Bab 4 : Khawatir

1008 Words
Malam hari, Elara langsung masuk ke kamarnya menutup pintu rapat-rapat dan tidak lupa menguncinya. Dia menghela nafas karena Zian ternyata belum pulang. Elara melempar tasnya ke sofa lalu ikut merebahkan diri disofa itu. 2 hari pernikahan dengan Zian membuatnya semakin gugup disetiap malamnya. Bagaimana jika tiba-tiba Zian meminta malam pertamanya? Papa Bara dan Sarah walau umurnya berjarak jauh tetapi mereka menikah atas dasar cinta. Sedangkan aku? Menikah karena digrebek. Aku harus bagaimana? Apalagi jika Denish tahu pasti dia mengira jika aku wanita kegatelan telah menikahi papanya sendiri. Kling.... Papa Zi Elara, jika ingin makan malam bisa pesan makanan saja. Mungkin aku akan pulang 3 jam lagi. Jangan menungguku! Elara membaca pesan itu, ia melempar ponselnya ke tempat tidur. Dia harus bagaimana? Kenapa nasib buruk selalu menimpanya? Aku harus bagaimana? Jika meminta bercerai juga terlalu awal. Huft... Hadapi dulu, Elara! Setelah itu minta Om Zian buat menceraikanku. Elara beranjak untuk segera mandi. Semoga saja dengan mandi ia bisa menyegarkan pikiran dan tubuhnya. Air begitu dingin tetapi ia tetap menikmatinya, guyuran air langsung mengenai kepala membuat pikirannya sangat segar. Setelah 10 menit mandi, ia segara mengusap tubuhnya menggunakan handuk. Baju santai menjadi andalannya saat berada dirumah. "Segarnya," gumam Elara sambil keluar dari kamar mandi. Dia menuju ke dapur untuk mencari makanan yang bisa dimakan. Hanya ada telur saja bahkan tidak ada nasi. Saat pulang nanti Om Zian makan apa ya? Apa aku harus menyiapkan makanannya juga? Jika tidak, kasian Om Zian. Elara mengambil dompetnya lalu keluar menuju minimatket terdekat. Dia ingin membeli minuman serta mie kuning untuk ia olah menjadi Bakmi Jawa dengan toping telur dan beberapa daging kaleng. Saat hidupnya mulai tertata dari keterpurukannya, ia belajar memasak saat hendak menikah dengan Denish dan dia sangat pandai memasakan untuk calon suaminya. Saat akan keluar dari halaman beberapa ibu-ibu menyapa tetapi sambil tersenyum mengejek. "Cieee... Pengantin baru. Katanya jadi pindah 'kan? Aduh... Sayang sekali, kenapa musti pindah?" "Hahaha... Harus pindahlah, apa gak malu tuh nikah hasil zina?" Elara mengambil sapu lidi lalu menentengnya ke ibu-ibu itu. "Ehh... Mau ngapain?" "Mau mencoba melempar ini ke wajah ibu, sakit atau enggak?" jawab Elara. Ibu-ibu itu berlari ketakutan. Elara menghela nafas lalu melempar sapu lidi itu. Huh... Sabar, Elara! Elara masuk mobil, mengendarainya menuju ke minimarket terdekat. Malam ini terlihat mendung dan sepertinya hujan akan turun, nampak kilatan petir menyambar-nyambar membuat sedikit takut. Kling... Papa Bara Bagaimana bulan madu kalian? Elara menepikan mobilnya sebentar lalu membalas pesan dari papanya. Elara Tidak ada bulan madu. Papa Bara Kenapa? Elara Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Papa Bara Papa akan memarahi Zian, bisa-bisanya seperti itu dengan putriku. Elara Aku malah senang seperti ini. Kami sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk bersama sehingga tidak mungkin menimbulkan rasa suka. Benar 'kan pah? Papa Bara Apa yang kau katakan? Kalian sudah menikah dengan sah. JEDEEEER.... Petir pada akhirnya menyambar-nyamnar dengan keras membuat Elara sangat ketakutan. Dia mematikan ponselnya lalu bergegas untuk kembali ke rumah saja. Zian sudah besar, tidak perlu menyiapkan makanan pasti ia bisa membeli makanan sendiri. Disisi lain, Zian menyetir dengan panik apalagi hujan turun sangat derasnya. Kakek Adhiatma meminta untuk berhenti tetapi Zian tidak mau karena sang istri sendirian dirumah. Apalagi saat ini hujan deras dan kompleks perumahannya sering terjadi pemadaman listrik. "Zi, kau segitu khawatirnya dengan istrimu? Dia sudah besar dan bukan bocah lagi," ucap Kakek Adhiatma. "Elara itu anak spesial, tuan. Dia memiliki trauma dan bisa kambuh saat ada petir seperti ini." "Huh... Aku tidak menyangka jika gadis baik seperti Elara memiliki masa lalu yang suram. Mamanya dibunuh tepat didepannya, aku terkadang juga kasian dengannya." Zian melirik ponselnya yang sunyi, Elara tidak menjawab pesan bahkan telponnya padahal perjalanan mau jauh apalagi saat keadaan hujan begini jalanan menjadi licin. Kakek tersenyum melihat wajah sang asisten yang pias. Jarang sekali beliau melihat Zian yang dingin khawatir seperti ini. "Kau suka dengan Elara?" tanya Kakek. "Apa maksud anda, tuan? Mana mungkin saya menyukai mantan pacar anak saya sendiri." "Kau tidak seperti biasanya khawatir dengan perempuan," jawab kakek. Zian terdiam, perasaannya memang menjadi aneh. Apa hanya perasaan khawatir seorang papa dengan putrinya atau jangan-jangan? Tidak mungkin. Zian tipe pria yang tidak mudah untuk jatuh cinta. Pria 48 tahun itu sedari tadi menghela nafas karena jalanan semakin licin membuat laju mobilnya melambat. Jika ia memaksakannya maka keselamatan sang tuan akan dipertaruhkan. Dia mulai mengontrol pikirannya supaya lebih tenang, sambil sesekali menghela nafas ia melirik ponselnya. Elara. Kenapa tidak membalas? Kau tahu seberapa khawatirnya aku? Zian semakin panik, ia mencoba melajukan mobilnya supaya lebih cepat. Dalam derasnya hujan malam ini dengan petir yang menyambar-nyambar membuatnya sangat panik. Kakek Adhiatma terus saja menghela nafas melihat sikap Zian yang baru pertama kali merasa cemas dengan perempuan. Kakek Adhiatma terus saja membuat Zian supaya berpikir positif jika Elara tidak akan terjadi apa-apa. Namun yang namanya perasaan tak bisa di sembunyikan. Zian sangat khawatir dengan istri mudanya itu. "Zi, jika Denish tahu bagaimana?" tanya Kakek. "Untuk saat ini memang saya belum berniat memberi tahu, saya masih merasa malu jika harus mengakui kepadanya jika menikahi mantan pacarnya." Zian semakin panik ketika hujan semakin deras dan mengingatkan kenangan saat hujan deras bersama sang mantan istri yang kini sudah tiada. Kala itu, Zian belum mempunyai mobil. Dia hanya mempunyai motor untuk dibawa kemanapun. Saat sedang mengajak pergi bersama istri dan anak-anaknya, hujan turun dengan deras. Tentu saja membuatnya untuk mengalah berhenti mencari tempat yang teduh. Saat sudah mencari sebuah gubuk untuk berteduh tiba-tiba petir menyambar-nyambar membuat Camelia sang mantan istri merasa ketakutan. Dia berteriak kencang sambil memegangi telinganya. Zian segera memeluknya dan memberinya sugesti jika tidak akan terjadi apa-apa. Mengingat kejadian Camelia membuatnya teringat saat Elara juga pernah menangis kencang saat turun hujan tatkala wanita itu datang ke rumahnya untuk menemui Denish. Kali itu Denish sedang pergi ke minimarket dan tiba-tiba hujan deras. Elara sangat ketakutan dan memeluk Zian, entah mengapa ketakutan Camelia dan Elara begitu sama. Apakah ini hanya kebetulan? Saat tengah memeluk Elara, d**a Zian berdegup kencang dan terasa aneh padahal saat itu Elara adalah calon menantunya. Ah ... mungkin saja perasaan aneh itu terjadi karena Zian sangat merindukan mendiang istrinya bukan hal yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD