50

1311 Words
Aku tidak menyangka pertemuan kedua dengan Ibu Marsel menjadi pertemuan buruk bagiku. Padahal dari jam empat pagi aku membuat makanan itu, tapi ternyata malah gagal. Anehnya masakanku itu terasa pedas. Bagaimana bisa? Apa aku menambahkan bubuk cabai? Perasaanku, tidak. Aku yakin akan hal itu. Aku merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Sudah lama sekali aku tidak mendengar suara Ibu Bianca. Bagaimana kabarnya, ya? Apa dia baik-baik saja? Aku langsung merogoh saku dan memilih nomor telepon Ibu. Belum sempat memencet ikon hijau, ponsel itu malah direbut dari genggamanku. Mataku memicing ke arah Arsen yang bersikap biasa saja seolah tak berdosa. “Besok ujian. Lo enggak boleh main HP,” “Siniin enggak?!” aku terduduk dan mencoba meraih ponsel itu dari tangannya. “Kak!” “Dibilang jangan pegang hp dulu,” dia justru memasukkan ponsel milikku ke sakunya. “Gue mau telepon Ibu sebentar. Lo gak mau dengar suara Ibu apa? Udah lima hari ini Ibu enggak ada kabar.” Kataku membujuk. “Ibu baik-baik aja. Barusan gue telepon,” Aku kaget. Kak Arsen menelepon Ibu tapi tidak bilang-bilang padaku?! “Kenapa enggak bilang? Gue juga mau ngobrol sama Ibu, Kak.” “Lah, keburu habis pulsanya. Kapan-kapan gue bilang ke Ibu,” kata Kak Arsen dengan mudah. “Gue mau ketemu Ibu besok.” “Eh, ngapain ke sana? Lo besok uji—“ “Bodoamat sama ujian. Gue mau ketemu Ibu. Titik!” potongku cepat. Kalau aku tidak seperti ini, Arsen pasti melarangku terus-terusan padahal kan bertemu Ibu adalah hakku. “Gue enggak mau tanggung jawab kalau Lo nangis besok,” apa katanya? Menangis? Aku gelagapan dan ingin menghentikan Kak Arsen. Sayang. Dia sudah lebih duluan. Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau aku terus seperti ini, bisa aku mati dalam penasaran. Jam delapan Malam ketika Kak Arsen sudah tertidur, aku mengendap keluar rumah itu. Pandanganku juga bekerja. Aku mengawasi untuk memastikan tak ada orang. Aku menunggu di halte dengan kedua tangan masuk ke saku. Angin berhembus kencang. Beruntung aku hoddie tebal ini. Bus sudah datang. Aku menaikinya. Belasan menit menempuh perjalanan, aku sampai di depan rumah itu. Dahiku mengernyit saat melihat lampu di rumah Ibu menyala. Kata Kakak tidak ada orang sama sekali, kenapa sekarang malah terlihat berpenghuni? Aku mengetuk pintu itu beberapa kali. Tidak membutuhkan waktu lama Bi Hanifah datang dan membukanya. Aku melebarkan mata. Kak Arsen berbohong! “Non Alis? Akhirnya Non pulang. Bibi teh sudah menunggu kapan Non pulang,” “Ibu mana, Bi?” aku menengok ke dalam, semuanya kelihatan normal-normal saja. “Nyonya sudah tidur. Ayo masuk, Non. Bibi akan bangunkan Nyonya secara pelan,” Aku mengangguk menanggapi jawaban Bi Hanifah. Aku mendaratkan duduk di sofa ruang tamu. Menunggu Ibu datang beberapa menit lagi. Namun, suara mobil berhenti terdengar di depan. Aku langsung berdiri dan mencari tahu siapa yang datang. Aku mengusap mata. Ini tidak salah lihat, kan? Tumben sekali Ayah Marsel datang ke rumahnya. Apa dia akan melaporkan kejadian tadi pagi? Ah, aku harap dia tidak mengetahui soal masalah masakannya itu. Aku membuka pintu saat bel rumah terdengar. Pak Lorenzo memandangku dengan sirat mata terkejut. “Kamu? Ibumu mana?” tanya Pak Lorenzo to the point. Aku bingung, kok malam-malam begini malah cari Ibu. “Kata Bi Hanifah, sih, Ibu sudah tidur.” “Kenapa kamu kembali lagi ke rumah ini?” Pertanyaan itu mrmbuatku terheran-heran. Dia sepertinya tidak senang jika aku sedang berada di rumah. “Maksud Om?” Aku berpura-pura tidak menyambung saja. Siapa tahu dia akan meralat perkataannya. “Kenapa kamu kembali lagi? Bukankah kamu dan Kakakmu yang memutuskan pergi dari sini dan tidak balik lagi?” Pak Lorenzo memperjelas. Banyak pertanyaan yang terngiang di otakku. Aku bingung kenapa Kak Arsen sampai berbohong sejauh ini. Alhasil aku hanya bisa menggeleng, menanggapi dia. “Aku gak pernah meninggalkan rumah ini, Om.” Jawabku tegas. Ia tidak menyahuti dan malah menyelonong masuk begitu saja. . Untung dia merupakan Ayah Marsel, kalau tidak mungkin wajahnya sudah lebam. “Alista, kamu—“ Ibu tidak melanjutkan kalimatnya. Aku lihat dia memperhatikan Ayah Marsel setelahnya bergantian memperhatikanku. “Ibu,” aku berlari kepada Ibu dan memeluknya. Ibu tidak membalas perkataanku. Andai aku tahu apa isi hati Ibu. Aku tidak perlu bertanya-tanya di batin lagi seperti orang tidak waras. “Ibu, kenapa Kak Arsen bohong tentang Ibu? Sebenarnya ada masalah apa?” “Jangan berbohong lagi. Katakanlah yang sebenarnya pada dia,” itu suara Pak Lorenzo. Untuk apa coba dia ikut campur sedangkan posisinya di sini adalah seorang tamu. Aku menatap Ibu dengan serius. Pelukan kami sedari tadi sudah terlepas. “Selama ini Ibu sudah membohongimu. Ibu minta maaf sekali.” “Maksud Ibu apa?” aku sungguh tidak mengerti. Ibu berjalan ke arah televisi. Dia membuka laci yang terletak di sebelahnya. Mataku tidak berhenti memperhatikan. Ibu memberikan sebuah kertas. Kertas undangan. Aku membuka dan membacanya. Aku tidak percaya melihat nama Ibu tertera di sana. Aku melihat Ibu dan Pak Lorenzo secara bergantian. Undangan itu aku cengram kuat-kuat hingga tidak berbentuk lagi. “Jadi benar apa yang dibilang Marsel? Ibu selingkuhan dia. Ibu Wanita jalang.” Aku membanting kertas undangan itu. Ini di luar dugaanku. Selama ini aku dibodohi. Dan konyolnya aku tidak curiga sedikitpun. Aku berlari keluar rumah. Ibu sudah berteriak memanggilku agar tetap di tempat. Tapi aku tidak akan kembali ketempat itu lagi. Tidak. Aku terduduk di halte. Jalanan sepi. Tak ada seorang pun. Aku menunduk. Perlahan air mataku mulai membasahi pipi. Aku tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Marsel pantas marah padanya, tapi mengapa Cowok itu malah menjadikannya kekasih? Aku menunduk dan menutupi wajah. Untuk saat ini aku butuh waktu untuk tenang dulu. Ditelan kegelapan. Rintik-rintik yang terdengar membuat aku mengadahkan kepala. Kilatan petir terlihat di langit yang gelap itu. Aku langsung berlari, menghindari hujan yang akan bertambah deras. Namun sepertinya aku terlambat. Hujan mendadak menjadi deras. Aku tidak berani berlari, takut terpeleset. Langkahku semakin cepat. Kedua mataku aktif memperhatikan gerak-gerik sekitar untuk memastikan tidak ada orang. Dua puluh menit aku berjalan, tubuhku menggigil. Aku yakin wajahku sudah pucat saat ini. Aku berjalan cepat ke depan rumah sampai aku tiba di sana. Tanganku yang mengepal langsung mengetuk pintu. Tidak butuh waktu lama, Kak Arsen langsung membuka. “Lista? Habis dari mana Lo?” Aku menampar pipinya. Entah keras atau tidak, aku tidak peduli. “Kakak kenapa menyembunyikan hal sebesar itu dari aku?!” Aku rasa Kak Arsen sudah tahu apa yang ku maksud. “Maaf. Gue enggak berniat buat membohongi Lo, Ta. “ “Terus kenapa Kakak enggak kasih tau sebenarnya? Kenapa diam aja? Itu artinya Kakak emang sengaja berbohong!” aku memeluk tubuhku yang terasa dingin. Angin-angin malam berhembus kencang itu menusuk hingga ke dalam tulang. Benar-benar dingin. Mendadak pandanganku samar-samar. Semuanya. Aku sulit mengartikan mengapa aku sering merasa pusing seperti ini. “Ta.., Lo enggak pa-pa, kan? Ta!” Aku tidak mempunyai tenaga untuk menjawab. Seluruh tenagaku seakan hilang. Aku tidak bisa menopang lagi. Semuanya mendadak gelap gulita. Langit-langit kamar sayup-sayup terlihat. Kepalaku masih terasa pusing. Aku menengok ke kanan kiri dan mendapati Kak Arsen sedang menempelkan sesuatu di dahiku. Dengan segera, aku menampiknya. “Enggak usah.” “Ta, bukan waktunya marah. Lo harus dikompres biar sembuh Sekarang.” “Gue enggak peduli.” Aku memaksakan untuk duduk meski kepalaku berdenyut nyeri walaupun bergerak sedikit. “Masih marah tentang hal itu? Gue aja baru tahu beberapa hari lalu. Lo sama gue sama-sama dibohongi selama tujuh tahun ini. Bukan Cuma Lo doang yang marah, tapi gue juga berhak marah.” “Tujuh tahun?” jadi selama itu Ibu menjaga rahasianya? Wah, hebat. Aku tidak pernah menyangka Ibu seburuk itu. Aku kira dia wanita baik sama... Seperti Ibuku “Dia menyembunyikan itu dari kira semua, Ta.” “Gue harus minta maaf ke Marsel,” aku menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhku, namun tanganku ditahan oleh Arsen “Keadaan Lo belum pulih. Jangan mikirin orang. Masih ada waktu besok,”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD