34.

1342 Words
Mereka telah sampai di tempat itu. Pohon-pohon yang begitu rindang sekaligus semilir angin yang sejuk menambah suasana menenangkan pada tempat itu. Alista naik ke rumah pohon. Ia merentangkan tangan, menghirup udara yang belum tercemar polusi. "Suka?" Marsel berdiri di samping Alista dengan tangan masuk ke dua saku. "Bangettt!" seru Alista. Ia menengok ke bawah. Tubuhnya langsung begidik ngeri menyadari setinggi ini dia berada. "Tempat ini sering dipakai para pasangan buat malam mingguan," "Pantes sekarang enggak ramai," jawab Alista, rambutnya melambai-lambai indah. Perempuan itu menengok ke Marsel, "Gue belajar dari Lo. Ternyata orang jahat punya sisi kesedihan yang mereka gak tunjukkan di depan orang. Maafin gue yang udah menilai tentang sikap Lo begitu aja," "Semalam terjadi sesuatu?" itulah yang membuat Marsel penasaran. Sedari tadi sikap Alista begitu aneh. "Enggak ada, Mar." Alista tidak sengaja melihat sebuah pohon di samping Marsel. Sebuah ide melintas di benaknya. Alista berlari ke arah pohon itu. Marsel yang melihat, hanya mengikuti saja. "Wah, kok banyak inisial huruf berpasangan yang tertulis di sini?" mata Alista berbinar-binar seakan melihat sesuatu yang langka. "Ada mitos. Katanya kalau ada seseorang menulis inisial nama dia bersama pacarnya di pohon itu, hubungan Mereka akan langgeng." "Woah, serius?" pandangan Alista mengedar, mencari sesuatu. Hingga penglihatannya terhenti pada sebuah serpihan kayu. Alista menggoreskan serpihan kayu ke pohon itu. Hingga membentuk huruf 'A'. Setelahnya dia menuliskan satu huruf juga di sampingnya. Marsel semakin serius memperhatikan. Ia penasaran dengan inisial yang akan ditulis Alista. "Itu huruf 'M'?" Marsel tidak percaya dengan yang tertulis di sana. "Lo sama Martin ada hubungan?" Dahi Alista mengernyit. "Martin?" "Iya, Kakak kelas kita." Alista menghela nafas. Ia perlahan berdiri. "Gue aja belum ketemu Kak Martin sampai sekarang." "Terus inisial nama siapa yang Lo tulis?" "Cowok yang berdiri tepat di depan gue," "Huh?" Marsel mengerjap tidak percaya. Ia menunjuk dirinya sendiri, "gue?" "Iya!" suara Alista meninggi. Ia geram dengan sikap Marsel yang lemot. "pertanyaan yang kamu bilang di kamar mandi, aku belum jawab, lho. Kamu masih ingat, kan? Atau jangan-jangan lupa?" "Gue nggak bakal lupa dan akan selalu ingat itu. Apa ini saatnya Lo kasih jawaban ke gue?" Alista mengangguk samar. "Aku udah menentukan kalau aku setuju kita bersama dan jalanin semuanya bareng-bareng mulai detik ini." Mata Marsel terbelalak tidak percaya. "A--apa lo bilang? Lo menerima perasaan gue?" Alista kini mendongak, "Kita sama-sama orang yang terluka karena keadaan orang tua kita, Mar. Aku mau kita bersama dan saling mengobati luka itu." Marsel menganggukkan kepala dengan cepat. Dia terharu, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. "Lebay. Baru segitu aja udah mau nangis," Alista terkekeh geli. Marsel tidak menjawab. Ia justru memeluk tubuh Alista dengan erat. "Terimakasih Lo mau bersama gue tanpa memandang sikap gue di masa lalu." "Lo enggak perlu terimakasih," ____***____ "Ta! Lista!" panggil Arsen menggema. Semua ruangan sudah ia cek, tetapi sehelai rambut Adiknya itu bahkan tidak kelihatan. Dari semalam ia tidak ingat apa-apa. Altair sialan. Kalau saja temannya itu tidak membujuknya untuk minum, dia pasti bisa mengingat segalanya semalam. "Ada apa, Den?" Bi Hanifah datang membawa keranjang berisi pakaian kotor. "Bibi lihat Alista?" "Tidak. Dari semalam Non Alista belum pulang. Tadi pagi sebelum Nyonya Bianca berangkat kerja, Nyonya sudah menelepon teman-teman Non Alista. Rata-rata jawaban Mereka tidak tahu," tutur Bi Hanifah panjang lebar. Tanpa menjawab, Arsen pergi keluar rumah dan bergegas menaiki motor miliknya untuk mencari. Kenapa dari sekian banyaknya teman Alista, tidak ada yang tahu di mana keberadaan Adiknya. Belasan menit perjalanan, Arsen berhenti di sebuah komplek perumahan. Dia melepas helm. Melangkah lebar ke depan salah satu rumah. Pintu dibuka oleh sang pemilik rumah ketika Arsen mengetuknya beberapa kali. "Arsen?" Karisa menengok ke belakang Cowok itu. Tidak ada siapapun. "lo ke sini sendiri? Alista mana?" "Justru gue yang tanya. Alista mana. Dia menginap di rumah Lo?" "Hah? Enggak. Sejak sore kemarin, gue gak ketemu dia." "Please, ini bukan waktunya untuk bercanda." kata Arsen terdengar permohonan yang dalam. Karisa tergegau, "Sumpah, Ar. Gue gak lihat dia dan belum ketemu dia." Arsen mengacak rambutnya. "Argh! Gue harus cari dia ke mana lagi," "Alista hilang?! Ya Tuhan, gue bakal bantu cari. Ayo kita ke rumah Kak Aileen. Pasti dia tau di mana Alista. Atau enggak, kita ke rumah Kiara. Kan, dia satu-satunya yang juga menghadiri acara itu." "Kiara enggak bakal buka suara," "Kok gitu?" "Dia udah membenci Alista. Kemarin malam, adik gue gak terima disindir Rion dari belakang. Jadi Rion dilabrak dan ditampar. Ternyata selama ini Kiara suka sama si Rion. Dia marah ke adik gue. Kayaknya nanya ke dia bukan ide yang bagus." kata Arsen dengan kepala tertunduk. Di posisi sekarang, Adiknya tidak sepenuh salah. Lagian perempuan mana yang tidak marah ketika digosipkan tak enak tentang dirinya sendiri. Hanya berani membicarakan di belakang lagi. "Biar gue yang nanya ke dia." putus Karisa. "Lo tunggu di sini. Gue bakal siap-siap." Arsen duduk di bangku teras rumah. Dia membungkuk. Kedua jarinya memijit kening. Mulutnya menggerutu, memaki dirinya sendiri karena telah lalai menjaga Alista. "Ayo," ajak Karisa. Mereka berdua pergi bersama. Karisa sesekali mengecek ke ponselnya untuk mengingat alamat rumah Kiara. Petunjuk yang diberikan Karisa mengarahkan pada sebuah apartemen mewah. "Stop." "Ini rumah Karisa?" "Iya. Lo di sini aja. Jangan ikut. Biar gue yang bertindak," Karisa menyerahkan helm yang telah dia lepas ke Arsen. Kaki jenjangnya mengegah ke dalam apartemen. "Kiara, apa kabar? Semuanya baik-baik aja, kan?" Karisa memeluk singkat teman barunya itu. Kiara terus bungkam. Ia tak membalas pelukan Karisa. Masih bingung dengan tujuan Wanita itu ke sini untuk apa. "Baik-baik aja. Ada apa, ya?" "Jangan kaku gitu kali. Gue teman Lo," "Tapi masih jadi teman Alista, kan? Selama Lo masih temenan sama dia, Lo bukan teman gue lagi, Kar." tegas Kiara. Karisa tak percaya Kiara akan mengatakan hal seperti itu. "Ra, jangan gitu dong. Gue juga teman Lo. Apapun kesalahan Alista, gue harap Lo maafin dia. Coba, deh, Lo koreksi dari sudut pandang Alista sendiri. Lo marah, kan, setiap dibicarain yang enggak-enggak oleh orang lain? Gue yakin semua orang pasti marah. Gue udah kenal Alista sejak zaman SD. Gue tau sebesar apa penderitaan yang Alista alami selama ini. Tolong maklumi dia. Setidaknya, Lo beritahu gue di mana dia biar nanti Alista bisa meminta maaf atas kesalahannya ke Lo sama Rion," Kiara diam. Perkataan Karisa ada benarnya juga. "Gue lihat dia pulang sama Marsel," "Apa?!" "Gue enggak tau kenapa Mereka bisa pulang bareng. Kemarin gue lihat Marsel kayak mabuk gitu," "Hah? Kok Lo bisa biarin dia pulang sama Marsel?" Karisa menabok pelan mulutnya. Ia telah salah berbicara. Kalau dirinya begini, bisa-bisa Kiara kesal lagi. "em, iya udah. Thanks infonya, Ra. Gue permisi dulu, ya," Karisa berlari ke Arsen dari tadi menunggu. Dia sesekali menilik ke belakang untuk memastikan Kiara telah masuk. "Di mana?" "Kita ke rumah Marsel sekarang!" "Marsel?" Arsen terheran-heran. "Adik Lo ada di sana!" Arsen naik kembali ke motornya. Disusul oleh Karisa yang telah memakai helm. Arsen menjalankan motor dengan kecepatan tinggi. Karisa memejamkan mata sambil memegang erat pinggang Arsen. "Ar! Jangan buat gue beda alam!" sentak Karisa. Arsen tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Alista. Dia tahu Marsel itu laki-laki seperti apa. Meski perlu waktu tiga jam untuk menuju ke rumah Marsel, Arsen tetap tak mau berhenti hanya untuk istirahat. "Ar, tunggu!" Karisa menepuk-nepuk pundak Arsen. Laki-laki tersebut spontan mengaduh. "Apaan?!" "Itu Alista! Perhatiin di seberang jalan sana deh!" sahut Karisa sembari menunjuk-nunjuk ke arah yang ia maksud. Arsen mengikuti arah tunjuk Karisa. Kelopak matanya membesar mendapati Alista memang ada di sana bersama Marsel. Arsen menepi dan menghentikan motornya. Karisa bergegas melepaskan helm dan turun. Arsen berdiri dengan tangan mengepal di balik sakunya. Tatapan mata tajam itu membuat siapapun yang melihatnya ketakutan. Lampu merah menyala. Alista dan Marsel mulai menyebrang bersama. Tangan Mereka bahkan sudah berani saling menggandeng. Semakin mendekat di tepi jalan, pandangan Alista melurus. Senyum di bibirnya perlahan menghilang. Bagaimana bisa Kakaknya ada di sini. "Pulang sekarang!" bentak Arsen. Karisa tersentak. Ia refleks menutup telinga kirinya, pengang dengan suara Arsen barusan. "Kakak? Kok bisa--" "Pulang!" Arsen maju. Dia menatap Marsel sejenak, lalu tangannya melepas paksa genggaman Adiknya dan Marsel. "Adik gue enggak akan masuk ke perangkap Lo. Inget itu baik-baik. Dia bukan tipe Cewek yang mudah dibodohi oleh orang seperti lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD