Pengkhianatan

1211 Words
“Tidak … jangan menyerah. Jangan! Kau harus membuktikannya! Kau tidak bersalah. Kau dijebak!” Kalimat itu terus bergema di kepala Hera, seperti mantra yang berusaha menahan kewarasannya agar tidak hancur. Ia mengucapkannya berulang-ulang, di antara deru mesin dan gemuruh hujan yang menghantam kaca depan mobil. Musim panas di Italia seharusnya hangat dan berdebu, tapi siang itu, hujan turun begitu deras seolah ikut menghakiminya. Tangan Hera gemetar di atas kemudi, sesekali menekan layar ponsel dengan putus asa, menghubungi siapa pun yang bisa ia percaya. “Hera, tenangkan dirimu dulu. Aku akan membantu, tapi tidak sekarang.” “Media sedang gila, Hera. Jika kau bicara tanpa bukti, itu hanya akan memperburuk keadaan.” “Jangan gegabah, biarkan mereda sebentar.” Hanya itu yang ia dengar. Semua orang menyuruhnya tenang, menunggu, bersabar. Namun sampai kapan? Waktu sedang tidak berpihak padanya. Damien juga sudah menyiapkan gugatan cerai. Tidak bisa. Hera menolak diam dan menunggu dirinya dimusnahkan skandal palsu. Tanpa peduli medan dan cuaca, Hera menekan pedal lebih dalam lagi. Menembus kabut tipis yang perlahan turun saat ia memasuki kota Verona, satu-satunya tempat yang masih bisa ia sebut rumah. Setelah satu jam berkendara, gerbang besar rumah keluarga Rhodes terbuka perlahan. Logam hitam berukir lambang singa bersayap itu masih sama seperti dulu, angkuh dan penuh wibawa. Begitu mobil berhenti di pelataran, pintu rumah langsung terbuka. Iyris Rhodes berlari menyambut putrinya, memeluknya erat seolah ingin menenangkan badai yang ikut terbawa bersama Hera. “Momm ….” Suara Hera pecah, lirih dan patah, seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh pijakannya. Ia terhuyung ke dalam pelukan ibunya. Tubuhnya gemetar hebat. “Tidak apa, semua akan baik-baik saja,” bisik Arnold Rhodes, ikut memeluk putrinya. Hera menutup mata. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya larut dalam dekap itu — hangat, lembut, dan menenangkan. Seperti rumah yang selalu ia rindukan, tempat bernaung yang seolah bisa melindunginya dari dunia luar yang kejam. “Aku tidak bersalah, sungguh.” Iyris menarik napas panjang, melepaskan pelukan dan menatap wajah putrinya yang basah oleh air mata. “Iya, kami tahu.” “Bantu aku membuktikannya, Mom, Dad. Ini semua jebakan. Sungguh.” “Hera, dengar.” Iyris menepuk lembut pundak sang putri, berusaha menstabilkan nada suaranya. “Keadaan di luar cukup kacau. Lebih baik tenangkan dirimu dulu.” “Ti-tidak. Aku tidak punya waktu —” "Dengarkan kata mommy mu, Hera,” sela Arnold. “Ini yang terbaik untuk saat ini.” Perkataan kedua orang tuanya menampar sisa harapan terakhir Hera dengan kuat. Matanya membelalak menatap kosong dengan tubuh yang gemetar. Udara di dadanya seolah tersedot keluar, meninggalkan kehampaan yang menusuk. Matanya beralih dari Arnold lalu ke Iyris, mencari sesuatu penjelasan, pembelaan, atau secuil keyakinan bahwa ini hanya salah ucap. Tapi yang ia temukan hanyalah tatapan iba. “Aku tidak ingin menunggu, kenapa kalian semua menyuruhku menunggu! Pernikahanku hampir berakhir, putriku yang baru setahun akan diambil! Bagaimana aku bisa tenang!” Jeritannya memecah ruang, menggema di antara pilar-pilar batu tua rumah keluarga Rhodes. Iyris bergegas memeluk Hera lagi, mencoba menenangkan, namun pelukan itu ditolak dengan berontakan yang nyaris membuat tubuhnya terhuyung. “Percayalah! Ku mohon ….” lirihnya pilu. Ia jatuh berlutut, menutup wajah dengan kedua tangannya. Tidak ada yang menenangkannya lagi. Baik Arnold maupun Iyris hanya diam, mata mereka saling menatap, seolah sedang menimbang sesuatu. Tapi keheningan dari mereka justru menusuk Hera lebih dalam. Sampai kemudian, suara bariton yang sedikit berat terdengar. “Tenang, Hera. Tenang dulu.” Ronan berjalan mendekat, memecah keheningan tebal yang ditinggalkan orang tuanya. Ia berjongkok, tanpa ragu menarik tubuh adiknya yang rapuh ke dalam dekapan. “Aku dijebak, Ronan. Aku bersumpah demi apapun,” lirih Hera, suaranya bergetar hebat di d**a kakaknya. Ia mencengkram kemeja Ronan erat-erat. “Aku tahu. Mana mungkin adikku yang sangat mencintai suaminya bisa berselingkuh.” Pelukan Ronan mengerat, hangat, sekaligus menenangkan gemuruh di hati Hera. Sebagai kakak laki-laki, ia cukup mengenal adiknya. Ronan percaya penuh Hera tidak akan melakukan hal seperti itu. “Tapi, Hera …” Suara Ronan menurun, lembut tapi tegas. “Apa yang Mommy katakan ada benarnya. Dunia di luar sana sedang mengamuk, dan kau belum cukup tenang untuk melawannya. Biarkan aku yang mengurus ini. Aku akan mencari bukti. Aku janji.” “Kau … akan melakukannya?” Hera mendongak, menatap wajah Ronan. Ronan menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk. “Ya. Tapi sebelum itu …” Ia berhenti sejenak, menelan kata-kata yang terasa pahit di lidah. “Tanda tangani dulu surat cerainya. Hanya itu satu-satunya cara untuk menenangkan publik.” Jantung Hera mencelos, luruh ke lantai dingin. Harapan yang baru saja diberikan Ronan, si penyelamat, terasa seperti pisau berkarat yang dingin menusuk punggungnya. Pada akhirnya, keluarganya sendiri menghakiminya—menyarankan perceraian sebagai jalan keluar, bukannya pembuktian atau bantahan. Kenapa? Hera terus bertanya-tanya. Seakan ada kekuatan tersembunyi yang memaksa perceraian itu harus terjadi. *** Namun pada akhirnya, sekuat apapun Hera mencoba menghentikan perceraian atau membuktikan dirinya tidak bersalah, semua hanya menunjukkan titik buntu. Dan kini, hanya satu bulan sejak skandal itu meledak, Hera sudah berada di sidang perceraiannya. Semua berjalan dengan cepat, entah karena pengaruh Damien, atau apa. Agenda yang seharusnya masih panjang justru diakhiri dengan cepat. “Kau benar-benar ingin bercerai sampai mempercepat semuanya, ya?” lirih Hera, duduk di sebelah Damien. Pria itu sama sekali tidak menoleh. Matanya lurus ke depan, dingin dan mematikan. “Aku hanya tidak ingin Elliah melihat semua skandal ibunya saat dewasa nanti.” Dingin dan menusuk. Air mata Hera jatuh lagi, tapi langsung diusap cepat. Ia tak mau tampak lemah di depan pria yang dulu ia cintai. “Ini semua jebakan! Kenapa kau tidak mau memberiku kesempatan?” tuntut Hera. Namun Damien membisu. Dia bahkan tidak menoleh, seolah memandangnya sedikit pun sudah menodai matanya. Hera juga tidak bertanya lagi. Pertanyaannya tidak akan dijawab. Pada akhirnya, surat cerai itu ia tandatangani dengan tangan yang gemetar, menandakan akhir dari segalanya. Hak asuh putrinya, Elliah Hazel, berakhir jatuh ke tangan Damien. Hakim memutuskan tanpa pertimbangan lanjutan, hanya karena skandal yang tidak ia lakukan Kejam. Menyakitkan. Hera tidak hanya kehilangan segalanya, ia juga kehilangan satu-satunya alasan untuk terus bernapas. Tapi semua itu masih belum selesai. Keluarga Rhodes sepakat dengan Damien untuk mengirim Hera ke Austria. Ke tempat yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota dan gosip. Semua demi menekan media yang terus memojokkan Hera, begitu alasannya. Hera juga tidak menolak, sudah terlalu lelah melawan. Ia lebih memilih menyusun siasat untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Entah tinggal di Milan, Verona, atau tempat yang jauh. Semua sama saja. *** Malam itu, mobil sedan mewah melaju cepat menembus keheningan di jalanan pinggiran Verona. Hera meronta dari dalam. Ia tidak dibiarkan pergi dengan damai. Tali mengikat pergelangan tangannya, sementara dua pria berbadan besar duduk di sisi kiri dan kanannya. “Lepaskan, aku bisa pergi sendiri!” teriak Hera, suaranya sudah serak karena terlalu banyak menangis dan memohon. Salah satu pria itu menoleh sedikit, matanya dingin. “Nona Rhodes, kami hanya menjalankan perintah. Lebih baik Anda tenang. Kami tidak ingin melukai Anda.” Hera tahu itu ancaman. Ia mencoba melihat ke luar, tapi kegelapan malam dan kecepatan mobil membatasi pandangannya. Namun, ia yakin. Ini bukan jalan menuju bandara. “Ini bukan bandara.” “Siapa kalian, siapa yang menyuruh kalian?” teriak Hera, kepanikan mulai menguasai suaranya. “Anda tidak perlu panik. Tuan Harper sudah menyiapkan tempat yang bagus untuk Anda.” “Da-Damien?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD