Diam.
Baik Thalia maupun Rida sama - sama terdiam tak berbicara sepatah kata pun.
Thalia terdiam sembari memainkan ujung rok seragam barunya yang masih kaku. Sementara Rida terdiam duduk diatas motor, entah bagaimana ekspresi wajahnya karena ia menggunakan helm full face.
Thalia membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi, suaranya seakan tercekat ditenggorokan, sehingga sulit untuk mengeluarkan suara. Hal ini terjadi karena ia menahan emosi yang meluap - luap. Dan emosinya itu adalah..
Malu..
Ya, Thalia malu sekaliiiii!!!!
Aaahhhh benar - benar, Thalia tak akan bisa pernah lupa hal itu.
Bagaimana bisa ia ngompol di rumah orang?!
Mana ngompolnya pas lagi momen mengharukan lagi.
Thalia yang sedang menangis, Rida yang sedang merasa bersalah. Eh, dengan tidak sopan nya si air kencing itu keluar begitu saja.
'Gak bisa gitu lo nunggu dulu sampai gue pulang ke rumah?! Ha?!' Thalia mengutuki dirinya sendiri dalam hati
Huwaaaa ini hari paling memalukan yang pernah terjadi di hidup Thalia.
Saking malunya Thalia hanya bisa mematung saat tahu ia mengompol, setelah itu Rida menyuruh pelayannya membeli rok seragam SMA baru. Lalu setelah berganti rok, Thalia langsung diantar pulang ke rumah oleh Rida. Dan sepanjang perjalanan, Thalia hanya terdiam tak berbicara sedikitpun, begitu pula dengan Rida.
Entah bagaimana ekspresi Rida, karena Rida terus menggunakan helm full face nya. Mungkin saja Rida sedang menertawakan ia didalam helm-nya itu.
"Makasih. Gu-gue pulang dulu." Ucap Thalia dengan canggung, lalu berbalik dan berjalan menuju rumahnya dengan langkah kaki yang kaku.
"Ehh! Thal!" Panggil Rida, membuat Thalia seketika membalikkan tubuhnya dengan cepat. "Ini kucing lo belum kebawa." Seru Rida mengingatkan, sembari menyodorkan kandang kecil berisi kucing berwarna abu - abu didalamnya.
"Oh.. iya." Thalia tersenyum kaku, lalu dengan secepat kilat mengambil kandang itu dari tangan Rida.
Setelah itu Thalia kembali membalikkan tubuhnya, kemudian setengah berlari menuju rumahnya.
"Thalia!" Panggil Rida lagi, membuat mau tak mau Thalia menghentikan langkah kakinya.
Dengan berat hati Thalia membalikkan tubuhnya, menatap Rida yang kini membuka kaca helm-nya.
Dalam hati Thalia menggerutu.
'Aduh.. kenapa sih Rida manggil - manggil mulu, apa dia gak tahu kalau gue sudah malu setengah mati dan pengen menghilang aja dari dunia secepatnya? Apa jangan-jangan dia mau ngejekin gue?!' pikir Thalia dalam hati, was - was.
Namun, dari sorot matanya Thalia bisa tahu jika Rida sedang serius.
Thalia memandang bingung Rida yang hanya menatapnya dengan sendu.
"Gue... Minta maaf sekali lagi ya Thal. Jangan marah lagi sama gue, gue tahu yang gue lakuin gak bisa dibenarkan. Tapi gue harap, lo mau maafin gue dan mau ngomong lagi sama gue. Gue harap kita masih bisa berteman." Ucap Rida lagi.
Thalia tak bisa melihat bagaimana ekspresi mulut Rida, karena helm itu hanya memperlihatkan kedua bola mata Rida. Namun, Thalia bisa merasakan dengan jelas tatapan bersalah dan sendu yang terpancar dari kedua mata Rida.
Thalia mengangguk pelan.
"Iya... Gue udah maafin lo kok." Ujar Thalia tulus.
"Huft..." Thalia menghela nafas lega.
'Ternyata Rida gak ngejekin gue. Untung aja.' Ucap Thalia dalam hati, bersyukur.
"Makasih Thal." Mata Rida terlihat menyipit, seperti sedang tersenyum. "Kalau gitu gue pulang dulu ya." Pamit Rida, yang dijawab anggukan singkat oleh Thalia.
Rida menutup kembali kaca helm-nya, lalu menghidupkan mesin motornya, hendak pergi dari sana.
Namun, sebelum pergi Rida kembali menolehkan kepalanya yang terbalut helm kearah Thalia.
"Sebelum tidur pipis dulu, biar gak ngompol di kasur." Ucap Rida singkat, lalu melesat menjauh dari rumah Thalia. Meninggalkan Thalia yang masih terdiam di posisinya, dengan mulut menganga.
"Anjir!!!!!" Thalia menjerit tertahan, dongkol setengah mati. "Kasar! Kasar! Kasar!!!" Umpat Thalia agak aneh. Karena ia ingin berkata kasar, tapi takut dosa, jadinya ia mengatakan kata 'kasar' yang sesungguhnya.
"Huwaaa Rida bangkeee!!!" Thalia terus mengumpati Rida, yang kini punggungnya saja sudah tidak terlihat di pandangan.
Thalia malu sekali, jika digambarkan mungkin wajah Thalia sudah seperti kepiting rebus saat ini.
"Huwaaa... Bulbul, si Rida jahat banget sama gua....." Thalia mengadu pada kucing abu - abu yang ada didalam kandang, yang sedari tadi ia pegang.
"Bulbul! Hibur gue dong! Jangan molor aja." Hardik Thalia frustasi, mulai tidak waras.
"Bulbul!" Panggil Thalia lagi, karena kucingnya terus tertidur. "Apa gue iket aja si Rida terus gue buang ke kali?!" Thalia bermonolog, mulai melantur. "Atau... gue bakar aja rum—"
Ting!
Suara bel sepeda menyadarkan Thalia dari ketidakwarasan sesaatnya.
Thalia melihat siapa yang membunyikan bel sepeda didepannya dan ternyata itu adalah..
Pengantar surat.
Thalia mengerutkan keningnya heran. Melihat ekspresi sang pengantar surat yang aneh menurut Thalia. Ya, ekspresi wajahnya seperti pencampuran antara kaget dan takut.
Padahal, Thalia merasa tak ada hal yang harus ditakuti disekitarnya.
Mungkin.
"Ada apa ya mas?" Tanya Thalia tenang, berbanding terbalik dengan keadaan mas pengantar surat yang terlihat kaget, dan takut.
Dengan tangan gemetar, mas pengantar surat mengulurkan tangannya kearah Thalia, berusaha memberikan surat yang ada pada genggaman tangannya.
Namun karena mas - mas pengantar surat memberikannya sangat lama. Akhirnya Thalia merebut paksa surat itu dari tangannya. Membuat mas - mas pengantar surat itu tersentak kaget, tapi kemudian terdiam lagi.
Thalia menatap surat ditangannya. Disitu tertulis:
To: AgrenCayank?
'Iew.. Pasti dari pacarnya.' Pikir Thalia jijik.
Ya jijiklah. Zaman modern kayak gini masih surat - suratan, ketinggalan zaman banget. Mana pake hati segala lagi.
'Mau pamer pacar kak?' Pikir Thalia sarkastik.
Thalia kembali menegakkan kepalanya hendak masuk kedalam rumah, namun ternyata mas - mas pengantar surat masih ada dihadapannya dan masih menatapnya takut.
Thalia menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan sikap aneh si pengantar surat dari tadi.
"Ada apa lagi mas?" Tanya Thalia, membuat mas - mas pengantar surat melonjak kaget.
'Perasaan gue ngomong biasa aja deh.' Pikir Thalia, makin heran dengan sikap mas - mas pengantar surat itu.
"Mas kenapa sakit?" Tanya Thalia, diam - diam ia khawatir melihatnya. Jangan - jangan masnya sakit, makanya bersikap aneh.
"Eh e-e-enggak." Dengan cepat mas pengantar surat itu menggeleng kuat, lalu berlari sekencang - kencangnya menjauh dari Thalia.
"Hati - hati mas."
Bruk.
Baru saja Thalia peringatkan. Tiba - tiba saja mas pengantar surat itu terjatuh, gara - gara tersandung semak belukar yang sengaja dibiarkan tumbuh dihalaman rumah Thalia.
"Ppftt.." Thalia berusaha keras menahan tawanya, karena agak merasa kasihan juga melihatnya
Namun mas pengantar surat itu seperti tidak kesakitan. Ia segera bangun, dan melirik Thalia sebentar. Setelah itu ia berlari lagi kearah sepedanya lalu dengan segera melajukannya dengan cepat.
Barulah ketika si mas pengantar surat itu sudah hilang dari pandangannya, tawa Thalia langsung pecah, sepecah - pecahnya.
"Wahahaaahaaa pasti itu sakitnya gak seberapa, tapi malunya wahahahahahaha. Kayak orang yang lagi meluncur wahahahaha. Mas, mas, pasti malu banget ya... Yaampun... untung gue gak per...."
Tiba - tiba saja ucapan beserta tawanya terhenti. Dan kilasan memori tentang dirinya ngompol di rumah Rida kembali terputar di kepalanya.
"Argghhh!!!" Thalia menjerit frustasi, sambil menepuk kepalanya dengan sebelah tangan. "Gue harap gue ilang aja dari muka bumi! Malu - maluin banget sih gue..." Thalia merutuki dirinya sendiri.
"Gue gak bakal bisa ketemu Rida lagi, gak bakal. Yang ada gue abis diejekin mulu." Gumam Thalia panik. "Eh, apa gue pindah kelas aja ya?" Thalia terdiam, memikirkan pemikiran gilanya.
Sedetik kemudian Thalia menggeleng. "Ah, gak - gak. Nanti gue gak bisa bareng - bareng sama Lina lagi." Ujar Thalia lagi, masih bisa berpikir waras. "Udahlah, gak usah dipikirin." Ucap Thalia pasrah.
Thalia pun membuka pintu rumahnya dengan cepat. Ia ingin segera bertemu dengan selingkuhannya yaitu kasur, karena menurutnya pacarnya itu adalah Mingyu.
"Assalamualai—Aaaaa!" Thalia menjerit kaget, saat tiba - tiba kepala Agren menyembul dari pintu dan tersenyum aneh.
"Ngapain sih lo! Ngagetin aja!" Sungut Thalia, kesal.
"Hehe, engak kok pengen aja." Ujarnya santai lalu berjalan melewati Thalia dan duduk disofa dengan masih tersenyum mencurigakan.
'Kok Agren aneh ya? Apa jangan - jangan..' Selidik Thalia.
"Nih surat buat lo." Ucap Thalia sambil menyodorkan suratnya pada Agren.
"Dari siapa?" Tanya Agren masih tersenyum.
"Orang gila mana lagi yang mau nerima elu." Ejek Thalia sarkatis.
Mendengar ejekan itu, Agren malah ber-oh ria. Tidak membalas mengejek Thalia seperti biasanya. Dan ini sangat aneh.
"Emang lo gak nyadar ada tukang surat?" Tanya Thalia memancing.
"Enggak, kenapa?" Sahut Agren, sambil membuka suratnya.
"Berarti lo gak diem - diem ngintip keluar lewat jendela kan?" Tanya Thalia lagi, memastikan.
"Enggak.. Kenapa adikku sayang?" Agren tersenyum manis. Membuat Thalia bergidik ngeri. Sepertinya Agren benar - benar sakit. SAKIT JIWA!
"Eh e-enggak, gue kekamar dulu." Thalia menghela nafas lega, saat tau sepertinya Agren tak melihatnya bersama Ridha.
Ya, saat ini itulah yang dipikirkannya kalau masalah Agren gila mah. Bodo Amat.
"Ekhem, untuk Agren tercayang!" Agren membaca suratnya keras - keras, membuat Thalia mendelik kesal.
Untuk apa dia membaca surat dari pacarnya dengan keras, mau ngejekin Thalia yang jomblo?
"Kamu inget gak, waktu kamu kasih kucing ke aku? Aku seneng...banget sampai teriak - teriak kayak orang GILA." Agren kembali membaca surat itu, dengan menekankan kata 'gila'.
Wait...
Thalia berhenti melangkah ia merasa tak asing dengan apa yang Agren baca.
'Jangan - jangan.. Agren lagi nyindir gue? Ah, tapi bisa aja isi suratnya emang gitu.' Thalia mencoba berpikir positif. 'Lagian, gue gak teriak - teriak kok.' pikir Thalia lagi, denial.
"Tau gak, setelah kamu pergi ada tukang surat. Tukang surat itu liat kalau aku lagi teriak - teriak jadi dia kayak ketakutan gitu. Dan kamu tau gak, kalau kakak aku ngintip dari jendela semenjak denger suara motor kamu datang. Hehe." Agren mengakhiri suratnya, dengan tertawa miring dan menatap Thalia mengejek.
Thalia melotot, baru menyadari. Kalau Agren membohonginya dari tadi. Dengan cepat Thalia menghampiri Agren yang terlihat tenang.
"Oh... Lo liat, tapi gak ngaku lo hah? Ngejek gue lo!" Teriak Thalia marah, sambil memukuli kakanya dengan bantalan sofa.
"Wahaha.. Suruh siapa pacaran di depan rumah...? Mana teriak - teriak lagi lo kaya orang gila! Segitu senengnya lo dikasih kucing sama tuh cowok? Wahahahaha tukang pos aja sampai ketakutan liat lo teriak - teriak. Wahahahahaha...." Cecar Agren semnari tertawa terbahak-bahak, mengingat ekspresi tukang pos tadi. Ia tak henti-hentinya mengejek Thalia, sambil tetap melindungi dirinya dari serangan ganas yang dilayangkan olehThalia.
Mendengar itu membuat Thalia semakin kesal, dengan brutal Thalia memukuli Agren dengan bantalan sofa.
"Dasar Agren laknat! Gue doa'in cepet putus lo!" kesal Thalia.
Tiba - tiba Agren berdiri dari duduknya dan memasang wajah serius saat mendengar ucapan Thalia. Membuat Thalia menghentikan aksinya.
'Jangan - jangan Agren marah.' pikir Thalia takut.
"Gak bisa - gak bisa." Ucap Agren sambil berjoget - joget gak jelas.
Rupanya perkiraan Thalia salah, kakaknya memanglah gila.
"Ahhh.. Nyebelin lo!" Teriak Thalia sambil mendorong Agren dengan sekuat tenaga, hingga Agren terjatuh menyungkur diatas sofa dengan kepala mendarat duluan.
Setelah itu Thalia segera ngibrit, melarikan diri kekamarnya dilantai dua, sebelum Agren mengamuk.
Thalia mengunci pintu kamarnya, takut kalau Agren tiba - tiba masuk.
"Emang gue kelihatan kayak yang pacaran ya, sama Ridha?" Gumam Thalia. Sambil merebahkan diri dikasur.
"Hahahaha, mana mungkin gue sama Rida pacaran. Gak cocok banget. Masa orang pacaran setiap hari berantem...terus, bukannya memperindah hidup, malah mempersulit hidup." Gumam Thalia menyangkal pemikirannya sendiri dengan sarkas.
"Lagian, Agren bisa nyimpulin hal kayak gitu darimana coba?" Monolog Thalia lagi, masih merasa tak terima dengan ucapan Agren. "Orang gue sama Rida gak ngelakuin hal - hal yang sering dilakuin orang pacaran kok." Ucap Thalia lagi, membela diri. "Gue cuman dianterin pulang, udah itu doang. Gak pelu...."
Perlahan suara Thalia menghilang, kedua matanya membesar, melotot menatap langit - langit kamar. Mulutnya menganga tak percaya, tatkala kilas memori tentang Rida yang memeluknya terlintas dipikirannya.
"Rida... Meluk gue?" Gumam Thalia tak percaya.
Thalia terdiam, masih memproses memori di otaknya itu
Satu detik... Dua detik... Tiga detik...
"Apa?! Rida meluk gue?!" Histeris Thalia sambil bangkit dari posisinya dengan sekali gerakan. "Gila kali tuh orang! Cari kesempatan pisan!" Thalia misuh - misuh. "Mana rumahnya gede banget, sepi lagi. Gimana kalau gue diapa - apain sama dia?" Dumel Thalia kesal, mengingat Rida yang memeluknya saat Thalia sedang tidak fokus.
"Ih... Cari kesempatan banget!" Thalia mencebik untuk kesekian kalinya.
Jika kalian berpikir Thalia akan senang dipeluk Rida, jangan harap. Karena begitulah Thalia.
Tapi tunggu.
Deg.
'Suara apa tuh?' Pikir Thalia bingung.
Deg deg
'Loh kok dua kali?' Thalia merasa suara itu sangat dekat, tapi berasal darimana?
Deg deg deg
'Tiga kali! Suara apa sih?!' Pikir Thalia mulai takut. Matanya melihat sekeliling, mencoba menemukan sumber suara itu.
Hingga tiba - tiba ada suara menggema dalam pikirannya.
'Aelah, bego amat. Itu suara detak jantung lo..!' Maki suara itu pada Thalia.
"Detak jantung gue?" Gumam Thalia pelan, sambil menyentuh bagian dadanya.
"Apa jangan - jangan..." Kening Thalia mengerut was - was.
Dengan cepat Thalia membuka kunci pintu kamarnya, dan membuka pintu lebar - lebar.
Tepat saat itu ada Agren yang sedang menyapu didepan kamarnya.
Thalia segera menghampirinya dan memegang kedua lengan Agren kuat.
Agren yang bingung dengan sikap Thalia pun hanya mengerutkan keningnya.
"Gren.. Gu-gue.." Ucap Thalia terbata - bata dengan wajah takut.
"Ada apa?" Agren jadi ikut khawatir. Namanya juga kakak.
"Gu- gue kayaknya..." Thalia menelan ludahnya, suaranya sulit keluar.
"Lo kenapa?!" Panik Agren khawatir, melihat wajah Thalia yang ketakutan.
"Gue..." Wajah Thalia seolah hampir menangis.
Agren menunggu kelanjutan ucapan Thalia dengan was - was.
"GUE PUNYA PENYAKIT JANTUNG HUWAAA!!" Teriak Thalia tepat didepan wajah Agren, lalu ia menangis kencang.