Bab 5 : Kesunyian malam

1001 Words
Elara bersembunyi dibawah selimut, ia sangat ketakutan mendengar suara hujan yang bergemuruh. Malam ini ia terjebak dirumah Zian sendirian dalam kegelapan karena listrik padam bahkan ia tidak menemukan lilin. Om Zian masih lama pulangnya. Aku takut. Apa aku pulang ke rumah papa saja ya? Tapi diluar sedang hujan. Gelapnya kamar tidak ia pedulikan, Elara berusaha untuk memjamkan mata supaya bisa tidur tetapi ia tetap saja tidak bisa tidur. Disisi lain. Zian melajukan mobilnya dengan hati-hati, satu jam lagi ia akan sampai karena ia memilih melewati jalan tol. Walau begitu, ia tetap berhati-hati sebab keselamatan sang tuan tetap utama. Jalan tol yang panjang serta mobil yang jarang melintas membuatnya leluasa untuk mempercepat laju mobilnya. Pikirannya selalu kacau saat mengingat Elara dan apesnya dikotanya juga sedang hujan malahan lebih lebat dan deras. Baru sampai dipertengahan jalan tol tiba-tiba mobil seakan berat tidak seperti biasanya. Zian meminggirkan mobil lalu mengecek keadaan ban mobil yang ternyata salah satu diantaranya kempes. Kaca mobil terbuka, sang tuan bertanya sebabnya. "Kenapa, Zi?" "Ban mobil kempes, tuan. Biar saya ganti dulu," jawab Zian sambil mengambil ban serep. Dalam tubuh yang basah akibat air hujan. Zian mengganti ban mobil dengan sabar. Dinginnya malam ini tidak ia hiraukan yang penting perjalanannya tidak tersendat dan bisa cepat pulang untuk bertemu dengan Elara. Dirumah, Elara semakin ketakutan. Listrik tidak juga menyala, gelap gulita yang ia alami di rumah itu. Telinganya ia tutupi dengan tangannya. Gemuruh suara guntur kian menjadi-jadi, Elara semakin mengencangkan tangan yang menutupi telinganya. Satu jam kemudian. Zian masuk ke rumah dengan keadaan basah kuyup. Dia melepas sepatunya dan berlari menuju kamar Elara. Walau ia sangat kedinginan tetap yang dia pikirkan adalah Elara. Braak... "Elara?" teriak Zian. "Papa Zi..." Zian menyalakan senter lalu menghampiri Elara yang meringkuk di ranjang. Zian memeluknya dengan erat. "Papa Zi kenapa lama sekali? Aku takut..." "Maafkan aku!" Elara merasakan tubuh Zian yang basah segera melepaskan pelukannya. Wajah Zian sangat pucat serta rambutnya basah kuyup. "Papa kehujanan?" Zian mengangguk, dalam keadaan remang ia bisa memandang wajah Elara yang khawatir. "Tidak masalah, aku akan segera mandi." Zian berdiri tetapi Elara menarik tangannya. "Jangan pergi dulu! Aku takut. Eh... Tapi Papa Zi nanti bisa sakit jika gak segera mandi. Yasudah, Papa mandi dulu!" Zian mengangguk. Papa? Rasanya aneh dipanggil papa, konotasinya seperti seorang anak memanggil ayahnya tetapi Zian masih memaklumi karena jika bukan panggilan itu lalu Elara harus memanggil apa? "Biar aku nyalakan lilin. Kau tunggu sini!" Elara mengangguk, Zian mengambil lilin didapur lalu menyalakan lilin dikamar Elara setelah sedikit terang ia meninggalkan Elara untuk mandi. Zian menuju ke kamarnya untuk segera mandi, badannya sedikit panas karena kehujanan tetapi ia bisa lega karena cepat sampai rumah untuk menemani Elara. Zian mandi menggunakan air dingin membuatnya sedikit nyaman. Dia tersenyum kecil saat melihat wajah Elara yang bahagia ketika ia datang. Setelah mandi, ia berganti pakaian hangat. Dengan senternya ia menuju ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah ia beli dalam perjalanan pulang. Setelah itu, kaki panjangnya melangkah ke kamar Elara. Dia melihat Elara melamun tidak jelas diatas ranjang. "Ela, ayo makan! Aku beli sate." Elara mengangguk. Mereka memilih makan di lantai dengan berhadapan. Dalam cahaya lilin mereka menikmati kesunyian malam ini. Sesendok demi sesendok mereka suapkan pada mulut masing-masing. Perut yang sedari tadi berbunyi sudah diam karena sudah diberi makan oleh sate yang begitu lezat. "Papa Zi naik mobil kok bisa basah kuyup?" "Saat perjalanan bannya bocor terpaksa harus diganti dalam keadaan hujan." Elara hanya manggut-manggut. Mereka kembali terjebak dalam heningnya malam. Tidak ada percakapan setelah itu sebab mereka sama-sama canggung. Suasana makan hanya berdua ini bukan pertama kalinya. Mereka sudah sering melakukan makan berdua saja saat masih menjalin silahturahmi sebagai calon mertua dan calon menantu dan kini mereka makan berdua sebagai suami istri yang sah. 10 menit sudah mereka terdiam bahkan sate pun sudah habis mereka makan. Kini menyisakan kesunyian yang enggan untuk menghilang. Zian mengambil piring bekas Elara, ia menaruhnya diatas meja lalu ia duduk bersandar pada tempat tidur Elara. Elara ikut termenung diam karena bingung dengan situasi ini. "Kapan kau libur? Aku akan mengajakmu untuk melihat-lihat rumah untuk kita tempati," tanya Zian. "Minggu depan. Aku tidak masalah jika harus tinggal disini. Sekali-kali aku ingin menonjok mulut ibu-ibu julit itu," jawab Elara. Zian tersenyum kecil. "Kita pindah saja mencari lingkungan yang baru. Aku tidak tega jika kau menjadi bahan gunjingan disini." Hening... Suasana menjadi hening lagi saat Elara memilih diam tidak menjawab. Zian membenarkan posisi duduknya, lama tidak berolahraga membuat tulangnya terasa sakit jika duduk terlalu lama. "Ehmm... Papa Zi. Denish belum tahu pernikahan kita?" "Belum, aku belum siap untuk memberitahu." Hening lagi... Tidak ada percakapan lagi setelah ini. Mereka saling diam entah karena kekenyangan atau mengantuk. Hanya menunggu listrik menyala lagi supaya mereka bisa tidur malam ini dengan nyenyak. Saat tangan Zian hendak bergeser, ia tidak sengaja menyenggol tangan Elara. Mereka sama-sama terkejut dan langsung salah tingkah. "Eheeem... emmm... Papa..." "Maaf, aku tidak sengaja." "Ehm... bukan begitu tapi baju Papa Zi terbalik," ucap Elara. Zian terkejut, ia memperhatikan bajunya yang memang terbalik. Dia melangkah keluar tapi dicegah oleh Elara. "Benarkan saja disini! Toh, kita sepasang suami istri tidak masalah melihat aurat satu sama lain," jawab Elara. Zian mengernyitkan dahi entah mengapa ia malah merasa malu mendengar ucapan Elara. Zian menggelengkan kepala, ia tetap melangkah keluar untuk membenarkan bajunya. Elara tersenyum kecut sampai Zian masuk ke kamarnya lagi dengan baju yang sudah benar. JEDEEEER.... "Ahhhhh..." teriak Elara takut mendengar suara petir. Elara langsung meringkuk ditempat tidurnya. Zian menghampiri dengan panik, ia menarik tubuh Elara ke pangkuannya lalu memeluknya dengan erat. "Aku ada disini, jangan takut!" ucap Zian. "Janji, Papa Zi harus janji. Sudah banyak yang meninggalkanku, aku gak mau lagi ditinggal. Papa dan mama meninggalkanku, Papa Bara juga sudah menikah lalu punya keluarga sendiri. Kini aku sendiri, aku kesepian," ucap Elara. Zian memeluknya dengan erat. "Aku tidak akan meninggalkanmu." "Terima kasih, Papa Zi. Hanya Papa yang aku punya," jawab Elara. Mereka berpelukan dalam suasana temaram. Dinginnya malam mulai hilang ketika tubuh mereka berpelukan. Elara menjadi tenang, apalagi aroma tubuh Zian sangat menenangkannya sampai terlelap kedalam mimpi yang indah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD