VI. Marva yang Aneh

1503 Words
Jakarta, 2021. Aarave adalah sahabat Grezella dan Grezelle sejak tujuh tahun lalu. Dia anak laki-laki si pemain ukulele sembarangan yang Grizella lihat saat pertama kali pindah ke rumah baru. Laki-laki itu benar-benar tampan sejak dulu hingga sekarang, dan yang paling penting, Grezella sangat menyukai Aarave. Jika mengingat kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di antara mereka, Grizella selalu merasa dibodohi. Dia memaki dirinya sendiri yang tidak peka akan situasi dan mau-mau saja menerima Aarave. Padahal sikap Aarave jelas sangat terlihat bila lebih menyukai Grizelle daripada dirinya. Bodoh, seperti saat dia dengan girangnya ingin berangkat bersama dengan Aarave. “Aarave bareng Grizella, ‘kan?!” tanya gadis itu dengan napas berderu. Rambutnya yang bergelombang terlihat pas membuat Aarave geleng-geleng kepala menatapnya. “Harusnya, sih,” gumam Aarave membuat Grezella mengeluh. Kalau jawabannya begini, biasanya Aarave akan– “Zelle, jadi beli kartonnya?!” Grizella membuang napasnya kasar, sebisa mungkin tetap tersenyum menatap keduanya. Grezelle yang sudah rapi dengan rambut lurus sebahunya mengangguk menanggapi ucapan Aarave. Ah, bahkan saudara kembarnya tidak bisa merasakan batinnya yang terluka. Hah ... rugi sudah Grezella mengikat-ikat rambutnya dengan kaos kaki hanya demi berpenampilan wah saat berangkat bersama Aarave. “Duluan , ya, La!” pamit mereka menyadarkan Grezella. Meski ingin memaki dan memakan habis hati Aarave, Grezella hanya mampu menggerutu dan pasrah kembali berangkat menaiki taxi. °^°^°^°^°^°^° Grezella membuang napasnya pelan, menatap kendaraan yang penuh dengan anak sekolahan sebagai pengendara. Matanya memanas saat kembali mengingat ketidakadilan Aarave kepadanya. “Aarave, bisa bantuin gue rakit lampu? Tadi Zella–” “Aarave lo kemanain buku IPA gue?!” Tanpa kata Aarave meninggalkan Grezella dan masuk kembali ke kamar Grazelle. “Zella baru aja beli lampu, kembaran bertiga. Niatnya sih Aarave yang mau Zella kasih duluan,” gumam gadis itu yang hanya mampu menatap Aarave dan Grizelle yang mulai sibuk bertengkar di dalam kamar kembarannya. .... “Aarave, lo pernah baca buku ini? Seru banget ceritanya!” “Lo suka banget sama legenda sama novel, ya? Tapi bagus lagi kalau lo juga baca tentang pelajaran deh, La. Biar nilai lo naik dan bisa sekelas sama gue sama Grizelle.” “Ih, gue udah coba, Rave, tapi nggak bisa. Otak gue nggak seencer Grizelle sama kamu.” “Ya tapi–” “Arave, jadi?” “Jadi dong, Zelle!” ...... “Neng, udah sampe.” Grezella mengerjap, tangannya segera memberikan beberapa uang kepada bapak sopirnya, kemudian turun dari taxi. Dia jadi teringat kenangan dulu bersama Aarave dan Grizelle. Kenangan yang bisa-bisanya dia tidak anggap sebagai pertanda bahwa tidak mungkin Aarave akan memilihnya. SMA NEGERI 7, itulah tempat Grizella, Aarave, dan Grizelle bersekolah. Mereka selalu sama ketika memilih SMP dan SMA. Bedanya, Aarave dan Grizelle memilih jurusan IPA, sedangkan dirinya lebih memilih terjun ke IPS. Dan sebagai informasi penting, setelah Grizella memutuskan Aarave, dia tidak lagi memedulikan jadwal berangkat mereka bersama laki-laki itu. Grizella berusaha masa bodoh dengan Grizelle yang akan selalu bersama Aarave. “Heh, Cantik!” Grazella mendengus begitu Marva mendekat ke arahnya. “Cantik-cantik! Trik buaya lo kuno banget!” ucapnya membuat tawa renyah keluar dari mulut Marva. “Lo emang cantik! Apalagi nih, rambutnya!” ucap Marva sambil menjumput rambut gelombang milik Grizella. Gadis itu segera menepis tangan Marva dan melangkah sedikit menjauh. “Lo itu jangan deket-deket gue, deh!” “Idih, kenapa?” “Lo punya buaya, b**o!” “Gue mantan kembaran lo, b**o!” Grizella mendengus. “Mar, jangan genit dan sok terbar pesona!” ancam Grizella lagi-lagi membuat Marva tertawa. “Galak lo, pantesan nggak ada yang mau!” “Ih, kurang ajar lo! Kalau Grizelle nggak khilaf, dia paling nggak nerima lo. Lo itu biang masalah!” ejek Grizella dengan senyum puas. “Kita sama, La,” desis Marva berhasil membuat Grizella lari menjauh sejauh mungkin dari mantan pacar saudari kembarnya. °^°^°^°^°^°^° “Kak Zella, sini!” panggil Grizelle begitu dirinya memasuki kantin. Grizella pun segera mendekat ke arah mereka, meski sedikit aneh karena ada Marva juga di sana. “Loh, udah pesen?” tanya Grizella begitu duduk bersama di sebelah Marva, sedangkan Grizelle dan Aarave duduk bersebelahan di seberangnya. Wajahnya melongo bingung menatap mangkuk bakso di depannya. Dia sebenarnya merasa sedikit aneh sih karena tiba-tiba Grizelle mengajaknya makan bersama. “Iya, gue pesenin sekalian,” jawab Aarave membuatnya tersenyum lebar. Senyum yang entah kenapa harus terbit hanya karena Aarave memesankan makanan untuknya. Harusnya sudah tidak boleh ada rasa itu lagi. Tangannya segera meraih kecap dan sambal untuk dicampur dengan kuah bakso yang masih mengepul. Namun, begitu kecap itu tertuang, Grizella terdiam sejenak. “Gue nggak suka daun bawang.” “Kok diem, Kak?” tanya Grezelle yang duduk di hadapannya. Grizella mendongak kemudian menggeleng. “Nggak, cuma–” “Oh, si Arave salah pesen lagi, ya?” potong Grezelle yang dianggukinya. Saudarinya segera menatap Aarave yang duduk di sebelahnya. “Kan udah sering gue bilangin, yang suka daun bawang Grizelle, kalau Grizella sukanya seledri.” “Maaf, gue lupa.” Grizella hanya mampu tersenyum kecut mendengarnya. “Mau gue pesenin, La?” tanya Marva. Grizella tentu menggeleng, dia tidak mungkin membuang makanan. “Gue makan ini bisa kok, tinggal disingkirkan aja, Mar,” ucapnya dengan sendok mulai menyingkirkan potongan daun bawang itu dan memindahkannya ke atas tissue. “Maaf banget, ya, La?” ucap Aarave penuh sesal. Ah, kenapa harus minta maaf? Bukankah sudah benar begini saja, agar Grizella selalu sadar bahwa seratus hari bersama itu sebuah kesalahan. Grizella mengangguk dan tersenyum menatap laki-laki itu. “Udah biasa kali, Rave. Jadi, nggak papa.” °^°^°^°^°^°^° Marva mengapit lehernya yang hanya setinggi ketiak laki-laki itu. Grizella risih sebenarnya, apalagi mereka menjadi tontonan seluruh anak-anak yang ada di lorong. Tentunya ini karena berita Aarave dan dirinya putus, juga Grizelle yang putus dengan Marva. Jelas, kebersamaannya bersama Marva menjadi tanda tanya besar. Grizella yakin pasti ada yang menganggap dirinya sebagai penghancur hubungan antara Marva dengan Grizelle. “Va, lo tuh kenapa, sih?” tanyanya dengan nada kesal. Tangan kecilnya selalu berusaha menyingkirkan tangan Marva dari tubuhnya, namun gagal. “Gue lagi butuh temen. Abis putus itu bikin galau,” curhatnya yang dibalas dengusan malas oleh Grizella. Marva pikir Grizella nggak galau apa, ya? “La, percaya nggak kalau dua hati yang terluka bisa saling menyembuhkan?” Grizella mendongak, menatap Marva yang tersenyum jenaka. “Nggak, kalau bisa sembuh itu sebuah keajaiban, tapi kalau gagal cuma bakalan nambah luka.” Marva mengangguk. “Gue pastiin dua hati yang bahagia pun bakalan terluka beberapa waktu lagi.” “Maksudnya?” Marva menggeleng acuh. Lagi-lagi Grizella ditarik agak berjalan lebih cepat. “Kita sekelas terus, tapi kaya musuhan,” ucap Marva kemudian meninggalkan Grizella di ambang pintu. Musuhan? Bukan, Grizella tentu tidak menganggapnya begitu. Hanya saja, Grizella tidak nyaman terlalu dekat dengan laki-laki selain Aarave. Namun, pengecualian untuk Raka, laki-laki itu sudah berhasil membuatnya nyaman di zona pertemanan mereka. Dan sekarang Marva sudah masuk dalam zona pertemanan meski Grizella belum menyadari itu. °^°^°^°^°^°^° “Kenapa rasanya begitu berdebar?” Marva merebahkan tubuhnya di kamar Raka. “Gue berhasil rangkul dia, Ka! d**a gue kaya, jedag jedug!” “Ya karena lo suka dia.” Raka menjawab sinis. “Nggak, rasanya kita cuma temenan.” Meski nyatanya dalam hati Marva membenarkan ucapan Raka. “Nggak, lo pengen kalian lebih dari teman. Cuma....” “Apa? Cuma apa?” “Gue juga bakalan ngejar dia. Gue rasa gue pernah salah naik kereta karena nggak baca jurusannya. Makanya kali ini gue nggak akan salah.” “Bersaing?” Marva menaikkan alisnya tinggi. “Yeah, mumpung Aarave belum sadar sama perasaannya. Kalau bisa kita buat dia menyesal karena memungut emas dan membuang berlian.” “Sama-sama berharga, tapi harganya beda.” °^°^°^°^°^°^° Jakarta, 2014. “Hei, lo tetangga baru gue?!” Aarave kecil berteriak memanggil gadis kecil yang sedang berjongkok karena sibuk menutup pot bunga dengan tanah. Gadis itu memakai celana selutut dengan kaos hitam sebagai atasan. Rambutnya dikucir kuda. Dia menoleh, menatap Aarave yang berdiri di seberang pagar setinggi d**a anak laki-laki itu. “Iya,” jawab gadis itu. Dia berdiri dari jongkoknya, menepuk-nepuk kedua tangannya kemudian berjalan mendekati pagar. “Lo anaknya tante kemarin?” “Iya, lo yang anterin kue?” Grizella mengangguk. “Enak tauk!” kata Aarave lagi. Grizella tersenyum kecil. Gadis itu mengulurkan tangannya dengan riang. “Kenalan, yuk!” “Ayuk!” “Nama gue–” “Grizelle!” Grizella segera berbalik, berpamit pada anak laki-laki itu dan mengajaknya berkenalan nanti. Grizella harus masuk sekarang karena bisa saja terjadi sesuatu kepada Grizelle, kembarannya. Namun, sayangnya, Aarave mengira bahwa gadis yang baru saja dia temu itu Grizelle. “Namanya Grizelle, cantik!” °^°^°^°^°^°^°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD