan Sara, Robin segera membalikan tubuh Sara menghadapnya lalu berusaha mencium bibir Sara dengan kasar. Sara yang bibirnya masih bengkak, menjerit kesakitan dan mendorong wajah Robin menjauh. Ia benar0benar takut pada pria yang menjadi suaminya ini. "Sakit mas.. bibirku masih sakit...," rengek Sara penuh mohon kesakitan saat Robin memegangi wajahnya seolah tak ingin ditolak. "Masih ada tubuhmu yang lain yang bisa melayaniku bukan?" ucap Robin sembari memegang wajah Sara kuat. Sara hanya menatap Robin takut sembari menahan tubuh Robin dengan tangannya. Robin menggendong Sara seperti anak kecil dan menghempaskannya diatas ranjang dan mulai melampiaskan nafsunya, sedangkan Sara hanya bisa memejamkan kedua matanya dan membiarkan Robin mencurahkan hasratnya. Robin menatap tubuh Sara yang indah dengan pandangan takjub. Perlahan, ia menutupi tubuh Sara dengan tubuhnya yang terasa ringan setelah bercinta. Ia hanya ingin merasakan kulit halus Sara menyentuh kulitnya. Perlahan Robin mendekap Sara dalam pelukan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Di dalam selimut ia hanya mendekap tubuh Sara erat dan membenamkan wajahnya di leher Sara. Sara mulai merasakan takut, tapi Robin menatap matanya dalam dan menciumi wajahnya lembut. "Peluk aku..," pinta Robin, perlahan Sara melingkarkan tangannya dileher Robin dengan perasaan sungkan, tapi hatinya merasa lega karena kali ini Robin sepertinya hanya ingin berpelukan mesra. Merasakan pelukan Sara yang lembut, Robin merasakan kenyamanan dan kenikmatan yang sudah lama tak ia rasakan. Sara mulai merasakan takut, tapi Robin menatap matanya dalam dan menciumi wajahnya lembut. "Tidurlah, aku akan memelukmu erat," bisik Robin masih terengah-engah dan melihat wajah Sara yang kelelahan. Ia meletakan beberapa bantal di punggung Sara agar perempuan itu tak merasa pegal dan tetap hangat dan nyaman saat tidur. Sara yang telah kehabisan tenaga hanya bisa memejamkan matanya dan tertidur saat terbuai dengan usapan halus Robin di wajah dan rambutnya seolah lupa akan rasa takutnya pada suaminya. d**a Robin yang hangat seolah ikut menghangatkan tubuhnya sehingga rasanya ia tak perlu lagi berselimut. *** Keesokan harinya Robin tampak sibuk untuk menyambut koleganya. Hari itu akan ada beberapa sahabat karibnya yang akan datang untuk after party pernikahan Robin dan Sara. Sara bisa menarik nafas lega untuk sesaat, ia bisa menghabiskan waktu untuk dipijat dan makan dengan tenang. Hari ini Robin memanjakannya dengan mendatangkan beberapa orang untuk merawat tubuh dan mendandaninya agar tampak cantik malam nanti. Saat malam menjelang para tamu mulai datang, Sara tengah berdandan menyiapkan dirinya sesuai permintaan Robin. Yang Robin inginkan, Sara tampak cantik dan layak mendampinginya. Robin benar benar memperhatikan penampilan Sara agar tampil terbaik. Terdengar gelak tawa di ruang keluarga yang besar. Dengan Ragu Sara menuruni tangga dan melangkah menghampiri Robin dan teman temannya berada. "Sara, kemari…," panggil Robin antusias saat melihat Sara datang menuruni tangga. Sara melangkah sembari menundukan pandangannya kearah Robin. Ia merasa tak percaya diri ditatap oleh para pria pria Alpha sahabat karib Robin. " Wow! Nice! Cantik sekali!" puji salah satu dari mereka sambil menatap keseluruhan tampilan Sara. "Ternyata, si penipu itu memiliki anak secantik ini. Lucky him!" ucap yang lain sambil tertawa. Mendengar kalimat itu tubuh Sara terasa lemas. Ia baru menyadari, kehadirannya disitu bukan untuk dikenalkan sebagai istri tapi juga untuk dipajang dan dihina. "Jaga mulutmu! Dia istriku sekarang! Selama ia masih menjadi istriku, tolong hargai Sara!" tegur Robin saat mendengar ucapan salah satu sahabatnya. Sang pria hanya mengangkat kedua tangannya untuk menunjukan permintaan maafnya pada Sara. Sara segera bergerak mundur dan menyembunyikan dirinya dibalik tubuh Robin yang tinggi. Di dalam hatinya ia tak menyangka Robin akan membelanya dan ia berterimakasih karenanya. Tak lama kemudian, masih ada 2 orang lain lagi yang datang. Seorang wanita dan Pria. Sang wanita berwajah cantik dengan penampilan yang elegan, begitu pula sang pria. Wajah mereka terlihat mirip, ternyata mereka adik kakak. Mereka berdua adalah Billy dan Karin, teman sedari kecil dengan Robin ,bahkan Karin merupakan salah satu perempuan yang menjadi tempat pelampiasan hasrat Robin saat ia merasa bosan. Tentu saja Karin tak pernah keberatan, ia merasa sangat di istimewakan oleh Robin, karena kemana pun Robin pergi, ia akan kembali ke pangkuan Karin. Karin merasa sangat marah saat mendengar berita bahwa Robin akan menikahi perempuan yang tak jelas asal usulnya. Walau ia mendengar maksud Robin dengan pernikahannya, Karin tetap tak menerima dan merasa cemburu saat melihat Sara yang cantik dan terlihat polos di hari perkawinannya .Ada rasa takut Robin akan jatuh cinta pada Sara dan berpaling darinya. Karin tak pernah peduli jika Robin berganti ganti perempuan, tapi ia takut jika Robin kembali menjadi pria yang setia. "Robin! Congratulations, untuk perkawinan kalian," ucap Billy tulus dan langsung memeluk Robin dengan antusias. "Thanks Bill, Kenapa kamu ajak Karin kesini?" bisik Robin tampak sedikit gelisah melihat kehadiran Karin. Robin sangat tahu bahwa sifat Karin yang emotional bisa merusak suasana jika gadis itu sedang tak nyaman perasaannya. "Tentu saja aku harus hadir dan melihat seperti apa wanita yang merebut kekasihku!" ucap Karin saat mendengar bisikan Robin pada sang kakak. Suasana menjadi sedikit canggung saat Karin menghampiri Sara dan memandangi perempuan itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Jadi kamu orangnya?" tanya Karin sambil menatap Sara dengan penuh kemarahan. "Karin, sudahlah … kamu janji untuk tidak membuat kekacauan!" Billy menyadari bahwa Karin mulai tak bisa mengendalikan diri. Tiba-tiba saja Karin berjalan menuju meja minuman dan mengambil cangkir yang berisi teh panas dan menyiramkannya pada Sara. "Aahh " jerit Sara kaget dan bergerak mundur menjauhi Karin dan menahan rasa panas di lengannya. "Karin! Cukup!” bentak Robin sambil menahan tangan Karin. "Kenapa? Kamu sudah jatuh cinta pada istri kamu itu?! Anak si penipu yang telah mencuri uang dan berselingkuh dengan Tante May ibumu?!" ucap Karin histeris dan tak tahan untuk menceritakan pada dunia betapa buruknya sikap ayah Sara. "Mohon maaf, saya permisi dulu," pamit Sara segera, walau tak tersiram banyak tapi pakaiannya terasa basah dan hangat. Sara segera berjalan setengah berlari meninggalkan kerumunan ,tubuhnya gemetar karena ketakutan dan terkejut akan reaksi Karin. "Jaga sikap kamu Karin! Billy, jika adikmu tak bisa bersikap baik lebih baik bawa dia dari sini! Malam ini aku hanya ingin bersenang-senang dengan temanku dan tak ingin ada drama apapun!" pinta Robin tegas lalu pergi meninggalkan ruangan untuk menyusul Sara ke dalam kamar. Di dalam kamar Sara tengah jongkok sambil menangis, ia sudah tak bisa tahan mendengar hinaan demi hinaan yang harus ia terima. Mendengar Robin memasuki kamar, Sara segera berdiri dan menghapus air matanya. "Kamu terluka?" tanya Robin khawatir kulit Sara melepuh terkena air panas dan mencari obat untuk mengobati kulit Sara yang memerah. Sara menggelengkan kepalanya. Robin menyuruhnya untuk berganti pakaian segera dan kembali ke ballroom bersamanya. "Lebih baik aku disini … sepertinya mereka tak nyaman dengan kehadiranku," ucap Sara sedikit memohon agar ia tak kembali keruangan itu. "Tidak! Kamu harus kembali kesana! Tegakkan kepalamu saat makan malam bersama mereka! Kamu itu istriku dan mereka harus menghormati kamu selama kita masih bersama!" ucap Robin tegas dan menarik Sara untuk berganti pakaian lalu memaksa Sara untuk keluar dari kamar. Para tamu sudah berada diruang makan dan menanti tuan rumah untuk memulai acara makan malam. Sara duduk disamping Robin dan kali ini tak ada lagi yang berani mengganggunya, semua orang tahu, memancing kemarahan Robin sama dengan membangunkan macan yang sedang tidur. Tak lama, suasana pun kembali ceria. Robin asik bercengkrama bersama dengan teman-temannya saat Sara duduk sendirian di kursi santai di samping kolam renang.Tubuhnya sedikit kedinginan di terpa angin malam pegunungan. Tiba-tiba seseorang menyelimutinya dengan sebuah jas. Sara terkejut dan langsung berdiri sambil menatap pria yang meminjamkan jasnya. "Kamu benar cantik dan sensual sekali, wajar saja Robin berubah. Pasti kamu bisa memuaskan dia dengan baik. Jika sudah bosan pada Robin, aku bersedia menggantikan posisinya," bisik pria yang bernama Kay sambil tersenyum nakal. Sara rasanya ingin marah dilecehkan seperti itu, tapi ia mengurungkan niatnya,ia segera membuang jas yang baru saja menyelimuti tubuhnya ke lantai lalu setengah berlari meninggalkan Kay dan kembali ke kamar. Di dalam kamar Sara menangis tersedu- sedu sambil meringkuk diatas ranjang. Ia menangis karena sedih dihina dan dilecehkan oleh banyak orang. Ia juga merasa ketakutan akan masa depannya .Ia menangis sembari berdoa agar mimpi buruk ini segera berakhir. Sara memutuskan untuk tetap didalam kamar, Ia sudah enggan untuk bergabung dengan Robin dan teman-temannya. Gelak tawa masih terdengar dari ruangan bawah saat Sara memutuskan untuk tidur lebih awal. Ia hanya ingin hari ini cepat berlalu dan berharap bisa segera pergi dan berpisah dengan Robin. Tepat pukul 2 malam Robin kembali ke kamar dengan keadaan mabuk. Ia sempat menabrak beberapa furniture dan menghasilkan suara yang begitu keras sehingga membangunkan Sara dari tidurnya. "Mas, kamu mabuk?" tanya Sara membantu suaminya untuk berganti pakaian. Robin berusaha untuk mengganti bajunya tapi ia terlalu mabuk untuk melakukannya dan ia langsung tidur masih mengenakan sepatu. Perlahan Sara membuka dan mengganti pakaian suaminya. Ia pun segera menyiapkan air hangat dan handuk kecil untuk menyeka wajah, tangan dan kaki Robin agar ia lebih bersih saat tidur tanpa aroma alkohol. Saat sedang di bersihkan tiba-tiba Robin terbangun dan berjalan menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Sara segera menyediakan air minum dan obat yang selalu ia simpan di dalam tasnya untuk membantu mengurangi hang over yang diderita Robin. "Sara!” panggil Robin dari kamar mandi. Sara segera masuk kedalam kamar mandi dan membantu Robin yang sudah kepayahan untuk berdiri. "Aku ingin mandi...," pinta Robin ingin membersihkan dirinya. Sara segera menyalakan Shower air hangat dan Robin segera menelanjangkan dirinya untuk menyegarkan tubuhnya. Sara segera memeluk Robin dengan handuk saat Robin keluar dengan basah kuyup dan membantunya duduk di tepi ranjang. Ia memberikan obat dan air putih pada Robin agar hangover nya segera hilang. Robin merebahkan tubuhnya setelah meminum obat dari Sara. "Mas, sini aku keringkan dulu rambut kamu...,"ucap Sara perlahan. Robin hanya menoleh ke arah Sara lalu mengambil guling dan tidur memunggungi Sara. Sara segera menghidupkan hair dryer dan mengeringkan rambut Robin perlahan. Setelah selesai, Sara ikut membaringkan tubuhnya di samping Robin. Tiba tiba saja Robin menarik tubuh Sara ke dalam pelukannya. "Kita belum bercinta malam ini," bisik Robin masih setengah mabuk. "Lebih baik kita tidur, kamu sudah terlalu mabuk, "jawab Sara sembari merapikan selimut Robin. Robin menendang selimut di tubuhnya dan tampak pria itu hanya tidur menggunakan celana dalam dan merasa kepanasan karena efek Alkohol di tubuhnya. "Cium aku...," pinta Robin halus sambil mengusap wajah Sara lembut setelah berhasil membuang selimutnya. "Mas..." "Cium aku … bibirmu lembut dan nikmat seperti cherry, " ucap Robin sembari mencari bibir Sara. Sara mengecup bibir Robin perlahan dan lembut dengan ragu ragu. "Apa aku menyakitimu?" tanya Robin masih setengah mabuk. Sara menggelengkan kepalanya. Ia berusaha tenang dan bersikap hati-hati karena tak tahu apakah Robin masih mabuk atau berpura pura. Robin menarik kepala Sara dengan kedua tangannya dan langsung mencium lembut bibir Sara. Mereka berciuman agak lama. Ada rasa yang berbeda yang Sara rasakan pada saat Robin menciumnya kali ini. Ia merasa ciuman Robin begitu lembut sampai menggetarkan hatinya. Sara menatap Robin yang sibuk melumat bibirnya lembut, pria ini menjadi lembut malah ketika dia mabuk. Robin mengelus rambut Sara lembut sampai ia akhirnya ia tertidur. Sara baru saja berencana untuk menggeledah barang pribadi Robin untuk mencari handphone dan dompetnya, tapi sayang, Robin malah tertidur sambil memeluknya. Pelukan itu begitu kuat sehingga Sara tak bisa beranjak dan membuat tubuhnya dan tangannya terasa kebas. Sara pun mengurungkan niatnya dan tertidur sambil berpelukan dengan Robin sampai pagi. *** Robin terbangun saat dirinya merasa ingin buang air kecil dan tersadar tidak menemukan Sara disampingnya. Ia langsung duduk dari tidurnya dan melupakan kepalanya yang sakit. Dengan gusar Robin segera menuju laci rahasianya dan menemukan dompet dan handphone Sara masih ada disana. "Sara!" panggil Robin berteriak keras karena tak menemukan Sara di rumahnya yang luas. "Non Sara tadi keluar dari Villa," ucap salah satu asisten rumah tangganya. “Kemana dia?!” tanya Robin kesal. “Tadi Saya lihat ke arah hutan, ”jawab sang asisten rumah tangga. Robin pun segera berlari kearah hutan untuk mencari Sara diikuti dengan beberapa security untuk membantunya mencari dengan menyisir hutan dan juga melalui cctv. Pagi itu menjadi pagi yang ramai dan sibuk. Tiba-tiba terdengar berita dari ruang pengawasan bahwa Sara sedang memetik bunga di pekarangan depan Villa dari para penjaga. Dengan gusar Robin kembali ke Villa dan menemukan Sara sedang berjalan membawa beberapa potong bunga mawar sambil diikuti oleh beberapa Security. Robin segera menarik tangan Sara dan membawanya kedalam kamar. Sesampainya dikamar Robin segera menghempaskan Sara di ranjang. "Kamu pasti berniat untuk lari bukan?!" "Aku hanya memetik beberapa bunga di taman..., " ucap Sara ketakutan melihat Robin yang begitu marah. Robin meremas dagu Sara. Sara mengerang ketakutan. "Ingat! Jangan pernah membuatku marah dan jangan pernah berusaha lari! Aku akan melepaskanmu jika aku sudah bosan!" Robin mendorong tubuh Sara sehingga Sara kembali terhempas diatas ranjang. Sara hanya bisa mengangguk dengan takut. Di dalam hati Robin merasa lega karena Sara tak pergi seperti dugaannya. Dengan perasaan kesal dan cemas ia mencium Sara dan melumat bibirnya sampai Sara terbatuk karena kekurangan nafas. Sara hanya diam membisu membiarkan Robin mencumbu tubuhnya untuk menghilangkan rasa cemas di hatinya .Di dalam hati Robin ia mulai merasa kecanduan akan aroma dan tubuh Sara, ada rasa kehilangan di hati Robin jika sampai ia kehilangan Sara sang boneka cantiknya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD