35.

1212 Words
“Kak! Lepasin! Sakit!" Arsen tidak menghiraukan perkataan Alista. Cowok itu menghempaskan Adiknya begitu saja ke sofa. “Kenapa Lo sampai menginap di rumah dia?! Lo enggak tau betapa bahayanya Cowok?” “Emang kenapa, sih, Kak!? Semalam kamar gue sama Marsel dipisah kok!” Alista terduduk. Ia mengusap pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman kuat dari Arsen. “dengerin perkataan--” “Jadi Lo mau membela dia? Begitu? Lo yakin dia udah berubah?” “Marsel udah berubah, Kak! Gue bisa lihat itu dari matanya,” “Apa identitas selingkuhan bokap dia udah ketemu? Belum, kan? Kenapa Lo main ambil kesimpulan secepat ini? Kita gak akan pernah tau isi hati dia sebenarnya kayak gimana! Dia bisa aja mendekati Lo cuma buat ajang balas dendam.” “Marsel bukan Cowok selicik itu! Gue bisa buktiin kalau Ibu bukan selingkuhannya Ayah Marsel. Kemarin malam gue liat Tante Evelyn ditampar sama Ayah Marsel. Mereka berantem tepat di depan mata gue, Kak. Dari kejadian itu, gue bisa menyimpulkan kalau Marsel enggak pernah dapat kasih sayang dari ayahnya. Sama seperti gue.” suara Alista melirih di akhir kalimat. “Dan Lo dekat-dekat dia buat saling mengisi kekosongan gitu?” Arsen geleng-geleng. “gue tetap nggak bakal biarin kalian dekat! Sebagai seorang Kakak, gue bertanggung jawab atas keselamatan Lo nanti.” “Kakak masih belum bisa percaya sama kesungguhan permintaan maaf dia? Kakak enggak kasihan? Setiap orang punya kesalahan dan nanti akan berubah jadi lebih baik. Tugas kita cuma memaafkan kesalahan dia dan menerimanya kembali, Kak. Apa sulit buat ngelakuin itu?” geram Alista. Ia membuang muka ke arah lain, enggan mendengar laki perkataan Arsen. “gue mau mandi. Permisi.” Arsen terdiam sejenak. Atmosfer seakan berhenti saat itu juga. Memaafkan memang mudah. Siapapun bisa melakukannya, tetapi soal menaruh kepercayaan pada seseorang, termasuk hal yang sulit apalagi kepada seorang yang pernah berbuat kesalahan pada kita. Arsen hanya tidak ingin adiknya disakiti oleh makhluk macam Marsel. Namun reaksi yang ditunjukkan Alista membuat hatinya bergejolak tidak terima. Sementara di tempat lain, Alista tengah berendam di bathtub sambil melamunkan perilaku Marsel yang begitu manis. Ia sampai senyum-senyum sendiri. “Bunga-bunga yang ada di sini bagus! Gue boleh bawa pulang enggak, ya?” “Menurut aku bunga ini enggak bagus. Biasa aja,” “Kok biasa?” Marsel berpaling muka, menatap setiap lekukan wajah Alista. “Karena yang luar biasa cuma kecantikan kamu,” Alista terkikik geli saat kenangan itu melintas di benaknya. Ia yakin semburat merah mulai muncul di pipi. Biasanya dia melihat laki-laki menggombal hanya di televisi saja atau novel yang ia baca. Sekarang justru dia yang mengalaminya sendiri. Merasa semuanya sudah bersih, Alista berdiri. Meraih handuk, lalu membalutnya di tubuh. Kenop pintu ditarik. Alista mengerjap ketika seorang laki-laki muncul begitu saja. Siapa lagi kalau bukan... Arsen. “Tadaaaaa!” Arsen menampakkan dua cup besar berisi Boba, minuman favorit Alista. Arsen tersenyum lebar-lebar, berharap Alista juga ikut mengangkat sudut bibir. Alista berlagak tidak lihat. Ia mengambil pakaian yang terletak di ranjang, kemudian berjalan masuk kembali ke kamar mandi. Mengganggap Arsen hantu yang tak terlihat. “Maaf, gue udah nyakitin lo. Tangan tadi masih sakit? Sini gue obati,” Alista bersenandung, berusaha meredam suara Arsen dari telinganya. Alista memakai kaus berwarna dusty pink tanpa motif alias polos dan celana hitam panjang itu dengan secepat kilat. Ia menguap. Rasa kantuknya datang. Semalam dirinya memang kurang tidur dan bangun beberapa kali lantaran pikirannya tak bisa tenang. Alista beranjak keluar kamar mandi. Arsen masih ada di sana. Alista yang tetap pada pendiriannya, langsung mendaratkan dirinya di ranjang dengan posisi menyamping menghadap jendela yang sudah terhubung dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Kedua mata Alista samar-samar terpejam, tetapi... dia merasa ada yang memperhatikannya di belakang. Alista perlahan berbalik badan. Ia membelalakkan mata mendapati Arsen di dekatnya. Hidung mancung Mereka nyaris bersentuhan. “Ish!” Alista melempar bantalnya tepat di wajah Arsen. Arsen buru-buru menyingkirkan bantal itu. “Bau jigong!” makinya berlawanan dengan kenyataan. Nyatanya bantal Alista beraroma harum nyaris seperti parfum. “Pergi!” “Ampun, Al. Lo enggak ada niatan buat maafin gue gitu?” Alista mengerucutkan bibir. Arsen yang gemas langsung mencubit bibir itu. Bibir! Bukan pipi. Alista spontan mengaduh kesakitan. “Aduh, apaan, sih!” “Lo lagi PMS? Dari tadi kalau marah teriak mulu. jadi Cewek itu kalem biar Cowok naksir sama Lo. Eh, enggak-enggak. Sebelum Lo umur delapan belas tahun, gue enggak akan mengizinkan Lo buat pacaran.” Arsen menarik hidung bangir Alista. “Aduh! Sakit.” “Eh, sorry.” “Gue masih belum bisa maafin Lo, loh, Kak.” Arsen justru menyentil jidat Alista. "Ey! Sadar. Harusnya gue yang marah ke Lo. Cuma hari ini gue lagi baik. Mungkin lain kali gue gak bisa membuka pintu maaf dengan mudah.” “Kakak! Sakit ih.” Alista mengusap-usap dahinya yang memerah. “Lama-lama gue laporin juga Lo ke polisi atas kasus KDKA!” “KDKA?” Arsen heran. Istilah baru apa lagi yang disebutkan Adiknya. “Iya! Kekerasan dalam Kakak Adik!” “Sejak kapan Lo jadi Adik gue?” “Oh, gitu. Jadi Lo enggak mengakui, nih? Oke-oke. Gue akan terus ngambek!” Alista akan berbalik. Arsen buru-buru mencekal bahu Adiknya tersebut. “Eh, sebagai cewek yang baik, Lo harus pemaaf.” “Pemaaf gimana? Orang Kakaknya aja nggak mau maafin kesalahan seseorang,” “Gue udah maafin dia. Sekarang Lo maafin gue atas kesalahan tadi, kan? Tangan lo masih sakit?” “Dikit,” “Sini coba gue liat,” Arsen meraih pergelangan tangan Alista. Masih dengan posisi menyamping dan saling berhadap-hadapan, Arsen mengusap lengan Alista dengan rasa bersalah. Alista menatap lama Arsen. Ia perhatikan mata, hidung, dan bibir Kakaknya. Semua terpahat indah seolah tidak kekurangan apapun. Dan entah kenapa, wajah Arsen membuatnya teduh. Untuk saat ini, Alista melupakan semua masalah yang pernah terjadi di hidupnya. Ia merasa tenang berada di dekat Arsen. Alista tidak tahu apa penyebabnya. Ralat, belum tahu. Melihat Adiknya sudah memejamkan mata, Arsen berhenti mengusap. Ia perlahan menjauhkan tangannya. Namun seketika tubuh Alista mengerjap. Arsen mengurungkan niatnya. Ia kembali merebahkan diri, mengamati setiap lekuk paras Alista. Satu kata yang tepat; cantik. ____***____ “Wah, serius Lo pacaran sama si Alista itu? Kesurupan apa Lo, bro?” “Dia ternyata Cewek murahan, Bri. Baru gue deketin dikit , dia langsung menerima perasaan gue.” “Kok Lo mau-maunya, sih, pacaran sama Cewek savage itu? Gue jamin beberapa hari ke depan, hidup Lo gak akan tenang, Bro. Hahaha!” “Lihat aja nanti. Siapa yang akan mengendalikan siapa. Gue atau dia,” Marsel menengguk alkohol langsung dari botolnya. Iris hitam legam itu penuh tekad dan rencana. “Lo beneran suka sama si Alista?” hal itu yang membuat Brian penasaran. “Cih, mana ada. Selera gue tinggi kali,” “Maksud Lo?” “Sayang...” seorang wanita berpakaian minim dan serba pendek itu naik ke pangkuan Marsel. Marsel meletakkan botol yang dari tadi ia genggam. Tangannya beralih melingkar di pinggang ramping wanita tersebut dan menariknya hingga jarak mereka benar-benar tidak ada. Marsel mulai menciumi leher Perempuan penghibur itu, meninggalkan bekas di sana. Brian yang melihatnya membuang muka sekaligus berdesis jijik. “Gue cabut duluan.” cowok itu keluar dari tempat tersebut. Dia masih bingung dengan tingkah Marsel. Katanya sudah mempunyai pacar, tetapi masih saja ‘menyewa’ perempuan yang ada di tempat kotor itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD