Jakarta, 2021.
Grizella jengah, kelasnya begitu membosankan, pelajaran kali ini benar-benar membuat kantuknya tidak dapat ditahan. Bahasa Indonesia, bahkan gurunya sendiri pun tampak bergumam kesal karena bacaan yang sebegitu banyak terpampang di layar monitor.
Grizella menatap malas pada Pita dan Loka yang tertidur lelap, semakin malas lagi ketika mendapati wajah Marva yang tersenyum lebar menatapnya. Ya, anak itu pindah duduk di sebelahnya tanpa mampu dicegah. Lagipula, tidak ada yang akan berani dengan Marva yang superduper cerewet, bahkan cerewetnya melebihi perempuan.
“Apaan?” tanya Grizella malas.
Marva mengganti tangan kanannya dengan tangan kiri untuk menopang dagu. “Gue lagi mandang bidadari.”
Sialan. Rasanya Grizella ingin mencabik-cabik mulut Marva!
“Lo gila. Halu ya kalau gue Grizelle?!” desis Grizella.
Gadis itu benar-benar jengah dengan drama yang Marva ciptakan. Mengobati patah hati bersama dengan orang yang patah juga, ah lebih cocok judulnya apa ya kalau begitu?
“Nggak.” Marva menggeleng. “Lo mau denger cerita lucu?”
Grizella benar-benar malas. Bola matanya memutar jengah, tangannya segera meraih earphone di saku kemejanya dan memasangnya di telinga. Meski tidak tersambung dengan ponsel, setidaknya berhasil membuat Marva terdiam. Dia malas mendengarkan Marva bercerita tentang hal tidak masuk akal dalam pikirannya.
°^°^°^°^°^°^°
“Dua minggu,” ucap Aarave girang. Laki-laki itu tersenyum menatap Grizelle yang sedang fokus mencatat pelajaran yang di sampaikan. Dia benar-benar tidak menyangka bisa menjadi pacar Grizelle selama dua minggu ini.
“Rave.”
Aarave menoleh, menatap Juna yang kini menatapnya. “Lo beneran putus sama Grizella?”
Dengusannya terdengar nyaring. Aarave tidak suka ada yang bertanya tentang hal pribadi miliknya.
“Kenapa emang?”
Wajah Juna berbinar, seolah hanya dengan pertanyaan kenapa sudah memberinya jawaban bahwa apa yang dia tanyakan benar adanya.
“Gue mau ....” Juna menyatukan dua telunjuk tangannya dengan senyuman lebar.
“Ngaco,” ucap Aarave.
“Serius, gue mau deketin Zella. Bolehkan?”
Belum jadi Aarave menjawab, Juna lebih dulu kembali berbicara. “Eh ya ngapain izin elo, ya? ‘Kan lo bukan siapa-siapanya Zella lagi.”
Brengs*k. Kenapa kalimat bukan siapa-siapa membuat egonya terganggu?!
Ah, Juna tidak tahu bahwa dirinya sahabat Grizella sejak kecil. Sahabat yang akan menjaga dua gadis itu dari laki-laki menyebalkan seperti Juna.
°^°^°^°^°^°^°
Sialnya Juna membuktikan keinginannya. Laki-laki itu bahkan dengan kepedean tingkat dewa berjalan beriringan dengan Huda mendekati Grizella yang sedang duduk makan bersama teman-temannya. Juna dan Huda, mereka menghampiri meja yang jelas-jelas sudah terisi 5 orang.
“Boleh gabung?”
Grizella yang tadinya asyik tertawa karena cerita dari Pita dan Loka pun mendongak. Matanya bersitatap dengan mata Juna yang kian menyipit karena senyumnya.
Juna, laki-laki itu berperawakan tinggi. Badannya ideal dan tidak kalah tampan dari Raka.
“Emm, boleh, sih, cuma penuh. Mungkin muat satu lagi,” ucapnya sambil melirik bangku sebelah Marva.
Juna tersenyum semakin lebar. Ditatapnya Huda dengan kode keras agar laki-laki itu enyah dari sana.
Seolah mengerti, Huda langsung menggaruk tengkuknya. “Gue mau ke toilet deh, mules tiba-tiba.”
Setelah itu, Huda menghilang. Maksudnya, pergi dari kantin. Membiarkan Juna yang memang berencana mendekati Grizella.
“Boleh, ya?”
Marva dan Raka saling pandang. Terlebih ketika Juna sudah menduduki bokongnya di sebelah Marva.
“Siaga satu,” ucap Raka dengan dengusan.
°^°^°^°^°^°^°
Lagi-lagi istirahat mereka habiskan di atas rooftop sekolah. Memakan bekal buatan Grizelle lalu bercerita singkat tentang hari kemarin.
Aarave tersenyum begitu Grizelle tertawa karena ceritanya.
Ah, kenapa bahagia itu sederhana?
“Tapi, Rave, untungnya kemarin bunda nggak manggil aku juga buat cicip!” ucapnya masih dengan tawa.
“Ya, beruntungnya kalian nggak dijadiin kelinci percobaan bunda.”
Grizelle menyuapkan satu sendok nasi. “Besok minggu depan kelas renang.”
Aarave mengangguk. “Udah persiapan?”
“Udah, cuma ... aku kepikiran kak Zella yang nggak bisa berenang.”
Aarave terdiam. Dia juga kepikiran tentang itu. Rasa khawatir tiba-tiba menyeruak, terlebih Grizella pernah hampir mati tenggelam karena sok-sokan mau berenang di kolam renang Vila dua tahun lalu.
“Aku ajarin Grizella lagi atau gimana?”
Pertanyaan Aarave membuat Grizelle cemberut. Aarave tersenyum lembut. “Boleh? Kamu nggak cemburu, kan?”
Grizelle tertawa pelan, secepat kilat mengganti ekspresi tidak sukanya dengan tawa. “Kan kita masih backstreet, Rave, mana bisa aku larang!”
Binar mata Aarave meredup. Perkataan santai dari mulut Grizelle seolah menamparnya dengan keras, mengatakan seberapa brengseknya dia karena telah membuat dua kembar itu terjebak dan terluka hanya karena dirinya.
Segera mungkin Aarave kembali tersenyum, tangannya meraih kedua sisi wajah Grizelle dan menggeram gemas. “Kalau cemburu bilang aja dong! Aku bakalan nurut kok kalau kamu nggak ngebolehin.”
Dan berhasil, Grizelle tersenyum lebar bahkan menganggukkan kepalanya antusias. “Jangan, ya? Aku nggak suka kamu deket-deket sama kakak aku.”
Aarave pun mengangguk sebagai jawaban. Ya ... semoga saja Aarave menepati ucapannya. Semoga!
°^°^°^°^°^°^°
Bunda Aarave menyambut senang kedatangan Grizella, pasalnya memang wanita berusia akhir tiga puluh tahun itulah yang mengundangnya. Dengan sumringah, Soraya mengajak Grizella duduk. Di meja memang sudah tertata beberapa macam kue kering dan juga lauk pauk.
Grizella sampai geleng-geleng kepala memandang jumlah makanan yang Soraya sediakan.
“Bunda mau ngadain acara apa, sih, kok masak sampai segini banyak?”
Bunda Aarave yang sedang menyiapkan salad buah tertawa pelan. “Ini tadi Bunda habis lihat di YouTube itu loh, La. Jadi, Bunda iseng aja praktik.”
Grizella tertawa geli. “Terus kalau gini mau diapain, Bunda?
“Kan ada kamu sekeluarga juga keluarga Bunda,” jawabnya cukup masuk akal. Cuma ... Grizella tidak yakin jika Ayah dan Aarave akan menyentuh masakan Bunda yang ini. Mereka anti menyentuh masakan eksperimen yang belum jelas rasanya. Dan sebagai tumbalnya, pasti Grizella yang akan mencobanya terlebih dahulu.
“Bunda, masih mau bikin apa lagi?”
“Udah sih, tinggal bagi aja ke wadah-wadah kecil sama masuki kue itu ke toples biar awet!”
“Zella bantuin deh, wadahnya di mana Bunda?”
“Noh, di atas lemari itu. Kemarin si Arave yang naruh.”
Setelah itu, Grizella melangkah mendekati lemari terdekat dari dapur. Nakas yang menjadi penyekat antara dapur dan ruang makan.
Grizella menggerutu pelan begitu sadar plastik yang Bunda maksud diletakkan di bagian paling atas lemari. Benar-benar Aarave, mentang-mentang dia tinggi jadi bisa meletakan apa pun seenaknya. Ini kalau Bunda yang ambil pasti Aarave akan terkena amukan begitu menampakkan batang hidungnya.
“Bunda, kursinya Zella tarik satu, ya?”
“Kenapa?” tanya Bunda mengernyit heran.
Grizella menyengir lebar, gadis itu menunjuk atas lemari dengan wajah polosnya. “Zella terlalu imut buat bersanding sama lemari ini, Bunda.”
Sialnya, ucapan Grizella membuat Bunda tertawa cukup keras. Hal itulah yang mengundang kedatangan seseorang, seseorang yang jelas hadirnya tidak Grizella harapkan.
“Seru banget, ya?” ucapnya dengan canggung. Tentu saja, karena laki-laki itu sudah melukainya.
“Iya, itu si Zella mau pacaran sama lemari. Dikira kamu apa ya, A?” canda Soraya.
Grizella sendiri tersenyum kaku. Dia tidak menyangka jika Aarave ada di rumah. Grizella pikir Aarave pergi bersama Grizelle tadi.
“Grizelle nggak ikut, Bun?” tanya Aarave tanpa menanggapi candaan Bunda.
Sialan, kenapa yang merasa sakit justru Grizella?
“Pergi, tadi Bunda udah datengin yang ada cuma Grizella.”
Aarave mengangguk pelan kemudian menatap Grizella cukup lama. Gadis itu mulai menaiki kursi dalam diamnya.
“Mau gue bantuin?” tawar Aarave berhasil membuat Grizella terkejut dan oleng hingga akhirnya terjatuh.
“Aww!”
°^°^°^°^°^°^°
Jakarta, 2015.
“Bundaaa, Grizella bawain kue dari mama!”
Grizella mulai terbiasa dengan Soraya yang menyuruhnya memanggil bunda. Selama satu tahun di rumah baru, selama itu pula Grizella dan Grizelle semakin akrab dengan keluarga Aarave. Terlebih begitu salah satu ada acara keluar kota, pasti anak mereka akan mengungsi ke rumah tetangga. Dan dari situlah kedekatan Aarave, Grizella, dan Grizelle bisa mengental dan semakin erat.
“Wahh, taruh aja di atas meja dapur, La! Bunda baru kasih makan ikan ini.”
Grizella menurut, gadis itu meletakan toples berisi kue kering dari sang mama di atas meja makan. Begitu dia ingin berpamit pulang, dia mengingat Aarave. Gadis cilik itu belum bertemu dengan laki-laki bernama Aarave karena hari ini hari libur mereka.
Dengan langkah pelan, Grizella menaiki tangga menuju ke kamar Aarave. Senyumnya terukir begitu menemukan Aarave yang sedan bermain game di pojok lantai dua rumah mereka. Begitu Grizella ingin menyapa, Aarave malah lebih dulu mentapnya.
“Grizelle?! Sini main bareng!”
Grizella ingin sekali mengatakan jika dirinya adalah Grizella, bukan Grizelle, tapi dia takut kejadian tujuh bulan lalu terulang lagi, ketika dirinya mengatakan jika dirinya Grizella bukan Grizelle. Anak laki-laki itu menyuruhnya pergi dan memanggilkan sosok Grizelle.
“Main apa kamu?” tanya Grizella riang. Gadis itu sudah melakukan ini selama tujuh bulan, kerap diam begitu Arave memanggilnya Grizelle hanya demi bisa berdekatan dengan laki-laki itu. Lagi pula bukan sepenuhnya salah Grizella, tapi juga salah Aarave. Salah laki-laki itu karena tidak memperlakukan Grizella seperti memperlakukan Grizelle.
°^°^°^°^°^°^°