14. Salahku Apa?

2078 Words
Bruk. Thalia menghempaskan dirinya di kasur, lalu melamun, menatap langit - langit kamarnya yang dihiasi stiker bintang glow in the dark. Ia baru saja pulang kerumahnya setelah jalan - jalan dengan Rida tadi. Namun, masih ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Thalia dan itu terasa sangat mengganggu. Thalia mengambil tas selempang yang tergeletak di atas kasurnya, lalu mengeluarkan handphone kesayangannya dari dalam sana. Thalia memutuskan untuk bertanya pada Lina tentang hal yang sedang ia galau kan ini, karena berpikir sendiri tidak membuatnya mendapatkan jawaban dan malah membuat pikirannya jadi mumet. Thalia menekan aplikasi chat di handphonenya, lalu membuka ruang obrolannya bersama Lina. Thalia : Lin Satu detik... Dua detik.. Tiga detik... Lina : Iya Thal? Thalia terpukau melihat Lina yang benar - benar cepat membalas pesan darinya. Thalia : gue mau tanya sesuatu boleh? Tanya Thalia to the point. Lina : boleh apa? Thalia mengulum bibirnya, berpikir sebentar. Lalu masih dengan posisi tiduran, dia kembali mengetikkan sebuah pesan kepada Lina. Thalia : Menurut lo, apa maksudnya kalau ada orang yang minta lo jadi rumahnya. Ketik Thalia, menceritakan kegalauannya pada Lina. Ya, Thalia masih kepikiran dengan permintaan Rida saat di cafe tadi. Thalia benar - benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Rida, namun Thalia juga ingin menuruti keinginan Rida, karena bagaimanapun juga hari ini adalah hari ulang tahun Rida. Dan lagi... Entah kenapa Rida terlihat sangat putus asa saat mengatakan itu. Berbeda dengan tadi, kali ini Lina tidak langsung membalas pesan dari Thalia. Thalia terus memandangi layar handphone nya yang awalnya menyala hingga akhirnya meredup, namun masih belum ada balasan dari Lina. Mungkin... Lina juga kebingungan dengan pertanyaan Thalia. "Huft..." Thalia menghembuskan nafasnya, menyerah. Namun baru saja Thalia hendak menyimpan handphone nya, Suara notifikasi pesan masuk. Membuat Thalia secepat kilat membuka layar kunci handphone nya. Dan ternyata benar itu balasan dari Lina. Thalia membaca pesan dari Lina dengan antusias, namun... Lina : Gak tau Thal, gue juga bingung. Gubrak! Kasar! Kasar! Ingin sekali Thalia berkata kasar, lama ia menunggu, ternyata balasan Lina hanya seperti itu. "Hahhh...!" Thalia mendesah frustasi, lalu mengacak rambutnya. Sudahlah Thalia menyerah, lebih baik ia tidak usah memikirkan maksud dari perkataan Rida. Thalia mengetikkan balasan kepada Lina. Thalia : ya udah Lin kalau lo gak tau. Balas Thalia menyerah. Ting! Terdengar lagi notifikasi pesan masuk ke handphone Thalia. Dan itu dari Lina lagi. Lina : Tapi ngedenger itu gue jadi inget lagu home nya seventeen. Ucap Lina dalam pesannya. Thalia terdiam, memikirkan isi pesan Lina. "Iya juga ya. Kenapa gue gak kepikiran?" Gumam Thalia, ia baru saja ingat jika Seventeen, boyband kesayangannya itu memiliki lagu dengan judul 'Home' yang artinya rumah. Thalia : emang artinya apaan Lin? Ketik Thalia lagi, penasaran. Lina : dari yang gue dapet sih. Kira - kira artinya tuh gini, "rumah adalah, aku yang bisa kau datangi. Dan kaulah yang bisa ku temui. Rumah adalah tempat dimana kau bisa menangis, juga tempat dimana aku bisa menangis." Thalia membaca isi pesan Lina dengan seksama, mencermati setiap katanya. Hingga akhirnya Thalia menghempaskan handphonenya ke atas kasur. Memandangi lagi langit-langit kamarnya dengan keadaan telentang dan kedua matanya yang menerawang. "Jadi... Rida ingin gue jadi seseorang yang bisa ia temui, dan seseorang yang bisa menjadi tempat ia menangis." Gumam Thalia menyimpulkan. "Tapi... Kenapa gue?" Tanya Thalia pada dirinya sendiri. Pertanyaan Thalia menggantung di udara, tidak ada satupun jawaban yang datang ke kepalanya. "Huft...." Thalia menghela nafas, ia masih tetap merasa bingung walau sudah mendapatkan jawabannya. Rida terlalu misterius untuk Thalia yang lihat buku TTS aja gak mau. "Ah... udahlah." Tukas Thalia. Ia menggelengkan kepalanya, mengusir over thinking yang hampir saja hinggap di pikirannya. Thalia beranjak dari kasurnya, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di luar kamarnya. Daripada memikirkan Rida terus, lebih baik ia membersihkan make up yang ada di wajahnya dan bersiap untuk tidur. Ya kan guys? ••• Thalia menyendok kuah soto betawi yang ada dihadapannya, lalu memasukkannya kedalam mulut. Thalia mengecap rasanya, berpikir, lalu memutuskan kalau rasanya enak. Karena sesungguhnya, ini pertama kalinya Thalia memakan makanan khas Jakarta itu. Biasanya, ia memakan soto Bandung buatan ibunya. Walau begitu, ternyata soto betawi rasanya tak kalah enak dari soto Bandung. Ya, namanya juga makanan Indonesia. Gak ada lawan deh! "Eh tau gak ternyata yang salah siapa?" Ucap seseorang memancing rasa penasaran. Lina dan Thalia menggeleng antusias, menanggapi pertanyaan itu. "Salah bapaknya! Wahahahahaha!" Lanjutnya sembari tertawa, disambut tawa terbahak-bahak Lina dan Thalia. Yang sedang berbicara menceritakan cerita lucu itu namanya Syahla, wanita cantik berkerudung yang juga merupakan teman sekelas Thalia. Di samping Syahla ada Winda, teman sebangku Syahla. Walau Syahla begitu receh, Winda adalah kebalikannya, dia tidak tersenyum sedikitpun dengan lelucon yang dibuat Syahla. Bisa dibilang, Winda itu cewek dingin. Syahla dan Winda duduk tepat di belakang meja Lina. Semenjak Thalia duduk dengan Rida, Lina jadi akrab dengan mereka berdua. Jujur, Thalia agak merasa sedikit sedih. Tapi sisi positifnya, ia jadi punya lebih banyak teman sekarang. "Eh... Gue punya cerita lain. Ini.. gak kalah serunya!" Ujar Syahla heboh, kembali memulai obrolan ditengah kegiatan makannya. Thalia dan Lina kompak mengangguk dan mendengarkan dengan serius. Sementara Winda nampak tidak peduli dan memilih memakan ketoprak pesanannya. Syahla terus berbicara dengan gaya bicaranya yang menarik dan mimik wajah nya yang ekspresif, membuat pembicaraan yang ia buat menjadi seru. Thalia mendengarkan cerita Syahla sambil memakan soto betawi-nya, sesekali ia tertawa karena cerita lucu Syahla. Ya, Syahla memang orang yang menyenangkan dan penuh semangat. Penampilan nya yang berkerudung, membuat Thalia pada awalnya mengira Syahla adalah cewek kalem. Eh, ternyata... Heboh abisss.... Tapi walau begitu, Syahla selau sukses menghidupkan suasana. Saat sedang asyik-asyiknya mengobrol sambil makan, handphone di saku baju Thalia bergetar, tanda ada pesan masuk. Rida. Nama pengirim pesan itu, terpampang di layar handphonenya. Thalia terbelalak, ini pertama kalinya Rida mengiriminya pesan setelah kemarin mereka pergi jalan - jalan. Karena sepanjang kelas tadi pun, Thalia dan Rida tidak mengobrol sedikit pun. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Thalia segera membuka pesan dari Rida dan membacanya. Isinya... Rida : Thal, bisa ke rooftop sekolah gak? Gue sendirian. Thalia mengerutkan keningnya setelah membaca pesan dari Rida tersebut. Untuk apa Rida menyuruhnya ke rooftop sekolah? 'Ah... Buat apa gue kesana? Pasti gak penting.' pikir Thalia dalam hati. Thalia pun mengabaikan pesan Rida, lalu kembali melanjutkan kegiatan makan siangnya. Namun, baru saja sendok berisi potongan daging sapi itu berada tepat di depan mulutnya. Percakapan ia dan Lina semalam, melintas di pikirannya. "rumah adalah, aku yang bisa kau datangi. Dan kaulah yang bisa ku temui. Rumah adalah tempat dimana kau bisa menangis, juga tempat dimana aku bisa menangis." Thalia termenung, lalu menaruh kembali sendok itu ke dalam mangkuk. 'Apa mungkin... Rida menyuruhnya ke rooftop, karena dia ingin Thalia menjadi orang yang bisa ia temui disaat ia sedang ingin menangis?' Pikir Thalia, teringat pesan Lina kemarin malam. "Hmmm..." Thalia mengulum bibirnya, bimbang. Kalau Rida memang berharap Thalia jadi rumahnya. Itu artinya, Thalia harus menjadi rumah untuk Rida. Ya! Thalia berdiri dari duduknya, membuat ketiga temannya menatap Thalia bingung. Ya! Kalau Rida membutuhkannya, maka Thalia akan ada di samping Rida. Karena Thalia... Adalah rumah Rida. "Mau kemana lo Thal?" Tanya Lina bingung, melihat Thalia tiba - tiba berdiri dari duduknya. "Ehmm... Gue..." Thalia menggaruk kepalanya, bingung harus menjawab apa. "Gu-gue mau ke kelas duluan!" Tukas Thalia berbohong, karena ia takut jika menjawab jujur, orang - orang akan salah paham tentang hubungannya dengan Rida. "Oh... Yaudah, tapi itu soto lo belum abis. Buat gue ya?" Pinta Syahla. "Oh iya - iya silahkan. Gue duluan dah..." Jawab Thalia dengan tergesa. Lalu segera berjalan keluar dari kantin, menuju lantai tiga, karena rooftop berada di lantai paling atas. Thalia berjalan dengan cepat, berusaha segera sampai ke rooftop, karena Thalia takut Rida terlalu lama menunggu. Saat baru sampai di lantai tiga, handphone di saku Thalia bergetar, membuat Thalia menghentikan langkahnya dan mengecek pesan yang masuk. Rida : Jangan lupa bawa roti keju ya Thal Thalia mengerutkan keningnya, tak paham kenapa Rida menyuruhnya membawa roti keju. Tapi karena sedang kalut dan buru - buru, tanpa pikir panjang Thalia langsung berbelok ke kantin kelas dua belas dan membeli satu buah roti rasa keju. Setelah itu ia berjalan setengah berlari ke rooftop sekolah. Untuk sampai ke rooftop, ia hanya perlu naik lagi ke tangga yang ada di dekat toilet. Lalu di ujung tangga atas, ada sebuah pintu, dan ketika pintu itu dibuka, Thalia pun sampai di rooftop gedung Bahasa. Thalia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Rida. Hingga matanya berhenti pada satu titik, pada seorang lelaki yang sedang terduduk sembari menengadah menatap langit, di dekat kursi - kursi sekolah yang sudah rusak. Thalia berjalan mendekati lelaki itu, lalu duduk di sampingnya. Karena lelaki itu adalah Rida. Thalia menghembuskan nafasnya, wajahnya sendu karena khawatir. Apalagi melihat Rida yang terus memandangi langit dengan tatapan kosong, membuat Thalia semakin khawatir Rida sedang ada masalah yang berat. Pokoknya Thalia bertekad akan mendengarkan cerita Rida dengan baik! "Rid...." Panggil Thalia lirih. Rida menoleh ke arah Thalia, lalu memasang wajah sumringah. "Eh! Udah dateng lo Thal!" Seru Rida. "Mana rotinya?" Tagih Rida langsung. "Ha?" Thalia melongo tak paham, namun sedetik kemudian ia ingat dengan roti keju yang sudah ia beli. Dengan perasaan bingung, Thalia menyerahkan roti rasa keju itu yang langsung disambar oleh Rida. Tanpa ba-bi-bu, Rida langsung membuka kemasan roti itu dan memakan rotinya dengan lahap. Sementara Thalia melongo sembari mengerutkan keningnya, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Eh! Tunggu dulu! Seperti ada sesuatu yang salah, tapi apa ya? Thalia merasakan ada yang mengganjal dengan perasannya. Namun... Sudahlah, mungkin tidak penting. Awalnya itu yang Thalia pikirkan, Thalia melupakan semua kejadian itu dan berpikir mungkin yang mengganjal dalam hatinya adalah sesuatu yang tidak penting. Tapi di keesokan harinya, Rida kembali mengirimi Thalia pesan seperti ini : Rida : Thal, bisa ke kantin gak? Gue butuh lo banget. Thalia yang melihat isi pesan Rida seperti itu, berpikir jika Rida sedang membutuhkan sosok 'rumah'. Tanpa pikir panjang Thalia meninggalkan teman - temannya yang sedang mengobrol di dalam kelas, dan menghampiri Rida ke kantin. Tapi ternyata... Rida mau meminjam uang untuk membayar makanannya karena uangnya habis. Dan Thalia mulai merasa kesal. Tidak hanya berhenti di situ. Di sore harinya, yaitu sepulang sekolah, Rida mengatakan kepada Thalia untuk mohon ikut dengannya, karena ia membutuhkan Thalia. Thalia menurut dan mengikuti Rida. Namun tahu apa yang terjadi? Ternyata Rida hanya ingin Thalia membantunya membawakan sebagian buku paket untuk dibawa ke perpustakaan, karena Rida disuruh oleh Pak Bonbon. "Grr..." Thalia menggeram kesal, nafasnya naik turun tak bisa lagi menahan kekesalannya. Ini tak bisa lagi dibiarkan! Ia sudah diperalat Rida! Thalia menghentikan langkah kakinya dengan tiba - tiba, membuat Rida yang berjalan dibelakangnya hampir saja menubruk punggung Thalia, apalagi pandangan yang tertutup oleh setumpuk buku. "Aduh! Kenapa sih ngerem mendadak!" Hardik Rida kesal. Thalia membalikkan tubuhnya lalu memandang Rida dengan tajam. Melihat itu Rida meneguk ludahnya, agak ciut. "Kenapa lagi sih lo?" Bingung Rida. "Pura - pura gak tahu ya lo!" Hardik Thalia. "Pura - pura gak tahu apaan? Udah jangan ngedrama deh lo! Ini berat tahu!" Keluh Rida. "Haha... Lo pikir gue bodoh. Gue sadar kalau lo itu udah nge-manfaatin kepolosan gue dan membuat menuruti semua perintah lo! Lo pikir gue babu lo." Cecar Thalia sarkas, ia marah karena ketulusannya malah dimanfaatkan oleh Rida. Kerutan di dahi Rida tercetak dalam, menandakan bahwa ia tidak mengerti dengan yang Thalia bicarakan. "Maksud lo apa sih?" Tanya Rida bingung, yang tentu saja semakin menyulut emosi Thalia. Thalia ternganga, lalu tertawa sarkas, tak habis pikir dengan sikap Rida yang bisa pura - pura sok polos seperti itu. Thalia benar - benar kesal setengah mati, ia sangat marah pada Rida. Karena setiap kali Rida menyuruhnya datang, Thalia pikir Rida sedang membutuhkan seseorang untuk diajak bercerita, tapi yang ia dapatkan Thalia malah diperlukan seperti pelayannya. Lalu apa Rida sengaja menjebak Thalia dengan mengatakan ingin Thalia menjadi rumahnya, tapi maksud sebenarnya adalah agar Thalia terus ada di samping Rida sehingga Rida bisa menyuruh - nyuruh Thalia sesuka hati. Ha! Jangan harap! Thalia menatap Rida dengan dingin. Lalu meletakkan tumpukan buku paket ditangannya kepada Rida, membuat tumpukan buku ditangan Rida semakin tinggi. "Eh! Mau kemana lo? Kita kan ada jadwal bersihin perpus?!" Heran Rida. "Iya gue tahu!" Jawab Thalia ketus, diingatkan oleh Rida malah membuatnya jadi semakin kesal. "Tapi lo bawa aja semua bukunya sendiri!" Ucap Thalia lagi, lalu berjalan meninggalkan Rida menuju perpustakaan. Sementara Rida melongo, menatap Thalia yang berjalan menjauh dengan bingung. Sebenarnya apa lagi salahnya? 'Salahku apa?!' Rida membantin, lelah. Setelah itu Rida berjalan dengan kesusahan menuju perpustakaan, karena setumpuk buku-buku paket yang sudah pasti berat dan menutupi pandangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD