Sunyi malam merayap perlahan, menyusup di antara celah napas. Bau kayu basah dan tanah lembab menyapa penciuman Hera begitu kesadarannya kembali. Ia mencoba membuka mata, tapi kegelapan total menyambutnya. Kain tebal melilit kepalanya, menutup rapat seluruh cahaya, menjerumuskannya ke dalam gelap yang pekat dan mencekik.
“Tenang, Hera. Tenang. Jangan panik.” Ia menarik napas dalam-dalam, menahan gemetar di ujung jemari.
Tubuhnya kaku, otot-ototnya menolak bergerak. Namun pikirannya harus tetap bekerja. Ia harus mencari jalan keluar, apapun caranya.
Ingatan terakhir muncul kabur di kepalanya. Ia duduk di mobil dengan tangan terikat, lampu kendaraan menembus malam di jalan perbatasan Verona. Seharusnya mobil itu mengantarnya ke bandara. Tapi ditengah perjalanan, arah berubah. Mobil menyimpang dari jalur.
Apa semua itu cuma dalih?
Tapi kalau iya, kenapa tubuhku kaku seperti ... dibius pelumpuh?
Ketidakpastian menekan dadanya, membuat napas terasa sempit. Di tengah kabut pikirannya, ia teringat sesuatu.
Harper?
Ia ingat pria yang membawanya menyebut nama itu sebelum kesadarannya menghilang.
Tidak mungkin Damien, kan?
Kepalanya berdenyut. Rasa nyeri dan penolakan bercampur jadi satu. Ia tidak ingin mempercayainya. Damien mencintainya. Setidaknya, begitu yang ia yakini selama ini.
Kesadaran bahwa tubuhnya tak bisa digerakkan kembali memukulnya pada kenyataan. Ia mencoba melawan, tapi sia-sia. Tubuhnya terbaring di atas sesuatu yang empuk—mungkin ranjang, atau matras usang.
Ada bau lain selain kayu basah, Hera bisa mencium sesuatu yang menusuk, seperti bau minyak. Dari luar, samar-samar terdengar riak air dan suara kapal kecil yang bergesekan dengan dermaga kayu.
Belum sempat menerka lebih lanjut, langkah kaki memecah kesunyian. Suaranya lambat, diselingi gesekan sepatu di lantai kayu yang lapuk. Langkah itu berhenti tepat di sampingnya.
Seketika, semerbak harum parfum mahal menyelimuti udara, lembut tapi menekan, campuran musk dan oud. Aroma yang biasa dipakai para wanita elit Italia.
“Ah, si cantik akhirnya bangun.” Suara seorang wanita terdengar, lembut sekaligus asing.
“Kau siapa? Ke mana kau membawaku?” Suara Hera serak, tenggorokannya seperti terbakar.
“Kemana?” Wanita itu menirukan, nada suaranya seperti menahan tawa. “Tentu saja ke tempat terbaik untuk menjernihkan pikiran.”
Menjernihkan pikiran, katanya.
Kalimat itu terdengar seperti ejekan. Villa di pegunungan yang dijanjikan. Ucapan lembut keluarganya yang katanya melindungi. Semua iming-iming itu ternyata hanya kedok. Ia bukan dilindungi, tapi ia diasingkan.
“Mereka membuangku?”
Rasa dikhianati menjalar, panas, seperti bara yang menyusup di balik kulit dinginnya. Namun yang menyakitkan justru kenyataan, bahwa kepalanya tak mampu mencerna besarnya pengkhianatan.
“Apa yang kau mau?” Hera memaksa suaranya keluar, lantang tapi gemetar. “Katakan saja, aku bisa memberi lebih!”
Tawa wanita itu pecah, menggema di ruang sempit. Tawa itu panjang, tajam, dan membuat bulu kuduknya berdiri.
“Memberi lebih? Kau lucu sekali.” Hening sejenak. “Pantas saja dia menikahimu.”
“Apa maksudmu?” Hera mencoba bergerak, menahan rasa berat di tubuhnya. “Apa yang kau inginkan?”
“Aku hanya ingin suamimu,” lirihnya, suaranya seringan udara, tapi menusuk.
Jantung Hera seolah berhenti berdetak. Jika wanita di depannya menginginkan suaminya, maka besar kemungkinan dialah dalang di balik semuanya. Dingin merayap dari ujung jari hingga ke d**a, membuat tubuhnya bergetar hebat.
“Kau … yang merencanakan semua ini?” bisiknya akhirnya.
Wanita itu terkekeh pelan, seperti menahan sesuatu yang lucu. “Oh, tentu. Aku yang merancang semuanya. Dari adegan kau terbangun di kamar hotel bersama pria asing, sampai paparazi yang datang tepat waktu. Semuanya.”
Ia mendekat, suaranya turun menjadi bisikan di dekat telinga Hera. “Termasuk judul besar di koran esok paginya—‘Nyonya Harper Berselingkuh.’”
Tawanya pecah, tajam, menggema di ruang sempit. “Bagaimana? Sempurna, bukan?”
“Gila! Kau gila!” Hera menjerit parau. “Dia sudah punya istri! Apa kau tidak punya otak?”
Tawa itu berhenti seketika. Tangan wanita itu melesat, mencengkeram rambut Hera dengan kasar hingga kepalanya terangkat paksa.
“Istri?” desisnya dingin. “Omong kosong!”
Ia menunduk sedikit, “Kau harusnya tanya juga, siapa yang memastikan minumanmu di pesta malam itu bercampur obat bius. Siapa yang menyiapkan pria bayaran di kamar hotel. Siapa yang mengatur agar paparazi tiba tepat saat kau sadar.”
Hera menahan napas, bibirnya bergetar di antara rasa sakit dan ketakutan.
Wanita itu tersenyum tipis, lalu menempelkan bibirnya di telinga Hera, berbisik manis tapi mematikan. “Tanyakan, maka aku akan menjawab dengan jujur.”
Ia berhenti sejenak, menikmati keheningan yang menggantung, sebelum akhirnya menambahkan, “Semua itu dilakukan oleh suamimu sendiri. Damien Harper. Dialah yang mengeksekusi rencanaku.”
Dada Hera seakan terkoyak dari luar dan dalam, seperti terkena pecahan kaca yang menembus cepat.
“Bohong!” Hera menjerit. “Dia mencintaiku! Tidak mungkin —”
Wanita itu tertawa pendek, “Jangan katakan itu, telingaku gatal.”
Cengkeramannya menguat, menarik rambut Hera hingga kulit kepalanya terasa terbakar. Rasa sakit itu menembus efek bius yang masih tersisa. Hera menjerit, tubuhnya menegang, napas tersengal.
“Kalau dia mencintaimu,” desis wanita itu, “dia tidak akan menceraikanmu. Tidak akan mempercepat sidang. Tidak akan membiarkan dunia menyebutmu p*****r murahan.”
Kalimatnya menggema di kepala Hera. Setiap kalimatnya menampar, menembus, menohok. Logikanya goyah, hatinya berusaha menolak, tapi suaranya bergetar.
“Aku tidak percaya! Dia mencintaiku …”
Wanita itu melepaskan cengkeramannya, hanya untuk menghantam wajah Hera dengan keras. Suara benturannya kering, dingin. Nyeri tajam menjalar ke seluruh tubuh.
“Dia tidak mencintaimu. Tidak pernah.”
Hera terhuyung. Bibirnya pecah. Kepalanya membentur tepi meja sebelum jatuh ke lantai kayu yang keras. Nafasnya berat, tapi masih mencoba berbicara di antara isak.
“Dia cinta … dia mencintaiku…”
“Yang dia cintai hanya aku!” teriak wanita itu, suaranya pecah antara kebencian dan kebanggaan yang gila. “Dia memilihku, Hera! Aku yang dia inginkan! Aku!”
Pukulan lain menghantam lagi. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Hera tergeletak di lantai, dunia berputar kabur di matanya.
Suara napas berat terdengar di atasnya. Perlahan, nada itu berubah, menjadi lebih tenang, lebih terkendali, namun tak kalah beracun.
“Kau ingin bertaruh, Hera?”
Sesuatu dilempar ke lantai di dekat wajahnya. Suara plastik bergesekan dengan kayu, lalu benda pipih dingin menyentuh telinganya.
“Katakan padanya,” ucap wanita itu tenang. “Mari kita lihat, apakah dia akan datang menyelamatkanmu.”
Ia menekan tombol cepat. Nada sambung memenuhi ruangan, menggema di antara deru angin dari luar. Setiap dering terasa seperti detik menuju kematian.
Hingga akhirnya, suara itu terdengar. “... Ada apa?”
Suara Damien terdengar. Meskipun hanya lewat sambungan telepon, Hera bisa merasakan jarak yang mematikan di antara mereka.
“Damien …” Suaranya pecah, parau, seperti berdarah.
“Katakan. Aku tidak punya waktu,” jawab Damien, datar.
“Jika aku bilang aku diculik dan disiksa oleh selingkuhanmu … kau percaya?”
Hening menggantung panjang, tapi tidak lama.
“Berhentilah bermain-main, Hera.” Lagi, sedingin sebelumnya dan lebih menusuk.
Tangis Hera pecah. “Mereka menculikku! Mereka mengaku semua ini jebakan! Aku akan dibunuh ... datanglah, aku mohon.”
“Dibunuh, ya,” ucap Damien datar, “ Kalau begitu, matilah dengan tenang.”
Bunyi tut yang menyusul terasa lebih memekakkan dari jeritan mana pun. Sunyi. Keheningan yang baru tercipta ini terasa lebih keras daripada pukulan atau suara Damien.
Tawa Hera pecah, menggema dengan memilukan. Histerisnya bercampur darah segar yang menetes dari wajah yang terluka. Keyakinan sepuluh tahun, cinta yang terasa indah, semuanya hancur total oleh tiga kata terakhir Damien.
“Aku, menang!” bisik wanita di hadapannya sambil menyeringai.
Namun tawa Hera segera meredup. Sentuhan dingin menusuk kulit lengannya. Sebelum ia sempat bereaksi, jarum suntik kedua menembus nadinya. Cairan dingin menjalar cepat. Lemas itu datang lagi, menggerogoti setiap inci kesadarannya.
Tepat sebelum indranya benar-benar padam, ikatan di matanya dibuka. Dunia tampak kabur—bayangan yang bergerak kacau di antara cahaya lampu redup.
Ia sempat melihat dua pria besar mengangkat tubuhnya, sementara seorang wanita berambut pirang mengikuti di belakang, tersenyum puas seperti penonton yang menyaksikan akhir drama tragis.
Tubuhnya dibaringkan di atas sebuah speed boat kecil. Entah akan dibawa kemana. Pikirannya kosong, nyaris tidak mampu mencerna apa pun.
“Hei, kau bisa melihat kan? Pria di sebelahmu itu? Orang yang selama ini ada di samping suamimu!”
Mata Hera bergerak, ia bisa melihat wajah pria itu, meski samar ia tahu.
“Shin ….” lirihnya.
“Benar. Sekarang kau paham kan?”
Salah seorang pria di sisi kapal tampak ragu. “Apa tidak masalah? Dia melihat kita.”
Wanita itu tersenyum tipis. “Hanya mayat yang bisa menyimpan rahasia.”
Mesin perahu tiba-tiba mati, menyisakan deru angin dan gemericik air. Speed boat berhenti di tengah danau gelap. Hera diangkat lagi.
Lalu — BYUR!
Air mengguncang, memeluknya dengan dingin yang mematikan. Tubuhnya tenggelam cepat. Obat pelumpuh mengunci otot dan napasnya. Paru-parunya terbakar, matanya terbuka menatap kegelapan yang semakin dalam.
“Aku menolak! Aku tidak ingin mati begitu saja!”
“… ingin balasan paling kejam … biarkan aku hidup. Sekali saja.”