Jakarta, 2021.
Grizella bersenandung kecil begitu memasuki dapur. Di tangannya sudah ada satu kantung plastik berisi berbagai kebutuhan yang baru saja dia beli. Sebenarnya, dia tidak berniat belanja, hanya saja kebutuhan itu sangat penting bagi Grizella. Terlebih, mama-nya tidak akan membelikan dua kembar itu camilan karena sudah menjadi tanggung jawab masing-masing.
Langkah kaki Grizella begitu riang, terlebih dia menemukan anggur hijau di supermarket tadi. Namun, langkahnya terhenti begitu menatap Aarave dan Grizelle yang kini tertawa bersama sambil menikmati mie instan di sana.
Tubuhnya tidak dapat bergerak, mematung di depan pintu dapur menatap kedua sejoli itu. Rasa sesaknya kembali hadir, rasa kesal terhadap dirinya sendiri pun seolah menyebar di seluruh pembuluh darah.
Harusnya, Grizella merasa biasa saja. Harusnya, Grizella pura-pura tidak tahu jika mereka berdua telah bersama. Harusnya, Grizella tidak perlu merasa terluka. Gadis sebaik dan secantik dirinya, tidak boleh patah hati lama-lama!
“Ha-hai!” sapanya gugup.
Grizella segera melangkah dan membuka kulkas tanpa menatap keduanya, jelas dia lebih memilih menatap barang bawaannya, dan melewati dua sejoli itu.
Sebuah keberuntungan karena posisinya kini membelakangi Aarave. Jadi, dia tidak harus menatap kedua sejoli itu. Tangannya mulai mengeluarkan satu persatu barang belanjaannya dan meletakkannya di dalam kulkas.
“Eh, kita mau nonton, Kak. Lo mau ikut?”
Grizella terdiam sebentar, apel yang akan dia letakan pun mengambang bersama tangannya.
Jalan? Lalu jika Grizella ikut dia akan menjadi kacang goreng? Didiamkan seperti dulu, atau malah ditinggalkan? Huh, bahkan sebelum mereka berpacaran pun Grizella selalu ditinggal, lalu apa kabar jika mereka sudah resmi seperti sekarang?
“Nggak deh, gue mau kerjain tugas sejarah,” bohongnya.
“Sejarah tugas ngapain?” tanya Aarave yang sialnya membuat apel di tangan Grizella terjatuh dan berbunyi gaduh.
Cepat-cepat Grizella membenahi semuanya. “A-anu, cari cerita tentang sejarah.”
Oke baiklah, Grizella akui itu alasan bodoh.
“Sejarah apa, Kak? Paling juga copast nanti. Ikut, yuk?!”
Grizella berbalik, menutup kulkas dan menatap Grizelle yang kini menatapnya. Terlihat begitu tulus, bahkan rasanya Grizella akan tertipu jika mereka benar-benar ingin Grizella ikut.
“Nggak deh, masih banyak tugas lainnya. Ekonomi juga ada.” Setelah itu, Grizella memilih beranjak, enggan di sana lebih lama. Apalagi, Aarave terus menatapnya. Tatapan yang jelas akan membuatnya salah paham.
°^°^°^°^°^°^°^°
Aarave tidak mengerti, rasanya sekarang ini dia begitu jauh dengan Grizella. Bahkan jarak yang dulu dia bentang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jarak yang Grizella ciptakan sekarang. Grizella seperti benar-benar sakit hati atas apa yang dia lakukan. Lalu, jika Grizella tahu dia dan Grizelle berpacaran, akan bagaimana reaksi gadis itu?
Matanya memang menatap layar lebar di depannya dengan Grizelle yang bersandar di bahunya. Film komedi yang entah kenapa tidak bisa membuatnya ikut tertawa. Dia menatap Grizelle yang tertawa pelan, lagi-lagi dadanya berdesir. Namun, pikirannya seolah membandingkan saat dirinya bersama Grizella.
Gadis itu penyuka musik, film romantis, bahkan gayanya feminim. Namun, dia juga sedikit gesrek, apalagi soal keributan yang dia buat. Ceria dan penuh semangat adalah kata yang cocok untuk sosok Grizella.
“Kamu nggak suka filmnya?”
Aarave sedikit tersentak, sesegera mungkin dia tersenyum kepada Grizelle. Grizelle memang penyuka celana, rambutnya tertata sederhana dengan sikap yang lebih kalem dan lebih pandai dari Grizella. Ah, Grizella sebenarnya pandai, hanya saja dia lebih menyukai novel-novel romantis daripada buku-buku pelajaran.
“Suka kok,” jawabnya dengan senyum. Dalam hati Aarave merutuki dirinya sendiri yang sibuk membandingkan Grizelle dengan Grizella.
Rupa mereka sama, tetapi hati Aarave merasa sesuatu yang berbeda jika dia bersama salah satunya.
°^°^°^°^°^°^°
“Heh, lo bisa passing yang bener nggak, sih?!”
Grizella mendengus, dia menatap bola yang baru saja menggelinding keluar area lapangan. Ya, hari ini memang jadwal kelasnya berolah raga, bersamaan dengan kelas Aarave dan Grizelle yang juga berada di lapangan.
Sekolah mereka memang termasuk sekolah favorit yang menyedikan dua lapangan voli, satu lapangan basket, satu lapangan futsal dan sepakbola, juga ada lapangan indoor untuk basket, bulu tangkis, juga tenis meja. Dan hari ini sebuah kesialan karena materi kelasnya dan Grizelle sama-sama bola voli. Meski beda guru dan beda lapangan, Grizella tetap saja merasa ini sebuah kesialan!
“Gue nggak suka main voli,” ucap Grizella sambil melempar kasar bola voli tersebut ke salah satu temannya.
Mesya memaki saat bola itu mengenai kepalanya pelan. “Nggak kasar nggak afdhol, ya, La?”
Grizella hanya menyengir tanpa rasa berdosa. Gadis itu segera mendudukkan diri di sebelah lapangan. “Lo pada main deh, gue mau duduk. Kalau Pak Parman dateng bilang aja gue keseleo.”
Begitulah, banyak alasan dan suka bermalas-malasan untuk pelajaran olahraga. Ah tidak-tidak, untuk semua pelajaran.
“Gue temenin,” ucap Marva.
Grizella mendengus, ditatapnya satu botol air mineral di genggaman Marva sebentar.
“Lo galau nggak sih lihat mereka?” tanya Marva membuatnya ikut fokus menatap ke lapangan sebelah.
Aarave dan Grizelle terlihat saling melempat bola, tawa mereka terlihat begitu alami. Bahagia dan tulus, tidak sama seperti saat bersamanya. Namun, Grizella segera tersadar. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. Tidak boleh membawa perasaan apa pun lagi, Grizella, ingat!
Matanya kembali menatap botol air mineral milik Marva, tentunya si tangan segera meraih dan membuka botol itu cepat. Maling sedikit tidak apa-apa bukan?
Marva terkejut, alih-alih marah karena minumnya diambil paksa, Marva justru tersenyum tipis menatap gadis itu.
“Gue emang salah, bodoh ya sempet ngira dia itu cewek yang gue cari.”
Grizella menaikkan sebelah alisnya mendengar itu. Dia menyudahi aksi minum air mineral hasil merebutnya. “Maksudnya?”
“Enggak.” Marva menggeleng dengan senyum.
“Lo tuh aneh akhir-akhir ini,” ucap Grizella membuat Marva tertawa keras.
“Gue udah bilang kalau gue patah hati.”
“Ya, tapi nggak gini. Jadi kaya gila tahu nggak, sih?!”
“Tapi gue beneran loh, La, mau nggak satuin dua hati yang terluka?”
Grizella mendengus. Segera menutup botol mineralnya dan memberikan botol itu kepada Marva. Berdiri dan kembali ke tengah lapangan adalah hal yang bagus daripada terjebak obrolan ngaco seorang Marva.
°^°^°^°^°^°^°
Sialan.
Kenapa Marva mendekati Grizella?
Kenapa mereka tertawa bersama?
Kenapa Grizella terlihat bahagia?
Aarave tidak terima. Bukankah Grizella menyukainya? Mencintainya?
Harusnya, gadis itu masih terluka. Belum bisa tertawa bahagia seperti saat ini. Dan, apa dia ingin membalas perlakuannya? Memacari Marva mantan dari adiknya?
Sialan.
Grizella belum tahu hubungannya dengan Grizelle.
“Aarave, lempar!”
Aarave mengikuti instruksi, meski matanya tidak menatap orang yang dia lempari bola.
Bugh.
Semua orang memekik begitu suara jatuhnya tubuh seseorang karena lemparan bola dari Aarave.
“Grizelle?!”
°^°^°^°^°^°^°
“Lo nggak punya otak?!”
Aarave terdiam mendengarkan makian dari gadis di depannya.
“Untung cuma luka dikit di kepala, kalau sampai gegar otak atau pecah gimana?!”
“La, santai, dia nggak papa,” ucap Pita menenangkan gadis itu.
Aarave tidak tahu, namun rasa khawatir karena kemarahan Grizella terasa lebih besar daripada khawatir akan keadaan Grizelle. Aarave tidak tahan menatap mata gadis berambut gelombang itu berkaca hampir menangis karena saudari kembarnya terluka karenanya.
Ah, salahkah dia jika ingin memeluk gadis ini?
Tentu tidak. Aarave hanya merasa simpatik karena mereka bersahabat lama. Iya, tentu saja. Lagi pula seperti tidak mungkin jika dia merasa khawatir karena menyukai gadis di depannya ini.
Aarave menyukai Grizelle sejak pertama mereka bertemu.
°^°^°^°^°^°^°
Raka dan Marva menatap gadis itu dalam diam. Mereka berdiri bersebelahan di depan ruang UKS tempat Grizelle tertidur sekarang. Melihat gadis berambut gelombang itu memarahi Aarave, memaki bahkan tidak segan meninju pelan laki-laki itu. Sedangkan Aarave terlihat diam dan memandang sang gadis itu dengan dalam.
“Gue bilang juga apa, dia salah orang, sama persis kaya gue.”
Raka tertawa kecil. “Lihat aja penyesalan dia. Grizella udah nyerah.”
“Tapi hatinya masih sama,” ucap Marva lirih.
“Coba lagi, Va. Gue juga lagi usaha kok.”
Marva dan Raka kemudian terkekeh bersama. Merasa lucu karena mereka berteman dan bersaing dengan alasan satu orang yang sama. Grizella.
°^°^°^°^°^°^°
Jakarta, 2014.
Grizelle kecil terpaksa keluar rumah karena harus mengambil beberapa daun kering untuk melengkapi kolase gambar yang dia buat. Gadis itu berharap tanaman lama di rumah barunya mempunyai berbagai jenis daun agar kolasenya lebih beragam.
“Hai!” Grizelle kecil tersentak saat di depan pagar rumahnya berdiri sosok laki-laki kecil berbaju tim sepak bola berwarna merah. Laki-laki itu tersenyum lebar dengan tampang polos yang menakutkan bagi Grizelle.
“Kita belum kenalan kemarin!” teriak anak itu lagi.
Grizelle pun mendekat, karena dia juga butuh ke sana untuk bertanya adakah daun kering yang bagus di dekat sana.
“Gue Aarave!” ucap anak itu lagi, tangannya terulur meski Grizelle belum membuka pagarnya.
Grizelle pun mengulurkan tangannya lewat sela pagar, dia juga merasa tidak enak jika tidak cepat-cepat membalas uluran tangan anak bernama Aarave itu. “Gue Grizelle, pindahan dari Bandung.”
“Gue udah tahu!”
°^°^°^°^°^°^°^°