"Saya bukan begal Pak! Saya itu pacarnya dia!" Ujar Thalia berbohong, dengan susah payah Thalia memasang senyuman palsu.
Kesadaran Rida langsung penuh sepenuhnya mendengar perkataan Thalia.
Ia menoleh sembari melotot kaget kearah Thalia.
"Saya gak percaya!" Kekeuh satpam itu.
"Yaampun Pak, masa saya begal pacar saya sendiri. Kita itu cuma lagi mesra - mesra manja gitu tadi hahaha..." Thalia tertawa heboh, mencoba membuat pak satpam itu percaya. Walau yang terlihat malah terkesan berlebihan, memang Thalia akui ia buruk dalam berakting.
"Saya gak buta mbak, dimana ada mesra - mesraan sampai nyekik begitu." Ujar Satpam itu masih belum percaya.
"Yaampun bapak kayak gak pernah muda aja. Kan saya gemes gitu sama pacar saya, jadi saya meluknya kekencengan. Apalagi saya ikut perguruan silat Pak, jadi agak kuat gitu tenaganya hehehe... Lagian bapak gak perlu khawatir, kita berdua pemuja b**m kok, jadi yang kayak gini mah gak masalah. Hahahaha..." Ucap Thalia melantur, tak tahu lagi harus bicara apa.
Pak satpam itu memicingkan matanya, masih tak percaya.
Thalia menoleh lalu mendongakkan kepalanya menatap Rida.
"Iya kan sayang, kita cuma lagi bercanda doang kan tadi." Ucap Thalia sambil memelototi Rida.
"Ha?" Rida gelagapan.
"Iya kan sayang." Ucap Thalia lagi, masih dengan mata yang melotot dan menekankan pengucapan kata sayang.
"Iya pak!" Tukas Rida..
"Oh..." Satpam itu nampak percaya mendengar pengakuan Rida. "Yasudah maaf ya mbak sudah menuduh, maaf juga sudah menganggu kalian berdua. Saya izin pamit, ayo semuanya bubar!" Titah satpam itu dan seketika kerumunan itu menghilang, begitu juga satpam itu yang pergi kembali ke posnya, karena ternyata itu adalah satpam yang berjaga di depan club tadi.
Setelah semua orang pergi, kini tersisa Thalia dan Rida yang masih bergandengan.
"Cie... Pegang - pegang." Goda Rida, membuat Thalia seketika menghempaskan lengan Rida. "Ini ada apaan sih? Kok lo ngaku - ngaku jadi pacar gue tadi?" Tanya Rida bingung.
"Au ah, gue dikira begal gara - gara nyekek lo. Sampai mau dilaporin polisi lagi, pas gue bohong gue pacar lo, baru deh dilepasin." Ucap Thalia, menjelaskan kronologi secara singkat.
"Ppftt... Wahahahaha... Begal!" Rida tertawa terbahak - terbahak, berbanding terbalik dengan wajah Thalia masam. "Lagian lo tiba - tiba nyekek aneh banget." Ucap Rida setelah puas tertawa.
"Hey! Gue cuma membela diri ya! Lo pikir gue cewek apaan diajak main ke club?!" Hardik Thalia membela diri.
Rida mengerutkan keningnya bingung, namun saat ia melihat bangunan di belakangnya, barulah Rida mengerti.
"Astaga... Lo pikir gue mau ajak lo kesini?" Tanya Rida mulai paham. "Gak lah anjir gila kali gue, ngajarin bocil hal gak baik." Ejek Rida sambil tertawa renyah.
"Terus lo mau ngajak gue kemana?" Tanya Thalia sambil merengut sebal.
"Ke cafe lah, ini tuh cafe langganan gue." Ujar Rida sambil menunjuk bangunan di sebelah club.
Thalia melongo, melihat benar - benar ada cafe persis di samping club. Posisi bangunannya yang saling menempel, dan letak cafe yang agak mundur sedikit, membuat cafe itu jadi tidak terlihat jika dari jauh.
Thalia menggaruk tengkuknya, malu.
"Gak usah sok imut gitu. Cepetan masuk!" Tukas Rida lalu meninggalkan Thalia dibelakangnya.
Thalia menggigit bibir bawahnya sambil berjalan mengekori Rida memasuki cafe itu. Dalam hati sebenarnya Thalia sedang berteriak - teriak.
'ARGHHH! GUE MALU BANGET!!'
•••
Rida melongo, melihat pelayan mengantarkan begitu banyak makanan ke meja mereka.
Rida menghitung satu persatu makanan yang ada di meja mereka, sementara Thalia berseri - seri bahagia melihat makanan memenuhi mejanya.
"Tujuh! Gila! Makan lo banyak juga ternyata." Ucap Rida kaget, menyebutkan nominal piring yang ada di meja mereka.
"Hmmm... Gimana ya, gue tuh kalau ditraktir, nafsu makannya tuh suka tiba - tiba naik gitu." Ujar Thalia tak merasa malu.
Rida mendengus, sementara Thalia mulai memakan makanannya dengan lahap. Ekspresi wajah Thalia saat sedang makan begitu lucu, membuat Rida tanpa sadar jadi memandangi wajah Thalia.
"Jangan diliatin gitu, tar lo suka lagi." Celetuk Thalia, sambil menatap Rida tepat dimatanya.
Rupanya ia sadar jika sedang diperhatikan oleh Rida.
Rida gelagapan, lalu menggaruk tengkuknya, merasa malu.
"Siapa yang liatin lo? Dih ge-er." Tukas Rida berbohong.
Thalia mengangkat bahunya tak peduli, lalu melanjutkan makannya.
"Lo ngapa diem dah. Makan cepet." Titah Thalia.
"Nanti deh." Jawab Rida singkat.
Rida melihat jam tangan yang melingkar di lengannya, lalu berdiri dari duduknya.
Thalia mengangkat kepalanya, dan mengerutkan keningnya bingung.
"Mau kemana Rid?" Tanya Thalia.
"Gue mau nyanyi." Ujar Rida, membuat Thalia semakin tak paham.
"Nyanyi?" Beo Thalia kebingungan. Ia mengikuti arah pandang Rida, dan melihat panggung kecil yang ada di depan cafe.
Thalia menggelengkan kepalanya.
"Apapun yang lo pikirkan. Jangan lakuin!" Ucap Thalia memperingatkan.
"Emang kenapa?" Tantang Rida, sambil tersenyum mengejek.
Rida lalu berjalan menuju panggung kecil itu, mengabaikan larangan Thalia. Membuat Thalia memelototi Rida dan menggelengkan kepalanya, mencoba melarang keras.
Namun Rida tak menghiraukan itu, dan terus melangkah dengan mantap.
"Rida!" Teriak Thalia sambil berdiri, yang seketika menarik perhatian seluruh pengunjung cafe.
Thalia mengedarkan pandangannya, ternyata para pengunjung sedang menatap kearahnya dengan ekspresi bingung. Thalia tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya memohon maaf, lalu segera kembali duduk.
Saat Thalia kembali melihat Rida, ternyata Rida sudah ada di atas panggung dan sedang memasang standmic. Seolah tahu Thalia sedang menatapnya, Rida mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Thalia sambil tersenyum.
"Rida! Kesini lo!" Thalia berteriak tertahan, lalu dengan gestur tangannya menyuruh Rida segera kembali ke meja.
Namun Rida malah melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar, dan mengambil gitar yang tersedia di atas panggung.
"Hah..." Thalia mendesah pasrah sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut melihat tingkah Rida.
Entah apa yang akan dilakukan Rida kali ini?
Jreng...
Rida mulai memetik gitarnya.
Namun tanpa disangka, semua pengunjung cafe yang awalnya duduk langsung berdiri dan mendekati panggung, saat mendengar Rida memainkan gitarnya.
Cantik~
Ingin rasa hati berbisik~
Untuk melepas keresahan~
Dirimu...~
Rida mulai bernyanyi, yang tanpa Thalia sangka ternyata suara Rida sangat bagus dan nyaman didengar. Kini bagian depan panggung kecil itu sudah dipenuhi orang yang sedang melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan dengan seirama, tak sedikit dari mereka juga ikut bernyanyi.
Thalia menopang dagunya dengan sebelah tangan, ia tak menyangka jika Rida sepopuler ini.
Alunan musik Rida yang nyaman telinga, diiringi suara Rida yang merdu. Membuat Thalia seolah tersihir dan melupakan makanannya. Ia memperhatikan Rida dari kejauhan, tanpa sadar ia telah terpana dengan pesona Rida.
Rida terus bernyanyi sambil mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu penontonnya dan mengajak mereka bernyanyi bersama.
Walau mentari terbit di utara~
Tiba - tiba Rida berhenti bernyanyi, ia lalu menatap Thalia tepat dimatanya.
Hatiku hanya untukmu~
Uooo~
Deg!
Apa maksud Rida bernyanyi sambil menatap dirinya seperti itu?
Thalia bertanya - tanya dalam hati.
'Ah... sudahlah.' Thalia menggelengkan kepalanya.
Lebih baik ia melanjutkan kegiatan makannya, karena sepertinya tadi jantungnya berdebar kencang karena maag nya kambuh.
•••
Rida kembali ke mejanya setelah selesai menyanyikan satu lagu. Saat ia kembali, rupanya Thalia sedang asik makan hingga sudah menghabiskan empat piring, dan kini ia sedang memakan hidangan di piring kelima.
"Makan mulu lo! Tar tuh pipi makin melar tau rasa!" Sindir Rida.
"Biarin wlee..." Ucap Thalia tak peduli, sambil tetap makan.
"Gimana penampilan gue tadi? Bagus gak?" Tanya Rida dengan sorot antusias.
"Bagus! Suara lo bagus! Orang - orang sampai maju ke depan biar bisa liat lo." Puji Thalia menjawab seadanya.
"Btw, sebenarnya gue emang kerja jadi penyanyi disini." Ucap Rida jujur.
"Oh ya?"
"Iya." Jawab Rida singkat.
"Lah terus kenapa cuma nyanyi satu lagu doang?" Tanya Thalia bingung, karena setahunya penyanyi di cafe selalu menyanyikan beberapa lagu.
"Karena gue bilang hari ini gue punya tamu spesial, jadi cuman bisa satu lagu doang." Ucap Rida tanpa sadar.
"Tamu spesial? Gue?" Tanya Thalia sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ha?!" Rida tersentak, tak sadar dengan apa yang ia ucapkan. "Ye... Bukanlah, maksudnya di rumah gue lagi ada tamu gitu." Alibi Rida.
Thalia menganggukkan kepalanya, percaya.
"Berarti lo sering kesini dong?" Tanya Thalia penasaran.
"Hampir setiap hari." Jawab Rida singkat, lalu memakan brownies yang ada dihadapannya.
Thalia mengangguk - anggukan kepalanya, sekarang ia mengerti kenapa ada rumor tentang Rida suka ke club, jika mengingat posisi cafe ini yang sangat berdekatan dengan club tadi.
"Pantesan ada rumor itu ya..." Gumam Thalia yang masih bisa didengar oleh Rida.
"Rumor apaan?" Tanya Rida penasaran.
"Oh itu... Rumor katanya lo suka datang ke club terus mabuk - mabukan." Jawab Thalia dengan suara pelan, ia takut Rida akan marah.
"Ohh... Rumor itu, masih ada yang nyebarin ternyata." Sahut Rida santai.
Thalia melongo, reaksi Rida sangat berbeda dengan ekspektasinya.
"Lo... Udah tahu?" Tanya Thalia tak habis pikir.
"Iya." Sahut Rida lagi, tak merasa terganggu.
"Terus lo gak marah gitu?" Thalia tak habis pikir dengan Rida. Kalau yang digosipkan itu dia, mungkin Thalia sudah cari orang yang menyebarkan gosip itu dan mengajaknya berkelahi.
Emang agak bar - bar ya Thalia ini.
"Ya biasalah, resiko orang ganteng emang gitu." Ucap Rida PeDe sambil tersenyum congkak.
Mendengar itu, seketika Thalia mendengus malas.
"Hahahaha..." Rida tertawa renyah melihat ekspresi Thalia. "Tapi serius deh Thal, buat apa gue marah sama hal yang gak bener - bener gue lakuin." Ucap Rida kemudian, dengan nada yang lebih serius.
Thalia menyendok pasta dihadapannya sambil mendengarkan Rida dengan serius.
"Katanya gue suka mabok - mabokan, gue suka balapan liar, gue suka ke club sering banget, terus apalagi ya. Oh! Terus katanya gue suka nyewa cewek. Yah... Pokoknya banyak lah!" Ujar Rida menyebutkan rumor tentang dirinya sendiri. "Tapi yang lo harus percaya Thal. Gue gak mungkin ngelakuin itu semua, hal nakal yang gue lakuin mungkin cuman ngerokok, bolos sekolah, sama gak ngerjain tugas. Karena gue gak mau kayak seseorang." Ujar Rida tegas, walau begitu Thalia melihat sedikit kesedihan di mata Rida.
"Maksud lo?" Tanya Thalia agak tidak mengerti.
"Eh Thal, ini brownies nya enak banget deh sumpah." Ucap Rida dengan antusias. "Nih lo cobain enak banget!" Titah Rida, sambil menyodorkan sesendok penuh ke arah mulut Thalia.
Thalia merebut sendok ditangan Rida lalu memakannya.
"Emangnya gue pacar lo? Pake disuapin segala." Ketus Thalia, sementara Rida hanya tertawa.
Dalam hati Thalia menggerutu, karena sikap Rida ini bisa memicu ia memiliki penyakit jantung diusia muda.
"Thal." Panggil Rida pelan.
"Apaan?" Sahut Thalia malas, ia sibuk menyuapkan brownies ke mulutnya, karena ternyata brownies nya memang enak sekali.
"Sebenarnya, hari ini hari ulang tahun gua." Ujar Rida dengan suara yang pelan.
"Ohok!" Thalia tersedak mendengar pernyataan Rida. Ia lalu buru - buru meminum air mineral disampingnya. Thalia menatap Rida dengan mata terbelalak. "Serius?" Tanya Thalia.
"Iya." Sahut Rida singkat sambil tersenyum riang.
"Ohh... Happy birthday Rid. Semoga semua cita - cita lo tercapai aamiin... Lo sih gak bilang, jadi gue gak bawa kado buat lo." Ucap Thalia kikuk, tak enak.
"Gakpapa. Tapi... Bisa gak, lo kabulin satu permintaan gue?" Ucap Rida dengan sendu, entah mengapa suasana tiba - tiba menjadi mellow.
"Emang permintaan lo apa?"
"Tolong jadi rumah buat gue." Tukas Rida, sambil tersenyum sendu.
"Maksud lo?" Thalia menyatukan alisnya tak mengerti.
"Tolong jadi seseorang yang selalu ada ketika gue membutuhkan lo. Selayaknya rumah yang menjadi tempat berpulang ketika lelah." Pinta Rida, masih dengan senyuman sendu yang tidak pernah Thalia lihat sebelumnya ada di wajah Rida.
Thalia tertegun, ia speechless. Thalia tak tahu harus merespon apa perkataan Rida, sejujurnya Thalia juga kurang paham apa yang dimaksud oleh Rida.
Setelah mengatakan itu Rida bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke arah Thalia.
"Udah hampir jam delapan nih. Yuk pulang!"