Nyaris Saja

715 Words
Kevin tertidur selama hampir satu jam. Tiba-tiba saja ia merasa kepanasan. Baru saja akan bergerak, ia menyenggol sesuatu. Dilihatnya, Anne tertidur. Kevin baru ingat kalau ada Anne di sini. Wanita itu juga tampak berpeluh. Kevin menyalakan pendingin ruangan. Kemudian duduk memerhatikan Anne. Gadis yang Kevin kenal dulu sudah sangat dewasa. Status sepupu jauh, membuat mereka jarang sekali bertemu. Mungkin, bisa dihitung hari. Itu juga saat mereka masih kecil dan remaja. Kevin tidak bisa mengingat dengan jelas sosok Anne dahulu. Namun, Kevin sungguh menyukai Anne yang sekarang. Dengan kulit kuning langsat, wajah eksotis, serta bibir bawah yang sedikit tebal. Jika memakai lisptik, tentu akan lebih memesona. Tidak salah, jika Bryan langsung tertarik di awal pertemuan mereka. Kevin teringat dengan permintaan Bryan untuk meniduri Anne. Sejauh ini, Kevin tidak berminat melakukannya. Walaupun, Anne itu sungguh menggoda. Tangannya terulur mengusap wajah Anne. Jika tidak pakai baju, mungkin, Anne terlihat semakin cantik. Anne terusik oleh sentuhan Kevin. Ia langsung terduduk, dan meminta maaf."Vin, ma-maaf, aku ketiduran di kasur kamu." "Nggak apa-apa. Aku yang minta ditemani,kan?" Anne menelan ludah. Wanita itu mengangguk dan bersamaan dengan itu, matanya tertuju pada pangkal paha Kevin. Jantungnya berdebar kencang. Kevin menyadari akan hal itu. Ia membiarkan Anne melihat miliknya berlama-lama. Sampai wanita itu sadar, dan mengalihkan pandangan. "Kamu baik-baik aja, Ann? Tadi, kamu berkeringat karena kepanasan. Jadi kunyalakan pendingin ruangan." "Ah, iya, memang panas sekali. Aku lupa nyalakan. Maaf, kamu juga kepanasan, ya?" Anne tersenyum kikuk. "Bajumu basah,"kata Kevin parau. "Iya, nanti juga kering, sih." Anne menjawab dengan wajah panas. Otaknya membayangkan dirinya bercinta dengan Kevin. Padahal, baru semalam ia melakukannya dengan Bryan. Tidak, sampai detik ini, Anne masih terjaga dengan baik. Bryan tidak mampu menembus miliknya. "Anne!" Kevin meraih dagu Gadis itu lembut."Kau melamun terus, Ann. Ada apa? Apa kau rindu dengan rumah?" "Sudah pasti, Vin, tapi, hidup terus berjalan. Semua tidak akan kembali seperti semula. Aku harus menjalani hidupku. Tentunya bersama kalian." Anne tersenyum tipis. "Tentu saja, aku dan Bryan bertanggung jawab atas kau di sini." Kevin merengkuh Anne. Wanita itu kaget, terdiam beberapa detik. Kemudian kedua tangannya bergerak membalas pelukan Kevin. Pelukan yang erat dan membuat nyaman itu, terjadi begitu lama. Keduanya seakan lupa, kenapa mereka berpelukan. Wajah Kevin tenggelam di lekukan leher Anne. Sementara Anne yang sudah b*******h sejak semalam, tersulut oleh embusan napas Kevin. Ia menengadah, menampakkan leher jenjangnya pada Kevin. Pria itu mampu mengecupnya dengan leluasa. Kevin memeluk pinggang Anne. Sembari mengecup leher dan wajah wanita itu, tangan Kevin bergerak ke dalam kaus yang dikenakan Anne. Kaitan bra Anne terlepas oleh satu hentakan jari Kevin. Anne merasakan payudaranya terlepas dari cengkeraman bra. Kini udara memasuki setiap rongga yang ada. Mengusap permukaan payudaranya yang mulus. Kevin mengangkat kaus Anne. Wajah Anne merah, malu, tapi, ia menginginkan hal ini terjadi. Bagaimana urusan dengan Bryan, itu perkara nanti. Ia ingin melepaskan diri, dari denyutan miliknya. Sekujur tubuhnya bergetar, lidah Kevin menyapu p****g kecoklatan miliknya. Anne memberanikan diri, mencium tubuh Kevin yang bisa ia jangkau. Kevin cukup senang mendapatkan reaksi Anne. Ia membaringkan wanita itu, melucuti pakaiannya tak tersisa. Anne tidak bisa menahan suara desahannya. Semua lolos begitu saya dari mulutnya. Tangannya bergerak menyentuh milik Kevin. Sudah begitu keras. Perlahan, ia menurunkan celana dalam Kevin. Bulu-bulu lebat itu terlihat jelas. Menggoda Anne untuk menyentuhnya. Kevin mengatur napas, memberikan kesempatan Anne menurunkan dalamannya. Milik Kevin, menegang seketika. Keduanya sudah siap untuk menyatukan diri. Kevin menggesekkan miliknya pada milik Anne. Menekannya perlahan, sembari melihat ekpresi Anne. Kevin menekannya pelan, gadis itu meringis. Kevin menekannya sedikit keras. Pintu kamar diketuk. Anne dan Kevin bersamaan melihat ke arah pintu. Keduanya memisahkan diri."Sebentar, Ann, aku harus cek siapa." Kevin berjalan tanpa memakai apa pun ke pintu. Ia bicara pada orang di balik sana. "Siapa?" "Saya, Pak. Ada masalah di kantor. Bapak harus segera ke sana" "Baik, tunggu aku di bawah." Kevin mengembuskan napas berat. Ia melirik Anne. Andai Anne tidak virgin, tentu ia bisa melakukannya dengan cepat. Tapi, sekarang, sepertinya tidak bisa dilanjutkan."Ann..." "I-iya?" "Kita tidak bisa melakukannya dengan cepat sekarang. Karena punya kamu masih tertutup rapat. Kita lanjutkan nanti, ya. Aku harus pergi." Kevin mengecup kening dan bibir Anne. "Baik, Kevin." "Aku siap-siap dulu." Anne memunguti pakaiannya. Meskipun ia dan Kevin belum sampai pada penyatuan diri, Anne sudah merasakan kepuasan pada dirinya. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD