19. Ingin Bahagia

2003 Words
Ridha terus melajukan motornya tak tentu arah, ia tidak tau mau kemana. Pulang ke rumah pun tidak ada siapa - siapa. Apalagi perasaanya kali ini sedang gundah, entah mengapa bayangan dirinya marah dengan Thalia yang menangis tersedu - sedu terus menghantui pikirannya. Dan ia sangat menyesali perbuatannya yang dengan sangat tidak tau malu, meminta maaf seperti tidak terjadi apa - apa. Tin! Tiba - tiba saja motor dibelakang Ridha mengklakson, membuat Ridha tersadar dari lamunannya. Rupanya sedari tadi Ridha mengendarai motornya dengan ugal - ugalan dan lambat, membuat motor dibelakangnya berkali - kali hampir menabrak motor Ridha namun masih bisa menghindarinya. Hingga akhirnya mengklakson Ridha karena tak sabar lagi. Mengaku salah, Ridha menggangguk meminta maaf lalu meminggirkan motornya untuk berhenti. Karena Ridha merasa takut membahayakan orang lain lagi jika mengendarai motor dalam keadaan seperti ini. "Huft." Ridha menghela nafas kasar, lalu menyugar rambutnya kasar, ia sedang mencoba menghilangkan banyangan Thalia yang menangis tersedu- sedu dipikirannya. Mengapa ia jadi seperti ini? Hatinya merasa tak tenang, dan lebih tepatnya ia takut. Takut hal yang selama ini ia tutupi akan terbongkar. 'Kenapa gue bego banget sih.' Rutuk Ridha dalam hati, sambil sesekali tangannya memukul - mukul kepalanya pelan. 'Bisa - bisanya gue bertingkah kayak gitu depan Thalia, apalagi gue baru kenal beberapa hari sama dia.' Ridha melamun menatap 'kosong' jalanan didepannya. "Arghhh.. Begobegobego" Lagi - lagi Ridha menyugar rambutnya frustasi, lalu memukul - mukul kepalanya sedikit lebih keras daripada yang tadi sambil terus mengumpati dirinya sendiri dengan kata 'bego'. Sampai kapan ia akan terjebak dalam perasaan tak meng-enakkan seperti ini? Hingga tiba - tiba matanya menangkap sosok anak kecil penjual asongan, kebetulan anak itu menjual rokok. Membuat Ridha jadi ingin menghisap beberapa batang. Apalagi dalam keadaannya yang seperti ini, Ridha benar - benar membutuhkan 'pelepasan'. "Dek!" Ridha memanggil anak penjual asongan itu, lalu dengan isyarat tangannya menyuruh mendekat. Dengan gesit, anak itu berlari mendekati Ridha. "Rokok sebungkus." Pinta Ridha sambil merogoh saku celananya, mengambil uang. "Ini kak." Sahut anak kecil itu, sambil menyodorkan sebungkus rokok pada Ridha. Namun nampaknya anak itu sedikit kesusahan untuk memberikan rokoknya pada Ridha, karena posisi Ridha yang lebih tinggi darinya. Ridha yang menyadari itu terkekeh kecil, lalu mengambil sebungkus rokoknya dari tangan kecil yang sejak tadi terus mengacung keatas berusaha menggapai Ridha. Setelah itu Ridha mengusap rambut anak itu gemas, dan memberikan selembaran uang 100 ribuan. "Kak, gak ada kembalian." Ujar anak itu sambil cemberut. Melihat wajahnya yang cemberut mmebuat Ridha semakin gemas. Sehingga tanpa sadar kembali mengacak rambut anak itu. "Udah.. Ambil aja." Sahut Ridha, dengan senyum masih dibibirnya. "Serius kak?" Tanya anak itu dengan mata berbinar. Ridha menggangguk sekali, membuat anak dihadapannya berteriak kegirangan lalu berlari menjauh setelah mengatakan terimakasih. 'Senangnya bisa jadi anak kecil.' Pikir Ridha dalam hati, sambil terus memerhatikan punggung anak kecil itu yang terus menjauh. "Huft." Ridha menghembuskan nafas kasar, menyadari dirinya bukanlah lagi anak kecil melainkan sudah dewasa. Dan orang dewasa tidak akan lari dari masalah. Tidak akan bisa, tepatnya. Tentu saja ia juga tidak akan lari dari masalah. Hanya saja, saat ini ia ingin melupakan dulu sejenak 'masalahnya'. Ridha mengambil satu batang rokok lalu membakar ujungnya. Setelah menyala, Ridha memasukkan ujungnya yang lain kedalam mulutnya sendiri dan mulai menghisapnya. Dan detik berikutnya Ridha menghembuskan kepulan asap berwarna putih ke udara. Ridha menatap asap rokok yang dihasilkannya terus terbang ke angkasa lalu menghilang tak berbekas bagai tak pernah terjadi apa - apa. 'Kalau aja, masalah gue selesai semudah asap rokok yang terbang lalu menghilang. Pasti gue gak bakalan pusing kayak gini.' Pikir Ridha enteng. Namun, Ridha tak memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu. Asap rokok memang akan menghilang tak berbekas. Tapi, baunya akan menyebar dan melekat. Bukan hanya pada 'siperokok' saja, tapi pada orang yang berada disekitar 'siperokok' juga. ••• Rida berjalan melewati lorong - lorong rumahnya dengan lesu. Pada akhirnya ia memutuskan kembali ke rumah ini, karena tidak ada lagi tempat yang bisa ia tuju. Walau Rida tidak yakin, kalau tempat yang saat ini ia tinggali bisa disebut sebagai rumah atau tidak. Karena yang Rida tahu, rumah itu penuh dengan tawa dan cerita. Tidak seperti disini, semuanya begitu sibuk dengan urusan masing - masing, membuat rumah ini begitu sepi seolah hanya dia saja yang tinggal di rumah ini. Rida terus berjalan, melewati deretan barang - barang mewah yang mungkin tidak akan ia temukan di tempat lain. Namun, apa tempat ini masih bisa disebut rumah? Rida merasa tempat ini lebih cocok disebut museum barang mewah. Rida menyunggingkan senyuman sarkas, memikirkan pemikirannya sendiri. Rida terus melangkahkan kakinya, hingga tanpa sadar dirinya telah berada tepat di depan pintu berwarna cokelat polos. Kedua kakinya membawa dirinya, kembali ke ruangan tempat Thalia salah masuk tadi. Mata Rida menatap kosong pintu dihadapannya, tangannya yang bergetar terangkat perlahan, lalu memegang kenop pintu itu denga kuat. Rida memutar kenop pintu itu perlahan. Ceklek. Pintu terbuka, menampilkan ruangan serba putih yang begitu terasa kosong. Awalnya Rida merasa ragu, namun akhirnya ia melangkahkan kakinya yang terasa lemas, masuk kedalam ruangan itu lebih dalam. Tangan Rida meraba kasur diatas ranjang yang terlewati olehnya, kasur itu terasa sangatlah dingin. Seolah memberitahukan bahwa tidak ada yang pernah menggunakannya. Seketika kaki Rida terasa berat untuk melangkah, nafasnya bergemuruh, pikirannya berkecamuk memikirkan segala hal. Tatkala ia melihat tiang infusan yang tersimpan tepat disamping ranjang itu. Pikirannya terus berkecamuk hebat, semua hal tiba - tiba berseliweran didalam kepalanya, suara - suara mengisi pikirannya, membuat Rida merasa pusing seketika. Rida memalingkan wajahnya, kedua matanya berkaca, nafasnya tak beraturan, namun ia tetap masih menahan kesakitan didalam dadanya. Dengan langkah yang berat, Rida memaksa kakinya berjalan menuju sisi lain, menuju serpihan - serpihan pigura itu berada. Rida menatap kosong potongan - potongan pigura dan serpihan- serpihan kaca yang ada dibawah kakinya. Ia berjongkok, mengumpulkannya sedikit demi sedikit, membereskannya. Sekuat tenaga Rida menekan perasaannya, namun ketika pandangannya beralih pada foto yang terbalik didekatnya... Pertahanannya hancur seketika. Perasaan sakit menyeruak memenuhi rongga dadanya, membuatnya sesak. Memori - memori hitam bermunculan di kepalanya, suara - suara bising memenuhi kepalanya. "Argghh!!!" Rida berteriak tak sanggup lagi menahan kesakitan yang ia rasakan. "Berisik!!! Anjingggg!!!" Rida berteriak kesakitan, sembari menutup kedua telinganya. Suara - suara itu terus memenuhi kepala Rida, membuatnya pikirannya berkecamuk tak tentu arah. "BERISIKKK!!!!" Rida menyungkurkan kepalanya kelantai, bersujud sambil menutup kedua telinganya. Perlahan kedua bahunya bergetar hebat, dan isakan yang menyayat hati terdengar pelan, memenuhi ruangan yang begitu sepi. Rida tak sanggup lagi. Ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang perlahan menggerogoti nya dari dalam, membunuhnya perlahan, tak menyisakan harapan sedikitpun bagi Rida. Rida terus berada dalam posisi itu untuk beberapa saat, tanpa ia sadari jika pintu ruang terbuka sedikit sedari tadi. Dan ada seseorang yang memperhatikannya dengan perasaan tercabik-cabik, melihat kondisi Rida yang kesakitan seperti itu. Dia adalah Bu Tari, kepala pelayan sekaligus orang yang paling dekat dengan Rida di rumah ini. Dia yang mengetahui kisah - kisah Rida yang orang lain, atau pelayan lain tidak tahu. Hatinya sakit sekali melihat Rida begitu kacau seperti ini. Ia ingin memeluk Rida, menenangkannya. Namun, sedekat apapun ia dengan Rida, ia tetap tidak akan bisa menyembuhkan luka di hati Rida. Karena bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang kepala pelayan. Setelah cukup lama terdiam, Bu Tari bergegas pergi dari sana, lebih baik ia menyiapkan sesuatu yang sekiranya bisa menghibur Rida. ••• Dengan langkah gontai, Rida menaiki tangga menuju ke atap rumahnya. Ditangannya tergenggam sebuah foto yang sudah diremas - remas hingga tak berbentuk. Rida sampai diujung anak tangga, tangannya mendorong pintu yang terbuat dari besi, hingga pintu itu terbuka dan menunjukkan sebuah lahan luas berwarna hijau dengan tulisan 'H' ditengahnya. Ya, itu adalah helipad pribadi milik keluarga Rida. Rida melangkahkan kakinya menuju ujung atap rumahnya, lalu mendudukkan dirinya disana, dengan kedua kaki yang menjuntai kebawah. Begitulah kebiasaan Rida ketika sedang gundah, ia akan duduk di atap sambil memandangi langit. Jika kalian berpikir Rida mencoba melompat dari atap, kalian salah. Bukannya Rida tidak mau, tapi ia sudah mencobanya dan itu sia - sia. Rida menundukkan kepalanya menatap ke bawah kakinya. Lihat saja, puluhan pria berseragam hitam begitu banyak dibawah sana, mereka sudah bersiap - bersiap menjaga Rida dibawah sana. "Hah! Emangnya gue tahanan apa?!" Gumam Rida sarkas. Rida mengeluarkan korek dari saku celananya, membakar foto lusuh yang sedari tadi ia genggam. Foto itu terbakar sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hilang menjadi abu. Rida menyunggingkan senyuman miring. Seharusnya ia melakukan ini sedari dulu. Dengan begitu Thalia tidak akan melihat foto itu. "Argh!!" Rida mengerang frustasi, sambil menjatuhkan punggungnya kebelakang, tidur terlentang di atas helipad. "Apakah... Gue masih bisa bahagia." Ucap Rida lirih. "Apa masih ada tempat buat orang kayak gue di dunia ini?" Lirih Rida lagi dengan putus asa. Rida menutup matanya dengan sebelah lengannya, memilih tidur dan melupakan semua masalahnya sejenak. Drttt... Drttt... Drttt... Handphone didalam saku celana seragam Rida bergetar, tanda ada telepon masuk. Rida merogoh saku celananya, mengambil handphonenya dari dalam sana. Nama Thalia terpampang jelas di layar handphonenya, dan meminta panggilan video. Rida mengerutkan keningnya, ia mengangkat panggilan itu, masih dengan posisi terlentang. Namun ketika panggilan tersambung, bukannya menampilkan wajah Thalia, layar handphonenya malah menampilkan wajah kucing yang begitu dekat, dan terlihat mengendus - endus layar. Kerutan di kening Rida semakin dalam. 'Kok si bulbul yang muncul?' Tanya Rida dalam hati, masih mengingat kucing yang ia berikan kepada Thalia beberapa jam lalu. "Halooo... Babu ku yang dulu..." Tiba - tiba terdengar suara yang dibuat - dibuat dari video tersebut. Yang tentu saja Rida yakini itu Thalia. Senyuman kecil tersungging di bibir Rida, mendengar suara Thalia yang berusaha terdengar lucu, malah jadi terdengar konyol menurut Rida. "Kenalin nama James Wijck." Ucap Thalia lagi masih dengan suara yang dibuat - buat dan tidak menampakan wajahnya di layar, karena kucingnya berada terlaku dekat dengan kamera. "Eh! Apaan? Namanya kan Bulbul." Seru Rida tak terima. "Gue ganti! Soalnya namanya terlalu kucing." Ucap Thalia lagi, yang kali ini menggunakan suara aslinya "Ppftt..." Seketika Rida ingin tertawa mendengar penuturan Thalia yang absurd. "Ya emang kucing bangsul! Apaan James Wijck! Susah bener namanya." Protes Rida lagi. "Bodo amat, suka - suka gue dong. Gue kan babu baru dia. " Ucap Thalia keras kepala, sembari mengangkat kucingnya menjauh dari kamera dan menyimpannya dipangkuan nya. Mendengar itu Rida bisa terdiam sembari tersenyum. "Btw Rid, lo lagi dimana?" "Gue? Lagi di helipad." Ujar Rida apa adanya. "Apa?! Rumah lo ada helipad nya!" Thalia berteriak heboh. Ekspresi muka Thalia yang kocak, sukses membuat Rida tertawa ringan. "Rid, gue gak ngerti lagi sama manusia kayak lo! Kok bisa sih ada orang sekaya lo dimuka bumi ini?" Heran Thalia, hiperbola. " Jangan - jangan ni kucing suka lo kasih makan wishkash yang ada berliannya lagi?" Tanya Thalia random. "Kalau iya kenapa?" Tanya Rida balik, sambil tersenyum jahil. "Ha?! Gimana dong. Tar dia gak mau lagi dikasih makan wishkash pasar." Thalia memonyongkan bibirnya, cemberut. "Apaan wishkash pasar?" Rida serius bertanya. "Itu loh, wishkash kw. Yang sekilo nya tiga puluh ribu..." Jelas Thalia. "Eh gila lo! Mau mencret si bulbul?" Rida menolak keras. "James Wijck!" Seru Thalia mengkoreksi. "Iya...." Sahut Rida malas. "Ya abisnya wishkash mahal Rid. Kalau gue maksain beli wishkash tar keluarga gue makan sama ikan asin." Keluh Thalia. "Yaudah, tar gue kasih persediaan makanan kucing buat lo." Ucap Rida akhirnya. "Horeeee!!! Makasih Rida! Makasih mantan babuku!" Thalia berseru riang, sembari memainkan kedua kaki depan kucingnya, mencoba membuat gestur bahagia. "Gak modal lu!" Cerca Rida sambil tersenyum mengejek. "Wleee... Biarin." Ucap Thalia tak peduli. Rida tak sadar, jika sedari tadi Tari berdiri di belakang Rida dengan senyuman bahagia. Ditangannya, ia membawa nampan berisi berbagai macam makanan. Tadi ia panik ketika tidak melihat Rida di kamar itu, ia panik mencari Rida kemana - mana. Ia sangat khawatir karena kondisi Rida sedang tidak baik. Namun, saat melihat Rida bisa tersenyum lagi, perasaannya begitu bahagia hingga tak bisa berkata - kata. Dengan cepat Tari melangkahkan kakinya menjauh dari sana, karena tentu saja ia tidak mau mengganggu momen bahagia Rida saat ini. Sementara itu, Rida masih berbicara dengan Thalia via video, sesekali ia tertawa lepas melihat tingkah konyol Thalia. Dalam hati Rida berucap. 'Mungkin, gue masih punya harapan buat bahagia.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD