Saat istirahat makan, Zian selalu melirik ponselnya yang berada diatas meja. Elara tak kunjung membalas pesannya. Sepertinya memang Elara tidak memperdulikannya.
Zian menjadi tidak berselera makan, ia hanya tidak memakan makanannya.
"Zi, setelah ini kau boleh pulang. Wajahmu sangat pucat."
"Tapi urusan anda belum selesai."
"Aku sudah punya sopir cadangan. Tidak mungkin kini kau 12 jam bekerja untukku karena kau sudah berkeluarga. Jangan pikirkan gaji! Gajimu tetap seperti biasanya," ucap kakek.
Kakek berdiri, ia kembali ke ruangannya untuk beristirahat sejenak. Sedangkan Zian berdiri melihat pemandangan jalan dari atas kantor ini. Pekerjaan Zian memang bukan di kantor, ia hanya membantu mengantar sang tuan kesana dan kemari lalu mengurus urusan yang tidak bisa diselesaikan oleh orang suruhan Kakek Adhiatma.
Jadi Zian hanya sopir? Ya, dia sopir istimewa. Banyak hal yang dapat ia lakukan, ia pandai beladiri sehingga bisa merangkap menjadi seorang bodyguard.
Zian berusaha mengirim pesan Elara lagi tetapi setelah sekian lama menunggu balasan tidak kunjung dibalas.
Zian memutuskan untuk menunggu Elara pulang dari kantor setelah itu ia akan mengajak berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Siang ini masih terlihat mendung, bahkan rintik hujan mulai turun walau tidak deras. Zian pulang ke rumah setelah tidak ada pekerjaan, ia membersihkan kamarnya supaya bisa nyaman untuk ia tiduri.
Sudah menduda selama belasan tahun membuatnya mandiri. Dia hanya fokus untuk mebesarkan Denish, putra satu-satunya. Banyak sekali wanita yang mendekatinya tetapi kesetiaannya pada almarhum istri membuatnya enggan untuk menikah lagi.
Tetapi apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur, ia menikah dengan Elara yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Mengharuskan untuk segera membuka hatinya lagi.
Foto pernikahannya dengan almarhum istri ia simpan supaya tidak menyakiti hati Elara nantinya. Sprei yang seminggu belum diganti ia ganti sekalian supaya Elara semakin betah. Sambil bebersih sesekali matanya melirik ponsel yang belum menerima pesan satupun.
Dia menghela nafas dan berpikiran positif siapa tahu memang Elara sedang sibuk bekerja.
"Permisi..." teriak orang dari luar.
Zian bergegas membukakan pintu yang ternyata tetangganya.
"Pak Zian, ini ada makanan. Kupikir tidak ada dirumah, eh... mana si Elara?"
Zian menerimanya. "Terima kasih bu, saya barusan pulang. Elara masih bekerja."
Ibu itu tersenyum manis. "Jangan dipikirkan apa kata orang! Kalian tidak usah pindah, disini saja."
"Terima kasih, bu. Tapi kami tetap akan pindah."
Setelah ibu itu pulang, Zian masuk ke rumah membuka makanan yang nampak sangat lezat tetapi ia tidak berselara makan. Dia mamasukan makanan itu pada kulkas yang kosong melompong. Huh... Dia belum sempat berbelanja.
Zian melihat jam dinding, waktu Elara pulang 3 jam lagi. Waktu 3 jam sangat lama baginya. Huh.. Kenapa dia menjadi kekanakan seperti ini? Menunggu sang istri yang belum tentu menganggapnya suami.
3 jam kemudian.
Zian memanasi makanan yang diberikan oleh tetangganya. Dia juga sudah memasak nasi untuk mereka makan. Kegalauannya hilang saat Elara datang dengan wajah lelahnya.
"Ela, kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanya Zian.
"Maaf, aku sibuk kerja."
Elara masuk kamar meninggalkan Zian yang menatapnya sedih bahkan Elara tidak melihat wajah Zian sedetikpun.
Zian tersenyum kecut, ia duduk didepan meja makan untuk menunggu Elara keluar tetapi sampai satu jam kemudian ia juga tidak kunjung keluar sampai makanan menjadi dingin.
Apa yang kau pikirkan? Dia memang tidak memperdulikanmu.
Zian mulai mengambil sepiring nasi beserta lauknya, ia makan dengan lahap tanpa memperdulikan Elara. Setelah makan, ia minum obat penurun demam. Dia berharap demamnya segera turun.
Disisi lain.
Elara meringkuk ditempat tidur. Dia sangat ingin bersapa dengan Zian tetapi ia masih sangat malu. Perutnya yang keroncongan enggan diajak berkompromi pada akhirnya ia keluar juga dari kamarnya.
Saat akan keluar, ia berpapasan dengan Zian yang akan masuk ke kamar. Mereka bertatapan tetapi Zian memalingkan wajah dan langsung masuk ke kamar. Elara merasakan sakit hati tetapi ia tidak memperdulikan dan langsung makan makanan yang sudah disediakan Zian.
Saat makan, ia fokus memperhatikan pintu kamar Zian yang tertutup. Elara merasa sangat bersalah karena tidak memperdulikan suami barunya yang harusnya ia perlakukan dengan baik.
Suapan demi suapan ia makan dengan lahap lalu mencuci piring setelah itu.
Uhuk... uhuk... uhuk...
Suara batuk terdengar dari kamar Zian, Elara yang sedang mencuci piring menoleh kearah pintu. Dengan cepat, Elara mencari obat batuk lalu menuju ke kamar Zian.
Tangannya membuka handle pintu, setelah terbuka ia melihat Zian sedang bertelanjang d**a sambil mengusap minyak kayu putih pada seluruh badannya.
"Papa Zi sakit?" tanya Elara terkejut.
Zian yang membelakangi Elara menoleh, ia lekas memakai baju karena sangat malu.
Elara mendekatinya dan menarik baju yang akan dipakai Zian.
"Sini biar aku kerokin!" ucap Elara.
"Tidak perlu."
Elara tetap memaksa, ia mengambil koin diatas meja lalu mengerok tubuh Zian. Tangannya merasakan tubuh Zian begitu panas membuatnya merasa menyesal karena sudah tak menghiraukannya.
"Jika Papa sakit bilang saja! Aku akan memijat Papa."
"Aku tidak ingin merepotkanmu."
"Jika Papa Zi sakit begini, aku juga yang merasa bersalah karena tidak memperdulikan papa," jawab Elara.
Zian menghentikan tangan Elara yang membaluri punggungnya dengan minyak kayu putih, mereka saling menatap. Elara langsung menunduk malu.
"Bolehkah aku menciummu?" tanya Zian.
"Eh?"
"Siapa tahu jika berciuman menjadi tidak canggung lagi. Seharusnya kita membuka kesempatan satu sama lain supaya tidak ada kesan aneh lagi," ucap Zian.
Elara menggelengkan kepala. Entah mengapa kini ia menjadi penakut tidak seperti dulu yang memiliki keinginan harus segera terwujud.
Zian menatapnya sambil tersenyum. "Jangan dibuat serius! Jika tidak mau tidak apa-apa."
Elara menganggukkan kepala tetapi ia teringat dengan ucapan Sarah yaitu ibu tirinya.
Jangan kecewakan suamimu! Jika dia minta maka kau harus memberinya. Sangat berdosa jika kau menolaknya.
"Ehm... Hanya berciuman?" tanya Elara.
Zian menaikkan alisnya.
Dengan sigap, Elara menguatkan hati untuk mencium suami tampannya. Zian masih terpaku pada wajah Elara yang mulai menggigit bibirnya. Belasan tahun ia tidak berciuman dan tidak merasakan seperti ini.
Elara terhenti saat sadar jika tubuh Zian bergetar hebat.
"Papa Zi kok merinding begini? Tambah sakit, ya?" tanya Elara.
Zian segera memakai kaosnya. Dia nampak begitu grogi. Kakinya melangkah mondar-mandir membuat Elara semakin heran.
"Papa Zi?" ucap Elara sekali lagi.
"Aku hanya tidak bisa membayangkan jika kita berciuman."
"Yaudah gak usah dibayangin. Kita langsung berciuman saja."
Elara menarik tubuh Zian dan seketika jatuh diatas tubuhnya. Mereka saling bertatapan mencari celah sorot mata bahagia. Zian mencoba menarik nafas dalam-dalam lalu mulai fokus untuk mengubah kata calon menantu menjadi seorang istri. Bibirnya mulai menciumi leher Elara yang putih, memberinya efek merinding bagi Elara.
"Uuuuh..." Elara merengkuh... Dia meremas punggung sang suami yang menindihnya.
Mereka sama-sama menutup mata supaya tidak melihat wajah satu sama lain tetapi saat mata mereka terbuka, Elara berteriak kuat.
"Aaarrrhhhhhh...."