Bagian 5

2138 Words
Author Pov  Sebuah Range Rover putih baru saja keluar dari basemen gedung apartemen. Itu adalah mobil Paris yang akan segera melaju ke tempat di mana mama dan calon istrinya menunggu untuk dijemput. Beberapa saat yang lalu, Paris ditelepon oleh mamanya. Dia diminta untuk menjemput mereka katanya. Sepertinya, acara nyalon dua wanita yang dicintainya itu sudah selesai. Makanya mamanya minta dijemput seperti sekarang. Untung saja urusannya dengan Daffa sudah beres, jadi Paris pun tidak harus repot meminta Daffa menunggu. Seusai mengiyakan permintaan mamanya, Paris langsung bergegas mengambil kunci mobil di dalam kamar. Sementara Daffa, sahabatnya itu meminta izin untuk numpang tidur akibat ngantuk yang mendera. Dia lelah katanya, sehabis melakukan aktifitas seks sebanyak 3 ronde bersama teman kencannya, Daffa tidak sempat tidur dulu karena dia mempunyai tugas yang harus dikerjakan sesuai permintaan sahabat karibnya, Paris. Dan tanpa keberatan, Paris pun mengizinkannya. Asalkan Daffa tidak tidur di kamarnya saja, karena kamar itu adalah ruang privasi Paris yang hanya boleh dimasuki oleh dirinya dan istrinya kelak. Alhasil, Daffa pun menidurkan dirinya di sofabed ruangan tengah. Kini, Paris sedang dalam perjalanan menuju salon mewah guna menjemput dua wanita yang berharga di dalam hidupnya.                                                                                     -- "Ya ampun! Paris lama banget, sih. Ke mana dulu coba? Jangan-jangan, dia mampir sana sini dulu. Kebiasaan deh anak itu, Mama jadi sebal kalau dia udah lelet saat disuruh jemput!" oceh Bianca, yang tak lain adalah mama Paris. Sepertinya, wanita itu sedang kesal menunggu anaknya yang tak kunjung muncul Sidney, gadis itu hanya bisa menggeleng pelan saat melihat calon mama mertuanya mondar-mandir tanpa henti di depannya. Dia sendiri sedang duduk anggun di sofa lobi salon tersebut. Setelah memanjakan diri bersama mama dari calon suaminya itu, Sidney pun merasakan tubuhnya lebih ringan. Sudah lama sekali dia tidak pergi ke salon sekaligus spa di seluruh tubuh. Maka saat ada kesempatan, Sidney pun tidak mau menyia-nyiakannya. "Sid!" panggil Bianca berkacak pinggang di hadapan calon menantunya. Gadis itu langsung mendongak menatap wanita di hadapannya. Raut kesal tersirat jelas di wajah Bianca. "Kenapa, Ma?" tanya Sidney lembut, dia memang sudah membiasakan diri untuk memanggil Bianca dengan sebutan mama. Jika dia memanggil tante, maka Bianca akan segera meluncurkan ceramah kecilnya tanpa bosan. "Kamu coba telepon Paris, deh. Tanyain dia lagi ada di mana? Suruh cepetan gitu, Mama udah kesal nunggu terus!" suruh Bianca merengut. Sidney pun termangu sejenak. Menelepon Paris? Rasanya, Sidney enggan sekali untuk melakukannya. Tapi ini disuruh sama calon mertuanya, lalu apa yang harus Sidney lakukan? "Sidney! Kok, malah bengong, sih? Kamu denger kan Mama bilang apa?" tegur Bianca gemas saat melihat calon menantunya malah hanya diam termenung. "Ah? Emm ... ma--maaf, Ma ... Sidney gak fokus barusan!" sahutnya tercengir sekilas. "Uh, kamu ... makanya minum air mineral yang ada di iklan deh biar fokus!" balas Bianca terkikik. Mama Paris cukup ajaib. Segala produk iklan dibawa-bawa. Sidney jadi takjub dan hanya meringis kikuk sambil menggaruk pelipis. "Eh, tuh kan Mama jadi lupa, ayo teleponin Paris sekarang, Sayang. Mama harus cepet pulang nih, Papa Paris takut keburu pulang," ujar Bianca mengingatkan lagi. Sidney pun mengangguk akhirnya. Mau tidak mau dia harus menuruti perintah calon mertuanya. Meskipun sebenarnya Sidney malas berbicara dengan calon suaminya itu, tapi ya sudahlah. Mau ditentang bagaimana pun ujung-ujungnya dia pasti nikah juga dengan pria itu. Mungkin Sidney hanya bisa pasrah menerima nasib yang menimpanya. Sidney mengambil iPhone dari dalam tote bag-nya, lalu ia segera men-dial nomor Paris sesuai suruhan Bianca. Sambil menunggu nada sambungnya berbunyi, Sidney pun mengembuskan napas lumayan panjang. "Halo, Sayang!" sambut Paris terdengar. "Em ha--" belum sempat Sidney menjawab, iPhone itu malah sudah keburu direbut oleh Bianca yang terlanjur kesal menunggu jemputan. Sidney sampai kaget saat benda tipis ber-casing pink menyalanya direbut oleh tangan sang calon mertua. Tapi diam-diam gadis itu juga bersyukur dalam hatinya, karena dengan begitu dia tidak harus pura-pura berbicara lembut pada pria yang tak lama lagi akan menjadi suaminya itu. Karena pada kenyataannya, Sidney memang tidak bisa berbicara lembut pada Paris. Dia selalu menyisipkan emosinya juga jika sedang berbicara dengan pria itu. "Paris kamu di mana? Kenapa lama sekali? Kau tau, kaki Mama sudah pegal menunggu kamu menjemput. Kamu ke mana dulu, hah? Kenapa tidak cepat-cepat saja? Kau--" "Kok, Mama telepon pake nomor Sidney, sih? Mama bajak handphone dia, ya ?" sela Paris yang tidak tahan mendengar cerocosan mamanya. Bianca memutar bola mata jengah, "Iya, Mama sengaja nyuruh Sidney telepon kamu. Habis kamu lama! Masih di mana kamu sekarang? Kamu mampir sana-sini dulu, ya? Kamu--" Tin tin. "I'm here, Mom!" desah Paris lelah bersamaan dengan kepalanya yang melongok dari jendela mobil sehingga dapat terlihat jelas oleh kedua mata Bianca yang berdiri di balik pintu kaca di depannya.                                                                                          --- "Makasih ya, Sayang ... sudah mau menemani Mama nyalon hari ini. Kamu memang partner Mama paling keren!" ujar Bianca sesudah diantar pulang ke rumah. Sidney mengangguk tersenyum ketika dilontari pujian oleh calon mertuanya yang cantik. Dia juga sangat senang sudah bisa memanjakan diri di salon bersama dengan mama Paris. "Iya, Ma. Sidney juga seneng kok bisa nyalon bareng Mama." "Ah syukurlah, itu artinya lain kali kita bisa--" "Oke, ladies, sudah saatnya kalian berpisah. Mama, kayaknya Papa udah nunggu di dalam, deh. Dan aku juga harus segera mengantar calon istriku pulang ke rumahnya." sela Paris cepat sebelum mamanya semakin asyik mengajak Sidney bergelut di dunia perbincangan salon-menyalonnya. Bianca mendelik sebal pada anaknya. "Kamu tuh gak sopan tau! Orangtua lagi bicara, kamu langsung main nyela aja! Dasar anak durhaka," sungutnya mengomel. Paris sudah menduga. Mamanya pasti akan meloloskan omelannya. Dan ujung-ujungnya, kata durhaka pun akan tercetus di akhir omelannya. Apa tidak ada kata mengerikan lainnya di luar kata durhaka? Itu terlalu menyeramkan dan memangnya, menyela demi sebuah kebaikan bisa dikategorikan sebagai kriteria durhaka juga, ya? "Plis, Ma ... kali ini, izinkan Paris untuk memprotes omelan Mama. Setidaknya, Mama jangan keseringan ngeluarin kata durhaka, dong. Paris ngeri dengernya, berasa jadi malin kundang...." rajuk sang anak menatap melas. Bianca berjengit, balas menatap anak lelakinya yang tidak biasa melakukan hal seperti itu. Sejak kapan Paris merajuk? Seingat Bianca, anaknya itu jarang sekali merajuk, bahkan tidak pernah sama sekali dia rasa. Hanya baru sekarang Bianca melihat rajukan sang anak satu-satunya! "Ah sudah lah, sepertinya ... calon suami kamu ini kehabisan obat, Sid. Mama harap, kamu tahan banting ya sama kelakuan dia. Sesekali, dia suka berperilaku aneh di saat-saat tertentu!" tukas Bianca pada calon menantunya. Sidney hanya tersenyum seadanya mendengar pengakuan Bianca tentang anak lelakinya. Memangnya Sidney akan perduli? Selepas itu, mereka pun saling berpelukan sebelum akhirnya Paris menggiring calon istrinya kembali ke dalam mobil. "Hati-hati kalian, ya! Dan sampaikan salam Mama sama mommy kamu, Sid!" seru Bianca di tempat, lalu mobil Paris pun melaju meninggalkan halaman rumah mewah itu. Kini, hanya tinggal Sidney dan Paris saja yang menghuni mobil tersebut. "Bagaimana?" tanya Paris ambigu. Sidney lantas menoleh menatapnya bingung, "Bagaimana apa?" seperti biasa, nadanya selalu ketus jika mengobrol dengan Paris. "Acara salon-salonannya. Kau senang pergi nyalon bersama Mamaku?" perjelas Paris sambil sesekali melirik gadisnya. "Oh. Lumayan, aku senang bisa menghabiskan waktu bersama Mama Bianca." Tak bisa dipungkiri, Sidney memang senang karena bisa mengakrabkan diri dengan Bianca. Calon mertuanya itu sangat supel, pikirannya yang semula mengira Bianca akan mengacuhkannya justru salah besar. Bianca malah menerima Sidney dengan baik, memperlakukan dirinya seperti anaknya sendiri. Bahkan, Sidney seolah merasa sedang bersama dengan mommynya. "Syukurlah. Itu artinya, kau bisa beradaptasi dengan baik bersama Mama." desah Paris lega. Walaupun Sidney masih selalu ketus padanya, tapi paling tidak calon istrinya itu bisa langsung akrab dengan mamanya.                                                                                           -- Setelah menempuh perjalanan selama satu jam kurang, akhirnya Range Rover putih Paris pun sampai juga di depan pagar rumah Sidney yang menjulang tinggi. Sidney lekas melepas safety-nya. "Istirahatlah, sepertinya kau kelelahan...." ucap Paris lembut. "Ya. Tanpa kau suruh pun aku akan tetap beristirahat!" sahut Sidney jutek. Paris terkekeh pelan. Gadisnya masih saja bersikap jutek, tapi itu tidak masalah. Selama Sidney tidak ada niatan untuk membatalkan pernikahannya, Paris terima-terima saja kok. Nanti juga cinta itu akan menghampirinya... "Ya sudah, aku turun. Terima kasih sudah mengantar!" cetus Sidney setelah safety-nya terlepas. Di tengah tangan Sidney yang sudah terulur hendak membuka pintu, tiba-tiba lengannya ditahan. Gadis itu lantas menoleh, dan ternyata tangan Paris yang menahannya. "Apa lagi?" kesal Sidney. Paris menyeringai, dengan gerakan yang tak terbaca Paris berhasil mendaratkan ciuman basahnya di bibir pink Sidney. Membuat gadis itu memelotot serta ingin sekali menampol muka tampan calon suaminya. "Kau!" sentak Sidney. Paris tercengir tak berdosa, dia melepaskan pegangannya di lengan Sidney. Sedetik kemudian, tangannya itu bergerak mengacak rambut Sidney yang baru di creambath di salon tadi. "Sampai jumpa 3 hari kemudian, Sayang. Aku akan selalu merindukanmu," bibirnya mencebik dan itu membuat Sidney tercenung beberapa saat. Ah. Sidney baru ingat! Mulai besok, dia kan tidak akan bertemu dengan Paris, ya? Mereka akan melakukan proses pingitan sampai ijab kabul tiba yang akan berlangsung 3 hari lagi. Lantas, apa Sidney harus senang karena tidak direcoki oleh Paris selama tiga hari penuh? Atau, Sidney justru harus sedih karena setelah melewati 3 hari itu dia akan resmi dijadikan istri oleh pria menyebalkan dan berotak m***m itu? "Hei! Kau melamun, huh?" tegur Paris. Sidney tersadar dan mengerjap secara bersamaan. Dia menatap Paris jengkel. Kemudian, dia pun memutuskan untuk segera keluar dari mobil sebelum Paris mencuri ciumannya lagi. Bukannya apa-apa! Ciuman Paris itu selalu membuat otak Sidney tak bisa berpikir selama beberapa detik--tergantung lama ciumannya. Dan hal itu menyebabkan Sidney seperti kerbau yang dicocoki hidungnya. Sidney sudah membuka pintu, tapi baru saja sebelah kakinya ia turunkan, lagi-lagi niatannya untuk segera keluar harus digagalkan kembali oleh perlakuan Paris yang menarik lengan Sidney. "Kau? Apa lagi, sih?" protes Sidney semakin kesal. Bukannya menjawab, Paris malah dengan mudah menarik tubuh Sidney ke pangkuannya. Gadis itu sampai menjerit tertahan ketika Paris melumat langsung bibirnya lagi. Sidney sempat memberontak memukuli d**a Paris, tapi hal itu diabaikan oleh calon suaminya. Paris justru menyerap oksigen Sidney sampai menipis karena perlakuannya yang mencium gadisnya seolah ciuman itu adalah terakhir kalinya yang tidak akan dirasakannya lagi setelah itu. Pukulan di d**a Paris pun berkurang. Tampaknya, tenaga Sidney sudah mulai terkuras. Paris terus menciumnya. Menggigit, menjilat bahkan lidahnya berhasil melesak masuk mengabsen setiap rongga mulut sang gadis. "Ngh," tanpa sadar erangan pun lolos dari bibir Sidney, membuat Paris semakin gencar memainkan lidah Sidney dengan lidahnya. Punggung Sidney sudah merapat di setiran mobil. Sementara tangan kiri Paris berlari ke atas paha Sidney yang menggoda untuk dielus. "Ugh!" Sidney melenguh lagi, dan itu mendorong Paris untuk semakin gila mencumbu gadisnya. Ciumannya belum juga berakhir. Tangan kanan Paris pun sudah kebas digunakan untuk menyangga tengkuk gadisnya. Sedangkan tangan kirinya sudah hampir masuk menyelinap ke dalam underwear Sidney jika saja dia tidak langsung ingat kalau ini bukan saatnya. Dengan mendadak, Paris pun menjauhkan bibirnya dari bibir Sidney yang sudah terlihat bengkak. Tangan kirinya pun ia tarik kembali keluar dari balik dres bawah Sidney. Nafas keduanya memburu. Udara panas menguar dalam mobil itu. Energi Sidney seakan tersedot habis sehingga dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolak sentuhan Paris. Pikirannya mendadak kosong, dia tidak sadar jika areal intimnya tadi hampir disentuh tangan Paris. Dan kini, dahi mereka pun saling menyatu. "Maaf, Sid ... aku hampir kelepasan. Aku benar-benar tidak bisa menahannya, aku--arght ... intinya, maafkan aku karena sudah membuat bibirmu bengkak seperti ini," bisik Paris terengah diikuti dengan ibu jari yang mengusap lembut bibir Sidney. Sidney hanya diam. Dia belum bisa mengumpulkan tenaganya untuk sekadar memaki Paris. Ciuman panas Paris saja rasanya masih membekas di bibirnya yang membengkak. Sial! Paris benar-benar gila barusan. "Sid, aku harap ... kau tidak berniat untuk membatalkan pernikahan kita, ya. Anggap saja, barusan adalah latihan untuk aktifitas yang sebenarnya nanti. Aku sudah sangat tidak sabar menantikan hal itu," tutur Paris menjauhkan dahi, lantas mengecup bibir Sidney sekali lagi. Sesudah itu, ia pun menurunkan tubuh Sidney dari pangkuannya. Gadisnya kembali didudukkan di tempat semula. Dan oh astaga, Paris membuat rambut Sidney berantakan. Padahal, baru saja habis di creambath, tapi pria itu malah merusaknya lagi! "Rapikan dulu penampilanmu, Sid. Kau tidak mau dipandang aneh oleh mommymu, kan?" ucap Paris mengingatkan. Nyawa Sidney pun sudah kembali terkumpul menyatu dalam dirinya. Otomatis, ia pun sudah berhasil menemukan emosinya seperti biasa. Setelah mendengar ucapan Paris barusan, Sidney kemudian menoleh menatapnya berang. "Oh, Sid, jangan menatap seperti itu! Kau tau, jika kau marah ... wajahmu semakin terlihat seksi dan aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerangmu detik ini juga!" lontar Paris frustrasi. Sidney mendengus, "Dasar pria m***m. Pergi sana ke neraka!" semburnya murka. Seusai meluncurkan kalimatnya, Sidney pun segera keluar dari mobil Paris. Dia melangkah cepat meninggalkan letak mobil Paris yang berhenti di depan pagar tinggi rumahnya. Sebelum ia sempat melewati pintu pagar, tiba-tiba saja Paris melongokkan kepala keluar jendela dan-- "AKU JUGA MENCINTAIMU, SID! TUNGGU AKU TIGA HARI LAGI, YA...." teriak Paris membahana, membuat Sidney meremas rambut frustrasi hingga secepat kilat berlari memasuki halaman rumahnya. Sidney rasa, hidupnya akan terus dibuat risi oleh sikap menyebalkan dan m***m akut calon suaminya itu! Dan itu artinya, aku harus selalu waspada menghadapi kemesumannya setelah menikah nanti. Arghhttt!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD