Bagian 7

2344 Words
Author Pov  Paris hampir saja mendaratkan bibirnya di bibir perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu. Pria itu nampaknya sudah tidak sabar ingin melampiaskan hasratnya tanpa harus susah payah lagi menahannya. Namun belum sempat bibir mereka menyatu, dering ponsel dari dalam saku celananya pun menjerit menghentikan semuanya. "s**t!" umpat Paris, dia menjauhkan kembali bibirnya dan melepaskan tangan kanannya di dagu sang istri. Dengan menahan geraman kesal dia kemudian merogoh ponsel pintar yang menimbulkan suara berisik bukan pada waktunya tersebut. Paris berdecak jengkel saat nama Vika terpampang di layar menyala. Mulanya panggilan itu hendak diabaikan, tapi Paris khawatir kalau-kalau sekretarisnya itu memberikan kabar yang penting untuk dirinya. Maka dengan segera, ia pun menjawab panggilannya sembari menjauhkan diri dari posisi Sidney yang baru saja mengembuskan nafas lega. Melihat punggung Paris yang sudah melenggang menuju pintu, Sidney beringsut mengusap d**a. Dia bersyukur dan sangat berterimakasih banyak pada si penelepon, berkat panggilan masuk itu Sidney terbebas dari serangan pria m***m seperti Paris. Kemudian, Sidney buru-buru berlari menuju pintu ketika sosok menjulang Paris sudah tertelan di balik pintu yang ditutupnya dari luar. Tak mau membuang kesempatan, Sidney pun lekas mengunci pintunya. Tidak perduli jika suaminya nanti ingin masuk kembali, yang terpenting untuk saat ini, Sidney tidak mau diganggu oleh siapa pun. Dia hanya ingin menikmati kesendiriannya di dalam kamar tercinta sebelum diboyong pindah ke rumah mertuanya nanti.                                                                                        --- "Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya, ya. Kau mengangguku saja!" "Hehe ... maaf deh, Mas. Vika kan cuman gak enak saja karena gak bisa datang ke akad nikahnya Mas Paris, jadi Vika telepon saja daripada gak sama sekali," "Hah, kau ini!" "Ya sudah, maaf ya sekali lagi ... Vika menganggu acara Mas Paris. Pokoknya, selamat menikmati malam pertamanya nanti deh. Vika--" Sebelum gadis itu melantur ke mana-mana, dengan cepat Paris mengakhiri percakapannya. Dia tidak mau kalau gadis sepolos Vika mengeluarkan kalimat yang tidak seharusnya ia lontarkan. Paris sangat tahu betul seperti apa sekretarisnya itu. Jadi daripada keterusan membahas masalah malam pertama, Paris pun dengan terpaksa harus memutuskan sambungannya. "Huh anak itu, berani-beraninya membicarakan soal malam pertama. Pacaran saja dia belum pernah!" gerutu Paris mendengus. Ponsel sudah ia masukkan kembali ke dalam saku. Sekarang ia berniat untuk kembali masuk ke kamar istrinya lagi, urusannya sempat terpotong tadi oleh telepon dari Vika. Dan Paris ingin menyambungnya lagi sekarang. Baru saja ia berbalik badan dan hendak melangkah ke arah pintu putih yang tak jauh dari tempatnya bercakap dengan Vika--via telepon barusan, tiba-tiba saja langkahnya dihentikan oleh seruan seseorang yang baru mencapai poslen tangga teratas. "Bro!" Paris pun berhenti sembari menoleh, Daffa berjalan menghampiri. "Daffa, ada urusan apa kau naik ke sini?" dahi Paris mengerut bingung. "Aku diminta Om Argi untuk memanggilmu, katanya ada hal yang akan dibicarakan denganmu," jawab Daffa to the point. Paris berdecak, tangannya berlari menggaruk kepala. Padahal, baru saja ia berniat untuk melancarkan kembali serangannya kepada sang istri, tapi lagi-lagi gangguan malah datang di waktu yang tidak tepat. "Gak Vika, gak Papa ... mereka mengganggu saja!" dumelnya samar tapi masih terdengar jelas oleh Daffa. "Mengganggu? Memangnya, kau sedang apa?" tanya Daffa penasaran, sampai tiba-tiba pikirannya pun menjurus ke satu hal penting yang sudah pasti benar. Senyuman jahil pun terbit di bibir Daffa, membuat Paris menatap risi sahabatnya itu. "Apa?" sentak Paris. "Emm ... aku tau apa maksud dari kata 'mengganggu'mu tadi," seringai Daffa sambil menggerakkan dua jari di kedua tangannya membentuk tanda kutip, "Jangan bilang kau--" "Ah sudahlah! Pikiranmu ngeres, Daf ... ayo kita turun ke bawah saja. Bukankah Papaku sudah menunggu," sela Paris melangkah duluan, dia tidak ingin jika Daffa membahasnya. Meskipun tebakannya benar tapi Paris tidak suka saja kalau urusan pribadinya dikepoin sahabatnya. Memangnya Daffa, dia selalu mengumbar cerita tentang aktifitas seksnya di depan Paris tanpa merasa malu. Bahkan, Paris pun pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Daffa menelanjangi wanita bayarannya saking tidak bisa menahan hasrat. Paris sampai bergidik sendiri jika mengingat itu. Walaupun dia juga tak jarang melakukan seks dengan jalang bayarannya, tapi kan Paris melakukannya di tempat tertutup. Tidak seperti Daffa, dimana pun tempatnya dia selalu siap sedia menyerang mangsaannya. Membuat Paris bergeleng kepala setiap saat jika penyakit gila seks Daffa sudah kumat ke permukaan. "Hei Paris, tunggu aku!" seru Daffa mengejar sahabatnya yang sudah menuruni setengah anak tangga tanpa berniat berhenti dulu.                                                                                     --- Paris kembali menaiki tangga sembari melonggarkan dasi hitam yang terasa mencekik leher. Dia baru saja selesai membahas soal tempat tinggalnya dengan sang istri seusai resmi menikah. Bianca,m meminta Paris agar membawa Sidney tinggal di rumahnya saja. Dengan begitu, dia tidak akan kesepian lagi jika suaminya sedang pergi bekerja. Bukan hanya Bianca yang mengusulkan, tapi Inggrid pun memberi pendapat agar Sidney dan Paris tinggal di rumahnya saja selama beberapa bulan. Inggrid masih tidak rela jika ia harus berpisah dengan anak semata wayangnya. Perbedaan pendapat yang dikemukakan dari kedua wanita itu sukses membuat Paris garuk-garuk kepala yang sebenarnya tak gatal. Dia dilema, jika menuruti kemauan mamanya otomatis mama mertuanya akan kecewa dan sebaliknya jika Paris setuju dengan usulan mama mertuanya maka mama kandungnya yang akan kecewa. Memikirkan kemungkinan itu ternyata cukup membuat kepala Paris berdenyut rupanya. Dan kini, pria berwajah tampan itu sudah berdiri di depan pintu kamar sang istri. Dia mengusap muka lelah sejenak, sampai akhirnya, tangan kanannya ia gerakkan untuk mendorong grendel pintu. Tapi ketika pintunya dikunci dari dalam Paris pun mengerang kecil setengah gemas. Kenapa harus dikunci, sih? Lantas, Paris pun mengepalkan tangan untuk mengetuk pintu. Tok tok tok. "Sid, apa kau mendengar ketukan ini? Tolong bukalah pintunya, aku ingin masuk!" seru Paris sedikit berteriak. Tidak ada sahutan dari dalam sana. Paris berpikir jika istrinya pasti tertidur, mengingat dirinya cukup lama berdiskusi di ruang tengah tadi bersama kedua belah pihak keluarganya yang sudah bersatu setelah ia resmi menjadi suami Sidney tadi pagi. "Sid, ayolah! Aku hanya ingin membicarakan soal tempat tinggal kita saja. Aku rasa, kau perlu mengetahuinya...." teriaknya lagi. Dari kamar sana Sidney belum juga memberikan sahutan kepadanya. Membuat Paris kesal dan berniat untuk mendobrak pintunya saja saking ingin segera masuk ke dalam menemui sang istri. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, sosok Inggrid sang ibu mertua pun muncul menyerukan nama menantunya. "Nak Paris?" Pria itu langsung menoleh dan dia mengangguk santun ketika ibu mertuanya mendekat. "Kok, gak masuk?" tanya Inggrid. Paris mengusap tengkuknya kikuk, "Ah em ini, pintunya dikunci dari dalam, Mom...." jawabnya sambil meringis kecil. "Ooh begitu? Ya sudah, kamu tunggu sebentar di sini, ya ...." pinta Inggrid, kemudian ia melenggang memasuki kamar yang terletak di sudut ruangan di lantai yang sama. Paris menatap sosok mertuanya sedikit heran. Dia tidak mengerti apa yang akan wanita itu lakukan, tapi rasa herannya seketika terjawab saat tak berselang lama sosok Inggrid kembali muncul dan berjalan menghampiri dirinya. Senyuman hangat pun terpancar dari bibir sang mertua yang cantik seperti istrinya. "Ini, kamu buka saja pakai kunci cadangan ini. Mungkin Sidney lupa kalau dia sudah bersuami, jadi kebiasaan deh suka kunci pintu gitu," kekeh Inggrid lantas menyodorkan anak kunci ke hadapan Paris. Pria itu tersenyum kikuk, dia jadi merasa tak enak pada mama mertuanya karena sudah repot-repot mengambilkan kunci cadangan. Tapi meskipun begitu, Paris pun tetap mengambil anak kunci yang tersodor karena memang membutuhkannya. "Terima kasih, Mom ... maaf sudah merepotkan," ucap Paris sungkan. "Ah tidak apa ... tidak usah sungkan begitu, Nak Paris. Anggap saja Mommy seperti Mama kandungmu, kamu kan sudah sah menjadi suami Sidney. Jadi itu artinya, kamu tidak perlu ragu lagi jika membutuhkan bantuan apa-apa, ya...." nasihat Inggrid terbuka, Paris mengangguk paham. Dia bersyukur karena mama mertuanya tidak ketus seperti anak gadis yang sudah diperistrinya. Paris jadi berpikir, kalau mamanya sebaik dan sehangat ini lalu kenapa anaknya tidak bisa berlaku baik dan juga hangat padanya. Alih-alih baik, yang ada Paris malah dijutekin terus, kan ? "Ya sudah, kalau gitu Mommy tinggal, ya...." pamit Inggrid membuyarkan lamunan Paris. "Ah? Em ... iya, Mom, sekali lagi terima kasih atas bantuannya," angguk Paris tersenyum. "Iya," balas Inggrid, lalu berbalik melangkahkan kaki. Seperginya sang mertua, Paris lantas memasukkan anak kunci itu ke lubangnya. Lalu dengan mudah, ia pun berhasil membuka pintunya. Pelan-pelan, tangannya mendorong grendel pintu itu hingga terbuka sedikit-demi sedikit. Kepalanya dilongokkan sebentar melalui celah pintu yang baru dibukanya sedikit. Mata Paris menyapu ke seisi ruangan bercat pink putih itu, aroma parfum vanilla menguar tercium di hidung mancungnya. Pandangannya tiba-tiba terhenti di tempat istrinya yang berbaring memiring. Rupanya istrinya benar-benar tertidur. Bahkan kebayanya saja sudah tergantikan dengan t-shirt longgar hitam dan celana pendek di atas lututnya. Paris membuang nafas pendek. Ia melangkah masuk, menutup kembali pintu tanpa suara. Setelah kayu jati yang dipoles warna putih s**u itu ia rapatkan lagi, langkahnya pun kembali diayunkan mendekati ranjang queensize berseprai ungu volcadot putih itu. Tanpa menimbulkan suara gaduh, pria itu pun mendudukkan diri di tepi ranjang. Memandang tubuh ramping sang istri yang membelakanginya. Tenggorokannya mendadak turun naik ketika tatapannya mengarah ke paha mulus yang terekspos. Ah, alangkah nikmatnya jika lidah Paris bisa bermain di sana. Apalagi kalau celananya dilepas, mata Paris pasti akan berbinar karena bisa melihat pemandangan yang indah. Sidney bergerak dalam tidurnya. Posisi miringnya pun kini berubah menjadi terlentang. Sebelah tangannya tanpa sengaja terkulai menimpa paha Paris yang berdekatan di sana. Kedua mata Paris mengerjap bersamaan, kini ia menaikkan pandangannya ke arah p******a sang istri yang membusung di balik kaus. Rasanya, Paris ingin sekali meraba dan meremasnya, tapi pria itu segera menggeleng kuat. Menepis pemikiran mesumnya yang selalu kumat jika sedang berada di dekat Sidney. Entah apa yang membuatnya seperti itu, yang Paris tahu tubuhnya selalu bereaksi mendadak jika sedang bersama dengan wanita yang sudah dipatenkan menjadi istrinya itu. Paris mengalihkan tatapannya, dia tidak ingin membuat juniornya menegak hanya karena terus memandangi p******a Sidney yang bahkan masih terhalangi kaus hitam itu. Kini, ia pun menatap wajah sang istri yang begitu damai di dalam tidurnya. Paris lebih mendekatkan dirinya, ia ikut berbaring miring di sisi Sidney. Menyangga kepala dengan tangan kanan, menatap lembut wajah cantik yang alami tanpa riasan make up. "Bahkan saat tertidur pun, kecantikanmu tidak memudar, Sid...." gumam Paris serak sembari membelai pipi sang istri dengan lembut. Paris menguap. Rasa kantuk pun menyerang. Sepertinya, pria itu juga butuh tidur sebelum membawa istrinya pindah dari rumah mertuanya ini. Dengan berbantalkan lipatan tangan sendiri, mata Paris pun mulai terpejam. Dia terlelap sambil melingkarkan tangan kirinya di pinggang Sidney, menyurukkan wajah tampannya ke helaian rambut sang istri yang menguarkan aroma sampo yang disukainya. Sampai rasa nyaman itu membuat Paris cepat melayang ke alam bawah sadar, posisi tubuh Sidney pun berubah lagi menghadap pembaringan Paris yang juga menghadapnya.                                                                                         ---- Kedua mata Sidney terbuka perlahan. Entah hanya penglihatannya yang salah atau memang di depan matanya sekarang terpampang jelas wajah pria m***m yang tampan tapi tak pernah disukainya. Sidney rasa, matanya sedikit bermasalah. Untuk memastikannya, gadis itu pun mengedip-ngedipkan kedua matanya secara bersamaan. Berharap pahatan tampan itu hilang dari hadapannya, tapi setelah ia puas memperjelas penglihatannya, wajah Paris pun masih tetap setia berada di depan dua mata coklat terangnya. Menyadarkan sang gadis, bahwa yang dilihatnya sekarang bukanlah halusinasi saja, melainkan-- "Kyaaaaaaaaa," jeritnya sempurna, sekaligus mendorong tubuh besar itu sekuat tenaga sampai terguling ke bawah lantai. Gedebuk. "Aw!" pekik si pemilik tubuh, bibirnya meringis ngilu saat punggung lebarnya terjatuh mencium lantai yang dingin. Sementara itu, Sidney bangun terduduk sembari menyilangkan kedua tangan di d**a. Dia panik, khawatir jika tubuhnya sudah diapa-apakan oleh pria m***m itu. Meskipun bajunya masih melekat utuh tapi bisa saja kan tangan suaminya menyentuh tubuhnya tanpa harus melucuti dulu pakaiannya. Zaman sekarang kan apa saja bisa dilakukan jika otaknya sudah terkontaminasi dengan hal-hal berbau seks. Jadi, jangan heran kalau Sidney beranggapan seperti itu! Paris lantas bangkit terduduk dari lantai putih itu. Dia masih meringis, kemudian pandangannya pun ia alihkan ke arah sang istri yang masih menyilang tubuh depannya dengan kedua tangan. "Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa kau mendorongku sampai terjatuh seperti ini, huh?" protes Paris tidak mengerti. Padahal dia sedang asyik bermimpi di dalam tidur nyenyaknya. Tapi mimpinya itu harus kandas ketika suara jeritan yang melengking terdengar langsung di telinga. Tidak hanya itu, bahkan tubuhnya pun langsung terguling menghantam lantai. "Suruh siapa kamu tidur di ranjangku? Pakai acara peluk-peluk segala lagi. Memangnya kau pikir aku ini guling, hah?" bentak Sidney berang diikuti dengan pelototan ganasnya. Paris berdecak. Dia menyurukkan wajah ke tepi ranjang. Tapi sedetik kemudian, dia kembali mengangkat wajah dan menatap Sidney frustrasi. "Apa? Siapa yang menyuruhmu untuk tidur di ranjangku, hah?" lontar Sidney galak. Paris memutar bola mata jengah, ia membuang napas kasar. Jengkel juga lama kelamaan menghadapi sikap istrinya. "Tidak ada yang menyuruhku Sidney!" geram Paris tertahan. "Lalu--lalu kenapa kamu seenaknya tidur seperti tadi?" "Karena kau dan aku sudah menikah, Sid! Kita sudah resmi ... dan wajar kalau aku ikut tidur di ranjangmu," ujar Paris mengusap muka kesal. Sidney terdiam. Otaknya berputar keras mencari kalimat yang cocok untuk membalas perkataan pria yang masih duduk di lantai itu. Dan lagi, Sidney heran sendiri, kenapa pria itu bisa masuk ke dalam kamar? Seingatnya, pintu sudah dikunci rapat dan tidak mungkin kan kalau suaminya mendobrak pintu itu? "Kau tidak lupa kan, Sayang?" suara Paris kembali menarik Sidney untuk melihatnya, "Kita sudah menjadi suami istri sejak pagi tadi. Jadi...." kalimat Paris menggantung. Sidney menatap Paris mengernyit, gadis itu menunggu lanjutan kalimat suaminya yang mendadak digantung. Alih-alih melanjutkan ucapannya, Paris justru malah bangkit dari duduknya dan secara mengejutkan dia melompat ke atas ranjang sekaligus menerjang Sidney yang dibuat terlentang spontan diiringi dengan pekikan terkejutnya. "Kau? Apa yang kau lakukan CEO sialan!" maki Sidney memelotot. Paris hanya tersenyum miring menatap nakal sang istri yang ada di bawahnya. Supaya tidak membebani tubuh ramping Sidney, Paris pun menumpukan sikutnya di masing-masing sisi tubuh istrinya. "Menyingkir dari atas tubuhku, Sialan!" usir Sidney menyalang. "Tidak! Aku tidak akan menyingkir, Sayang...." geleng Paris. "Berengsek, kau! Aku tidak sudi--" "Ssstt," potong Paris menempelkan tiga jarinya di bibir lembut Sidney, "Kau hanya perlu diam dan menurut saja, Sid. Karena apapun alasannya, kita ini sudah sah untuk melakukan hubungan badan. Dan kau tidak lupa kan dengan kewajiban seorang istri? Istri itu bertugas untuk melayani suaminya secara lahir maupun batin, jadi ... mau tidak mau kau harus sudi untuk menikmati sentuhanku di seluruh tubuhmu ini, Sayang." ucap Paris rinci, berhasil membuat tubuh Sidney menegang di bawah kungkungan tubuh besar sang suami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD