Gelak tawa memenuhi sebuah kelab malam di tengah-tengah kota itu. Mereka saling melemparkan candaan konyol dan membahas hal yang tidak penting. Sederhana, tapi membuat persahabatan Mereka semakin erat.
“Bro,” Altair menyentuh pundak Arsen. “Tadi Lo ngapain bela Alista di depan umum? Suka Lo sama dia?” lanjutnya bertanya.
“Itu udah jadi ke—“ Arsen merapatkan bibir, mengurungkan niat untuk buka suara.
“Ke apa? Kewajiban buat jagain dia? Cie..., Lo suka dia, ya? Jujur aja lo,” desak Altair dengan menggoda. Kalau sudah seperti ini, sebelas dua belas dengan Rifka.
“Apaan. Orang gue Cuma nolongin doang. Kasihan gue liatnya. Anak-anak lain bukannya menolong malah pada diem.” Arsen meminum minuman bersoda yang telah tersedia di sana. Ia menolak ketika ditawari alkohol oleh Altair. Alasannya jelas; ia tak ingin merepotkan orang seperti di rumah Aileen itu.
“Gue tadi mau nolongin, Bro. Tapi Marsel kalau marah wajahnya garang amat woy. Gue jadi enggak berani,” tutur Altair. Arsen berdecih. Temannya itu kalau soal PDKT dan sebagainya pasti ada di garda terdepan, sedangkan pada peristiwa di sekolah tadi, Altair mengumpat layaknya seorang pengecut.
“Tumben Lo ngaku enggak berani. Biasanya Lo selalu cari alasan,” timpal Damian.
“Berisik Lo, Dam.”
“Kasihan. Sedikit ngomong langsung dimarahi,” kata Arsen. “iyain aja ucapan dia, Al. Emang itu kenyatannya, kan?”
Lagu Happier Than Ever milik Billie Elish menggema di antara Mereka. Atensi ketiganya langsung terpusat pada sebuah ponsel yang tergeletak di dekat Arsen. Altair mengambil benda pipih itu begitu saja tanpa peduli dengan mata si empu yang melirik tajam.
“Lilis?” Altair membaca nama yang tertera di sana. “siapa, Bro? Mak Lo?”
“Siniin,” tagih Arsen. Dia merebut Ponsel itu dari genggaman Altair. Arsen berdiri dan menjauh dari Mereka.
“Ada apa telepon gue? Gue lagi nongkrong sama teman-teman. Kalau penting, chat—“
“Kakak! Pulang sekarang!”
“Kenapa emang? Apa terjadi sesuatu di rumah?”
“Gue takut di rumah sendirian! Cepat pulang sini. Lo tega biarin gue sendirian di rumah? Mana rumah ini terletak di pojok. Kan, gue jadi takut, Kak!”
“Iya, bawel. Gue pulang sekarang.”
Panggilan diputus oleh Arsen. Ia kembali ke tempat di mana temannya berada. “Dam, Al. Gue pamit pulang.”
“Lah, masih jam sepuluh, Bro.” Respons Altair.
“Tetap di sini dua jam lagi,”’ imbuh Damian.
“Enggak bisa. Dia udah nyuruh gue pulang.”
“Jadi anak penurut amat Lo. Enggak asyik ah.’”
“Dia kalau marah susah buat dibujuk. Besok gue janji sampe tengah malam.” Arsen berbalik badan dan mulai keluar dari tempat itu. Altair dan Damian yang melihatnya pun hanya bisa membiarkan.
“Cewek cupu kayak Lo ngapajn di sini?”
“Dia mau open BO kali,”
“Hahahaha! Mana ada orang yang mau nyewa Cewek jelek kayak dia!”
“Lihat noh. Jerawatnya merah-merah. Bikin gue jijik tau enggak “
Cemoohan itu sukses menarik perhatian Arsen. Dia berhenti dan menatap sebuah sudut yang dikerumuni orang- orang. Arsen membelah kerumunan itu hingga dia sampai di satu titik di mana ada seorang Gadis yang sedang berdiri dengan kepala menunduk.
“To—tolong, kasih aku uang pinjaman, Ar. Aku janji akan menebus besok.”
Cowok bernama Arion itu mengunyah permen karet. Ia menyilangkan kaki dan mengamati Nandin dari bawah sampai atas. Iya, Nandin ke tempat seperti ini untuk mencari pinjaman uang. Memakamkan kedua orang tuanya bukanlah hal yang gratis. Dia perlu membayar dan jumlahnya lumayan besar.
“Apa jaminan Lo buat lunasi utang?”
“A—aku Senin pekan depan aku akan kerja di restoran. Setiap bulan, hutang itu bakal aku cicil kok,” kata Nandin dengan nada memohon.
Arion tertawa kecil. Dia melirik anak buah di sampingnya. “Ambilkan satu botol Vodka.”
Pria itu menyerahkan apa yang diminta Arion. Semua orang mendadak hening. Penasaran dengan apa yang dilakukan Arion selanjutnya. Cowok yang merupakan kakak kelas Nandin itu menatap kembali Gadis di depannya. “Gue akan pinjamkan Lo uang. Dengan syarat, Lo harus berlutut di depan gue terlebih dulu,”
Nandin mengangguk cepat. Bahkan jika disuruh bersujud pun dia menurut. Asalkan dia bisa memakamkan ibu dan ayahnya di tempat yang layak. Nandin bertekuk lutut dan mengatupkan tangan. “Aku mohon, kasih uang itu. “
“Berapa?”
Nandin kini mendongak. Melihat itu Arion mengadahkan tangan. “Lo harus nunduk.” Titahnya. Nandin langsung menunduk kembali.
“Satu juta,”
“Segitu? Oke, gue bahkan punya uang sepuluh kali lipat dari yang Lo sebut tadi.” Arion mengeluarkan lembar uang merah berjumlah sepuluh. Ia menyodorkannya ke arah Nandin. Dengan senyum sumringah, Nandin menerima uang itu, namun Arion malah menjauhkan uang itu seolah mempermainkan Nandin.
“Syaratnya ada tiga. Satu, Lo berlutut di depan gue. Dua, Lo harus minum...” Arion mengambil botol yang dipegang anak buahnya. “... vodka ini dalam waktu lima menit. Syarat ketiga, Lo harus pulang sendiri entah itu dalam keadaan mabuk atau enggak, gue gak akan nganterin Lo pulang.”
Tanpa pikir panjang, Nandin mengangguk setuju. Dia mengambil alih botol itu. Nandjn berdiri, bersiap untuk meminum itu. Sementara Arion mulai mengeluarkan ponsel dan membuka stopwatch guna menghitung waktu. “Tiga, dua...”
Nandin memejamkan mata. Baru kali ini dia meminum vodka. Maaf ayah, aku udah melanggar perintah Ayah. Maaf, batin Nandin. Dari sejak remaja, dia larang meminum minuman keras. Dia tidak tahu mengapa. Tapi Nandin yakin itu demi kebaikan. “Satu!” sentak Arion.
Cewek itu mulai menengguk Vodka itu dengan cepat. Orang-orang yang melihatnya ternganga. Ada juga dari Mereka yang menyemangati Nandin. Arsen geleng-geleng kepala menyaksikan itu. Dia mendekati Nandin dan menampik botol itu hingga jatuh, pecah berkeping-keping.
Arion terperanjat. Ia tak terima kesenangannya diganggu.
“Bodoh?” umpat Arsen.
Nandin memicing tajam, “Kamu enggak perlu ikut campur!”
“Lo Cuma dipermainkan dia, Bodoh! Enggak pa-pa wajah Lo jerawatan, jelek dan sebagainya. Tapi...” Arsen menyentuh kepalanya. “otak Lo jangan sampai ikutan Jelek juga!”
“Diam. Itu bukan urusan kamu.”
“Wah, jadi pahlawan kemalaman datang nih?” Arion berdiri dan bertepuk tangan. Ia berjalan mengelilingi Arsen. “penampilan Lo bagus juga. Dari keluarga kaya Lo? Gaji ortu Lo berapa digit?”
“Jangan mainin Cewek kayak dia, anj*ng!” Arsen menghujamkan bogem mentah ke muka Arion. Para Cewek berpakaian minim spontan berdengking histeris.
“WOY!” anak buah itu marah majikannya dipukul begitu saja. Dia melangkah lebar mendekati Arsen. Sementara Arsen langsung memegang tangan Nandin, membawa pergi bersamanya. Nandin yang tidak ada pilihan lain itu hanya bisa mengikuti karena dia juga penyebab Arion dipukul oleh Cowok ini.
“Kamu kenapa, sih?! Jangan menghentikan aku. Aku butuh uang buat pemakaman—“ Arsen menuntun Nandin untuk berjongkok. Cowok itu merapat ke tembok salah satu sudut rumah sakit. Tidak ada pencahayaan di sana. Semua gelap dan sunyi hingga terdengar derap langkah. Arsen membekap mulut Nandin agar Cewek itu berhenti mengoceh. Detak jantung Nandin berpacu cepat. Keringat mulai membasahi kening. Wajahnya mendadak pucat pasi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Mengingat Arion punya kekuasaan di mana-mana.
Arsen mengintip keluar. Dia mendesah lega mendapati anak buah Arion sudah tidak ada. “Kita udah aman,” nafas Arsen terengah-engah. Dia menengok ke arah Nandjn, bersamaan dengan itu Nandin juga menengok. Jadilah mata Mereka bertemu.
Nandin langsung menunduk kembali.
“Lo minta tolong ke orang yang salah.” Kata Arsen, membuka pembicaraan.
“Kamu enggak tau seberapa butuhnya uang itu. Ibu sama Ayah harus dimakamkan besok,”
“Satu juta?” tanya Arsen memastikan.
“Huh?”
“Lo butuh uang satu juta?”
Nandin mengangguk pelan.
Arsen mengeluarkan dompet. Seketika mata Nandin terbelalak. Terlebih lagi melihat deretan uang berwarna merah dengan jumlah banyak.
Arsen mengeluarkan dua puluh lembar. Ia menyerahkan itu pada Nandin. “Sisanya buat Adik Lo,”
“Beneran?” Nandin tidak menyangka Cowok yang baru ia kenal ini dengan mudah memberikan uang. “a—apa yang harus aku lakuin?”
“Lo enggak perlu lakuin apa-apa. Gue bukan cowok seperti Arion yang memanfaatkan Cewek kayak Lo,” setelah mengatakan itu, Arsen berdiri dan meninggalkan Nandin, tetapi ia terhenti kala ingat sesuatu. “lo ke sini pakai motor?”
Nandin menggerakkan kepala ke kanan kiri. “Aku jalan kaki,”
“Ikut gue,”
“Buat apa?”
“Anterin Lo. Masa nyulik Lo?”
___**___
“Lo telat satu jam!” Alista menatap sebal. Dari tadi dia overthinking, takut terjadi sesuatu pada Arsen di jalan, tapi ternyata murni terlambat.
“Gue habis nganterin orang,” Arsen mendaratkan bokongnya di sofa. Ia merentangkan tangan, meregangkan otot-ototnya. Sementara Alista menempatkan kepalanya di paha Arsen, mulai merebahkan diri.
“Jam sepuluh tadi ada maling yang datang ke rumah tetangga kita, Kak. Aku jadi takut. Mana sendirian lagi,”
“Maling? Tapi Lo enggak pa-pa, kan? Maling itu enggak masuk ke rumah ini?” cecar Arsen khawatir.
“Enggak. Makanya Lo jangan nongkrong malam-malam deh.”
“Iya. Mulai hari ini enggak lagi,” Arsen mulai memainkan ujung rambut Alista yang terurai. Alista mengadahkan kepala, memperhatikan wajah Arsen dari bawah.
“Hidung Lo mirip Om Kenzie, ya.” Alista menyentuh ujung hidung itu. Ia lantas menariknya gemas. “jadi pengin gue potong,”
“Hush!”
Alista tergelak. “Salah sendiri hidungnya terlalu mancung.”
“Tapi gue tampan, kan?” Arsen menaikturunkan alis. Alista langsung menggeplak wajah Arsen. Tidak keras, namun respons Arsen terlalu berlebihan.
“Lebay Lo, Kak!”
Arsen tiba-tiba memegang pergelangan tangan Alista. “Tumben Lo pakai gelang beginian.”
Alista menggerutu dalam hati. Ia lupa melepas gelang pemberian Marsel. Bisa-bisa rahasianya terbongkar!
“Ngikut tren, Kak.” Alista menarik tangannya dari genggaman Arsen.
“Dikira orang Lo punya doi,”
“Biarin. Kan, mereka bebas menebak.” Kata Alista tidak ambil pusing.
“Kak,”
“Hm?”
“Kok Ibu enggak telepon gue, ya? Biasanya setiap ada perjalanan bisnis, Ibu setiap hari tanya keadaan kita, tapi sekarang malah nggak tanya sama sekali.” Akhir-akhir ini Alista bertanya-tanya akan hal itu.
Arsen bungkam. Ia masih belum tega untuk memberitahu sebenarnya. “Lo udah belajar buat ujian besok?” tanya Arsen mengalihkan topik.
Alista langsung membalas dengan gelengan kepala. “Males.”
“Punya adik gini amat. Jangan geger minta jawaban ke gue besok nanti,”
“Lo juga enggak belajar. Malah ke kelab malam.” Serang Alista balik.
“Gue mah dari lahir udah pintar,” jawab Arsen penuh percaya diri.
Alista berdecak sebal. Mata sipitnya itu memicing, “Awas aja kalau gue lihat Lo nyontek di kelas nanti,”
“Lihat aja,” tangan satu Arsen meraih gadgetnya dan mulai men-scroll media sosial. Ngomong-ngomong sudah lama ia tidak membuka instagramnya. Hari semakin larut. Suara jangkrik terdengar jelas dari luar. Detik jarum jam juga turut mengisi keheningan malam ini. Mendengar Alista sudah tidak mengoceh lagi, Arsen menengok ke bawah dan benar saja. Alista tertidur.
Dengan pelan-pelan Arsen menyingkirkan lengan Alista dari lingkaran pinggangnya, tapi Alista malah semakin mendekapnya erat. “Jangan pergi, Bunda...”
Arsen menatap tajam. Memang dirinya seperti wanita sampai-sampai dipanggil Bunda? Kalau sudah seperti ini, Cowok itu tidak bisa berbuat apa-apa selain memangku Alista sampai bangun.