"Hosh... Hosh... Hosh..." Rida berjalan terseok-seok dengan nafas yang terengah-engah menuju perpustakaan.
Buku yang begitu banyak dan besar - besar, serta perjalanan menuju perpustakaan yang begitu jauh dan harus menaiki tangga, membuat Rida merasa sangat sengsara.
"Baru kali... ini gue... ngelakuin hal kayak gini." Gumam Rida dengan nafas terputus- putus.
Melihat plang nama dengan tulisan perpustakaan membuat Rida tersenyum letih, lalu mempercepat langkahnya, ingin segera sampai.
Sesampainya disana, ternyata Thalia sudah ada di perpustakaan, dan tebak apa yang sedang ia lakukan?
Ia sedang berfoto selfie bersama Bu Hera—penjaga perpustakaan—, di daerah deretan buku - buku novel.
Bruk!
Rida sengaja menghempaskan buku - buku itu atas meja Bu Hera, membuat Thalia dan Bu Hera sadar akan kehadiran Rida.
Seketika ekspresi wajah Thalia berubah masam melihat kehadiran Rida.
"Eh... Rida udah dateng..." Seru Bu Hera. "Sini, foto dulu sama Thalia." Ucap Bu Hera lagi, membuat Rida berjalan lesu menghampirinya.
Thalia dan Rida berdiri berdampingan, menunggu untuk difoto oleh Bu Hera, dengan deretan buku novel sebagai latar belakangnya.
Rida menoleh kearah Thalia, ia masih tak paham kenapa Thalia marah. Sementara Thalia cemberut, sembari melipat kedua tangannya di d**a.
Cekrek!
Dan momen itu pun terabadikan dalam kamera ponsel Bu Hera.
•••
Thalia mengambil buku - buku yang tersimpan begitu saja di atas meja perpustakaan, lalu menyusunnya kedalam rak, sesuai dengan kategori bukunya masing - masing.
Setelah itu Thalia juga mengambil buku dari rak yang bukan kategorinya, dan mengembalikannya ke tempatnya yang seharusnya berada. Seperti misalnya, buku novel ada di area buku paket, lalu Thalia mengembalikan buku itu ke rak khusus buku novel.
Thalia tidak mengerti, kenapa orang - orang begitu sulit untuk menyimpan kembali buku yang mereka pinjam ke tempatnya.
Setelah tidak ada lagi buku yang berceceran dimana-mana dan buku yang salah tempat, Thalia pun membereskan meja dan kursi yang miring, tak lupa juga ia membersihkan debu yang ada di atas meja menggunakan kemoceng.
"Huft..." Thalia mengelap peluh yang ada di dahinya.
Bekerja di perpustakaan ternyata melelahkan, apalagi mengingat ia harus melakukan ini selama seminggu penuh, membuat Thalia seketika menyesal sudah cari masalah dengan Bu Ratih.
"Hah... Akhirnya beres juga." Thalia mendesah lega.
Thalia mengusap peluh di sekitar kening dan lehernya, menyimpan kemoceng yang ada ditangannya kembali ke tempatnya, lalu memakai kembali tas punggungnya dan bersiap untuk pulang.
Thalia yang berada di lantai dua perpustakaan, bergegas menuruni tangga menuju lantai satu, ingin segera pulang ke rumah.
Namun sesampainya Thalia di lantai satu, ia melihat Rida sedang tertidur?!
Thalia melotot geram, mulutnya terbuka tak habis pikir.
"Ck...ck...ck..." Thalia berdecak kesal, sembari menggelengkan kepalanya.
Dengan perasaan geram, Thalia berlari menghampiri Rida.
Sesampainya didekat Rida, Thalia semakin menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rida.
Bagaimana tidak geram?
Rida menyandarkan punggungnya pada rak buku, kedua matanya terpejam namun mulutnya menganga, ditangan kirinya tergenggam sebuah buku yang terbuka, serta kedua kaki panjangnya yang menjulur menghalangi jalan.
Oh... Kelihatannya sungguh nyaman sekali ya...
"Hah..." Thalia mendesah frustasi.
Thalia benar - benar sudah lelah dengan kelakuan Rida, lama - lama ia bisa darah tinggi menghadapi kelakuan Rida.
Bayangkan saja, Thalia capek - capek membereskan perpustakaan untuk menjalani hukumannya. Eh, dengan enaknya Rida malah tidur.
Thalia memegangi kepalanya yang tiba - tiba saja terasa pusing.
Sudahlah Thalia tak peduli, lebih baik ia pura - pura tak lihat saja.
Dengan perasaan gendok Thalia melangkah untuk pergi dari sana. Namun perlu dicatat, Thalia melangkah di atas kaki Rida alias menginjaknya bukan melewatinya.
Saya tekankan sekali lagi.
MENGINJAKNYA untuk sampai ke sisi satunya, karena kaki panjang Rida yang menghalangi jalan.
"Awwwww!!" Ridha berteriak sembari melonjak terbangun dari tidurnya, seketika kantuk Rida hilang begitu saja.
Rida mengusap kedua kakinya yang terasa sakit, sambil menatap punggung Thalia dengan tajam.
"Gila lo!" Hardik Rida marah.
Namun Thalia tak menyahut, punggungnya terus terlihat menjauh, menghilang dari pandangan Rida.
•••
Thalia berdiri di pinggir jalan, kepalanya terus menengok ke arah kanan, menanti kehadiran angkot untuk mengangkutnya pulang.
Sudah hampir sepuluh menit Thalia berdiri disitu, di pinggir jalan dekat sekolahnya. Namun, tidak ada satupun angkot jurusannya yang lewat.
"Hah... Apa mesen ojol aja ya?" Gumam Thalia sambil mengeluarkan handphone dari saku seragamnya.
Saat sedang sibuk mencari driver ojol di handphonenya, terdengar suara deru motor yang mendekat dan berhenti di dekatnya.
Thalia melirik untuk melihat siapa yang memberhentikan motor didekatnya.
Saat tahu siapa pengemudinya, seketika Thalia mendelik, lalu kembali fokus ke handphonenya.
"Kamu... Athalia ya?" Tanya Rida sembari membuka kaca helm-nya, berpura - pura tidak tahu.
Ya, orang yang memberhentikan motornya di samping Thalia adalah Rida. Thalia bisa mengetahuinya walau Rida menggunakan helm full face yang menutupi seluruh wajahnya.
"Bukan, saya Irene Red Velvet." Jawab Thalia ketus, sambil tetap memandangi layar handphonenya.
"Jangan bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti orang itu akan hilang." Ucap Rida lagi, menirukan gaya Dilan dalam Film Dilanku 1990.
"Huft..." Thalia menghela nafas, kekesalannya kepada Rida kembali muncul dengan mudah, apalagi rasa marahnya pada Rida belum reda.
Thalia mengalihkan pandangannya dari handphone dan menatap Rida dingin.
"Iya orang itu maneh blegug!" Hardik Thalia.
"Ah... Kenapa sih lo marah - marah mulu sama gue?" Rengek Rida mengeluh.
"Pikir aja sendiri." Ketus Thalia, sambil berpindah posisi jadi membelakangi Rida.
"Udah gue pikirin dan gue gak nemu!" Ucap Rida frustasi. "Gak jelas lo!" Gerutu Rida mulai kesal.
Mendengar itu, Thalia langsung berbalik dan menatap Rida dengan tajam.
"Gak jelas cek maneh?! Asal maneh nyaho! Urang nyeri hate ku maneh! Maneh ngomong menta urang jadi imah jang maneh! Tapi nu aya urang ngan di titahan siga babu! Maneh pikir urang belegug?!" Cerocos Thalia habis - habisan, meluapkan seluruh kekesalannya dan tak membiarkan Rida berbicara sedikitpun.
Thalia terengah-engah setelah tadi berbicara tanpa henti, sementara Rida yang dimarahi hanya melongo, sembari menatap Thalia bingung.
"Ekhem. Kenapa diem?" Tanya Thalia, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Agak malu juga sudah marah - marah seperti tadi.
"Gue gak ngerti lo ngomong apa." Ucap Rida dengan raut bego.
"Huft..." Thalia mendesah lelah, sambil menepuk kepalanya pelan.
Percuma saja ia marah - marah.
"Jadi tadi lo ngomong apa?" Tanya Rida lagi.
"Udahlah, gue males jelasin." Ketus Thalia, kesal bercampur malu.
"Ya, lo marah - marah pake bahasa sunda. Gue kan gak ngerti." Ujar Rida, menyalahkan Thalia.
"Ya maaf, gue kalau emosi emang suka lupa sama bahasa Indonesia." Ucap Thalia jujur.
"Jadi tadi lo ngomong apa?" Tanya Rida lagi, mendesak Thalia untuk menjawab.
"Ya... Pokoknya gue kesel sama lo, karena lo minta gue jadi rumah lo, tapi yang ada lo marah nyuruh - nyuruh gue kaya babu. Gue sakit hati tau! Niat baik gue lo salah gunakan!" Jawab Thalia akhirnya, namun lebih terdengar seperti mengomel.
Rida terdiam, mendengarkan perkataan Thalia. Otaknya memproses setiap kata - kata Thalia. Hingga akhirnya ia mengulum bibirnya, menahan senyuman lebar yang akan terbit di wajahnya.
"Jadi... Lo bersedia jadi 'rumah' gue?" Tanya Rida memastikan, dengan susah payah ia menahan senyuman bahagianya.
"Yaiyalah, itu kan hadiah ulang tahun lo!" Tukas Thalia tanpa ragu.
Rida menundukkan kepalanya tak tahan lagi untuk menahan senyumannya.
Rida tersenyum lebar sembari menunduk, berusaha menyembunyikannya dari Thalia.
Entahlah, tiba - tiba saja perasaan Rida jadi sangat bergejolak gembira mendengar perkataan tanpa ragu - ragu Thalia.
Thalia mengernyitkan dahinya, menatap aneh Rida yang cekikikan kecil sembari menunduk.
Dalam hati Thalia berujar,
'Udah gila kayaknya si Rida.'
Setelah cekikikan kecil seperti orang aneh, dengan segera Rida mengangkat lagi kepalanya dan menatap Thalia dengan antusias.
"Yaudah, sebagai permintaan maaf. Ke rumah gue yuk!" Ajak Rida dengan tiba - tiba.
Thalia mengangkat sebelah alisnya, menatap Rida dengan curiga.
"Kedok apalagi ini! Lo ngajak main ke rumah kayak ngajak main layangan! Lo pikir gue cewek lo apa? Lo ajak ke rumah? Nanti orang tua lo nanya gimana?" Cecar Thalia, menolak.
"Tenang, orang tua gue dua - duanya gak di rumah kok!" Tukas Rida, sembari tersenyum lebar.
"Anjir! Lo mau apain gue ha?! Gue cewek baik - baik ya Rid!" Hardik Thalia, sembari menyilangkan kedua tangannya di d**a, waspada.
"Hah..." Rida menghela nafas, lelah dengan drama Thalia. "Lo su'udzon mulu sama gue! Gue mau ngajak lo main di rumah gue!" Ucap Rida lagi, menjelaskan.
"Main apaan?" Tanya Thalia, tidak tertarik.
"Gue punya PS loh..." Ujar Rida, berusaha membujuk Thalia dengan mengimingi mainan.
"Gue gak suka main PS." Jawab Thalia acuh tak acuh.
"Hmm...." Rida mengulum bibirnya, berpikir. "Yaudah, lo mau liat kucing gue gak?" Bujuk Rida lagi.
Thalia terdiam, berpikir.
"Kucing?" Beo Thalia, mencoba menggali memorinya tentang kucing Rida. "Ohh...!" Seru Thalia heboh, setelah ia ingat pernah melihat kucing Rida di postingan i********: milik lelaki dihadapannya itu.
"Kucing lo yang abu - abu itu kan?" Tanya Thalia antusias, ia tak bisa menyembunyikan rasa sukanya pada kucing.
"Iya! Bener! Postingan gue yang lo love itu loh..." Imbuh Rida menambahkan, membuat Thalia seketika mendelik kesal
"Ih... Gue suka banget sama kucing." Jujur Thalia, membuat senyuman Rida mengembang. "Tapi nanti lagi deh, gue pengen pulang sekarang." Lanjut Thalia lagi, dan seketika senyuman Rida lenyap.
Mendengar itu, Rida menekuk bibirnya kebawah, agak kecewa.
Ia sangat ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Thalia hari ini, entah kenapa.
Ting!
Tiba - tiba sebuah ide lewat di kepala Rida.
Dengan senyuman Rida kembali berkata.
"Tahu gak lo, kucing gue bukan cuman yang itu loh...." Ujar Rida lagi merayu.
"Terus?" Tanya Thalia penasaran.
"Hm...." Rida menaruh telunjuknya di bibir, pura - pura berpikir. "Sepuluh deh kalau gak salah."
"Ha?!" Thalia melongo. "Banyak banget Rida!!" Seru Thalia heboh, sangat antusias.
Rida tersenyum puas, melihat Thalia mulai terpancing.
"Iya... Tadinya kalau lo mau main ke rumah gue, gue bakal kasih lo satu kucing gue. Tapi ternyata lo gak mau, yaudah deh gue pulang aja." Tukas Rida seolah - olah kecewa, lalu menyalakan mesin motornya, hendak berpura - pura pergi.
Thalia melotot mendengar perkataan Rida.
"Serius lo?!" Seru Thalia sambil mencengkram lengan Rida yang terbalut jaket.
"Iya." Jawab Rida singkat. "Tapi kan lo gak mau, jadi yaudah deh." Ucap Rida lagi, sok jual mahal.
"Eh tunggu dong! Ambekan lo mah..." Thalia nyengir lebar, tersenyum merayu. Sembari tetap mencengkram lengan jaket Rida dengan erat, mencegahnya agar tidak pergi
Setelah itu tanpa disuruh Thalia naik di jok belakang, lalu menepuk punggung Rida.
"Yuk jalan!" Titah Thalia, sambil tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.
Rida hanya menggeleng kecil, lalu melajukan motornya membelah jalanan kota Jakarta.
Thalia tersenyum senang, hatinya berbunga - bunga sepanjang perjalanan, membayangkan ia akan mendapat seekor kucing lucu dari Rida.
Tanpa Thalia tahu, jika bukan hanya dia saja yang hatinya berbunga-bunga saat itu.
Diam - diam Rida tersenyum lebar di balik kaca helm-nya yang tertutup rapat, merasakan ribuan kupu - kupu menggelitiki perutnya.
Sepertinya... Ada bunga yang tengah bermekaran.