17. Sisi Lain Dari Rida

2018 Words
"Eh gak boleh, ini makanan aku." Larang Thalia sembari menjauhkan sekotak pizza dari hadapan kucing yang sedang ia gendong. "Nah, ini baru makanan kamu..." Ujarnya lagi sembari menyodorkan snack kucing yang berbentuk seperti choki - choki, yang tentu saja langsung disambut dengan agresif oleh kucing berwarna kuning di pangkuannya. Thalia mengambil segelas es jeruk yang ada diatas meja, lalu meminumnya, dengan tangannya yang satu lagi tetap menyuapi snack kucing ke mulut kucing kuning itu. Gluk! Gluk! Gluk! Satu gelas langsung habis dalam sekali minum, sepertinya Thalia benar - benar haus. "Aduh..." Rintih Thalia, setelah meminum habis satu gelas es jeruk. Masih dengan rintihan dimulutnya, Thalia menyimpan gelas itu ke atas meja dengan perlahan. "Aww!" Kali ini Thalia mengaduh cukup keras, membuat Rida yang sedang fokus bermain dengan kucing langsung menolehkan kepalanya. "Kenapa lo?" Tanyanya dengan raut khawatir yang tergambar jelas diwajahnya. "Pengen pipis." Jawab Thalia dengan suara pelan dan wajah menahan pipis. Seketika wajah Rida berubah datar. "Gue kirain kenapa?!" Cecarnya. "Pipis ya tinggal pipis, makanya kalau minum tuh sedikit - sedikit!" Omel Rida. "Aduh... Lo malah ceramah. Dimana toiletnya!" Ujar Thalia jengah. "Pintu ke tiga kekiri dari sini. Itu toilet." Jawab Rida singkat, lalu kembali bermain dengan kucing menggunakan kemoceng. Setelah mendengar itu, tanpa ba-bi-bu lagi Thalia bergegas berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangan kucing itu. Mengingat instruksi dari Rida, Thalia berjalan ke kiri lalu menghitung pintu - pintu yang ia lewati. "Satu... Dua..." Thalia berjalan dengan tergesa, kakinya yang sengaja dibuat rapat, membuat ia agak kesulitan berjalan. "Tiga!" Seru Thalia setelah menemukan pintu ketiga. Namun... Disebrang pintu itu juga ada sebuah pintu. Aduh... Thalia jadi galau, kira - kira pintu mana yang toilet? "Aduh! Gue gak kuat lagi!" Teriak Thalia tak tahan, lalu segera membuka pintu yang ada disebelah kirinya, karena ia ingat Rida mengatakan kata kiri. Pintu terbuka, namun ternyata itu bukan toilet. Thalia tercengang melihat isi ruangan yang ada dihadapannya. Ruangan itu terlihat seperti... Kamar inap rumah sakit. Thalia tercengang, matanya melirik mengitari ruangan itu. Seketika perasaan ingin kencingnya hilang begitu saja. Ruangan itu benar - benar terlihat seperti kamar inap. Namun, di ruangan itu hanya ada ranjang dengan tiang infus disampingnya, serta meja kecil berwarna putih dengan vas bunga dan sebuah pigura foto diatasnya. Ruangannya yang juga berwarna putih polos tanpa hiasan apapun, membuat kamar itu benar - benar seperti kamar inap yang kosong. "Kok Rida gak bilang ada ruangan ini di lantai keempat." Gumam Thalia, karena ia tidak ingat Rida pernah mengatakan tentang ruangan ini. Tanpa sadar kaki Thalia melangkah masuk lebih dalam keruangan itu. "Wah... Gak ngerti lagi sama orang kaya. Sampai punya rumah sakit sendiri." Gumam Thalia sembari berdecak kagum. Thalia berjalan mendekati jendela besar di samping ranjang itu, berdiri didepannya dan melihat keluar jendela. Jendelanya begitu besar, namun itulah satu-satunya jendela di ruangan itu. Jendelanya pun tidak bisa dibuka, namun pemandangannya mengarah langsung ke taman rumah Rida yang begitu indah. Selesai mengamati pemandangan dari luar jendela, Thalia berjalan mengitari ranjang yang sangat mirip ranjang rumah sakit itu, lalu tangannya menyentuh meja marbel yang berada tepat di samping kanan ranjang tersebut. Thalia tersentuh melihat bunga - bunga segar berwarna-warni yang begitu cantik yang berada didalam vas bunga, lalu atensinya teralihkan pada sebuah pigura foto yang tersimpan di atas meja. Thalia meraihnya, memandang lekat pigura foto itu. Namun sedetik kemudian kerutan di keningnya terlihat. Saat Thalia sadar jika foto yang ada di pigura itu ternyata terbalik. Ya, fotonya terbalik. Thalia bisa menyadari itu kala melihat kertas putih yang menghiasi kaca pigura itu memiliki watermark nama studio photo di sekitarnya. "Kenapa fotonya kebalik?" Gumam Thalia bingung. Thalia membalikkan pigura itu untuk melihat bagian belakangnya, namun ia menemukan sebuah tulisan disana. Tulisan yang ditulis dengan pulpen, dan sudah agak sedikit pudar. "Kalian nafasku, jiwaku, detak jantungku. Lalu disaat kalian pergi, apa yang masih tersisa?" Thalia bergumam, membaca tulisan yang terdapat di bagian belakang pigura itu. Kerutan di dahi Thalia semakin dalam setelah membacanya. Kira - kira apa maksudnya? Foto apa ini? Dan ruangan apa ini? Begitu banyak pertanyaan bersemayam dipikiran Thalia. Namun belum sempat Thalia menemukan jawabannya, tiba - tiba... "THALIA!!!" BRAK! Mata Thalia terbelalak, melihat pecahan kaca yang ada dibawah kakinya. Suara Rida yang menggelegar dari arah pintu, membuat ia terlonjak kaget dan tanpa sadar menjatuhkan pigura yang ada ditangannya. Thalia menggigit bibir bawahnya, matanya bergetar ketakutan. Dengan cepat Thalia berjongkok, dan berusaha mengumpulkan kaca pigura itu. 'Duh... Baru juga sebentar, udah ngerusak dirumah orang lo!' Thalia merutuki dirinya sendiri dalam hati. "Thalia! Apa yang lo lakuin?!" Hardik Rida antara marah dan tak percaya. Bergegas Rida berjalan mendekati Thalia. "Aduh, maaf Rid gue gak sengaja." Sesal Thalia sambil terus mengumpulkan pecahan kaca yang dilantai. "Berhenti!" Hardik Rida tajam. "Maaf Rid, gue bener gak sengaja. Gue bakal ganti deh, beneran." Ujar Thalia lagi dengan panik, kini tangannya hendak meraih foto yang terbalik diatas lantai, bermaksud untuk menyimpannya diatas meja. Namun... "BERHENTI GUE BILANG!" Teriak Rida sambil mencengkram kuat lengan Thalia, mencegah Thalia untuk mengambil foto itu. Thalia tersentak, wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Rida yang terlihat saaaangat marah. Kedua matanya melotot tajam, nafasnya naik turun, rahangnya mengeras, mukanya yang merah padam. Menunjukkan jika Rida benar - benar marah. Baru kali ini Thalia melihat Rida semarah itu. "Gue... Minta maaf Rid, gue gak sengaja..." Cicit Thalia, sembari menunduk ketakutan. Sepertinya... ia telah melakukan kesalahan fatal. "Sini! Keluar lo!" Hardik Rida sembari menarik lengan Thalia dengan kasar, membawanya keluar dari ruangan itu. "Aw! Aw! Rida! Sakit!" Rintih Thalia kesakitan, namun Rida seolah tak mendengarnya dan terus menggeret Thalia keluar dari ruangan itu. Rida melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Thalia, setelah mereka berada di luar ruangan tadi. "Aduh... Sakit..." Desis Thalia, sambil mengusapi pergelangan tangannya yang memerah. Rida tidak bergeming, ia hanya menatap Thalia dengan tajam, giginya bergemelatuk dan nafasnya yang naik turun, menandakan jika Rida sekuat tenaga menahan amarahnya. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Thalia. "Lo pulang sekarang." Ucapnya dengan singkat, namun penuh penekanan. Thalia menundukkan kepalanya, lalu berjalan mengekori Rida. Ia sangat - sangat merasa bersalah. "Rid, gue minta maaf..." Lirih Thalia sangat menyesal, kedua tangannya bertautan gelisah. Hening. Rida hanya terdiam dan terus berjalan, menghiraukan ucapan Thalia. Thalia menggigiti bibir bawahnya, gelisah. Melihat tak ada respon apapun dari Rida. Sepertinya ia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, hingga Rida benar - benar marah padanya. "Rida... Gue—" "Ngapain lo ada disana?" Tukas Rida dengan ketus, memotong ucapan Thalia. Thalia tersentak, mendengar nada pertanyaan Rida yang begitu tajam dan menusuk hatinya. "Gue... Salah ruangan. Gue kira... Itu toilet." Cicit Thalia, ketakutan. "Huft.." terdengar Rida menghembuskan nafasnya dengan keras, lalu memijat keningnya sambil terus berjalan menuju lift. Melihat itu, membuat Thalia semakin merasa bersalah. Ia harus melakukan sesuatu agar Rida mau memaafkannya! "Rida!" Panggil Thalia lagi, dari balik punggung Rida. "Gue minta maaf... Gue... Gak sengaja pecahin pigura itu karena lo ngagetin gue..." Ujar Thalia menjelaskan. Hening. Rida masih terus berjalan, menghiraukan ucapan Thalia. "Huft..." Thalia menghela nafas lelah. "Rida! Gue bakal ganti pigura itu!" Ucap Thalia dengan tanpa sadar menaikkan intonasi bicaranya, karena Rida tak kunjung menjawab. Rida berhenti melangkah, membuat Thalia ikut berhenti sambil menunggu was - was. Rida membalikkan tubuhnya, lalu menatap Thalia tajam. "Haha, ganti kata lo?" Tanya Rida sembari tertawa sarkas. Rida melangkah maju, dengan rahang yang mengetat dan nafas naik turun, Rida terus memandang Thalia tajam. Membuat seketika kaki Thalia bergetar hebat, dan tanpa sadar melangkah mundur. "Lo pikir semua bisa selesai kalau lo ganti itu pigura? Ha?!" Bentak Rida tepat didepan wajah Thalia. Thalia tersentak, ia menatap Ridha dengan takut lalu menunduk, memainkan jarinya. Matanya mulai terasa panas. Seumur hidup, Thalia belum pernah dibentak seperti itu. Bahkan oleh ayahnya. "Haha, asal lo tahu dan lo bisa liat kalau gue kaya! Gue bisa beli seratus, seribu pigura kayak gitu! TAPI GAK SEMUA BISA DIGANTI PAKE DUIT! ANJING!" Maki Rida tepat didepan wajah Thalia yang tertunduk, jari telunjuknya terangkat, menunjuk wajah Thalia dengan emosi. Thalia berjengit mendengar makian Rida, ia benar-benar tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Rida. Thalia mengangkat kepalanya, menatap Rida tak percaya dengan matanya yang berkaca-kaca. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, ketakutan melihat Rida semarah itu. Nafasnya naik turun menahan tangis yang memaksa ingin keluar, dengan susah payah Thalia menelan ludahnya, dan membuka mulutnya. "Gu-gue.. Gue minta maaf Rid." Dengan tergagap karena menahan tangis, Thalia mencoba berbicara. "Gu-gue gak bermaksud buat— Hiks..." Satu isakan lolos dari mulut Thalia. Dengan satu tangan Thalia membekap mulutnya sendiri, mencoba meredan suara tangisannya. Namun air mata tetap bercucuran dari kedua matanya. "Gue minta maaf... Sama lo.." lirih Thalia, lalu berbalik dan berlari berlawanan arah dari arah yang awalnya hendak mereka tuju. Thalia terus berlari menjauh, meninggalkan Rida yang terdiam dengan pandangan kosong. Hatinya mencelos mendengar tangisan Thalia. Sebenarnya apa yang sudah ia lakukan?! "Argh!" Rida mengerang frustasi sembari rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. "Anjing!" Umpat Rida pada dirinya sendiri. Ia menyesal, ia sadar jika ia sudah melakukan kesalahan yang fatal. Thalia terus berlari, menuruni tangga secepatnya. Thalia benar - benar sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya, ia ingin cepat - cepat sampai rumah dan menangis sepuasnya. Karena jujur, ini adalah pertama kalinya Thalia dibentak dan dimaki seperti itu. Agren atau bahkan ayahnya tidak pernah membentak ia seperti itu, karena itulah hatinya sangat terluka dan air matanya terus bercucuran dengan sendirinya. Thalia tahu bahwa ia salah karena telah merusakkan barang berharga milik Rida, tapi... Ah... Sudahlah, memikirkannya membuat Thalia semakin sakit hati. Thalia mengusap pipinya basah dengan telapak tangannya, kakinya terus menuruni tangga dengan cepat, bergegas ingin pergi dari sana. Thalia terus berlari menuruni tangga, tanpa memperhatikan pijakan kakinya. Tak sengaja sebelah kaki Thalia melewati satu anak tangga, membuat Thalia seketika kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke depan, mata Thalia terbelalak kaget, seketika detak jantungnya seakan berhenti sesaat. Thalia menutup matanya erat-erat. Namun... Satu detik... Dua detik... Tiga detik... Tubuhnya tidak terasa membentur apapun. Dengan takut - takut Thalia perlahan membuka matanya. Dan.. Ia masih ada di atas tangga, dengan tubuhnya yang condong ke depan hampir terjatuh. Sontak jantung Thalia kembali berdetak cepat, melihat pemandangan dihadapannya. Mata Thalia terbelalak, nafasnya naik turun. Perlahan tatapan matanya beralih pada sepasang lengan yang memeluk pinggangnya dengan erat, urat - urat lengan itu menonjol jelas, tanda jika seseorang itu berusaha keras agar Thalia tidak terjatuh. Dengan sekuat tenaga Rida menarik tubuh Thalia agar kembali tegak, lalu ia menaruh kedua lengannya diatas bahu Thalia, menahannya agar tidak limbung. Ya, orang itu Rida. Orang yang sudah menyelamatkan Thalia. Thalia terdiam, pandangan matanya kosong. Namun rahangnya mengeras dan nafasnya tidak beraturan. Thalia masih shock dengan apa yang terjadi padanya. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga otaknya sulit untuk memprosesnya. "Thal..." Panggil Rida lirih, terlihat jelas raut wajah khawatir pada ekspresi Rida. Thalia tak bergeming, hanya saja kedua matanya yang kosong mulai berkaca-kaca. Rida menelan ludahnya, lalu menggigit bibirnya, gelisah. "Maafin gue ya..." Lirih Rida sangat menyesal. "Lo jahat Rid..." Ucap Thalia sangat pelan, dengan mata yang masih terasa kosong. "Iya, gue juga jahat. Maafin gue Thal." Sesal Rida sendu. "Lo tuh jahat! Tau gak!" Teriak Thalia sembari menatap Rida sendu, seketika setetes air mata mengalir ke pipinya. "Maafin gue Thal." Ucap Rida lagi menyesal, sembari mendekap Thalia kedalam pelukannya. "Huhuhu.... Hiks... Gue tuh gak pernah dibentak sa-ma siapapun. b******k lo Huhuhuhu..." Thalia menangis tersedu-sedu, didalam pelukan Rida. "Iya Thal, gue cowok jahat. Maafin gue." Lirih Rida menyesal, dan semakin mengeratkan pelukannya. Thalia terus menangis tersedu-sedu, tangannya sibuk menghapusi air mata yang membasahi pipinya. Hari ini banyak hal yang terjadi pada Thalia. Mulai dari senang, karena melihat kucing. Takut, karena memecahkan pigura. Lalu sakit hati, karena dibentak Rida. Dan takut, karena hampir jatuh. Tapi semua perasaan itu kini hilang setelah ia menangis dengan puas. Kini perasaannya jadi lega, namun jantungnya tetap berdetak kencang entah kenapa. Yang pasti, kini Thalia merasa menghangat. Iya, menghangat. Tiba - tiba Rida melepaskan pelukannya, lali menatap Thalia dengan tatapan tak percaya. "Lo ngompol Thal?!" Serunya dengan mata terbelalak tak percaya. "Ha?!" Thalia mengangkat kedua alisnya bingung, lalu mengalihkan pandangannya kebawah. Dan ternyata... Rok seragam dan lantainya basah. Pantas saja Thalia merasa hangat. Aduh... Thalia malu sekali...!!! Thalia baru ingat jika sedari tadi ia menahan kencing. Sekarang, mau ditaruh dimana muka Thalia??!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD