"Siaaal!" Aku menggebrak tas dan melempar lemariku saat tiba di apartemen. Aku marah dan aku sedang berada di puncak kekesalan kepada Hanifah. Wanita bodoh yang naif itu dia telah berhasil mengalahkanku, kupikir aku berhasil mendapatkan Arman dan hidupnya akan semakin terpuruk setelah aku memenangkan suaminya, tapi ternyata wanita itu melontar tinggi seperti bintang dan bersinar, dia jadi pusat perhatian semua orang, lalu sebentar lagi akan jadi salah satu orang terkaya di kota ini. "Beraninya dia meremehkan diri ini depan orang ramai! Kurang ajar!" Sekali lagi aku melempar gelas hingga pecah berkeping-keping ke lantai. Hidupku sudah hancur karena perbuatan Hanifah, hubunganku dengan Arman memburuk dan Pak Rudi juga menjauhiku. Bos kami yang tadinya sangat tergila-gila padaku itu tib

