53

2147 Words
Evelyn masih tidak mengerti. Untuk apa Gadis ini meminta maaf. Sampai saat ini saja dia dan ibu Gadis itu belum bertemu. “Tunggu. Maksud kamu..., apa?” Alista melepas pelukan. Dia mengusap air mata yang terlanjur berderai. Alista lalu menceritakan tentang Ibu Bianca dan Lorenzo. Semuanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi lagi sekarang. “Jadi Bianca itu Ibu kamu?” d**a Evelyn bergemuruh. Emosinya naik, meluap ke ubun-ubun. Bagaimana dia tidak menyadari hal ini dari awal. Dipikir-pikir wajah Alista berbeda dengan Bianca. Tak ada miripnya sama sekali. Kepala Alista mengangguk. “Sekali lagi aku minta maaf,” dia mengeluarkan sesuatu dari tas selempang yang tergantung di pundaknya. “...pernikahan Ibu dan Om Lorenzo dua bulan lagi. Aku—“ “PERGI DARI SINI! PERGI!” gertak Evelyn. Alista terbelalak. Dia menggeleng pelan, “Ibu, tenang dulu. Aku enggak—“ “SAYA BILANG PERGI! Pergi dari sini...” tubuh Evelyn terduduk di bawah. Dia menutupi wajahnya, tangisannya pecah. Suara isakan itu membuat Alista iba. Ia tidak pernah menghadapi rasanya dikhianati. Tidak, dia tak pernah mengharapkan hal itu terjadi padanya. Alista benci dengan orang yang membuat Ibu Evelyn menangis. Dia salah telah memihak pada orang salah. Alista berjongkok, dia menyentuh pundak Evelyn, lantas satu tangannya mengelus punggung Evelyn. “Maaf, Ibu. Sekali lagi maafin aku..., Izinin aku buat menebus kesalahan Ibu Bianca.” Alista menyandarkan kepalanya di pundak Evelyn. Ia ikut menangis pilu. “Ibu harus menghadiri pernikahan itu. Aku yang akan nganterin Ibu.” ___****____ “Mar, udah minum terlalu banyak Lo.” Tegur Brian. Ia berdecak memandangi beberapa botol di hadapannya. “Bodoamat! Hari ini hari terbaik bagi gue!” Marsel mengambil satu gelas lagi, dia menengguk itu hingga habis tidak tersisa. “Terbaik?” Brian jadi tertarik pada obrolan ini. “ada kejadian apa, Bro? Kenapa baru bilang sekarang? Ceritalah ke gue.” Marsel tiba-tiba berdiri. Ia keluarkan uang yang tersimpan di dompet, lantas melemparkannya ke Brian. “Tuh. Bayar minumannya. Gue cabut dulu!” “Lah, gue tanya Lo kok malah pergi.” Brian mengambil uang yang diberikan Marsel. “lumayan sisanya bisa buat jajan nih,” dia menghitung lembar-lembar uang itu. Seketika wajahnya sumringah mengetahui jumlah dari uang tersebut. Sepuluh lembar! Marsel melambaikan tangan, mengabaikan Brian yang tadi protes tidak terima. Kaki jangkungnya melangkah ke tempat parkir. Setelah masuk, Marsel mengendarai mobil itu dengan cepat. Kesadarannya cukup untuk mengendarai. Lagian Marsel tadi hanya meminum lima botol. Cowok itu turun dari mobil di hadapan sebuah rumah besar. Senyum tipis terbit dari wajah tampannya. Selang beberapa detik, seorang wanita tua muncul setelah Marsel mengetuk pintu. “Anda cari—“ Marsel nyelonong masuk begitu saja. Kedua tangannya masuk ke saku. Dia memerhatikan setiap sudut ruangan. “Bianca! Gue dateng! Lo enggak mau nyambut gue gitu?!” Marsel mendarat duduk di sofa. Tidak cukup, dia menyelonjorkan kedua kaki di atas meja. “Gue punya kabar baik nih! Tetap enggak mau keluar Lo!?” Bianca keluar dari kamarnya. Dia terperangah kala melihat Marsel seperti itu. Terlebih lagi kakinya yang menyelonjor tanpa melepas sepatu lebih dulu. Tapi sebisa mungkin dia bersikap normal. “Marsel? Buat apa ke sini? Alista mana?”’ “Enggak usah sok baik! Sekarang enggak ada Arsen ataupun Alista. Lo boleh nunjukkin sifat asli Lo. Tenang kok. Gue gak akan bilang ke siapapun.” “Bilang apa kamu?” Marsel beranjak dari duduk, kemudian berjalan mengelilingi Bianca. “Lo akan ngerasain gimana sakitnya dikhianati orang terdekat. Di hari pernikahan Lo, Alista dan Ibu gue bakal datang bersama buat mempermalukan lo di depan umum. Lo salah karena udah memilih bokap gue sebagai Suami. Karena gue enggak bakal biarin satu tikus kayak Lo hidup dengan tenang.” Ujarnya tajam. Bianca menengok hingga tatapan Mereka bertemu. “Aku menyesal telah membiarkan Alista menjalin hubungan dengan anak tidak baik sepertimu.” Tatapan Marsel semakin berapi-api. Tangan besarnya itu menggenggam dan menarik kuat rambut Bianca. Walaupun wanita itu meringis kesakitan, ia tak merasa iba sama sekali. “Gimana? Sakit? Ini yang Ibu gue rasain setiap Ayah gue pulang!” jambakan Marsel semakin kuat. Bianca menoleh ke samping. Cap tangan tercetak jelas di pipi usai Marsel menamparnya. “Ibu gue ditampar!” lanjut Marsel. Cowok itu lanjut menendang kaki Bianca. “Bahkan waktu Ibu gue ditendang, dia diam aja!” “Apa Lo udah cukup ngerasain apa yang Ibu gue rasain? Apa semua itu belum cukup?” Marsel melangkah maju. Saat itulah Bianca mundur sambil menunduk ketakutan. “lo tau? Gue udah berhasil mengambil hati dan kepercayaan Putri Lo. Kemarin dia bilang, dia benci sama Lo. Dia menyesal karena lo udah angkat dia sebagai anak. Dia juga jijik punya Ibu yang tingkahnya kayak w***********g di luar sana. Sekarang gak ada yang dipihak Lo lagi. Anak-anak Lo akan berubah haluan membenci Lo!” Marsel mengangkat kedua tangannya yang menggenggam foto Bianca dan Ayahnya. Dia merobek foto itu tepat di hadapan Bianca hingga terbelah menjadi dua. Mendadak tangan Bianca terasa tremor. Nyalinya semakin menciut. Ia menatap Marsel dengan sirat ketakutan. Tubuhnya melangkah mundur ketika Marsel melemparkan robekan foto itu di depannya. ___***____ Arsen membuka pintu kamar Alista. Ia ikut merebahkan diri di sebelah Gadis yang sedang tengkurap itu. “Mikirin apa Lo?” “Lo bakal datang ke pernikahan Ibu?” “Kenapa tiba-tiba bahas itu?” tatapan Arsen berubah datar. “Bisa jawab enggak, sih, Kak?” Alista jengah dengan sikap Arsen yang seperti ini. “Gue gak akan datang.” “Kenapa?” Tubuh Arsen menyamping hingga dirinya berhadapan dengan Alista. “Beberapa bulan sebelum Lo diadopsi Ibu, gue lihat sendiri Ibu dan Papa berjanji bakal terus bersama-sama, tapi satu bulan berikutnya Papa meninggal. Ibu juga kelihatan dekat sama Pria lain. Dia diam-diam telefon seseorang saat malam. Mungkin waktu itu Ibu udah ada hubungan sama Pria b******k itu. Kenapa, ya, Al? Orang yang berjanji bakal setia, ujung-ujungnya mengingkari janji itu.” Alista mengedikkan bahu. “Gue berharap tipe orang kayak gitu enggak datang di hidup gue. Orang yang Cuma berjanji, tapi ujung-ujungnya ninggalin.” “Gue juga gak akan biarin adik gue tersakiti.” Arsen mengusak puncak rambut Alista membuat poni Gadis itu berantakan. “Ish.” Alista balas mengacak rambut Arsen. Cowok itu menghindar, namun dengan sigap Alista menimpa badan Kakaknya dan mengacak seluruh rambut Laki-laki tersebut. “Gue Cuma sekali, tapi Lo balasnya berkali-kali!” “Makanya jangan mulai duluan!” “Lis! Berhenti heh! Bisa-bisa dia malu!” Alista terhenti. Senyumnya memudar. “Dia siapa?” “Geb—“ “Gebetan? Lo punya gebetan? Serius?” Tawa Alista pecah saat itu juga, menggema di setiap sudut kamarnya. Arsen menatap tidak mengerti. Matanya itu berubah jadi malas. “Apa yang lucu?” tanya dia serius. Alista semakin tertawa terbahak-bahak. Tangannya menabok keras punggung Arsen. “Mana ada yang mau sama Lo! Gue enggak percaya!” Alista tiba-tiba bergerak mengangkat kolor bermotif hello Kitty pink yang muncul di sela-sela celana Arsen. “pake kolor aja warna pink! Apa kata Cewek Lo nanti?” “Oh, bilang aja Lo gak mau gue punya pacar.” Arsen tersenyum penuh arti. Dia memajukan wajah, memerhatikan pipi Alista yang terlihat memerah. “ternyata Lo kalau cemburu, unik juga.” Alista speechless. Apa tadi kata Arsen? Cemburu? Dalam artian apa? Sungguh, dia merasa asing. Jantungnya berdegup-degup lebih kencang dari sebelumnya. Tidak mungkin. Ia tak mungkin jatuh hati dengan Arsen. Alista memalingkan muka. Ia melemparkan bantal tepat di wajah Arsen. “Udah. Pergi sana. Gue mau tidur!” “Gue mau tidur di sini.” Arsen merebahkan diri, ia menarik selimut hingga sebatas leher. Alista merebut kembali selimut itu. “Enak aja! Ini punya gue. Sana tidur sendiri di kamar!” “Gak.” Arsen berpindah posisi, memunggungi Alista. “Nyebelin banget, sih, Lo. Apa karena ini malam Jum’at makanya Lo takut?” Alista tidak asing lagi dengan fakta itu. Kenyataannya Arsen memang tipe Cowok penakut. Setiap malam Jum’at cowok itu ke kamarnya tanpa alasan jelas. Apalagi kalau bukan karena takut. Mendapati tidak ada jawaban dari Arsen, Alista menilik wajah Cowok itu. Ia menatap sebal. Ternyata Kakaknya itu sudah tidur. Namun Alista terpana dengan bentuk hidung Arsen dan juga bibir Cowok tersebut. Alista mengibaskan tangan di depan wajah Arsen. Setelah memastikan Kakaknya benar-benar tidur, jari Alista bergerak menyentuh kening Arsen, turun ke hidung dan berhenti di bibir. Pikirannya menjadi ke mana-mana. Pipi Alista bersemu merah. Ia membelalakkan mata ketika mata Arsen tiba-tiba terbuka. “Lo—akh!” Alista membekap mulutnya sendiri ketika Arsen mendorong tubuhnya sampai-sampai ia menabrak d**a bidang Kakaknya itu. Lebih terkejutnya lagi Arsen bergerak menghadap Alista. Tangan Arsen melingkar di tubuh Alista, membawa perempuan itu ke dalam dekapannya. Alista tadinya ingin berdiri dan menghindar, tapi rasanya terlalu nyaman untuk lepas. Alhasil Alista tersenyum dan tidak berusaha melepas. Ia menempelkan telinga di d**a bidang Arsen, menikmati suara detak jantung Arsen yang bertempo cepat. ___***___ Tidak ada yang bisa menyalahkan siapapun tentang hal ini. Semua sudah terjadi. Alista harus menerima dan membela Wanita yang sedang ia gandeng untuk membantunya berjalan. Sekarang dia dan Evelyn tengah berada di pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi orang-orang. Alista yang mengajak Ibu Marsel ke sini untuk membeli perlengkapan bayi. “Topi ini cantik. Warnanya cerah juga. Gimana, Bu?” Alista memperlihatkan benda yang dia genggam. “Kenapa tanya Ibu? Kamu yang beliin, kamu juga berhak pilih,” “Tapi, Ibu juga harus memilih. Kalau Cuma aku doang, gak adil.” Senyum Evelyn terbit. Ia mengusap rambut Alista. “Baiklah. Ibu akan memilih. Daripada putri Ibu yang satu ini marah-marah nanti cepat tua lagi,” Evelyn melihat-lihat deretan pakaian yang ada di sana. Perlahan sudut bibir Alista tertarik melihat Ibu Marsel tersenyum. Beberapa hari lalu memang dirinya sempat membuat Evelyn sedih dan kecewa, tapi sekarang dia berhasil membuat Ibu Marsel tersenyum kembali. Ya, rasa bersalahnya menjadi berkurang. Alista dan Evelyn berjalan menelurusi isi mall itu untuk mencari tempat makan karena hari sudah siang dan juga perut Mereka mulai bergemuruh. Evelyn menghembuskan nafas kasar sesekali. Kehamilannya yang sudah menginjak bulan terakhir ini membuatnya mudah lelah. “Ini lebih bagus untukmu.” “Tidak. Itu terlalu terbuka. Aku mau yang tertutup,” “Tapi kamu harus tetap membelinya untuk dinas malam nanti.” “Hey!” Keduanya kompak menengok ke sumber suara. Tangan Alista mengepal kuat mendapati ternyata Ibu dan Ayah Marsel lah yang berbicara tadi. “Aku akan—“ perkataan Bianca terhenti bersamaan dengan dia berbalik dan melihat wajah Alista di hadapannya. Yang lebih mengejutkan lagi, putrinya bersama Evelyn, istri sah—ralat, mantan istri Lorenzo. Ia terheran-heran bagaimana Mereka bisa sampai bersama. “Nak—“ “Ayo, Bu. Kita pergi saja,” potong Alista cepat. Dia menangkup lengan Evelyn yang berisi. “Tunggu sebentar.” Evelyn melepaskan rangkulan tangan Alista. Dia berjalan perlahan, mendekati Bianca. Evelyn melayangkan tamparan tepat di pipi Bianca. Orang-orang yang ada di sekitar Mereka berhenti dan tertarik menyaksikan. “Dulu masa SMA kita berteman dan berjanji akan selalu menjaga. Kau juga pernah berjanji akan menyingkirkan siapapun yang membuatku menangis. Sekarang malah kau sendiri yang membuatku menangis! Aku merelakan kalian bersama. Aku rela itu. Tapi ingat baik-baik. Lelaki sekalinya selingkuh, dia akan mengulangi perbuatan yang sama. Entah sekarang, besok, atau di masa depan nanti. Aku hanya memperingatkanmu sebelum kamu bernasib sama sepertiku.” Kata Evelyn. Ia berusaha tegar dan tidak menangis di depan Bianca. Sementara Bianca menengok ke arah Alista. Putrinya itu diam dan malah membuang muka. Ini salah, namun di sisi lain pernikahan akan dilangsungkan lusa. Tidak ada yang bisa dicegah. Dan juga undangan sudah tersebar. “EVE! BICARA APA KAMU?!” Lorenzo baru datang usai melihat gaun yang terletak di bagian belakang. Tadi ia memang samar-samar mendengar perkataan Mereka. “Aku hanya memperingatkan calon istrimu.” Evelyn berbalik badan setelah mengatakan itu. Ia memegang erat perutnya. Entah beberapa jam belakangan ini perutnya terasa mulas padahal perkiraan bersalin satu Minggu lagi. Alista memegang kedua pundak Evelyn, menuntun Wanita itu berjalan dan berusaha menguatkan. Tapi Perempuan di sampingnya ini malah meringis. “Kenapa, Bu? Ada yang sakit?” “Perut Ibu mulas,” “Jangan-jangan Ibu mau...” kedua mata Alista terbelalak. “ya ampun gimana ini. Bentar, Bu. Aku telepon Marsel. Biar dia yang nganterin kita ke RS.” Alista hendak meraih ponsel, namun kedua matanya tidak sengaja menangkap cairan bening mengalir di paha Evelyn. “Cepat, Nak! Ibu sudah tidak tahan lagi!” Sementara Lorenzo acuh dengan hal yang barusan ia lihat. Dia menggandeng tangan Bianca, menggiring calon istrinya agar pergi. “Kamu gila, Mas?! Dia akan melahirkan.” Lirih Bianca penuh penekanan. Ia melepaskan genggaman itu, tetapi Lorenzo malah meraih dan menggenggam erat kembali pergelangan tangannya. “Itu bukan urusan kita.” Lorenzo menyeret Bianca pergi dari sana. Alista memandangi kepergian Mereka. Dia tidak menyangka Ibu—ah, tidak. Alista enggan memanggil sebutan itu lagi. Ia tak menduga wanita itu begitu egois. Dengan tangan gemetar, Alista menempelkan ponsel ke telinga setelah panggilan sudah tersambung dengan Marsel. “Ibu kamu udah pecah air ketuban! Kamu cepat ke sini! Cepet, Mar!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD