"Kau gila, Bry!"
"Aku serius, Kevin. Ayolah!" Bryan sedikit memaksa.
"Kau yang ingin bercinta, kenapa aku harus repot." Kevin menghabiskan tehnya. Ia berdiri, merapatkan selimut untuk pindah ke kamar.
"Kevin!" Bryan kesal karena keinginannya ditolak.
"Nggak!" Kevin berjalan menaiki anak tangga dengan tenang. Ia tidak mau tidur dengan Anne karena paksaan. Kevin ingin, semuanya terjadi secara alami. Anne pasti kaget, jika tiba-tiba ia datang, merayu, dan mengajaknya tidur. Anne juga mungkin akan menolak.
"Kau nggak ke kantor?"tanya Bryan dari bawah.
"Aku mau istirahat. Sementara, semua kuserahkan pada Goklas. Bila perlu, kau gantikan aku sana." Kevin bicara dari lantai dua.
Bryan menaiki anak tangga dengan cepat. Ia mengejar Kevin sebelum pria itu mengunci pintu kamar."Aku yang ke kantor." Bryan ikut masuk ke dalam kamar.
"Tumben?"
"Tapi, kau sekamar sama Anne,ya!" Bryan masih saja membahas itu. Padahal, Kevin tidak tertarik. Ia ingin tidur saja seharian ini.
"Apaan, sih!" Kevin mendecak.
"Ya sudah, aku nggak ke kantor." Bryan bersedekap. Sepertinya ia berusaha marah atau menunjukkan sikap protes pada sang Kakak.
Kevin terkekeh sembari menggelengkan kepalanya."Hah, baiklah. Pergilah ke kantor dan belajar yang rajin. Nanti akan aku usahakan. Izinkan aku istirahat dulu. Aku kurang tidur."
"Yes!" Bryan memekik senang."Aku siap-siap dulu." Pria itu keluar kamar Kevin dengan riang. Sementara Kevin, hanya bisa tertawa kecil.
Bryan bersiap-siap pergi ke kantor. Sementara itu, Anne baru saja selesai mandi. Rambutnya tergelung handuk putih. Bulir-bulir air di tubuhnya masih menempel, mengeluarkan aroma bunga lavender. Ia duduk di depan meja rias. Menatap dirinya di depan cermin. Kemudian, ia teringat tentang hubungannya dengan Bryan semalam. Sekujur tubuhnya terasa panas. Ingatannya melayang pada setiap sentuhan bibir dan lidah Pria itu. Sayang sekali, semalam, tidak sampai pada tahap akhir. Anne tidak sampai pada pelepasannya. Anne rasa, ia sudah sampai pada masa di mana ia harus merasakan hubungan intim. Tidak apa bersama Bryan. Pria itu cukup tampan, memiliki badan yang bagus. Ditambah, pria itu sangat manis dan romantis.
Pintu kamar Anne dibuka. Bryan muncul, berpakaian rapi. Persiapan lelaki dengan perempuan memang sangat berbeda. Dalam waktu sekejap saja, Bryan sudah berpakaian lengkap."Hai!"
"H-hai."
Bryan tertegun melihat kulit mulus berbalut handuk itu. Miliknya menegang seketika. Ingin memasuki Anne sekarang juga. Tapi, tentu tidak akan sampai. Bryan merasa malu pada wanita itu. Niatnya untuk memasuki Anne, akhirnya diurungkan.
"Kau mau ke mana, Bee?"tanya Anne sembari melepas gelungan handuknya.
Bryan menghampiri Anne, memegang kedua pundak. Mereka bertatapan di cermin."Aku harus ke kantor menggantikan Kevin. Dia sakit."
"Iya, aku tahu. Apa aku perlu panggil dokter?"
"Tidak perlu. Tapi, aku minta, kamu menengoknya sesekali. Mungkin, dia butuh sesuatu. Dia ada di kamar sebelah." Bryan menaruh harapan, kevin bisa membantunya.
Anne berdiri, kemudian menatap Bryan di hadapannya."Aku takut Kevin marah. Itu kamar pribadinya, Bee."
Bryan merapikan rambut Anne yang belum tersisir. Rambut basah setelah keramas. Berantakan, namun terlihat seksi. Bryan sudah membayangkan yang tidak-tidak saja."Aku sudah bilang padanya. Nggak akan apa-apa kok."
Anne mengangguk."Baik. Aku akan menjaganya."
Bryan mengecup bibir Anne."Aku pergi, An. Semoga harimu menyenangkan."
"Iya. Hati-hati." Anne mematung di tempat menyaksikan kepergian Bryan. Andai saja, ia tidak malu mengatakan apa yang ia rasakan saat ini. Tentu Bryan tidak akan berangkat ke kantor. Anne terduduk lemas di sisi tempat tidur. Kedua pahanya saling bergesekan, seakan ada sesuatu yang mengganjal dan belum dituntaskan. Apa yang harus Anne lakukan.
Anne pun berusaha mengenyahkan pikiran kotornya. Ia merapikan rambut, berpakaian, memoles wajahnya sedikit agar tidak terlihat pucat. Setelah itu, menyambut asisten rumah tangga yang baru datang. Mengawasinya sejenak, sekaligus ia belajar mengurus rumah. Mungkin, suatu saat itu akan sangat diperlukan.
Jam makan siang tiba. Anne harus mengantarkan makanan ke kamar Kevin. Anne membuka pintu dengan sangat hati-hati. Kevin tertidur nyenyak, dengan posisi terlentang. Tidak memakai apa pun kecuali celana dalam ketat yang membentuk miliknya. Anne tertegun, dengan tangan gemetar, ia meletakkan nampan ke atas nakas. Ia menarik selimut untuk menutupi setengah badan Anne. Namun, tangan Kevin langsung mencekal, ketika selimut itu baru sampai paha.
Anne tergagap. Tiba-tiba saja ia merasa sangat takut."Ma-maaf. Aku takut ...kamu kedinginan karena sedang sakit."
Kevin menatap mata Anne begitu dalam."Ada apa?"
Anne menunjuk ke arah nakas."Aku mengantarkan makanan. Ini sudah jam makan siang."
Kevin mengangguk lembut. Ia tersenyum hangat."Terima kasih, An. Kau sudah makan?"
Anne menggeleng pelan."A-aku bisa nanti saja."
Kevin duduk, kemudian bersandar di sandaran tempat tidur. Anne melihat lekukan otot-otot Kevin. Tidak besar, hanya saja, terlihat begitu seksi.
"Ayo, kita makan bersama." Kevin meraih nampan, kemudian menyuapkan untuknya, lalu menyuapkan nasi ke Anne.
"Harusnya aku yang melakukan ini, Kevin."
"Kalau begitu, lakukan, lah!" Kevin tertawa kevil. Menyerahkan nampan pada Anne.
Anne mengambil alih. Permintaan Kevin untuk menyuapkannya, sudah dikabulkan. Ia juga ikut makan, satu sendok yang sama dengan pria itu.
"Sudah selesai." Anne merapikan nampan.
"Nanti saja, An. Tinggalkan itu,"perintah Kevin.
Anne mengangguk pelan."Kau memerlukan bantuanku?"
"Ya."
"Apa itu?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin ditemani ngobrol. Kemarilah." Kevin menepuk sisi tempat tidur yang masih kosong.
Anne menurutinya dengan cepat. Duduk di sebelah Kevin dengan tenang."Apa aku harus panggilkan dokter?"
"Tidak. Aku hanya perlu istirahat yang cukup."
"Kalau begitu istirahatlah,"kata Anne.
"Tapi, berjanjilah untuk tetap di sini, ya?" Kevin meminta Anne untuk terus ada di sebelahnya. Sekaligus berharap, dia memiliki keberanian untuk mendekati wanita itu.
"Iya." Anne membantu Kevin berbaring. Sesekali, ia mengusap puncak kepala Kevin yang sedikit panas. Sementara Kevin melanutkan tidurnya. Mungkin sepuluh sampai lim belas menit saja.
Anne terdiam, memerhatikan wajah tampan Kevin. Ia mengembuskan napas berat, tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Kevin memintanya agar tidak kemana-mana. Akhirnya, Anne berbaring dan tertidur.
???