Malam pertama penuh kebingungan.
POV ZIAN
Setelah membersihkan diri, kami berdua duduk di depan meja makan. Kami saling berhadapan tetapi Elara menunduk sambil memainkan jemarinya sampai terlihat lecet.
Aku tahu tahu jika Elara mudah panik lalu melampiaskan pada jari-jarinya yang tidak berdosa.
Aku berdiri mengambil kotak obat untuk mengobati jemarinya. Ku tarik tangannya lalu ku obati satu persatu. Kurasakan tangannya bergetar dan air matanya mengalir.
"Tidak ada hal yang harus ditangisi, kita sudah menikah alangkah baiknya menjalani kehidupan ini dengan semestinya," ucapku.
Dia hanya diam sambil menahan isak tangisnya. Aku bingung harus melakukan apa karena sudah belasan tahun aku tidak bisa serius dekat dengan wanita apalagi dia kini menjadi istriku secara mendadak.
"Apa Om yakin akan pernikahan ini?"
Aku menatapnya dengan kesal. "Jangan panggil aku, om!"
Dia malah menangis semakin kencang membuatku sangat kebingungan. Aku menghela nafas panjang dan berusaha untuk meminta maaf.
"Papa Zi 'kan tahu jika sebuah pernikahan itu bukan main-main tapi jika karna terpaksa begini lalu buat apa? Bukankah hanya menyiksa diri?"
"Kita bisa jalani sama-sama sambil mengenal satu sama lain lalu untuk kedepannya kau boleh memutuskan mau melanjutkan atau tidak. Aku juga tidak bisa memaksamu, aku yakin kau juga malu memiliki suami tua sepertiku," jawabku sadar diri.
Setelah mengobati jemari Elara. Aku mencuci piring bekas makan malam kami berdua. Aku melirik langkah lemas Elara menuju ke kamar, aku sangat kasian dengannya apalagi dia juga mempunyai riwayat trauma yang berat.
Kling...
Ponselku berbunyi ternyata sebuah pesan masuk dari Bara.
Bara
(Tolong jaga putriku! Selama ini dia menderita, aku yakin kau bisa menjaganya dengan baik.)
Zian
(Akan kuusahakan)
Setelah mencuci piring aku melangkah memasuki kamar. Kulihat Elara sudah berbaring disofa, aku berjalan mendekatinya lalu mengusap kepalanya tetapi ia sangat terkejut.
"Huh ... Papa Zi membuatku takut saja."
"Tidurlah di tempat tidur! Aku bisa tidur dikamar sebelah."
Elara berusaha bangun dari sofa, "Apa tidak masalah?"
Aku mengangguk pelan. Elara tersenyum dan senyumannya membuat hatiku lega. Setidaknya ia berusaha baik-baik saja didepanku.
Setelah berbaring ditempat tidur, aku menyelimutinya ketika langkah kakiku akan meninggalkannya, ia menarik tanganku.
"Papa Zi, berdosa sekali seorang istri tidak memberikan hak malam pertamanya pada suami," ucap Elara.
"Tuhan pasti memaklumi keadaan ini, tak masalah jika belum sanggup melakukan itu. Aku juga belum bisa melakukan itu kepada orang yang sudah aku anggap anakku sendiri."
Elara tersenyum kecil, kulihat ia mulai menutup mata. Kutinggalkan dia supaya bisa tidur terlelap mencari mimpi indah dimalam yang sunyi ini. Aku pun menuju ke kamar sebelah dan langsung tidur berharap ini hanya mimpi belaka.
POV AUTHOR
Pagi hari kelabu, nampak sececar harapan memasuki kehidupan pengantin baru itu. Pagi-pagi sekali mereka sudah disibukkan dengan aktivitas seperti biasanya. Zian yang bekerja menjadi seorang asisten bos harus mengantar sang bos untuk menjalani rutinitas.
Sama halnya dengan Elara, ia harus berangkat kerja pagi-pagi untuk menemani meeting atasannya.
Elara mengambil tasnya lalu keluar dan disaat bersamaan Zian keluar dari kamarnya juga. Zian sudah memakai kacamata hitam serta jaket kesayangannya.
"Berangkat kerja?" tanya mereka bersama-sama.
"Oh, aku hari ini harus mengantar tuanku ke kota sebelah dan kemungkinan pulang larut," ucap Zian.
Elara hanya menganggukkan kepala sambil membenarkan poninya. Kakinya melangkah melewati Zian untuk segera keluar dari rumah.
Zian mengikutinya dari belakang dan mereka masuk ke mobil masing-masing.
Di dalam mobil masing-masing, mereka bertatapan. Elara salah tingkah lalu mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Zian.
**
Zian seperti biasa menjadi supir pribadi sang tuan yaitu Kakek Adhiatma. Wajahnya yang tenang saat menyetir mobil serta ekspresinya yang datar membuat banyak orang yang mengaguminya.
Jalanan kota metropolitan ini begitu ramai lancar, mobil sedan mewah itu menembus dengan laju sedangnya.
Tetapi raut wajah kakek heran karena sang asisten kali ini nampak tidak seperti biasanya. Zian sedari tadi melirik ponselnya yang berada di bangku sebelahnya.
"Zi, kemarin kemana saja saat cuti?" tanya Kakek.
"Menikah, tuan."
Kakek mengernyitkan dahi lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha ... wanita mana yang mampu meluluhkan seorang Zian si duda sombong?"
"Huffft ... saya menikah karena keadaan yang memaksa."
"Haiiis ... jangan membuatku bingung! Cepat ceritakan yang lebih jelas!"
Zian menjelaskan satu persatu masalah yang didapatkannya kemarin. Kesialan pada malam jumat membuatnya harus menikahi calon menantunya karena digrebek warga di kompleks rumahnya.
Kakek yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ... apes sekali nasibmu, Zi? Digrebek warga karena salah paham. Hahaha ... tapi kenapa kau tidak melaporkan mereka pada polisi, itu 'kan fitnah yang merugikan."
"Saya tidak ingin memperpanjang masalah. Setelah ini saya akan pindah dari kompleks itu," jawab Zian.
Disisi lain.
Elara sampai ke kantor dengan tergesa-gesa. Sang bos sudah menunggunya sedari tadi. Elara mendorong pintu lalu menyerahkan laptop yang ia bawa untuk bahan meeting kali ini.
2 jam kemudian.
Meeting telah selesai, Elara akhirnya bisa bernafas lega. Dia berjalan keluar dibelakang sang bos yang usianya 5 tahun lebih tua darinya.
"Terima kasih atas kerja samanya," ucap Alan sang bos yang berterima kasih kepada kliennya.
"Sama-sama. Kami permisi dulu. Sampai jumpa minggu depan."
Setelah memastikan klien pergi. Elara juga berpamitan untuk kembali ke ruangannya tetapi Alan mencegah wanita cantik itu.
"Sudah sarapan? Jika belum ayo sarapan bersama!"
"Maaf, pak. Tapi saya sudah ada janji makan bersama Mita," jawab Elara sopan.
Alan terlihat kecewa. Ia menghela nafas lalu berjalan meninggalkan Elara tanpa basa-basi lagi. Elara senang karena sangat mudah untuk menolak ajakan dari Alan setiap harinya.
Setelah itu, ia pergi ke kantin untuk sarapan pagi dengan Mita, teman satu ruangannya. Mita berambut pendek dan berkacamata, ia dulu satu sekolah dengan Elara.
Elara memesan bubur ayam favoritnya dengan teh hangat untuk mengganjal perutnya yang sedari tadi keroncongan.
"Kemarin kemana? Tumben ambil cuti bulanan," tanya Mita.
"Ehm.. hanya dirumah saja."
"Tadi Pak Alan terlihat kecewa saat kau menolak ajakannya."
"Biarkan saja," jawab Elara malas.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia mendapat sebuah pesan lalu membacanya.
Papa Zi
(Sudah makan? Maaf tadi aku terburu-buru tidak menyiapkan sarapan.)
Elara mematikan ponselnya, ia malas sekali membalas pesan dari suami barunya.
Dia memainkan bubur ayam menggunakan sendok membuat Mita heran.
"Jorok banget sih dibuat mainan. Cepetan makan! Kita hanya diberi waktu istirahat 15 menit."
"Hemm... Aku mau tanya, konyol gak sih jika kita ada hubungan dengan calon mertua laki-laki?"
Mita menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya sambil menjawab. "Sebatas silahturahmi menurutku tidak masalah. Kenapa memang?"
"Masalahnya ini bukan silahturahmi. Kemarin aku lihat berita di TV. Ada cewek menikah dengan calon mertuanya," ucap Elara.
"Wah ... itu mah namanya maruk. Sudah anaknya diambil kini bapaknya juga diembat. Hahahaha," ucap Mita membuat Elara menelan ludah.
Elara menyendokkan buburnya sangat banyak ke mulut. Dia makan sambil menahan nafas karena saking malunya jika ia ketahuan menikah dengan calon mertuanya. Walau Zian masih sangat tampan bugar dan tidak terlalu tua tetapi yang namanya calon mertua kini menjadi terkesan aneh bukan?