Beberapa menit berkendara dengan motor, Rida dan Thalia belum sampai juga di rumah Rida. Membuat Thalia bosan dan memilih melihat pemandangan yang ia lewati, karena tidak punya topik lagi untuk dibicarakan.
Motor Rida memasuki kawasan perumahan mewah di Jakarta, Thalia bisa tahu itu dari gerbang perumahan yang besar dan satpam nya yang teliti memeriksa identitas setiap orang yang masuk ke perumahan itu.
Dan ternyata benar saja, setelah melewati pos satpam itu, yang terlihat oleh mata Thalia hanyalah pemandangan rumah - rumah besar dengan desain yang berbeda-beda.
"Wow...." Tak henti-hentinya Thalia terpukau melihat rumah - rumah mewah yang berjajar di sepanjang perjalanan.
Ini pertama kalinya Thalia punya kesempatan untuk bisa masuk kesini. Ya tentu saja, karena keluarganya tidak mungkin mampu membeli rumah disini.
Setelah memasuki perumahan mewah itu lebih dalam, motor Rida berbelok, lalu masuk ke sebuah gerbang besar yang dibukakan oleh lelaki dengan seragam sekuriti.
Rida mengangguk berterima kasih pada sekuriti itu, lalu melajukan motornya masuk ke pekarangan rumah tersebut.
Setelah motor Rida masuk sepenuhnya, barulah Thalia dapat melihat dengan jelas rumah dihadapannya.
Sontak mata Thalia terbelalak melihatnya, kepalanya menengadah perlahan mengikuti tinggi bangunan di rumahnya. Seketika mulutnya pun otomatis terbuka lebar, ternganga melihat bangunan yang sudah tidak bisa ia sebut rumah lagi, karena tingginya sudah seperti hotel.
Rida mematikan mesin motornya, membuat Thalia tanpa sadar langsung turun dari motor Rida, dengan tatapan matanya yang tidak pernah lepas dari bangunan di hadapannya.
Thalia mengucek matanya, memastikan ia tidak salah lihat. Karena....
Rumah nya besar banget woy!
Baru kali ini Thalia melihat langsung rumah yang biasanya ada di film - film.
Kalau disuruh mendeskripsikan, mungkin cerita ini akan jadi kepanjangan karena banyak sekali aspek yang mengagumkan dari rumah di hadapannya. Dimulai dari tentu saja tingginya, desainnya yang mewah, pekarangan luar rumahnya pun begitu tertata rapi dan begitu indah.
Thalia mengerjapkan matanya, perih juga karena tidak berkedip-kedip saking terpukaunya. Setelah itu Thalia melirik Rida yang sudah turun dari motor dan sedang melepaskan helm dari kepalanya, dengan sudut matanya.
Thalia sudah menyangka jika Rida orang kaya karena dilihat dari lingkungan perumahan yang ia tinggali.
Tapi Thalia tak menyangka jika Rida sekaya ini!
Karena sepanjang perjalanan kesini, ini rumah paling mewah yang Thalia lihat disini!
Gila! Thalia tak menyangka jika orang kelewat kaya seperti ini ada di sekitarnya, Thalia kira semua itu hanya fiksi yang ada di buku novel.
Eh tunggu,
Thalia mengerutkan keningnya.
Berarti selama ini ia bertengkar dan mencari masalah dengan anak konglomerat!
Mata Thalia terbelalak mendengar isi hatinya sendiri.
Thalia menggigit bibir bawahnya, takut.
'Aduh... Gimana kalau gue diperkarain sama orang tuanya karena Rida sampe bonyok - bonyok gara gue...' Thalia membatin, ketakutan.
Dengan takut - takut Thalia melirik Rida yang sedang menyimpan helm - nya didalam bagasi motor.
Saat sedang mengamati Rida diam - diam, tiba - tiba Rida menoleh kearahnya dan menengadahkan tangannya kearah Thalia, seperti meminta sesuatu.
Thalia melotot kaget, tubuhnya terdiam kaku.
Melihat Thalia yang terdiam, Rida mengerutkan keningnya dan semakin mendekatkan tangannya yang menengadah kearah Thalia.
'Ha? Dia mau apaan dari gue?!' Pikir Thalia panik. 'Jangan - jangan! Rida sengaja ngajak kesini buat ngejebak gue! Dan sekarang dia lagi minta kompensasi!' Pikir Thalia lagi, mulai over thinking.
"Sini—"
"Rida! Gue mohon maafin gue! Gue gak tahu lo sekaya ini! Eh gak! Maksud gue, gue khilaf dan terbawa emosi waktu nonjok atau jambak lo!" Thalia berteriak panik, hingga memotong ucapan Rida.
Tanpa sadar ia bersimpuh dihadapan Rida, dengan kedua tangannya yang memegangi sebelah tangan Rida dengan erat.
Rida mengerutkan keningnya dalam, ia melongo tak paham.
"Kenapa sih lo?" Tanyanya bingung, sambil menarik paksa tangannya dari genggaman Thalia. "Siniin helm lo! Gue mau simpan." Ucap Rida lagi, sambil kembali menengadahkan tangannya.
Membuat Thalia seketika sadar maksud dari gestur itu.
"Oh... Lo minta helm hehehehe..." Thalia meringis malu, ia berdiri lalu melepas helm di kepalanya dan menyerahkan kepada Rida.
Dalam hati Thalia mengucap syukur banyak - banyak, ternyata Rida orangnya tidak memanfaatkan kekayaan miliknya.
"Huft... Untung aja." Gumam Thalia lega, dengan suara yang sangat kecil hingga tidak bisa didengar oleh Rida.
"Yuk masuk!" Seru Rida, lalu berjalan lebih dahulu menuju rumah besar dihadapannya.
Thalia mengangguk, lalu berjalan mengekori Rida menuju pintu masuk rumah itu.
Dan lagi- lagi ia dibuat berdecak kagum melihat pintu nya yang besar dan didesain dengan sangat indah. Thalia jadi ragu, apa orang biasa seperti dia boleh masuk ke rumah ini begitu saja.
Apa tidak perlu diperiksa keamanan dulu gitu?
Rida mendorong pintu itu, membuat imajinasi Thalia tentang orang kaya kembali muncul.
Seketika Thalia berekspektasi jika para pelayan yang berjumlah puluhan sudah menunggu berjajar didepan pintu untuk menyambut mereka.
Ya... Bisa jadi kan?
Didalam film orang kaya yang Thalia tonton, biasanya suka seperti itu.
Pintu pun terbuka...
Mata Thalia membesar tanda antusias, dan...
Tidak ada siapa - siapa.
Ya, tidak ada siapapun yang menyambut mereka.
Rida berjalan melenggang memasuki rumahnya, lalu melepas sepatunya dan menyimpannya di rak sepatu yang berada di dekat pintu. Setelah itu Rida mengenakan sendal rumah yang sudah tersedia juga disitu
Thalia berjalan mengekori Rida, mengikuti apa yang Rida lakukan dengan perasaan agak kecewa.
Setelah mengenakan sendal rumah, Thalia sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Rida yang sudah lebih dahulu berjalan didepannya.
"Rid." Panggil Thalia.
"Apa?" Sahut Rida.
"Gue baru tahu kalau lo sekaya ini." Ujar Thalia takjub.
"Emang gak keliatan ya dari muka gue?" Tanya Rida congkak.
"Gak. Muka lo kayak copet." Jawab Thalia dengan malas.
Rida mendengus, namun tidak meladeni hinaan Thalia.
Thalia mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling ruangan yang sedang mereka berdua lewati.
"Rid, kok gak ada pelayan yang nyambut lo pas didepan pintu tadi sih?" Tanya akhirnya, terlanjur penasaran.
"Yakali, kayak di film - film gitu? Pelayan nya berjajar panjang gitu maksud lo?" Tanya Rida dengan nada mencemooh.
Thalia mengangguk kecil, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena menanyakan pertanyaan itu.
'Pasti gue bakal diroasting lagi nih.' Batin Thalia.
"Mereka juga sibuk kali Thal, banyak yang harus mereka kerjain. Gila hormat banget gue, kalau harus disambut kayak begitu." Ucap Rida, dengan tatapan yang seolah mengatakan—masa gitu aja lo gak tahu?—.
"Ini ruangan apaan sih Rid? panjang banget." Tanya Thalia lagi, menghiraukan tatapan julid Rida.
"Ini ruang tamu." Jawab Rida singkat.
"Oh... " Thalia mengangguk-angguk mengerti.
Pantas saja terlihat kursi dan meja yang begitu besar untuk menerima tamu. Tapi...
Kenapa panjang banget sih...?
Huhu... Thalia sampai capek rasanya, sangking panjangnya ruangan ini.
Buat apa coba ruang tamu sepanjang ini? Eh tapi yasudahlah ya, orang kaya mah bebas.
Setelah melewati dua pilar besar yang bentuknya seperti gapura selamat datang, mereka berdua akhirnya tiba di ruangan selanjutnya.
Thalia bisa menebak itu dari warna ruangannya yang berbeda. Sepertinya, setiap ruangan memiliki tema yang berbeda - beda.
"Ini ruangan apaan lagi?" Tanya Thalia mulai lelah.
Sekarang Thalia mengerti jika jadi orang kaya tidak selalu enak, buktinya walau dirumah mereka sendiri pun, mereka harus berjalan kaki sejauh ini.
"Ini ruang keluarga gue, di sebelah sana ada dapur keluarga sama rumah pelayan, ART, dan tukang kebun." Ucap Rida sambil menunjuk bagian kiri rumahnya.
Thalia terbelalak, 'ART ada rumahnya?!' Batin Thalia tak habis pikir.
"Di sebelah situ, tempat main. Ada PS dan lain - lain, jadi kalau temen - temen gue dateng mainnya disitu." Kali ini Rida menunjuk bagian kanan rumahnya.
"Wah... Asik ya kalau jadi temen - temen lo." Celetuk Thalia takjub.
"Gak juga, soalnya mereka gak pernah kesini." Ucap Rida.
"Loh kenapa?" Thalia mengerutkan dahinya bingung.
"Sekarang kita tinggal lurus aja, terus naik beberapa lantai buat sampai ke rumah kucingnya." Ujar Rida lagi, mengalihkan topik.
"Woah... Sampai ada rumahnya...." Lagi - lagi dibuat takjub mendengarnya. "Emangnya rumah kucingnya ada dilantai berapa?" Tanya Thalia penasaran.
"Hm... Lantai empat deh, di yang paling atas."
Mendengar itu Thalia melotot, lalu mengatupkan bibirnya rapat, tak bisa berkata - kata lagi.
'Apa?! Rumah Rida ada empat lantai?! Apakah ini nyata!' Thalia berteriak tak percaya dalam hati.
•••
"Woah... Tangga muter!" Thalia berteriak heboh, seolah menyaksikan keajaiban dunia didepan matanya.
Thalia berdecak kagum, lalu menggelengkan kepala tak percaya. Setelah itu ia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya, dan melompat - lompat kecil di tempat.
Membuat Rida yang memperhatikannya menggelengkan kepala sembari menahan tawa.
Tidak hanya berhenti sampai disitu, Thalia menaiki satu anak tangga itu, lalu duduk di anak tangga yang kedua, lalu berpindah posisi lagi jadi tiduran di anak tangga.
"Segitu sukanya lo sama tangga?" Tanya Rida tak tahan lagi untuk tak bertanya.
"Ini bukan tangga biasa! Ini tangga muter gila! Baru kali ini gue lihat tangga muter didepan mata gue sendiri! Biasanya gue cuman liat tangga muter di film india doang! Huhu... Terharu gue..." Seru Thalia dengan menggebu - gebu.
Thalia tahu saat ini ia terlihat kampungan, tapi ia tidak peduli. Karena ia tidak bisa menahan lagi rasa kagumnya, ketika melihat rumah yang biasanya ada di layar televisinya sekarang ada di depan matanya.
"Lo mau terus tiduran disitu atau mau liat kucing gue?" Sindir Rida, melihat Thalia yang terus - terus tiduran di anak tangga dan seolah tidak mau pergi.
"Mau liat kucing!" Seru Thalia bersemangat, dan langsung mengubah posisinya jadi berdiri.
Thalia berjalan menaiki lagi anak tangga, namun suara Rida menghentikan langkah kakinya.
"Lo mau naik tangga sampai ke lantai empat?" Tanya Rida lagi.
"Lah, terus naik apa?" Thalia membalikkan badannya dan menatap Rida bingung.
"Naik inilah." Rida menunjuk sesuatu di sebelah tangga, yang tentu saja tidak bisa Thalia lihat karena ia ada di atas tangga.
Thalia menuruni tangga dengan cepat, lalu mengikuti arah telunjuk Rida dan melihat pintu besi di samping tangga.
Pintu besi?
"Lift?!" Teriak Thalia tak percaya.
Rumah macam apa yang ada lift nya?!
Thalia benar - benar tak habis pikir lagi dengan rumah ini, bisa - bisa ia mendapat mental breakdance sepulang dari rumah Rida, saking banyaknya hak mengejutkan yang harus ia cerna.
"Kenapa gak sekalian ada eskalator aja sih di rumah lo?" Tanya Thalia sarkas.
"Hahaha...." Rida tertawa renyah. "Lo kira rumah gue mall apa?" Ucapnya lagi, masih dengan tertawa. Menganggap ucapan Thalia hanya bercandaan.
Mendengar itu membuat Thalia menjerit.
'TERUS ADA LIFT DI RUMAH ITU NORMAL GITU?!'
Tapi Thalia menahannya, ia tidak mau marah - marah lagi pada orang kaya.
"Yuk masuk!" Titah Rida setelah pintu lift terbuka.
Thalia menghela nafas, menenangkan jantungnya yang terus dibuat terkejut hari ini. Lalu melangkahkan kaki, masuk kedalam lift itu.
Setelah itu pintu tertutup, dan Rida menekan tombol lantai empat.
Thalia mengamati keadaan didalam lift, tak disangka ternyata lift nya lebih bagus dari yang ada di mall - mall. Dengan warna emas yang membuatnya terlihat mewah, serta desain dan ornamen- ornamennya yang unik, membuat lift ini sangat berbeda dengan lift yang biasa Thalia lihat. Mungkin ini memang lift khusus milik keluarga Rida.
"Rid, kalau di lantai dua ada apaan?" Thalia kembali bertanya karena penasaran.
"Lantai dua itu..." Rida nampak berpikir, sebelum menjawab. "Kamar tamu sama mushola keluarga." Jawab Rida akhirnya.
"Oh..." Thalia mengangguk-angguk mengerti. "Kalau lantai tiga?" Tanyanya lagi.
"Lantai tiga kamar gue sama bokap nyokap, terus ada tempat koleksi action figure anime gue juga." Jawab Rida lagi.
"Oh... Wibu ternyata." Thalia kembali menganggukkan kepalanya. "Lantai empat?" Tanya Thalia lagi, masih belum puas rasa ingin tahunya.
"Lantai empat itu ada rumah kucing," jawab Rida sambil menghitung dengan jarinya.
Thalia mengangguk dengan antusias.
"Home teather," Rida kembali menyebutkan fasilitas dirumahnya.
"Ha?!" Thalia berjengit mendengar perkataan Rida.
"Biliard,"
"Apa?!" Thalia memegangi kepalanya tak habis pikir.
"Sama ruang karaoke, udah itu doang." Ujar Rida menutup penjelasannya.
"Itu doang!" Hardik Thalia frustasi, kepalanya terasa pusing mendengar pernyataan Rida yang tidak bisa masuk diakal orang biasa sepertinya.
Thalia benar - benar tak bisa mengerti dengan pikiran orang kaya.
"RIDA! NIKAHIN GUE SEKARANG!" Teriak Thalia sembari mencengkram kerah seragam Rida.
Rida melotot kaget, tubuhnya menegang terdiam. Jakunnya naik turun, menelan saliva. Gugup dengan wajah Thalia yang tiba - tiba sedekat itu dengan wajahnya.
Ting!
Lift terbuka, membuat Rida tersadar dan langsung melepaskan diri dari cengkraman Thalia dengan paksa.
Rida melangkah keluar lift dengan tergesa, diikuti Thalia dibelakangnya.
"Gila lo!" Hardik Rida, dengan wajah yang tidak menoleh sedikitpun.
"Ya... Gue kan mau gitu jadi orang kaya mendadak. Kalau gue nikah sama penerus tahta kayak lo kan, gue gak perlu khawatir lagi sama masa depan gue." Ujar Thalia melantur.
"Yang kaya itu bokap gue, bukan gue." Ketus Rida, sambil menatap Thalia dengan sinis.
"Yaudah, kalau gitu gue nikah sama bokap lo aja." Celetuk Thalia dengan senyuman tanpa dosa.
"Bangke lo!" Cecar Rida sembari menggetok kepala Thalia dengan kepalan tangannya. "Sekolah yang bener! Nikah doang pikiran lo!" Omel Rida, sambil melanjutkan langkah kakinya.
Thalia hanya meringis, lalu mengekori Rida.
Setelah melewati beberapa pintu, Rida menghentikan langkahnya didepan pintu berwarna oranye dengan tempelan stiker kucing menghiasinya.
"Siapkan hati lo..." Ucap Rida memberi aba-aba.
Thalia mengangguk antusias, lalu menaruh kedua kepalan tangannya didagu, menanti - nanti.
Rida memegang kenop pintu, memutarnya, lalu pintu pun terbuka dan...
"Wah...!!!" Thalia menjerit heboh, hingga melompat- lompat ditempat. Tak lupa sebelah tangannya memukuli Rida yang ada disampingnya, saking gemasnya. Membuat Rida mengaduh kesakitan, dan menjaga jarak dengan Thalia.
Bayangkan! Dalam satu ruangan besar itu terdapat sepuluh kucing.
Sepuluh!
Dan semuanya adalah kucing ras!
Masing - masing punya rumah sendiri yang lucu, serta ada permainan - permainan khusus untuk kucing.
Yaampun...
Ini mah cute nya sudah overload!
Dan asal kalian tahu, untuk rumah kucing saja semua fasilitasnya terlihat sangat mewah!
Ini gila! Keluarga Rida benar - benar gila sih!
Thalia menolehkan kepalanya dengan cepat kearah Rida, lalu menatapnya tajam.
"Kenapa lo?" Tanya Rida waspada.
"Kalau gue gak bisa jadi istri bapak lo! Jadiin gue kucing lo aja!" Teriak Thalia dengan muka sangat serius.
Hadeuh...
Thalia... Thalia...
Rida memutar bola matanya, lalu mendesah lelah mendengar permintaan aneh Thalia.