Setelah menutup telpon dari putranya, Zian menghela nafas panjang. Percintaan macam apa ini? Kenapa menjadi rumit sekali? Apa pada akhirnya mereka akan rujuk? Bahkan Zian tidak bisa membayangkannya.
Ponselnya berbunyi, ia mendapat telpon dari cucu sang tuan yaitu Dewa. Dewa menyuruh untuk datang ke rumahnya dan Zian mengiyakan dalam keadaan tubuh yang masih sakit. Setelah menutup telpon, Zian mengambil jaket dan kunci mobilnya. Saat akan keluar dari kamar, ia melihat kamar Elara. Tak mungkin dia keluar rumah tanpa berpamitan dengan istrinya.
Tok.. tok.. tok...
Zian mengetuk pintu kamar Elara lalu tidak lama berselang wanita itu membuka pintu.
“Aku mau mengantar Dewa ke suatu tempat.”
“Malam-malam begini? Papa Zi ‘kan sedang sakit.”
“Aku kesana untuk bekerja bukan untuk bermain. Kau lupa jika aku adalah seorang sopir pribadi?” jawab Zian.
Elara melepas jaket Zian dengan paksa, ia tidak memperbolehkan suaminya untuk keluar.
Zian mencoba memberi pengertian jika dirinya bekerja ditempat orang dan tidak bisa seenaknya sendiri.
“Gak boleh, Papa Zi sedang sakit. Aku akan bilang pada Dewa jika Papa tidak bisa mengantarnya. Lagian ini sudah jam 7 malam lebih, mau pulang jam berapa nantinya,” ucap Elara sambil menghubungi Dewa.
Zian memandang wajah Elara yang melarangnya sambil tersenyum kecil. Bunga-bunga bermekaran pada hati si ABG tua itu mengetahui jika Elara begitu perhatian dengannya. Saat akan menelpon Dewa, Elara memperhatikan wajah suaminya yang menatapnya, ia langsung salah tingkah.
“Eheem... Eh.. anu... apa sih? Huh... Aku malah bingung sendiri,” ucap Elara bingung.
Zian hanya menggelengkan kepala. Dia masih memperhatikan istrinya yang sedang bertelepon.
Wajah Elara sangat cantik pantas saja putranya langsung terpikat. Apalagi bibirnya yang seksi membuat Zian langsung oleng.
“Aku sudah menelpon Dewa, dia tidak masalah. Jadi Papa Zi tidak boleh kemana-mana malam ini,” ucap Elara.
Zian tersenyum menyeringai, sepertinya sedikit mengerjai Elara tidak masalah.
“Jika tidak mau aku kemana-mana berarti kau harus menjagaku malam ini. Jika tidak maka aku akan keluar rumah tanpa sepengetahuanmu,” ucap Zian.
Elara mengernyit, ia bingung dengan ucapan Zian. “Jadi Papa mengancamku?”
Zian menggeleng. Nampak wajah Elara menjadi panik membuat Zian tersenyum senang. “Kau tidur dikamarku jika tidak ingin aku kemana-mana,” ucap Zian.
“Ishhhh... Sudah sana pergi! Lebih baik Papa pergi ketimbang aku harus tidur sekamar dengan papa.”
Zian menarik paksa jaket yang dibawa Elara, ia mengangguk seolah menyetujui ucapan istrinya untuk pergi malam ini. Wanita itu menjadi kikuk, ia sepertinya salah bicara. Sorot matanya menatap kepergian sang suami yang mulai turun dari lantai 2. Sama seperti biasa ketika ia panik maka akan memainkan jemarinya menggunakan kuku hingga lecet.
Tak mau berpikir panjang, Elara langsung turun ke lantai satu untuk mengejar Zian.
Untung saja saat itu Zian masih didepan pintu utama dengan cepat Elara menarik tangannya, mata Elara seketika menjadi terbelalak saat melihat Zian sudah mengenakan kacamata hitam membuat ketampanannya naik menjadi 100 %.
“Ada apa?” tanya Zian sambil melihat tangan Elara yang berpegangan pada jaketnya.
“Jangan pergi!”
Zian tersenyum kecil. “Aku harus pergi.”
Elara memeluknya membuat Zian sangat terkejut, bau parfum Elara membuatnya lupa diri.
Sama halnya dengan Elara, bau parfum Zian yang khas semakin membuatnya betah. Setelah papa tirinya yaitu Bara menikah, ia sudah jarang mendapat perhatian lagi apalagi kini Elara semakin dewasa maka ia tidak boleh merepotkan sang papa dan tak disangka, Zian dulu adalah kakak kelas Bara. Mereka sempat satu SMA yang sama.
“Papa Zi jangan pergi! Aku gak mau sendirian.”
Zian tersenyum, ia melepaskan pelukannya. “Baiklah jika itu keinginanmu. Jika kau memaksa maka aku bisa apa?” jawab Zian.
“Eh... Om Zi kok bilang begitu? Seolah-olah aku memaksa om.”
“Sekali lagi bilang om maka aku akan mencubitmu,” ucap Zian mengancam.
“Om,” ucap Elara mengejek.
Zian sangat kesal, ia akan mencubit bibir Elara dan wanita itu sudah memejamkan mata tapi tiba-tiba malah sebuah benda kenyal menempel pada bibirnya sekilas. Dia membuka mata dan mendapati Zian mencium bibirnya. Seketika Elara mundur menjauhin Zian.
“Dasar om-om m***m!” ucap Elara.
Zian melepas kacamata hitam beserta jaketnya, entah mengapa ia sangat risih sekali dipanggil dengan sebutan om.
“Papa Zi mau apa?”
“Mau mengajakmu malam pertama,” goda Zian.
Elara mundur perlahan, ia berteriak dan langsung lari menuju kamarnya. Setelah sampai kamar, ia mengunci pintu. Jantungnya sangat berdebar dengan kencang. Untung saja dia bisa menghindar dari Zian yang haus akan malam pertama. Elara harus berhati-hati pada Zian kedepannya.
Zian kembali ke kamarnya tetapi sebelum itu ia mengecek semua pintu rumah sebelum pergi tidur. Sudah kebiasaannya mengecek sendiri bahkan saat masih tinggal bersama dengan putranya. Dia adalah duda yang
serba bisa bahkan dirinya juga sangat pandai memasak. Hidup sebagai duda selama belasan tahun membuat dirinya sangat kuat. Setelah mengunci semua jendela dan pintu tiba-tiba saja listrik mati membuat semuanya menjadi gelap. Terdengar suara teriakan Elara dari lantai atas, dengan langkah penuh perjuangan Zian menghampiri Elara bahkan sampai tersandung-sandung.
“Elara....” teriak Zian.
“Papa Zi...” jawab Elara.
Braaaak....
Pintu kamar Elara ia dobrak dengan asal, Zian tidak mengetahui jika sang istri tepat dibelakang pintu membuatnya langsung terjatuh kesakitan.
“Huaaaaa... Jidatku,” teriak Elara.
Zian sangat terkejut, ia meraba-raba disekitarnya untuk mencari keberadaan Elara.
Pendengarannya yang sangat tajam membuatnya ia bisa mengetahui posisi Elara kurang dari 60 detik.
“La, kau tidak apa-apa?” tanya Zian.
“Jidatku sakit.”
Zian membopong Elara dan menuju ke tempat tidur dengan cara insting. Sempat terpentok meja pada akhirnya tempat tidur ketemu. Dengan cepat Zian menidurkan Elara diranjang.
“Tunggu sebentar, biar aku cari lilin lagi.”
Elara menarik tangan Zian. Dia tidak memperbolehkan suaminya pergi. Dalam keadaan gelap mereka mencoba membaca ekspresi wajah. Zian tahu jika Elara sangat takut.
“Inilah yang kutakutkan saat Papa Zi tidak ada dirumah, di kompleks ini sering listrik padam. Aku takut,” ucap Elara memegang erat lengan Zian.
Zian merangkulnya dan memberinya kehangatan. Sepertinya kedepannya saat listrik padam menjadi kesempatannya untuk dekat dengan Elara.
Aku harap listrik padam sampai pagi supaya aku bisa menemani tidur Elara.
“Papa Zi gak berdoa supaya listrik padam sampai pagi ‘kan?” tanya Elara.
Zian tersentak lalu berdehem. “Ehem.. maksudmu apa? Aku bukan pria naif yang memanfaatkan keadaan.”
Elara tertawa kecil, dalam keadaan gelap gulita ia memeluk Zian dari samping. Situasi gelap cukup membuatnya merasa aman sebab ia tidak bisa melihat wajah Zian yang sangat mirip dengan Denish.