Jakarta, 2021.
Aarave tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dia bahagia begitu dekat dengan Grizelle yang memang menjadi tujuan utamanya, namun dia juga merasa tidak suka begitu melihat Grizella dekat dengan yang lainnya.
Ah, iya, Aarave pasti hanya merasa posisinya sebagai pelindung Grizella itu tergantikan, makanya merasa tidak suka. Harga dirinya seperti terinjak begitu tahu bahwa Grizella tidak membutuhkannya. Gadis itu sudah punya dua penjaga baru dan dua sahabat baru. Ya, tentu hanya karena itu. Hanya karena posisinya yang dari segalanya menjadi seperlunya untuk sosok Grizella. Ah, iya, tidak mungkin dia cemburu apalagi mencintai gadis itu!
“Kumpul, ada yang seru di koridor anak IPS!” seru salah seorang dari teman angkatannya. Laki-laki itu berteriak di luar kelas sambil berlari, benar-benar bertugas menjadi toa sekolahan penyebar berita.
Semua anak kelasnya kecuali dirinya dan Grizelle berdiri, berbondong-bondong keluar menuju tempat yang diberitakan. Di sebelahnya, Grizelle menunduk cemas. Gadis itu seperti tidak tenang, bahkan kakinya tidak bisa diam.
“Kenapa, hm?” tanya Aarave lembut. Tangannya meraih tangan Grizelle agar gadis itu sedikit tenang.
“Aku rasa nggak enak. Maksudnya, aku rasa Grizella jadi sumber masalah lagi.”
Aarave mendesah pelan, jika sudah begini maka benar adanya. Keduanya kembar, jelas ikatan batin itu tidak akan berbohong. Dan lagi-lagi dia harus bersabar karena Grizella terlibat perkelahian setelah sekian lama.
“Ya udah ayo ke sana,” ajaknya. Dia sendiri juga tidak bisa berbohong jika dia cemas dengan keadaan Grizella. Tentunya hanya cemas biasa, cemas terhadap sahabat kecilnya.
°^°^°^°^°^°
“Emang nggak bener lo!”
“Sialan, nggak ngaca lo?! Pasti nggak sisiran lo tadi pagi!”
“Zella!” Gadis berambut keriting itu menggeram. Dengan rok abu di atas lutut, seragam putih yang dikeluarkan dan tanpa logo sekolah, juga lengan yang terlipat adalah ciri khas dari Marsha, gadis yang kini menjadi musuh Grizella. Jangan lupakan juga lipstik merah yang melapisi bibir tipis yang tidak diragukan lagi kecerewetannya.
Grizella berdecak sebentar. Tangannya sengaja bertengger di atas pinggang. Dia benar-benar merasa senang karena orang-orang kini berkumpul di sekitarnya. Apalagi, Pita, Loka, Raka, dan Marva juga di sana. Ekspresi khawatir mereka benar-benar membuatnya bahagia.
“Apa Marsha?”
“Lo jangan deket-deket deh sama Raka!”
Sial, Grizella tidak dapat menahan tawanya sekarang.
“Heh, nggak usah ketawa!”
Grizella mengangguk-angguk. Dia mengusap bagian bawah matanya dengan lembut. “Lo siapanya Raka, sih?” tanya Grizella masih dengan tawa kecil.
“Calon!”
“Calon pembantu?”
“Zella anj*ng!”
Setelah itu, Marsha menyerang dirinya. Menubruk tubuh Grizella hingga tersungkur dan jatuh tergeletak di atas ubin.
Sakit sekali.
Ets, tidak masalah! Bukan Grizella namanya jika begitu saja sudah menyerah. Gadis itu diam sejenak membiarkan Marsha menampar pipinya sebelum akhirnya Grizella membalik posisi. Di dudukinya Marsha hingga gadis itu merintih.
Tangan Marsha sudah terulur berniat menjambak rambutnya, tentunya Grizella lebih cepat. Gadis itu menangkap kedua tangan Marsha dan menunjukkan ekspresi yang menyebalkan agar gadis di bawahnya semakin marah.
°^°^°^°^°^°^°
Pekikan beberapa orang dan suara orang terjatuh membuat Aarave semakin panik. Tangannya yang menggenggam tangan Grizelle semakin keras menarik gadis itu. Mereka cepat-cepat menerobos kerumunan dan berhasil mematung begitu menyaksikan Grizella yang sudah duduk di atas tubuh Marsha.
Sialan. Rok gadis itu tersingkap cukup tinggi karena menduduki Marsha.
“Masalahnya apa, sih?”
Terdengar Grizelle bertanya pada salah seorang di sana.
“Zella deketin Raka, inceran Marsha sejak kelas sepuluh.”
Aarave mengepalkan tangannya. Terlebih ketika Grizella kini gantian di duduki oleh Marsha. Bahkan, rambut gadis itu sudah ditarik-tarik tidak karuan.
Ini tidak bisa dibiarkan!
Sayangnya, begitu kaki Aarave akan melangkah, dia kembali terdiam karena Grizella sudah lebih dulu di selamatkan oleh sumber masalah ini.
Raka.
Aarave benar-benar membenci laki-laki itu.
°^°^°^°^°^°^°
Raka dengan kasar menyingkirkan Marsha dari atas tubuh Grizella. Gadis keriting itu tersungkur dengan pekikan keras keluar dari mulutnya. Namun, Raka tidak peduli. Laki-laki itu jelas lebih memilih membantu Grizella duduk. Tangannya segera menarik ke bawah rok Grizella yang tadinya sedikit naik.
“Lo nggak papa, ‘kan?”
Grizella menatapnya. Mata gadis itu justru menyorot jenaka, bahkan bibir bengkaknya tertarik lebar.
“Nggak papa, nggak ada rasanya,” ucapnya sambil menyengir lebar.
Raka mengusap wajahnya kasar. Begitu pun dengan Marva yang berjongkok di sebelah mereka. Pita dan Loka memilih tetap berdiri menatap Marsha dan beberapa temannya dengan sinis.
“Otak dia rada gesrek gara-gara jatuh deh,” ucap Marva membuat Pita dan Loka yang berdiri di belakang mereka meringis setuju.
“Raka, ih, kok dorong-dorong gue, sih?!” gerutuan Marsha mengundang heboh.
Mereka yang berkumpul bersorak, ada yang mendukung Grizella dan ada juga yang mendukung Marsha. Seperti memang sengaja agar perkelahian antar keduanya semakin memanas dan berdurasi lebih panjang.
Yang Raka harapkan hanyalah, berita ini tidak sampai ke telinga para guru.
Raka lantas merangkul Grizella sambil menatap Marsha tajam. “Lo udah gue bilang jangan ganggu Zella masih aja ngeyel!”
Marsha duduk dibantu dua temannya. Rambut keriting sepinggangnya sudah rusak tidak berbentuk.
“Raka....” Panggilan itu begitu manja. Benar-benar membuat si pemilik nama bergidik geli. “Gue cinta banget sama lo, masa lo nolak terus, sih?!”
“Heh, Raka itu nggak suka modelan gatel kaya lo!” sahut Grizella dengan tawa di akhirnya.
Raka semakin mengeratkan rangkulannya agar gadis di sebelahnya itu diam. Namun, namanya juga Grizella, nggak ada masalah nggak akan senang hidupnya. Mulutnya malah menyeringai licik tanpa takut akan adanya serangan kedua dari Marsha.
“Lo!” geram Marsha menunjuknya. Melihat Raka yang semakin memeluk Grizella membuat Marsha geram sendiri. “Raka ih, jangan peluk-peluk dia dong! Peluk aku aja sini!” Gadis itu merentangkan tangannya siap menerima pelukan dari Raka
Benar-benar membuat geli. Raka mendelik tajam menatap gadis berambut keriting itu. “ Pergi, kalau nggak mau pergi, gue nggak mau juga ketemu lo!”
Ajaibnya, Marsha langsung berdiri kemudian pergi meninggalkan kerumunan hanya karena kalimat itu.
Kerumunan pun mulai membubarkan diri karena Marsha yang memang sudah pergi dari sana. Tontonan selesai, tugas penonton pun ikut selesai.
Raka sendiri menatap dua orang di depan mereka yang tidak ikut membubarkan diri. Senyumnya tersungging lebar begitu dua manusia itu melangkahkan kaki mendekati mereka.
“Zella emang gila kalau lagi galau.” Ucapan Loka membuat Grizella tertawa keras. Marva sendiri memilih memeriksa keadaan Grizella.
“Kakak nggak papa?”
Pertanyaan itu menghentikan tawa Grizella. Dia tersenyum tipis kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nggak papa, cuma masalah kecil.”
Grizelle berjongkok, tangannya meraih pipi Grizella dengan sorot mata sedihnya. Apalagi, ketika matanya menangkap sorot khawatir itu dari mata Marva untuk kakaknya.
“Tapi Kakak luka, bajunya juga jadi kusut. Kakak emang harus banget ya kaya berandal gini?”
“Nggak ngotak emang, baju lo sampai rusak cuma karena masalah gini!” lanjut Aarave, nada kasar dan membentak jelas diskripsi yang cocok untuk apa yang baru saja Aarave ucapkan.
Raka, Marva, dan Grizella segera mendongak. Ditatapnya Aarave yang menatapnya tidak suka. Entahlah, dia lebih marah dengan Grizelle yang khawatir dengannya namun mengatakan dirinya berandalan atau malah marah karena sikap Aarave yang mengatakan dirinya tidak berotak.
Pluk.
Jaket yang sedari tadi digunakannya terlempar kasar hingga menutupi kepala Grizella. “Pakai, jangan jadi murahan bisa nggak, sih?! Berantem gara-gara cowok itu malu-maluin!”
Setelah itu, Aarave menarik Grizelle agar berdiri dan menjauh dari sana. Meninggalkan Grizella yang jelas-jelas terluka karena kalimatnya. Gadis itu hanya bisa menggenggam erat jaket yang Aarave lemparkan ke kepalanya.
“Jangan dipikirin,” bisik Marva. Sedangkan Raka lebih memilih ikut berdiri dan mengejar dua orang itu. Layaknya orang kesetanan, Raka berjalan begitu cepat.
“Pengecut lo, Rave!” teriaknya berhasil menghentikan langkah Aarave.
Grizella mendongak, segera berdiri di bantu Marva. Dia harus segera mencegah Raka sebelum memulai pertandingan babak baru dengan Aarave dan menggundang para penonton lagi.
Aarave terlihat berbalik, melepas genggaman tangannya dari Grizelle kemudian mendekati Raka. Matanya berkilat marah, jelas sekali Grizella melihat amarah itu di bola mata Aarave.
“Pengecut?” tanyanya remeh. “Lo yang pengecut, mereka ribut karena lo, tapi lo diem aja!”
Raka terdiam sejenak mengatur detak jantungnya yang belum stabil. Beberapa detik kemudian dia mendongak menatap Aarave. “Gue cuma mau bilang, jangan kasar ke Zella.”
“Gue nggak kasar.”
“Lo kasar!” ucap Raka masih ngeyel. Lagi pula kalimat Aarave tadi memang benar-benar kasar dan melukai hati Grizella.
Grizelle meraih lengan Aarave, menariknya pelan seolah mengode agar laki-laki itu segera pergi. Namun, jelas penolakan keras yang Aarave berikan, dia masih geram, tangannya benar-benar butuh pelampiasan karena apa yang dia lihat barusan.
Bugh.
Grizella memekik bersamaan dengan Grizelle. Sedangkan Pita dan Loka berdecak bersamaan melihat kelakuan para anak laki-laki labil yang penuh emosi. Pita dan Loka sangat jengah menatap keributan yang dilakukan oleh Aarave entah itu kepada Grizella atau Raka. Memangnya apa hak Aarave sampai melakukan pukulan kepada Raka atas apa yang menimpa Grizella? Mantan, haknya apa?!
“b*****t!” maki Aarave cukup keras.
Raka sendiri justru terkekeh sambil mengusap pipinya. “Nggak sadar diri.”
Aarave menggeram, tangannya kembali mencengkeram kerah seragam Raka. Menunduk, menatap Raka yang benar-benar menampilkan ekspresi meremehkan dirinya. Tangannya juga sudah mengepal siap diayunkan. Sayang, semuanya terhenti begitu Grizella berdiri di antara mereka, melepas paksa cengkeraman pada kerah Raka.
“Lo kasar! Lo nyakitin dia!” ucap Raka yang kini berdri di belakang Grizella. Gadis itu sampai memutar bola matanya sebal. Tidak tahukah laki-laki itu sedang dia lindungi? Dia benar-benar berharap Raka diam dan masalah selesai.
“Raka, udah!”
Raka menatap bagian belakang tubuh Grizella. “Nggak, La. Dia keterlaluan!”
“Bro, nggak bakalan selesai. Udah!” Marva bahkan ikut menarik baju Raka. Raka dia kini sudah terseret jauh dengan masih meronta enggan dipisahkan. Namun, Marva jelas tetap menariknya semakin jauh daripada semakin membuat ribut dan menggundang perhatian guru.
“Lo bisa balik, Rave,” ucap Grizella sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan Aarave bersama dengan Pita dan Loka. Nadanya terdengar begitu serak dan berbeda dengan nada saat Grizella melawan Marsha.
Laki-laki itu pun menurunkan kepalan tangannya perlahan dengan perasaan sesal. Nada bicara Grizella berhasil mengusiknya, ditambah lagi perkataan Raka yang sempat dia tentang, tapi malah merasuk ke otaknya dan membuat Aarave berpikir bahwa dia memang sejahat itu kepada Grizella. Meski sebenarnya Aarave tidak bermaksud melukai Grizella, dia hanya khawatir pada gadis itu, takut dia terluka, dan kenapa-kenapa. Sial saja dia karena nada yang keluar dari mulutnya justru nada tidak mengenakan, bahkan kalimatnya terlampau kasar, mungkin.
“Rave?”
Aarave tersentak kaget, secepat mungkin dirinya tersenyum dan merangkul Grizelle. Mereka berjalan berlawanan arah dengan Grizella yang kini berbalik menatap dua orang itu dengan senyum miris.
“Emang paling bener lo harus ikhlas,” ucap Pita dan Loka yang dianggukinya dengan mantap.
°^°^°^°^°^°^°
Jakarta, 2014.
“Aarave, ayo sini!”
Grizella turun dari boncengan sepeda Aarave begitu sampai di lapangan yang anak laki-laki itu maksud. Dia bahkan jadi tahu nama tetangga barunya dari teman-teman yang memanggilnya.
“Ayo!” Aarave menggandeng tangannya dengan lembut. “Temen-temen kenalin tetangga baru gue!”
Anak-anak lantas berkumpul. Merek mengerubuti si gadis cilik cantik yang Aarave bawa. Wajah Grizella jelas tersenyum senang karena sebentar lagi temannya akan banya seperti dulu saat di rumah lama.
“Namanya Grizelle, ayo kenalan!”
Grizella kecil melunturkan senyum. Gadis itu menyambut satu persatu ulura tangan anak-anak kompleks dalam diam. Dia ingin mengatakan jika namanya itu Grizella, bukan Grizelle, tapi dia tidak bisa. Dadanya terlanjur sesak ingin menangis karena Aarave menganggapnya sebagai Grizelle.
°^°^°^°^°^°^°