Bab 6 : Menghindar

1029 Words
Pagi hari terdengar suara burung, hujan telah reda nampak seberkas cahaya menyoroti tepat pada mata Elara. Elara mengucek matanya tetapi ia merasakan berat pada bahunya. Kepalanya menengok melihat Zian tertidur dengan kepala dibahunya. Elara terkejut, ia berusaha untuk memindahkan tubuh Zian tanpa terbangun. Issssh... Aku tidur seranjang dengan Om Zian? Elara mengambil tasnya dan tidak lupa membawa seragam untuk berangkat ke kantor pagi-pagi supaya tidak bertemu dengan Zian karena kemarin malam adalah hal memalukan baginya. Kakinya melangkah keluar kamar sambil tergesa-gesa tanpa mandi terlebih dahulu. Tangannya meraih kunci mobil yang tergelatak disofa lalu berlari masuk ke mobil dan mengendarai mobil meninggalkan rumah Zian. Saat menyetir, ia merasa lega karena pagi ini mereka tidak saling menyapa pasalnya Elara masih sangat malu. Pagi ini cuaca masih agak dingin karena hujan terus menerus semalaman. Elara melajukan ke pom bensin terdekat untuk menumpang mandi dan mencari sarapan pagi. Setelah sampai pom bensin, Elara menepikan mobilnya lalu mencari kamar mandi. Walaupun terkesan konyol, ia harus melakukannya dari pada tidak mandi. Elara mandi secepat kilat karena air didalam bak mandi tersebut sangat dingin. Setelah selesai mandi, ia masuk ke mobil sambil kedinginan. Apa aku tinggal di asrama saja ya? Repot juga tinggal dengan Om Zian. Apalagi rumahnya sangat jauh dari tempat kerjaku. Kruyuuuuk... Perut Elara berbunyi, ia sangat lapar karena kemarin malam tidak makan nasi. Dia bergegas mencari rumah makan disekitar sana tetapi alangkah terkejutnya saat ia mengetahui jika sang bos sudah berdiri didepan pintunya. "Ah... Pak Alan?" Elara keluar dari mobil untuk menemui Alan yang sudah memakai jas lengkap. "Pak Alan sepagi ini?" tanya Elara. "Ya, aku ada rapat lain disekitar sini dan kau kenapa ada disini? Aku menyuruhmu berangkat ke kantor." "Ehm... Rumah saya sekitar sini dan saya setelah ini akan berangkat ke kantor," jawab Elara. Alan melihat jam tangan mahalnya lalu mengajak Elara untuk sarapan bersama. Elara tidak enak menolak apalagi Alan mendengar suara perutnya yang keroncongan. "Mobilmu tinggal disini! Kau naik ke mobilku," ucap Alan. Elara mengangguk. Dia masuk ke mobil Alan lalu mereka pergi ke restoran terdekat untuk sarapan pagi. Alan sangat tampan dan dia juga seorang duda beranak satu. Anaknya masih duduk dibangku TK, istrinya meninggal karena kecelakaan sekitar 3 tahun yang lalu. Rumor di kantor mengatakan jika Alan menyukai Elara tetapi Elara sudah sering mengatakan jika tidak bisa menerima cinta Alan tetapi Alan tidak menyerah begitu saja. "Kau pindah disekitar sini? Sejak kapan?". tanya Alan didalam mobil. "Baru beberapa hari, Pak." "Oh... Kudengar Denish pindah Ke Jepang?" Elara mengangguk. "Huh... Laki-laki seperti itu memang tidak pantas bersamamu. Untungnya kalian tidak jadi menikah." Elara diam tidak menjawab. Dia memilih enggan membicarakan Denish yang menyakitinya. Berpacaran hampir bertahun-tahun bersama Denish hanya menyisakan luka mendalam. Alan melirik wajah Elara, ia tersenyum kecil. Semakin Elara cuek maka ia akan semakin mengejarnya. Disisi lain. Zian terbangun dengan kondisi badan yang panas. Dia melihat sekitar ternyata Elara sudah tidak ada dikamar. Kakinya melangkah keluar untuk mencari Elara tetapi setiap sudut rumah tidak ada batang hidung gadis 27 tahun tersebut. Zian menuju ke meja makan tetapi ia kecewa ternyata Elara tidak menyiapkan makanan apapun untuknya. Apa yang aku harapkan? Berharap dia menyiapkan makanan untukku sebelum dia berangkat kerja? Aku yang terlalu berharap. Hubungan kita sangat canggung tidak mungkin seperti pasangan suami istri pada umumnya. Zian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Elara. Zian Sudah berangkat? Kenapa tidak membangunkanku? Nanti malam biar aku jemput. Setelah mengirim pesan. Dia mengambil kotak obat untuk mencari obat penurun panas. Badannya memang agak panas tetapi hari ini ia harus mengantar sang tuan untuk berangkat bekerja. Setelah meminum obat, ia menuju ke halaman rumah. Tanaman yang ia tanam banyak yang roboh akibat hujan tadi malam. Zian membersihkannya, ia tidak merasa sedih karena sebentar lagi akan pindah rumah. Saat berkebun, seorang tetangga depan menghampirinya. Dia adalah Jaka. Dialah yang juga menyebar fitnah ke tetangga lain jika sering melihat Elara bermalam dirumah Zian serta dia juga yang menyuruh adanya penggrebekan. "Wah... Pagi-pagi sekali sudah berkebun." Zian mendongak. "Iya," jawabnya singkat. "Eh... tadi sehabis pulang dari lari pagi, aku melihat calon menantumu ehh maksudku istri barumu naik mobil bersama pria berjas tampan di pom bensin dekat persimpangan jalan." Zian terhenti dari kegiatannya. Dia membersihkan tangannya yang kotor terkena tanah yang basah. Jaka tersenyum dan saat itulah Zian tidak memperdulikannya. "Pak Jaka, anda tidak malu lari pagi menggunakan celana robek?" tanya Zian. Jaka melihat celananya, ia terkejut setengah mati lalu berlari kearah rumahnya. Zian setelah itu mengambil kunci motor untuk bergegas menuju pom bensin dekat rumahnya. Zian mengendarai motor dengan kencang, ia ingin membuktikan apakah ucapan Jaka benar atau hanya membohonginya. Saat sampai di pom bensin, ia melihat mobil Elara terparkir tetapi wanita itu tidak ada didalam. Zian mencoba menelpon Elara tetapi tidak diangkat. Siapa pria berjas itu? Apa selama ini Elara sudah ada calon suami lagi sebelum menikah denganku? Tapi dia tidak pernah bercerita kepadaku. Zian memilih menunggu kedatangan Elara. Badannya yang sakit tidak ia pedulikan apalagi perutnya yang keroncongan. Dia duduk diatas motornya memperhatikan sekitarnya. Mobil dan motor berlalu lalang masuk ke pom bensin tetapi sampai 2 jam menunggu Elara tidak kunjung datang apalagi dia tidak membalas pesannya. Sadar Zi! Dia tidak menganggapmu sebagai suaminya. Kau tidak boleh berharap lebih! Ddddddddrrrrrrrrttttt.... Ponselnya bergetar. Ternyata dari bosnya. "Heiiii... Kenapa belum juga datang? Jangan alasan jadi pengantin baru makanya jadi bangun siang. Hahaha..." ejek Kakek Adhiatma. "Maaf, tuan. Saya akan segera kesana." Dengan menghela nafas panjang sambil memperhatikan mobil Elara yang kosong, ia pulang ke rumah dalam keadaan kecewa. 45 menit kemudian. Zian mengantar sang tuan berangkat ke kantor. Kakek Adhiatma melihat wajah Zian yang sangat murung membuatnya terkekeuh geli. "ABG tua sedang jatuh cinta menjadi galau seperti ini," sindir Kakek. Zian hanya diam untuk fokus ke jalanan yang ramai lancar dipagi hari ini. "Aku akan memberimu cuti satu minggu. Gunakan waktu itu untuk bulan madu dengan istrimu!" ucap Kakek. "Tidak perlu, tuan. Kami tidak butuh bulan madu." "Lalu bagaimana kalian melakukan pendekatan? Kau sudah hampir 50 tahun, Zi. Sudah tidak muda lagi, jangan membuang waktu untuk bermain-main! Kau kalah dengan putramu dalam hal percintaan," ejek kakek. "Maka dari itu saya sangat malu dengan umur saya apalagi Elara harus menikahi pria tua seperti saya. Saya sadar diri jika Elara sengaja menghindar dari saya," jawab Zian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD