Malam hari. Zian menunggu di teras sambil meminum teh hampir 1 teko. Sudah 2 jam dia menunggu Elara yang pergi dengan Arsel. Waktu menunjukan pukul 9 lebih, Zian yang tidak sabar memilih keluar dari pagar rumahnya sampai tiba-tiba suara motor mendekatinya. Ya, itu mereka. Arsel tersenyum kecil, ia memandang wajah Zian seperti orang tua yang sedang menunggu putrinya pulang. "Dari mana saja kalian?" tanya Zian. "Kak Arsel pulang saja. Terima kasih sudah menemaniku," ucap Elara. Ariel mengangguk. Dia memandang wajah Zian. "Pulang dulu, om." Arsel menghidupkan motornya lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Elara memandang sekilas Zian lalu masuk melewatinya. Kaki Zian melangkah mengikutinya sampai ke kamar. Elara seolah menghindar dari Zian. "Jika Papa Zi ingin memarahiku mending k

