36.

1312 Words
"Kamu keliatan bahagia banget. Kenapa senyum-senyum brgitu? Ada kabar baik, ya?" Bianca mengoleskan selai ke roti, kemudian meletakkannya di piring milik Alista. "Ada deh," "Ada deh? Kasih tau Ibu," "Enggak mau. Malu," "Dia gila, Bu. Dari tadi senyum-senyum gak jelas." Alista meletakkan kembali rotinya, tidak jadi memakan. Matanya memicing sinis pada Arsen, "Lo kali yang gila!" "Ya terus kenapa senyum-senyum?" tidak munafik. Arsen juga penasaran. "Lo enggak senang, ya, liat gue bahagia?" todong Alista. "Senang, lah, Ta. Kalau Lo senyum tanpa alasan yang jelas, gue enggak senang. Bisa aja, kan, Lo kena gangguan jiwa." Arsen mengambil sandwich, lalu memakannya dengan lahap tanpa rasa bersalah. "Kakak!" Alista menampik tangan Arsen hingga Cowok itu tidak jadi untuk memakan. "Buset. Apa lagi?" "Lo kalau ngomong dijaga dong!" tegur Alista penuh emosi. "gue enggak terima, ya, dibilang gangguan jiwa! Awas Lo." "Omongan bukan orang. Jadi enggak bisa dijaga," cetus Arsen membuat emosi Alista semakin naik. "Ibu! Liat dia nyebelin!"adu Alista. Bibirnya merengek. Kakinya itu tidak berhenti bergerak. "Dasar tukang ngadu," "Enggak apa-apa. Ayo teruskan ributnya sampai baku hantam." kata Bianca. Alista melongo. Dia tidak salah dengar, kan? "Kok Ibu gitu?!" "Tuh, kan, Ibu lebih bela gue," Arsen menatap penuh kemenangan. "Habisnya kalian tidak mau berhenti bertengkar. Sudah. Siap-siap berangkat sana." Deru motor berhenti terdengar di luar sana. Alista langsung berjalan ke arah pintu untuk membukakan. Sementara Arsen dan Bianca setia memerhatikan siapa yang datang. "Marsel? Aku kira sepuluh menit lagi kamu datang," senyum Alista mengembang. Aroma parfum khas laki-laki semakin pekat kala Marsel mendekati dirinya. "Gimana? Udah siap?" "Eum, sebentar. Aku pakai sepatu sama ambil tas dulu. Kamu masuk aja ayo," ajak Alista, menggandeng lengan Marsel. "Ada Ibu kamu, kan?" tanya Marsel ragu. "Emang kenapa? Gue yakin Ibu udah maafin kesalahan kamu. Ayo, masuk." Alista terus menarik Marsel masuk ke dalam rumahnya. Marsel akhirnya hanya bisa pasrah. Permintaan Pacarnya itu memang tidak bisa ditolak lagi. Lambat laun dirinya memang harus bertemu Bianca untuk pendekatan. "Siapa yang masuk--Marsel?" "Mau apa Lo ke sini?! Ngajak ribut lagi?!" Arsen mulai berdiri dari kursinya. Alista justru semakin kuat menggenggam lengan Marsel supaya kekasihnya itu tidak gugup menghadapi Mereka berdua. "Kamu pasti bisa minta maaf sama Mereka. Aku pamit buat ambil tas dulu di kamar," bisik Alista sebelum melenggang pergi. Kini Marsel berdiri di tengah-tengah ruang tamu. Dia dengan ramah mendekati Bianca. Sedangkan Arsen siaga empat, takut Sang Ibu diapa-apakan. "Tante apa kabar?" Marsel menyalimi tangan Bianca. "Saya baik-baik saja," "Makin hari Tante makin cantik, ya." entah memuji atau menggoda, Bianca tetap senang mendengar perkataan Marsel. Anak itu berubah tiga ratus enam puluh derajat. Sebenarnya apa yang terjadi. "Enggak usah bilang pujian basi kayak gitu. Bilang tujuan Lo apa?" tanya Arsen. "Gue cuma mau ngantar Alis ke sekolah." "Enggak. Dia berangkat sama gue." tegas Arsen. "Tidak. Jangan begitu."ujar Bianca. "dia sudah jauh-jauh ke sini. Hargai dia, Ar." "Bener kata Ibu. Hari ini aku berangkat sama Marsel aja. Lagian setiap aku diantar Kakak, teman-teman aku curiga. Aku enggak mau hal itu terbongkar." timpal Alista yang kini sudah siap untuk berangkat. Wangi parfum yang nyaris seperti permen karet itu menyeruak masuk ke Indra penciuman Mereka. "Oke, kalau Lo tetap kekeh. Tapi ada syaratnya. Gue akan ngikutin kalian berdua dari belakang." "Enggak bisa gitu dong, Kak." "Iya atau Lo gak jadi berangkat sama dia." Alista dibuat skakmat oleh perkataan Arsen. Remaja itu hanya berdeham sebagai balasan. ___***___ Marsel membantu melepaskan helm milik Alista. Sudut bibir Alista tidak berhentinya terangkat. Tangan Marsel beralih menggandeng telapak tangan Alista. "Nanti kalau ada yang liat gimana?" "Biarin. Aku mau semuanya tau kalau kamu itu udah sold out." kata Marsel. Alista hanya diam, pertanda mengizinkan. Mereka berdua menelusuri sepanjang koridor di sekolah. Tatapan dari semua Murid di sana tak jeda memerhatikan Keduanya. Sebagian justru berbisik-bisik. Brak! Seseorang menabrak Marsel dan Alista hingga genggaman tangan Keduanya terlepas. Alista melirik tajam ke belakang, mencari tahu siapa yang menabrak. "Aduh, maaf. Aku enggak sengaja," Dinda menunduk ketakutan. Tanpa berani menatap Mereka, Cewek berkacamata itu melangkah cepat untuk menghindari kemarahan Mereka. "Woy! Mau ke mana Lo?!" teriak Rachel dari belakang sana. Niatnya untuk mengejar Dinda, manik cokelatnya itu malah terpusat pada Alista dan Marsel yang sedang berbicara. entah tentang hal apa. "Kamu enggak pa-pa?" Marsel menatap khawatir Alista. "Cuma sakit sedikit aja. Udah, ayo lanjut ke kelas." "Ekhem! Marsel, tumben Lo dekat sama dia. Kesurupan apa? Bukannya Lo sendiri yang bilang waktu itu kalau selera cewek idaman Lo itu tinggi, ya? Dan enggak murahan kayak dia tuh," ekor mata Rachel melirik Alista. Alista balas memicing tajam. "Enggak usah ikut campur urusan orang lain, bisa?!" "Aduh, aduh! Siapa yang ikut campur urusan orang lain? Marsel itu sepupu jauh gue! Otomatis dia masih saudara gue dong. Gue enggak mau lah biarin dia dekat sama Cewek kayak Lo." Alista menatap Marsel, meminta penjelasan. Mengapa sebelumnya Marsel tidak memberitahu. "Maafin aku. Aku belum bisa kasih tau kamu," kata Marsel terlihat tulus. "Marsel! Jauh-jauh dari dia. Gue enggak rela lahir batin Lo berhubungan sama dia." Rachel mendorong Alista agar menjauh dari Marsel. "Jangan kasar sama dia!" sentak Marsel. Rachel terkesiap. Sungguh, Marsel mewarisi wajah menyeramkan Lorenzo ketika marah. Murid-murid yang tadi spontan berhenti, tertarik untuk menyaksikan pertengkaran Mereka. Marsel meraih tangan Alista. Dia mengangkatnya, menunjukkan ke semua orang tangan mereka yang saling menggenggam. "MULAI HARI INI GUE UMUMKAN. ALISTA ADRIANA SEKARANG JADI PACAR GUE. SIAPAPUN YANG MENGGANGGU DIA, JANGAN HARAP HIDUPNYA TENANG! karena gue enggak segan buat orang yang mengganggu dia, babak belur atau patah tulang." Semua murid bergidik ngeri mendengarnya. Rachel ternganga tidak percaya. "Marsel! Kok Lo menjilat ludah Lo sendiri?! Lo bilang waktu itu kalau Alista Cewek--" "Itu dulu, Hel! Bukan sekarang!" bentak Marsel. Rachel dibuat tersentak. Perempuan itu mengepalkan tangan, kemudian pergi dengan emosi terpendam. "Waaaahh! Serius kalian pacaran?! Cocok ih! Ayo sini foto!" Rifka datang dan sudah ada di sana tidak tahu sejak kapan. Dia mendorong Alista hingga bahu Alista itu menyentuh pundak Marsel. Rifka mengarahkan kamera ke arah Mereka berdua. Dalam satu pencet, dia berhasil memotret Mereka. Namun ekspresi Rifka kecewa melihat hasilnya. "Kok kalian enggak senyum, sih?" "Enggak perlu foto juga kali! Marsel, aku pamit ke kelas, ya. Nanti istirahat kita ketemu lagi." "Kalau Rachel gangguin kamu, bilang ke aku." Marsel mengedipkan mata. Justru Rifka lah yang berteriak histeris. "AAAAAAA! Mleyot gue!" "Idih. Jangan lebay ih," Alista menuntun Rifka bersamanya. ___***___ "Al! Gue kan udah bilang sebelumnya. Jangan dekat-dekat dan terima perasaan dia. Kenapa Lo melanggar larangan itu?" "Semua orang punya kesalahan, Ri. Gue udah maafin kesalahan dia," jawab Alista, kemudian menyedot es teh manis di gelas. Mereka sudah memasuki jam istirahat. Mendengar berita tentang Alista dan Marsel, Karisa terkejut. Menurut dia, Alista terlalu cepat membuka hati untuk Marsel. Jelaslah dia tidak terima. Kalista takut Sahabatnya itu tersakiti nanti. "Orang enggak mungkin sadar secepat itu," Karisa berdecak. "putusin dia sekarang. Mumpung masih awal, Al. Kalau udah lama dan perasaan Lo udah semakin besar, Lo akan makin kecewa dan sakit hati. Mending akhiri semuanya di awal." titah Karisa. Mulai berdiri dan memegang lengan Alista. "Jangan berburuk sangka gitu, Ri. Permintaan maaf Marsel itu tulus. Gue bisa lihat dari matanya. Dan juga jangan terlalu ikut campur di dalam hubungan gue sama Marsel. Lo enggak ada hak, Ri." raut Alista mulai menunjukka rasa tidak suka. Karisa terduduk kembali. "Gue cuma enggak mau lo--" "Lo apa? Sakit hati? Lo bukan Tuhan yang bisa mengetahui masa depan gue. Please, Ri. Berhenti. Gue enggak suka Lo terlalu menguasai atas hidup gue." potong Alista dengan cepat. "Kalian jangan bertengkar dong. Malu diliatin yang lain," ujar Rifka. Tumben sekali Gadis itu lurus. Biasanya setiap ada pertengkaran, Rifka selalu memanas-manasi. "Ri, udah deh. Biarin. Kalau iya Marsel berniat buruk sama Alista, buat apa Marsel jadiin Alista pacarnya coba? Pikir pakai logika, Ri." "Nah. Gue harap pola pikir Lo sama kayak Rifka." kata Alista. Karisa menusuk kasar bakso yang terpampang di hadapannya. Rifka yang melihatnya pun langsung bergeser ke samping. "Kenapa Lo seolah enggak suka gitu, sih, RI? Lo suka sama Marsel?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD