51

1530 Words
"Semua warisan diserahkan kepadamu. Mulai saat ini kamu adalah Nona besar kami," "Gelang yang ada di samping Jenazah Kakekmu adalah gelang milik Marsel, dia anak dari Lorenzo, saingan bisnis mendiang Kakek. Untuk informasi lebih detail, Nona bisa cek seluruh isi berkas ini,” Nandin menggenggam kuat gelang hitam yang ada di tangannya. Ia menatap sekolah SMA Garuda, tempat baru untuk menuntut ilmu sekaligus membalas dendam. Nandin bertekad tak akan pernah melepaskan orang yang sudah membuat Ayah dan Ibunya tiada. “Ya ampun, Karisa! Balikin botol gue enggak!” suara itu membuat Nandin tersentak. Dia menengok ke belakang dan benar saja dirinya mendapati dua orang murid sedang kejar-kejaran. Namun bukan itu yang membuat perhatian Nandin teralih. Melainkan sebuah gelang tangan hitam yang terpasang di pergelangan salah satu Cewek tadi. “Tunggu,” Alista berhenti. “Lo Cewek di rumah sakit, kan?” tanya dia memastikan. Sementara Karisa berhenti, ikut penasaran dengan kedatangan Cewek asing itu. “Iya, aku Nandin.” “Oh. Murid baru di sini?” tanya Alista, memandangi Nandin dari bawah sampai atas. Wah, murid cupu baru, batinnya. Sudah kentara jelas di sekolah sebelumnya Nandin adalah korban bullying. “Kamu bisa nganterin aku?” Nandin balik bertanya. Alista langsung mengiyakan daripada nanti Cewek itu dipermainkan oleh anak lain yang melihat, lebih baik diantarkan olehnya saja. Mereka berjalan menelurusi koridor. Alista dan Karisa malah asyik berbincang-bincang berdua. Sementara Nandin mengamati setiap murid yang lewat. “Udah sampai,” tanya Alista memecah fokus Nandin. Cewek itu masuk ke ruangan, sedangkan Mereka berdua langsung masuk ke kelas. Hari ini adalah minggu pertama setelah mereka melaksanakan ujian. Biasanya pada saat seperti ini, lebih sering jamkos. Alista mendaratkan duduk di bangkunya. Saat dia merogoh kolong meja, ia terkejut menemukan kotak nasi. Alista langsung membuka. Isinya bukan makanan atau sandwich, melainkan sebuah buku dan secarik kertas. Aku beliin buku paduan masak buat kamu. Semangat belajarnya, Beb. Lo masih punya kesempatan lain buat menangi hati Ibu Mars ☺ Alista tersenyum malu setelah membaca. Marsel begitu romantis sekali. “Mars? Lo masih pacaran sama si Marsel?” Alista terkejut dengan pertanyaan Karisa. Spontan dia gelagapan dan langsung memindahkan buku dan kertas itu ke dalam tas. “Enggak,” “Bohong. Jelas-jelas gue lihat nama Marsel tertulis di sana,” “Udah, Kar. Jangan dibikin ribet,” Alista mengalihkan pandangan ke depan. Bel masuk berbunyi, menggema di seluruh sekolah. Murid-murid berhamburan ke masuk ke dalam dan duduk di tempatnya masing-masing. Mereka tidak sabar menunggu hasil ujian. Alista mulai menegakkan duduknya. Bu Hanum—guru yang mengajar hari ini datang bersama seorang wanita di sampingnya. “Halo, anak-anak. Selamat pagi,” “PAGI, BU!” “Saya akan membacakan hasil ujian kalian nanti. Sebelum itu, perkenalkan. Dia murid baru di kelas kita. Nandin, perkenalkan dirimu.” Titah Bu Hanum. Nandin mengangguk. “Aku Nandin, pindahan dari SMA Pelita. Salam kenal semuanya. Semoga kita bisa saling berteman baik.” Hening. Suasana berubah menjadi kaku. Berbeda jika murid perempuan cantik yang datang, sudah pasti semuanya menjadi riuh terutama anak laki-laki. Bu Hanum menyuruh Nandin untuk duduk di bangku pojok kanan baris empat. Tidak ada bangku kosong lagi selain itu. “Gue yakin dia pindah ke sini karena dibully di sekolah lamanya,” bisik Rifka pada Alista dan Karisa di belakangnya. “Kita enggak tau yang sebenarnya. Jangan ngambil persepsi dulu,” sergah Alista. “Tapi bisa jadi, lho, Al. Penampilan dia itu mencerminkan banget,” ujar Karisa. Alista yang tidak mau pusing memikirkan hanya bisa menggedikan bahu. ___***___ “Sendirian aja?” Nandin menengok sejenak sebelum memandang lurus kembali. “Iya,” “Yang lain mana? Lo gak gabung sama Mereka?” tanya Arsen, memandangi Nandin dari samping. Nandin menggeleng pelan. “Bisa Lo menghadap gue sebentar?” “Hah? Buat apa?” Nandin semakin menunduk. Ia mengerjap ketika dagunya disentuh dan diangkat perlahan oleh tangan Arsen. “Kalau mau punya teman, jangan nunduk mulu. Gimana orang-orang mau lihat wajah Lo?” Arsen kemudian melepaskan kacamata yang dikenakan Nandin. “ini juga. Kacamata dipakai pas lagi main hp sama baca buku. Selebihnya, jangan pakai. Kacamata ini gak cocok buat keseharian Lo,” Melihat Nandin hanya membalas dengan anggukan, Arsen merasa tidak puas. “Gue lagi ngomong sama orang atau patung, sih?” “Makasih...” ujar Nandin singkat. “Makasih buat?” “Woy! Lagi apa Bro?” Altair menepuk pundak Arsen dari belakang. Entah darimana asal datangnya Cowok itu. “Udah selesai Lo? Damian mana? Kenapa gak keliatan dia?” Arsen balik bertanya. Ia mencari-cari keberadaan salah satu temannya itu. “Damian udah ke markas duluan. Kuy kita ke sana. Apa Lo mau lanjutin PDKT Lo sama dia?” tanya Altair tanpa malu. Arsen spontan menoyor kepala Altair bersamaan dengan tubuhnya yang berdiri. “Nan, ingat saran gue.” Nandin hanya membalas dengan anggukan kepala. Ia memperhatikan perginya Arsen bersama Cowok yang belum Nandin ketahui namanya. Senyum di bibir tipos itu perlahan terbit. Arsen adalah teman pertama sekaligus orang yang berhasil membuat dia suka. ___***___ Setelah cukup nongkrong di markas, Arsen pergi ke kelasnya yang masih kosong. Bel masuk akan berbunyi sepuluh menit lagi. Mungkin itu sebabnya murid-murid lebih memilih untuk berlama-lama di kantin. Ia membuka resleting tas milik Rachel. Arsen mengeluarkan satu kantong plastik yang berisi tiga kecoa di sana. Usai menengok dan yakin tidak ada orang, dia menuangkan kecoa itu ke dalam tas. Ini bukan salah Arsen sepenuhnya. Cowok itu berbuat demikian juga salah Rachel. Dia keluar dan berlagak tidak terjadi apa-apa. Tanpa sadar ada orang yang duduk di bawah bangku paling pojok. Orang itu menatap ketakutan. Setelah melihat Arsen pergi, barulah dia berani untuk keluar. “Lihat, kan. Barang gue asli semua. Gak ada yang KW. Emang kayak dia, yang bisanya Cuma beli emas palsu di toko online seharga sepuluh ribu?” suara cempreng yang khas itu datang semakin mendekat. Nandin gugup. Alhasil ia duduk di tempatnya kembali. Mengurungkan niat untuk keluar. “Hahahaha! Bisalah, Hel. Dia itu iri sama Lo karena dia punya segalanya,” “Iya deh. Gue enggak habis pikir sama dia yang nggak berhenti menghujat. Mungkin gue harus tunjukkan segepok uang biar dia percaya kalau gue tuh lebih tinggi daripada dia!” Rachel membuka tas. Bedak yang ia pakai sudah luntur gara-gara disiram oleh Alista tadi. Iya, Mereka bertengkar untuk sekian kali dan membuat heboh satu kantin. “AAAAAAAA! NINDI! NIN! ADA KECOAAA!” jerit Rachel heboh. Kakak kelas yang tadinya hanya kebetulan lewat langsung masuk ke dalam untuk melihat. “Kecoa? Mana?! Jangan nakutin Lo!” Nindi panik sendiri. Lagian siapa sih yang tidak jijik dan takut dengan binatang satu itu. “Itu di dalam tas!” Rachel melirik ke ambang pintu. “Kak Lio! Jangan diem aja di sana! Bantuin gue buat ngusir ini kek! Bila perlu ambil kecoanya sekalian!” “Kok harus gue?” Cowok itu bergidik ngeri. Dia pergi meninggalkan begitu saja tanpa peduli dengan Rachel. Rachel membanting tasnya. Kecoa itu tidak kunjung keluar. “Eh, katanya itu tas mahal dari luar negeri dan Cuma ada tiga di dunia. Terus kenapa Lo injak-injak begitu? Jangan-jangan itu tas palsu, yah?” kata Alista dengan nada meledek. “LO YANG MENARUH KECOA INI DI TAS GUE, KAN!? NGAKU LO!” kata Rachel nge-gas. “Dari tadi Lo sendiri tau, kan, gue ada di kantin sama Karisa dan yang lain,” tuduhan Rachel dipatahkan oleh alibi yang kuat itu. Ia berpikir keras siapa yang berani mengerjainya seperti ini. “Nan, Lo gak istirahat? Ayo ikut gue,” tawar Alista. Tepat saat itu juga Rachel menengok ke belakang. “Lo yang naruh kecoa ini?!” tanyanya pada Nandin. “Eng—enggak. Dari tadi aku diam aja,” “Tuh, kan, gugup. Berarti emang benar! Lo yang naruh binatang itu di tas gue!” Alista memicingkan mata. “Berisik deh, Hel. Emang dia punya masalah apa ke Lo sampai-sampai tas Lo dimasuki begituan?” ia tak mengerti dengan jalan pikir Rachel yang main menuduh begitu saja. “Siapa tau kan dia disuruh elo!” Alista kini menilik wajah Nandin, “Apa benar gue nyuruh Lo buat naruh kecoa itu?” Nandin menggerakkan pelan kepalanya ke kanan kiri. “Lihat?” Saat itu juga Rachel kehabisan kata-kata. Memang, sih. Nandin sepertinya orang mustahil untuk mengerjainya seperti ini. Ketika di perjalanan ke kantin, mata Nandin tidak berhenti memperhatikan gelang hitam yang dipakai Alista. “Kamu beli gelang ini di mana?” tanya dia basa-basi. Alista langsung memegang gelangnya. “Gue beli ini di toko dekat rumah.” Bohongnya. Ia tentu belum bisa mengatakan rahasia pada Nandin yang notabenenya orang baru ia kenal. “Aku pernah liat gelang itu di TKP pembunuhan,” “A—apa?” ___***___ Alista datang mendekati Marsel yang sibuk bermain HP di parkiran paling pojok. Dia berdeham beberapa kali membuat Marsel terperangah dan menghentikan aktivitasnya. “Al? Buat apa ke sini?” “Kamu enggak pakai gelang kita?” mata Alista terarah pada pergelangan lengan Marsel. Marsel meraba pergelangannya. “Aku takut teman-teman aku tau, sayang.” “Tapi gelangnya masih ada di rumah, kan?” Marsel sudah berkali-kali mengingat keberadaan gelang itu, namun terlalu susah. Ia yakin gelang itu jatuh di suatu tempat. “Ada. Gelangnya ada di rumah.” “Aku ke rumah kamu sekarang, ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD