Jakarta, 2021.
Akhirnya, setelah sekian lama Grizelle tertidur, kini dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Aarave tersenyum lega menatap sang pacar yang memang baik-baik saja selain ada sedikit luka di kepalanya.
“Gimana? Pusing nggak? Aku minta maaf, ya, karena nggak sengaja kenain bolanya ke kepala kamu.”
Grizelle tertawa kecil, gadis itu mengusap plester di dahinya dengan pelan. “Ini biasa aja kok, jangan khawatir, okey?”
Aarave pun mengangguk pelan. Meski nyatanya dia masih khawatir dengan keadaan Grizelle, apalagi Grizella yang sampai marah-marah karena kesalahannya.
“Emm, Rave!” Grizelle mengatakan dengan nada ragu. Gadis itu melirik takut pada Aarave yang duduk di kursi sebelah ranjangnya.
“Kenapa, hmm?”
Grizelle memainkan kedua ibu jarinya. Gadis itu menggigit pelan bagian dalam bibir bawahnya sebelum mengatakan, “Aku pengen cepet kita publish hubungan kita, aku ... beneran nggak suka sama mereka yang coba deketin kamu.”
“Loh, kok tiba-tiba?” Aarave tampak kebingungan.
Grizelle sendiri kembali bungkam. Gadis itu memikirkan sesuatu dalam otaknya sebelum kembali mendongak dengan mata berkaca-kaca. “Kemarin, ada anak kelas yang nanya-nanya kamu ke aku. Aku nggak suka.”
Bohong. Grizelle bohong soal kata tidak suka untuk masalah anak kelas yang menanyakan soal Aarave karena kenyataannya, laki-laki itu tetap akan bersamanya. Tentu saja alasan sebenarnya adalah Grizella. Kakaknya itu akhir-akhir ini dekat dengan Marva, membuat hatinya benar-benar panas. Wajah bahagia Grizella yang ditunjukkan di atas kesengsaraan dirinya membuat Grizelle membenci hubungan sang kakak dengan Marva. Dan agar kakaknya juga merasakan apa yang dia rasakan, maka hubungannya dengan Aarave harus dipublikasikan bukan?
Aarave mengangguk paham. Laki-laki itu mengambil satu tangan Grizella dan menggenggam dengan hangat. “Aku ngerti, tapi itu belum bisa kita lakuin, Grizelle.”
“Kenapa?” Grizelle menampilkan wajah terluka. “Kamu bilang sayang aku, tapi kenapa nggak mau orang tahu kalau kita pacaran?”
“Kita udah sepakat buat tunda sampe dua atau tiga bulan, apa kamu lupa?”
“Tapi gimana soal mereka?!”
Grizelle membuang muka. Gadis itu terlihat kesal karena keputusan Aarave.
Kini tangan Aarave terulur mengelus lembut pipi Grizelle. “Sabar ya, sebulan lagi pasti bisa.”
Akhirnya, Grizelle mengangguk pelan menuruti apa yang Aarave katakan. Dia sampai lupa kalau bisa saja dia dianggap perebut Aarave jika dia mengumumkan hubungan mereka.
°^°^°^°^°^°^°
Setelah permintaan publikasi yang konyol, Grizelle memintanya untuk mendekati Grizella lagi. Entah apa yang gadis itu inginkan, tapi bagi Aarave niat Grizelle itu baik. Mungkin saja pacarnya itu ingin hubungan dirinya dan sang kakak tidak rusak dan begitu mereka memublikasikan hubungan, Grizella tidak akan terlalu kesakitan. Makanya, pagi ini Aarave sudah berdiri di depan kelas sang mantan menunggu guru yang mengajar keluar dari sana. Tentu saja dengan niat mengajak sang mantan makan bersama.
Klek. Pintu terbuka, guru yang bersangkutan pun sudah berjalan melewatinya. Tahu kelas sudah bebas, Aarave jelas langsung melongok menatap ke dalam, berniat mengajak PT Grizella untuk bergabung bersamanya dan Grizelle seperti biasa.
Senyumnya tiba-tiba muncul hanya karena menatap Grizella yang asyik berkaca sambil memanyunkan bibirnya. Gadis itu tidak menggelombangkan rambutnya hari ini, rambut itu tergerai indah memanjang. Entahlah, tapi Aarave merasa Grizella sedikit lebih cantik jika rambutnya digelombang seperti biasanya.
Kaki Aarave mulai melangkah, ingin mendekat kepada saudara kembar dari pacarnya. Namun, senyumnya memudar, langkahnya pun terhenti karena Marva yang kini merangkul pundak Grizella. Bahkan gadis itu terlihat kesal dalam artian berbeda.
“Marva, gue kaget!”
Marva tertawa tangannya mengacak-acak rambut Grizella dengan sengaja. Aarave panas dingin sendiri, apalagi ketika Marva menatap Grizella kemudian menjawil hidung Grizella. Ah, Aarave benar-benar merasa mereka sedang membalas dendam.
“Grizella!”
Sial. Nada panggilan yang keluar dari mulutnya terkesan marah. Bahkan gadis itu terlihat kaget karena panggilannya.
“Hai, ngapain, Rave?” tanya Marva.
Grizella sendiri memilih menunduk enggan membalasnya.
Laki-laki itu menggaruk tengkuknya. “Mau ngajak lo makan, Grizelle pengen kumpul lagi,” jawabnya sesantai mungkin.
Marva yang kini menatap Grizella pun mengangguk. “Berarti gue ikut juga?”
Bangsat! Ini Aarave boleh mengumpat, ‘kan, ya? Dia benar-benar kesal dengan sosok Marva yang sepertinya tahu tentang dirinya dan Grizelle.
“Gue–”
“Kalau Marva ikut, gue ikut,” ucap Grizella memotong kalimatnya.
Memang benar-benar sial. Aarave padahal ingin membuat alasan agar mantan dari pacarnya tidak bergabung, tapi kenyataannya tidak bisa. Grizella menghalanginya.
“Ya udah, ayo!” Akhirnya, dengan sangat amat terpaksa Aarave menyetujui Marva untuk bergabung.
°^°^°^°^°^°^°
Grizella benar-benar menyesal menyetujui ajakan Aarave untuk gabung makan bersama seperti beberapa hari lalu. Bukan, bukan karena dia cemburu, justru Arave dan Grizelle bersikap normal layaknya sahabat lama. Ya, tahu sendirilah mereka sedang bermain peran seolah tidak ada apa-apa di antara mereka. Padahal Grizella sudah tahu bahwa mereka berdua mempunyai hubungan.
Ah, sampai lupa. Grizella risih sendiri karena Marva yang duduk di sebelahnya. Pemuda mantan dari adik kembarnya itu menempel bagai prangko dengan dirinya. Dia bahkan sesekali memberikan sayur yang ada di piringnya untuk Grizella makan.
Rasanya aneh, Marva seolah sengaja memanfaatkan dirinya untuk memanas-manasi Grizelle. Gadis yang sedari tadi melirik-lirik ke arahnya dan Marva. Tentu Grizella menyadari itu, apalagi dia dan Grizelle duduk berhadapan.
“Va, please jangan bikin gue risih!”
Marva mendelik tajam. Matanya melirik tipis kepada Grizelle yang kini menunduk dan juga pada Aarave yang menaikkan sebelah alisnya menatap mereka.
Senyum lebar Marva tunjukan. Laki-laki itu mengelus pelan rambut Grizella. “Kita lagi latihan pacaran, jadi nggak masalah dong. Iyakan?” ucap Marva dengan desisan pada kata iyakan.
Grizella meringis. Tangannya sengaja mencubit paha Marva dengan keras hingga laki-laki itu menjerit.
“Anj*ng,” desisnya lagi membuat Grizella terkikik.
Gadis itu mencondongkan kepalanya hingga begitu dekat dengan telinga Marva. Tangannya menutupi mulutnya yang sedang berbisik kepada laki-laki itu. “Makanya nggak usah sok. Gue udah bilang jangan main-main, gue nggak mau ngobatin luka patah hati sama orang yang juga baru patah.”
°^°^°^°^°^°^°^°
Bolehkah Grizelle merasa iri? Grizella terlihat begitu akrab dan bahagia bersama dengan Marva sekarang, laki-laki yang baru hitungan minggu putus darinya. Ah, apakah Grizelle salah jika dirinya merasa cemburu kepada mantan pacarnya itu? Karena, jujur saja rasa untuk Marva masih tersimpan di hatinya.
“Makan, Zelle,” ucap Aarave pelan membuatnya mengangguk kecil. Tangannya kembali menyuapkan nasinya.
Niatnya mengajak Grizella gabung agar kakaknya itu merasakan bagaimana cemburunya dia saat orang yang dia suka bersama gadis lain. Tapi sekarang malah dia yang kena batunya.
Tunggu, Grizella harus juga merasakan cemburu bukan? “Arave, nanti anterin aku beli kaos, ya?”
Mata gadis itu melirik Marva dan Grizella sambil menunggu Aarave menjawabnya. Dia sangat berharap dua orang di depannya itu menatapnya dengan panas dingin atau setidaknya tatapan luka.
Aarave tersenyum lembut. “Siap, mau beli di mana?”
Grizelle mendengus pelan, sepelan mungkin agar Aarave tidak mengetahui dengusannya. “Di sebelah toko yang biasa kita beli aja.”
“Emm, bagus-bagus di sana, cocok juga kok bahannya buat kamu.”
Brengsek sekali! Kakaknya maupun Marva bahkan bersikap seolah apa yang dia katakan itu hanya angin. Wajah mereka tidak ada perubahan, malah keduanya semakin hanyut dalam canda berdua.
°^°^°^°^°^°
Marva tersenyum miring mendengar percakapan mereka. Kini giliran kepala Marva yang dicondongkan kepada Grizella. “Anjir, udah aku-kamu-an. Lo nggak ngeh perbedaannya?”
Grizella terlihat meliriknya kesal. Sial, Marva sangat gemas dengan ekspresi gadis itu!
“Gue juga pengen deh aku-kamu-an sama lo.”
“b*****t,” desis gadis itu membuatnya tertawa keras. Tawa yang berhasil mengalihkan atensi sepasang anak manusia yang diwanti-wanti olehnya akan mendapatkan karma.
“Grizella kasar,” katanya sengaja sedikit keras.
“Kasar kenapa?” tanya Grizelle, Marva bisa melihat wajah Grizelle yang tampak kesal di balik senyumnya.
Marva semakin kegirangan. Tangannya sengaja mencubit lengan Grizella.
“Bangs*t, Marva!”
“Zella.”
Ash, Marva mendengus mendengar Aarave menegur gadis di sebelahnya.
"Why?”
“Nggak baik kasar gitu.”
“Baik nggak baik juga urusan gue, Rave. Lagian, Marva nggak papa kok, iyakan?” Grizella menyenggol lengannya.
Marva mau tidak mau mengangguk. Dia tidak mungkin bilang dirinya tidak terima karena takut membuat suasana semakin panas. Lagi pula, sudah ada yang kepanasan karena tingkahnya dan Grizella.
“Nggak masalah,” ucapnya dengan senyum. “Itu panggilan sayang dari dia buat gue kok.”
Mampus. Kalimatnya berhasil membuat raut wajah laki-laki di depannya berubah. Bahkan, dirinya merasa Aarave ingin segera memakan habis dirinya. Dan lagi, Grizelle tampak langsung membuang muka setelah dia menyelesaikan kalimatnya.
Aarave, harusnya dia lebih peka lagi dengan apa kata hatinya. Sumpah, Marva kesal sendiri melihat Aarave yang masih kalah dengan otak dan pikirannya. Jika saja laki-laki itu begitu terlambat menyadarinya, maka Marva tidak akan mengalah. Jika Grizella sudah jadi miliknya, maka jangan harap Aarave akan mendapatkan kesempatan untuk mendekati Grizella lagi.
“Jangan cemburu gitu dong, Rave. Inget, lo cuma mantannya,” ucapnya sengaja, ah bahkan tawanya terdengar begitu keras. Sangat natural seolah dia sedang mengajak mereka semua bercanda, padahal dia sedang mengungkapkan fakta yang belum disadari oleh mereka.
“Gue ... nggak mungkin cemburu.”
°^°^°^°^°^°^°
Jakarta, 2014.
Panas terik begini membuat Grizella enggan turun ke halaman rumah untuk bermain atau menyirami tanaman. Gadis cilik itu lebih memilih membawa dua buku cerita ke balkon dengan segelas es sirup yang mamanya buatkan tadi.
Sebenarnya, Grizella sedikit kecewa karena hari ke-tujuh mereka di rumah baru, dia hanya bertemu laki-laki cilik si pemain ukulelenya dengan waktu yang sebentar. Apalagi, laki-laki itu jarang sekali menanyakan lagi namanya bila bertemu.
Grizella cilik sudah mendudukkan diri di kursi balkon dan hampir membuka halaman baru pada buku ceritanya. Namun, niatnya urung begitu melihat sosok anak laki-laki kecil keluar dari rumah sebelah sambil menuntun sepeda.
Grizella langsung kembali masuk ke dalam rumah, menuruni tangga dengan tergesa-gesa dan berteriak sekenanya meminta izin kepada mamanya untuk main keluar bersama anak tetangga.
“Hei!” Grizella cilik berteriak, mencegah kepergian Aarave cilik yang baru saja mengeluarkan sepeda dan menutup pagarnya.
“Kenapa?”
“Gue mau ikut main, boleh?!” Grizella berteriak. Gadis itu lantas tersenyum lebar saat Aarave menyetujui permintaannya dengan anggukan.
Grizella berlari, keluar dari halaman rumahnya dan berdiri di sebelah Aarave.
“Mau ke mana kita?”
“Lapangan!” ucap Aarave dengan semangat.
Grizella lantas mengangguk. Gadis itu segera naik ke boncengan sepeda Aarave atas izin anak itu. Sepanjang jalan mereka saling bertukar cerita, tanpa perlu menyebutkan nama mereka, yang berimbas saat mereka dewasa.
°^°^°^°^°^°^°^°