52

1027 Words
Bintang-bintang serta bulan menghiasi gelapnya langit. Suara jangkrik yang berasal di sekitar taman itu berbunyi, saling bersahutan. Tetesan air dari atap sekolah yang ada di dekatnya terdengar layaknya detik jarum jam. Di taman inilah Alista berada. Dia menyandarkan kepalanya di pundak tegap Marsel. Walau sudah lima belas menit berlalu, tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Marsel mengelus rambut Alista. Menunggu kekasihnya buka suara ternyata membosankan juga. “Kamu kenapa mengajak aku ke sini, hm?”’ Alista bergeser, ia duduk tegak. Kepalanya mulai menengok ke Marsel. “Setelah ini, jangan berubah, ya. Aku enggak mau hubungan kita renggang. Kita bakal tetap bersama, walaupun status kita berbeda.” Perkataan Alista membuat kening Marsel mengerut. “Maksud kamu?” Alista menggeserkan duduk kembali sehingga menghadap Marsel. “Aku minta maaf atas kesalahan Ibu, Kak Arsen dan kesalahan aku juga.” Jari-jari Alista menaut di sela-sela jari Marsel. “...makasih kamu udah jadi first love aku. Tapi hubungan kita..” Alista menggigit bibir bawahnya, kedua matanya terpejam. Dia harus mengatakan ini meski rasanya berat. “... sampai di sini aja, Mar.” Bersamaan dengan itu, Alista melepas tautan jari Mereka. “Apa?” Marsel menggeleng kuat. Ia menghadapkan wajahnya pada Alista, menatap lekat-lekat kekasihnya. “hey, salah aku apa? Kita enggak boleh berakhir begitu aja. Aku masih sayang kamu. Enggak-enggak. Aku gak akan biarin hubungan kita hancur.” “Tapi, Marsel, selama ini...” air mata jatuh, menuruni pipi. Ia balas menatap Marsel. “Papa kamu yang selingkuh sama Ibu aku. Mereka sebentar lagi akan menikah. Aku enggak bisa egois. Aku mau mengakhiri hubungan kita sendiri daripada Papa kamu yang membuat hubungan kita berakhir.” “A—apa? Menikah? Darimana kamu tau hal itu?” “Aku enggak sengaja dengar pembicaraan Mereka,” Alista mengusap wajahnya. Ia berdiri, memandang Marsel dengan iris mata penuh luka. “aku pulang dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Sekarang kamu boleh cari Perempuan yang lebih baik daripada aku,” Marsel terpaku. Tubuh Alista yang membalik itu membuat hatinya bergejolak tidak terima. Hubungan Alista dengan dirinya baru dua bulan. Tidak mungkin akan usai secepat ini. Marsel mendekap erat tubuh Alista dari belakang. Alista berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Sebelum rasa suka itu mendalam, kedua tangan Alista memegang lengan Marsel, menyingkirkan tangan tersebut dari tubuhnya. Dia membalikkan badan, menghadap Marsel. “Enggak bisa, Mar. Lagian lambat laun aku dan kamu pasti disuruh putus.” “Enggak ada kata terlambat buat mengubah semuanya. Kita bisa menghentikan pernikahan itu.” “Menghentikan?’ Alista menggeleng. “aku gak berani ngelakuin itu.” “Kenapa? Kamu gak memikirkan perasaan Ibu aku? Ibu aku lagi mengandung dan selama itu Ayah terus bersama Ibu kamu. Selama ini kamu udah cukup membuat Ibu kamu bahagia. Tapi untuk sekarang, izinkan Ibu aku bahagia. Ibu aku udah menanggung banyak penderitaan. Mungkin saat ini kamu gak tau bagaimana rasanya di posisi Ibu. Untuk beberapa tahun ke depan, bayangin. Kamu hamil anak aku. Tapi di belakang kamu, aku selingkuh. “ Marsel berhenti, mengamati raut Alista yang terlihat ketakutan. Seringaian mulai muncul. “Enggak. Aku gak bisa nerima itu,” “Itu yang Ibu aku alami selama ini. Dia harus menerima perlakuan berengsek dari Ayah.” Marsel memegang kedua pergelangan tangan Alista. “kita gagalkan pernikahan itu bersama-sama. Aku punya rencana,” ___***____ Nandin melenggang pergi usai melihat interaksi Mereka berdua. Jadi selama ini Alista dan Marsel berpacaran? Pantas saja gelang yang dikenakan Keduanya sangat mirip persis. Tangan Nandin terkepal kuat. Kini dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Tubuhnya tiba-tiba terdorong ke belakang. Kepalanya mendongak, mencari tahu siapa yang barusan menabraknya. “Lo di sini?” Arsen menengok ke sekitar. Sepi. Tidak ada orang selain mereka berdua, namun yang aneh ia mendengar samar-samar orang yang mengobrol. “I—iya,” jawab Nandin gugup, kemudian berjalan melewati Arsen. Cekalan di tangannya membuat dia berhenti. “maaf. Aku harus segera pulang,” ia menghempaskan kasar tangan Arsen. Cowok itu tersentak kaget. Perasaan dia tidak berbuat apa-apa. Mengapa Nandin jadi marah begini? Aneh. Arsen memandangi tubuh Nandin yang kian menjauh hingga ditelan kegelapan. Tidak terlihat lagi. Dia memutar badan, berbalik. Saat itulah dirinya kembali terkejut lantaran melihat Alista tiba-tiba ada di depannya. Arsen menengok ke bawah. Seketika dia mendesah lega. “Kenapa liat ke bawah?!” tanya Alista sewot. “Gue Cuma nge-cek, Lo itu manusia atau bukan,” Alista langsung menoyor kepala Arsen. “Masa ada hantu se-cantik gue,” duh, sepertinya tingkat percaya diri tinggi Arsen sudah menular ke Alista. “Ngapain Lo di sini malam-malam? Gue udah cariin Lo ke mana-mana, taunya di tempat ini. Gak takut diganggu orang jahat?” “Lebay. Kalau pun orang jahat ganggu gue, gue bakal bikin remuk tulangnya.” “Tadi Lo ke sini bareng Nandin? Kok kalian gak pulang bareng?” “Nandin? Gak tau. Gue ke sini sendiri.” Alista mengambil alih helm yang dipegang Arsen, lantas memakainya. “lo emang lihat dia di sini? Wah, parah. Berarti dia nguping pembicaraan gue,” “Mungkin aja,” Arsen melangkah, berjalan duluan ke motor yang terparkir di dekat sana. Dia naik, menuntun motor hingga sampai di samping Alista. Cewek itu segera duduk di belakang Arsen, setelahnya ia menengok ke belakang apakah Marsel sudah pergi atau belum. ___***__ Evelyn menatap nanar surat cerai di depannya. Ia terduduk lemas sambil tertunduk, air matanya terus mengalir dan menetes ke daster yang kebesaran itu. Bahkan dari jauh hari, dia sudah mengetahui hari ini akan tiba, namun tetap saja hatinya tidak siap untuk menerima. “Maafin Bunda, ya. Bunda enggak bisa bikin Ayah kamu datang di hari kelahiranmu nanti,” Evelyn mengelus perut yang sudah sangat buncit. Rasa sesak di dadanya membuat Evelyn meringis. Dia mengambil pulpen, bersiap membubuhkan tanda tangannya di kertas itu. Lagipula tidak ada pilihan lain. Suaminya itu dari lama sudah menginginkan untuk berpisah. Tak ada gunanya untuk bertahan lagi. Hal itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Evelyn melipat kertas itu setelah selesai menandatanganinya. Ia dengan susah payah berdiri sambil memegang perut dan terkesiap mendapati seorang Gadis tahu-tahu ada di dekatnya. Tanpa bilang apapun, Alista langsung memeluk tubuh gemuk Ibu dari kekasihnya itu. Dia ikut terisak. Rasa bersalahnya itu kian menjadi. “Aku... minta maaf atas kesalahan Ibu aku,”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD