Percintaan yang selalu gagal

1384 Words
"Oh...aku boleh cari pekerjaan di sini?" Bryan berdiri di hadapan Anne."Tentu saja boleh. Nanti aku dan Kevin akan bantu carikan pekerjaan yang cocok." Senyum Anne mengembang. Tentu saja ia bisa mudah mendapatkan pekerjaan, Kevin dan Bryan merupakan petinggi perusahaan. Mereka tentu bisa menggunakan kekuatan itu untuk membantunya."Thanks,Bee..." "Bee?" Bryan menaikkan sebelah alisnya. "Susah menyebut Bryan, jadi...aku panggil Bee saja." Gadis manis itu tertawa kecil. "Panggilan yang manis..." Bryan duduk di sebelah Anne, lalu meraih wajah Anne dan meraih dagunya,"...dari gadis yang sangat manis." Anne hanya bisa mematung saat tatapan mereka saling mengunci. Alis tebal dan mata tajam Bryan mampu membuatnya terpaku. Bryan dan Kevin sama-sama memiliki mata tajam dan alis yang tebal. Namun, bentuk hidung mereka sedikit berbeda. Namun, keduanya memiliki ketampanan yang sama. Tapi, Bryan sangat ramah dan hangat sementara Kevin justru memiliki sifat pendiam dan dingin pada siapa saja. "Kau lihat apa?" Anne menelan ludahnya."Tidak apa-apa." Bryan mendekatkan wajahnya."Kau terpesona padaku ya?" Anne mengerjapkan matanya beberapa kali."Ah, bukan itu." "Tidak apa-apa. Aku suka jika itu memang benar. Aku juga terpesona padamu." Bryan mengusap pipi Ana dengan lembut. Suasana mendadak hening, kemudian Bryan mengecup bibir Anne. Tubuh Anne membatu. Napas hangat yang mengenai wajahnya, membuat Anne menahan napas. Lalu, perlahan ia memejamkan mata, membuka mulutnya agar bibir Bryan bisa leluasa bergerak. Bryan menghisap bibir bawah Anne, dengan sangat lembut. Perlahan ia mendorong tubuh Anne ke belakang hingga terhempas ke tempat tidur. Baru satu hari Anne di sini, tetapi, Bryan sudah terpesona dengan wanita itu. Bahkan sekarang ia sudah bisa menguasai tubuh Anne sampai gadis itu menggelinjang. Bryan melepaskan semua pakaian Anne. Dalam hitungan detik saja Anne sudah terhipnotis dengan lelaki tampan itu. Ia membiarkan Bryan 'mencicipi' setiap inchi tubuhnya. Jantung Anne berdebar kencang, Bryan mulai menelanjangi dirinya sendiri. Wajahnya merona ketika melihat Bryan tanpa sehelai benang, berdiri di hadapannya. Pria itu mendindihi Anne dan melumat bibirnya. Gairah keduanya sama-sama membara. Sekarang, Bryan bersiap-siap memasuki Anne, miliknya sudah sangat keras. Napas Anne tertahan saat merasakan milik Bryan digesekkan pada dirinya. Napas Bryan memburu, sudah tidak sabar ingin memasuki Anne. Tapi, baru saja miliknya menekan milik Anne, ia buru-buru menggenggam miliknya dan menjauh dari wanita itu. Anne sempat kebingungan. Ia tidak tahu kalau Bryan sudah sampai pada pelepasannya. Pria itu malu sampai harus menyembunyikan kenyataan ini. ❤ Kevin memegangi kepalanya yang berdenyut. Ia baru saja tiba di rumah pukul empat pagi tadi. Semalaman tidak tidur. Banyak sekali yang harus ia urus sebagai penerus perusahaan peninggalan sang Ayah. Ia harus menyelesaikan semuanya sendiri. Bryan, sang adik, tidak paham apa pun. Biar pun begitu, Kevin tetap sabar. Sesekali, ia mengajarkan atau memaksa Bryan berkecimpung di sana. Ruang tengah masih gelap. Kevin terduduk lelah di sofa. Suara derap langkah mendekat. Lampu menyala dan Anne terkejut. "Kevin..." Pria itu tersenyum tipis."Hai, maaf membuatmu kaget." "Tidak. Apa kau baru pulang?" Anne melihat pakaian Kevin masih yang dipakai semalam. Wajah lelah Kevin mengisyaratkan, pria itu belum tidur. "Sekitar dua jam lalu. Tapi, aku nggak bisa tidur,"kata Kevin. Anne turun cepat-cepat. Kemudian menghampiri Kevin."Aku akan buatkan teh lemon. Semoga membuatmu rileks." Ia segera pergi ke dapur. Sementara Kevin pasrah saja. Mau menolak, ia sudah tidak memiliki tenaga. Ia memegangi pelipisnya sembari memejamkan mata. Beberapa menit, Anne kembali dengan secangkir teh lemon hangat di tangannya."Kevin..." Kevin membuka mata, memperbaiki posisi duduknya."Terima kasih, An. Maaf merepotkanmu." "Dengan senang hati, Kevin. Ayo diminum." Anne duduk di sofa single di sisi kiri Kevin. Kevin menyeruputnya sedikit. Perasaannya sedikit membaik. Anne memerhatikan pria itu serius. Kondisi Kevin benar-benar seperti sedang tidak baik."Kevin, ayo buka pakaianmu. Itu sudah kamu pakai seharian. Sudah tidak bersih." "Ah~ ini..." Kevin melihat dirinya sendiri. Kemudian ia menuruti apa kata Anne. Ia membuka jas, kemeja, serta kaus yang ia pakai. Sementara Anne tiba-tiba pergi, mengambil semua pakaian kotor Kevin. Anne kembali sembari membawa selimut baru. Kemudian, ia menyelimuti Kevin."Sebaiknya celanamu dibuka juga." "Apa?" Kevin tersentak. Anne tertunduk malu. Wajahnya merah seperti kepiting rebus."Maksudku~ celana itu juga sudah sejak semalam. Harus diganti." "Oh, baiklah." Kevin membuka celana di depan Anne. Sementara wanita itu mengalihkan pandangannya. Kevin tersenyum di dalam hati."Ini..." "Baik." Anne kembali membawa pakaian Kevin ke tempat cucian kotor. Kevin kembali menikmati teh lemon hangatnya. Perlahan, sakit kepalanya hilang. Ditambah lagi dengan hangatnya selimut ini. Ada sosok wanita di rumah ini, ternyata sungguh membantu. Anne adalah sosok wanita yang sangat perhatian. "Kevin, biasanya kalian sarapan apa? Biar aku buatkan." Anne menawarkan diri. Meskipun tidak begitu mahir di dapur. Setidaknya ia masih bisa membuatkan sandwich, roti panggang, atau pancake. "Tidak, Anne. Aku sudah memutuskan memakai asisten rumah tangga saja. Mungkin sebentar lagi dia akan datang." "Kenapa? Ada aku yang bisa membantu." Kevin menggeleng."Kau adalah keluarga di sini. Bukan untuk bekerja untuk kami." "Ba-baiklah." Anne tidak berani menanggapi. Kevin adalah pemegang kuasa di rumah ini. "Apa Bryan sudah bangun?" Anne menggeleng."Entahlah, aku tidak mengeceknya." "Aku di sini!" Suara Bryan terdengar keras. Pria itu cepat-cepat turun. Kemudian memeluk tubuh Anne dengan mesra. Kevin kaget melihat sikap Bryan pada Anne. Namun, ia bisa melihat ada cinta di mata adiknya itu. Anne merasa tidak enak dengan sikap Bryan. Ia malu, diperlakukan mesra di depan Kevin. Ia takut, pria itu berpikir macam-macam. Walaupun, semalam ia dan Bryan sudah berbuat macam-macam. Mengingat itu, wajah Anne merah kembali. "Bry, mulai sekarang, kita pakai asisten rumah tangga." Kevin menginformasikan pada Bryan. "Ah, syukurlah. Jadi, kau nggak perlu capek memasak untuk kami." Bryan terkekeh. Tangannya mengusap-usap puncak kepala Anne yang terdiam malu. "Wah, tampaknya kalian sangat dekat, ya?" Kevin menggoda keduanya. "Ah, kami..." Anne tidak tahu harus berkata apa. "Ya, kami~ sepertinya sangat cocok." Bryan tertawa. Kevin mengangguk-angguk,"selamat untuk kalian berdua. Bry, bekerja keraslah, untuk Anne." Ia pun menatap Anne. Dan saat itu juga, Anne menatap Kevin. Jantung Anne berdegup kencang, perasaan aneh itu muncul. Dan tatapan Kevin itu, bukan tatapan biasa. "Istirahatlah di kamar." Bryan berbisik mesra pada Anne. Anne menatap Bryan heran. Ia baru saja berusaha mengatasi kebosanan. Namun, pria itu sudah menyuruhnya pergi saja. Anne sungkan untuk membantah. Ia mengangguk saja, lalu ke kamar. Ia bisa melakukan kegiatan lain. Seperti mandi, merapikan kamar, atau mempercantik diri. Bisa saja, Bryan ingin bicara empat mata dengan Kevin. Bryan duduk dengan semangat. Ia menatap Kevin yang tengah menghabiskan teh lemon."Dia gadis yang menarik bukan?" "Entahlah." Kevin tidak ingin membahas Anne. Bryan menatap Kevin kecewa. Kakaknya itu selalu saja tidak tertarik, jika diajak bicara perihal wanita. Padahal, sudah sewajarnya, sesama pria dewasa menbahas perihal wanita dan seks. Bryan menaruh rasa curiga perihal percintaan Kevin. "Jangan menatap, seolah-olah aku menyukai pria, Bryan!" Kevin tertawa sinis. "Ah, kau tahu isi kepalaku." "Jadi, kau dan Anne...?" Kevin harus menanggapi ini agar Bryan tidak berkecil hati. "Ya, seperti itu." Wajah Bryan berbinar."Dia sangat seksi." "Aku tahu. Aku tidak sengaja melihatnya di kamar." Wajah Kevin datar saja saat menjawab. Bryan melihat ke arah tangga, san juga ke arah kamar mereka."Aku tidak bisa menembusnya,"keluh Bryan pada Kevin. "Menembus apa?"tanya Kevin tidak paham. "Anne masih virgin, Kev." Bryan mengecilkan suaranya. Kevin tertawa."Kau sudah menyentuhnya ya." Bryan mengusap tengkuknya."Kau tahu aku tidak bisa lepas dari hal seperti itu. Tapi, sayangnya...aku adalah lelaki payah. Cepat sekali o*****e. Jadi, banyak wanita yang tidak puas, ujung-ujungnya meninggalkanku." Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya. Bryan memang selalu terbuka mengenai kehidupan seks dan percintaannya. Dan masalah inj, menjadi masalah utama pada pria itu."Lalu, bagaimana?" "Aku yakin sampai kapan pun aku tidak bisa memasuki Anne, karena untuk yang tidak virgin saja aku ...cepat orgasme." Kevin menepuk pundak Bryan."Coba lagi. Mungkin kali ini akan berhasil." "Kau harus lakukan padanya,"ucap Bryan tiba-tiba. "Lakukan apa?" Sebelah alis Kevin terangkat. "Kau harus menembus miliknya, untukku." Permintaan Bryan membuat Kakaknya itu kaget. Kevin tertawa geli."Kau menyuruhku meniduri Anne?" "Iya." "Apa itu tidak lucu? Kau tidak marah?" Bryan menggeleng."Tidak sama sekali. Aku akan senang jika kau melakukan itu, Kev. Setelah itu aku bisa bercinta dengannya. Jika Anne hanya bercinta denganku, ia tidak akan puas. Aku akan mendapatkan kepuasan dari Anne, sementara Anne akan bisa dapat kepuasan darimu. Kau akan dapat kepuasan dari Anne." Kevin menatap Adiknya tidak percaya. Sepertinya ia tidak bisa melakukan ini. Apa lagi, Anne adalah wanita yang disukai Bryan. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD