Thalia menuruni tangga rumahnya. Ia berjalan menuju ruang keluarga yang merangkap ruang tamu lalu mendudukkan dirinya di kursi, tepat di samping Agren yang sedang menonton televisi.
Agren menoleh, merasakan kehadiran Thalia disampingnya.
"Widih... Mau kemana nih rapih benget?" Tanya Agren penasaran, melihat Thalia berpenampilan rapi dimalam hari.
Ya, setelah bingung dan mengobrak - abrik pakaian di lemarinya. Thalia akhirnya memutuskan memakai celana jeans panjang dengan baju rajut berwarna hijau yang menggelembung di bagian lengannya, tak lupa tas selempang putih tersampir di bahu kirinya lengkap dengan rambutnya yang dikuncir satu dengan rapi.
Tampilan yang cukup sederhana, karena setelah Thalia pikir - pikir, untuk apa ia repot - repot dandan hanya untuk bertemu Rida?
Thalia memainkan handphonenya, mengirimkan lokasi rumahnya pada Rida.
"Mau main." Jawab Thalia singkat.
"Main?" Beo Agren, merasa salah dengar.
"Iya." Ucap Thalia singkat.
"Coba deh lo liat keluar." Titah Agren.
"Ngapain?" Bingung Thalia.
"Ya liat lah itu langit udah item gitu! Tandanya ini tuh udah malem!" Hardik Agren. "Gak boleh! Main tuh siang bukannya malem!" Larang Agren.
"Idih apaan, mamah aja gak marah setiap kali gue main pas malem." Ucap Thalia tak terima.
"Iya itu kan mamah! Kalau gue beda!" Tegas Agren.
"Aduh... Ayolah Gren. Lagian gue selalu pulang sebelum jam delapan kok." Ujar Thalia memohon.
"Gak." Tolak Agren dengan tegas. "Oh... Jangan - jangan lo mau pacaran ya...." Tuduh Agren.
"Ih! Apaan sih?! Gak jelas deh lo!" Ucap Thalia sewot, taj terima dituduh berpacaran dengan Rida.
Baru saja Agren hendak membalas perkataan Thalia, seseorang tiba - tiba datang dan berteriak heboh.
"Apa?! Thalia punya pacar!" Teriak seorang wanita paruh baya, ia nampak syok dengan membawa spatula ditangannya yang menandakan jika ia habis dari dapur.
Thalia melotot lalu menggeleng kuat, mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
Dengan panik Thalia cepat- cepat angkat bicara, karena ia takut ibunya marah jika melihat dari reaksinya.
Ya, wanita itu adalah Nayra ibu dari Agren dan Thalia.
"Gak Mah Agren tuh sok tahu!" Bantah Thalia dengan panik. "Aku tuh gak—"
"Yaampun! Akhirnya anak mamah punya pacar juga!" Teriak Nayra histeris, kegirangan.
Thalia dan Rida bengong tak paham, lalu mereka saling berpandangan dan menggelengkan kepalanya masing - masing.
"Mamah gak marahin Thalia gitu?" Tanya Agren bingung.
"Buat apa Mamah marah? Malahan Mamah senang akhirnya Thalia punya pacar juga." Ucap Nayra bahagia sambil memeluk spatulanya, matanya berkaca seolah akan menangis karena terharu.
Thalia mendengus melihat tingkah ibunya yang berlebihan.
"Emangnya sedih banget ya kalau gue jomblo?" Gumam Thalia pelan.
"Tapi ini udah malem loh Mah!" Ucap Agren lagi mengompori. Thalia mendelik kesal mendengarnya.
"Ya, asal Thalia tahu waktu aja. Dan pulang sebelum jam delapan, seperti peraturan yang sudah Mamah buat." Bela Nayra.
Diam - diam Thalia mengulum senyum, merasa senang dibela sang ibu.
"Tapi Mah..." Belum sempat Agren melayangkan keberatannya, Nayra lebih dahulu mengacungkan jari telunjuknya menyuruh diam, membuat Agren cemberut.
"Agren kamu itu sirik ya! Karena pacar kamu ada di Bandung jadi kamu gak bisa apel kayak Thalia!" Tuduh Nayra, seketika membuat Agren terbelalak tak terima.
"Enak aja sirik." Bantah Agren dengan ketus, tak terima.
"Ya udah makannya diem." Ucap Nayra, seketika membuat Agren cemberut.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu rumah Thalia diketuk.
"Thal! Thal! Tuh pacar kamu udah dateng!" Nayra berujar heboh, sambil mengacung - acungkan spatulanya.
"Ih Mah! Dia bukan pacar aku!" Ucap Thalia masih berusaha membantah.
Namun Nayra tidak peduli, ia menarik lengan Thalia, memaksa Thalia untuk berdiri.
"Cepetan Thalia! Karunya(kasian) pacar kamu nungguin!" Ucap Nayra keukeuh.
"Bukan pacar aku Mah..." Bantah Thalia lagi, sambil bangun dari duduknya karena Nayra terus saja menarik lengannya.
"Iya - iya..." Ucap Nayra tak peduli, lalu mendorong punggung Thalia agar berjalan menuju pintu.
Thalia yang sudah lelah bantahannya tidak didengar, pasrah saja dan berjalan menuju pintu rumah.
"Nah... Sana pergi. Inget! Pulang sebelum jam 8." Peringat Nayra, saat mereka berdua sampai di depan pintu rumah yang tertutup rapat.
"Loh? Mamah gak mau ketemu dulu?" Tanya Thalia heran, melihat tadi ibunya bertingkah antusias, tapi kini seolah tidak peduli.
"Gak ah, Mamah takut ganggu. Nanti aja lain kali kamu ajak lagi pacar kamu kesini ya." Ucap Nayra sambil tersenyum berharap.
Thalia mendengus lelah.
"Bukan pacar ku Mah..." Ucap Thalia agak kesal, sambil menyalimi tangan ibunya.
"Yaudah ya... Met pacaran! Dah...." Setelah mengatakan itu, ibunya pergi melenggang kembali ke dapur.
Thalia menggeleng kecil, melihat kelakuan ajaib ibunya sendiri.
Thalia membuka pintu rumah dan langsung mendapati sesosok lelaki jangkung dengan kepala terbalut helm berdiri di depannya. Kaca helm itu tertutup rapat, membuat wajahnya tertutupi. Walau begitu, Thalia yakin itu Rida.
Rida melambaikan tangannya dan berujar, "Hai!"
Thalia melengos mengabaikan Rida, dan mengambil sepatu kets nya yang tersimpan di rak sepatu.
"Lo mau ngerampok rumah gue?" Sindir Thalia, melihat penampilan Rida yang tidak melepas helm full face nya.
Rida terdiam seperti nya kebingungan, karena ekspresi nya terlihat jelas.
"Yuk!" Seru Thalia, lalu berjalan mendahului Rida menuju motor ninja yang terparkir di depan rumahnya, yang sudah pasti milik Rida.
Rida berjalan mendekat, lalu menaiki motor dan menyalakan mesinnya tanpa berbicara. Rida menyerahkan sebuah helm berwarna putih dengan sedikit corak pink pada Thalia, Thalia menerimanya lau naik di jok belakang
"Pulangnya sebelum jam delapan ya..." Ucap Thalia mengingatkan, sambil memasang helm di kepalanya.
"Iya, pergi aja belum udah ngomongin pulang." Ujar Rida, lalu melajukan motornya menjauh dari rumah Thalia.
Keduanya pergi tanpa tahu jika Nayra dan Agren sedang mengintip mereka berdua lewat jendela sedari tadi.
"Ah, wajahnya gak keliatan." Ujar Agren kecewa.
"Iya penonton kecewa nih." Sahut Nayra sambil mengangguk setuju.
•••
Motor Rida terus melaju, membelah jalanan malam kota Jakarta.
Thalia menolehkan kepalanya ke samping, menikmati pemandangan kota Jakarta pada malam hari. Pemandangan yang tidak bisa ia dapatkan saat siang hari, karena saat malam hari, lampu - lampu jalanan menyala membuat suasana lebih indah.
Rida membawa Thalia ke daerah produktif, terlihat dari gedung - gedung besar dan pusat perbelanjaan yang mereka lewati sejak tadi.
Thalia terpukau, melihat banyak orang masih berkeliaran di tempat pusat perbelanjaan di jam segini. Pakaian - pakaian mereka pun sangat modis selayaknya selebgram atau model, membuat Thalia jadi sedikit insecure dengan gayanya sendiri.
"Rid! Kita mau kemana sih?" Tanya Thalia mulai bosan.
"Liat aja nanti, sebentar lagi juga kita sampai." Ucap Rida sok misterius.
Thalia mengangguk menurut.
Tak selang berapa lama, Rida menyeberangkan motornya. Perlahan laju motor Rida melambat, membuat Thalia berpikir jika mereka sudah sampai.
Thalia menolehkan kepalanya ke samping, penasaran tempat apa yang mereka datangi.
Mereka berhenti didepan sebuah bangunan besar, dengan lampu kelap - kelip menghiasi bangunan tersebut. Thalia membaca tulisan besar yang terpampang di dinding bangunan itu.
Tulisan itu berbunyi : Club Joss.
"Anjir!" Celetuk Thalia kaget, ia melotot tak percaya.
Dengan takut - takut Thalia melirik Rida yang sedang membuka helm-nya.
'Ini seriusan?!' Thalia bertanya dalam hati.
Deg... Deg... Deg...
Tiba - tiba saja jantung Thalia berdebar kencang, ia ketakutan setengah mati.
'Jangan - jangan, Rida emang suka nongkrong di sini kayak rumor yang disebutin Lina.' Pikir Thalia, teringat ucapan Lina waktu itu.
'Aduh... Sekarang gimana kalau dia bawa - bawa gue buat nakal?! Gue gak mau!!' Thalia berteriak panik dalam hati.
Thalia menggelengkan kepalanya dengan kuat.
'Gak bisa gini! Gue harus membela diri dan menegakkan kebenaran!' Tekad Thalia dalam hati.
Thalia mengalungkan lengannya ke leher Rida, dan menariknya membuat Rida tercekik.
"Arghh! Ohok! Ohok! Lo ngapain?!" Teriak Rida kaget sekaligus kesakitan.
"Lo mau bawa ke tempat kaya gini?! Lo pikir gue cewek apaan ha?!" Hardik Thalia tersinggung.
"Tempat kayak gini gimana Ohok maksud lo?!" Teriak Rida tak paham, sambil berusaha menjauhkan lengan Thalia dari lehernya.
"Jangan - jangan pura - pura bego ya lo! Lo pikir lo bisa terus - terusan bohongin gue hah?!" Hardik Thalia marah dan terus mengencangkan kuncian lengannya.
"Ohok! Ohok! Lepas-sin gue!" Mohon Rida dengan suara yang hampir tidak ada.
"Makanya jangan macam-macam sama gue! Lo lupa gue ikut perguruan silat!" Ucap Thalia tajam.
"Mbak! Apa yang mbak lakuin?!" Teriak seorang lelaki tiba - tiba.
Thalia menoleh, mendapati seorang satpam dengan wajah sangar tengah menatapnya tajam.
"Ada... Apa?" Bingung Thalia, melihat satpam itu terus menatapnya dengan tidak ramah.
"Turun! Cepat turun sekarang!" Hardik satpam itu dan langsung menarik paksa lengan Thalia untuk turun dari motor, sehingga kuncian si leher Rida ikut terlepas.
"Ada apa ini pak?" Tanya Thalia bingung. Kebingungan semakin bertambah saat satpam itu memegangi kedua lengannya dengan kuat.
"Jangan - jangan pura - pura! Saya lihat kamu mau menyakiti mas ini! Kamu begal ya?!" Tuduh satpam itu, seketika membuat Thalia terbelalak.
Begal?
Aduh... Thalia mengaduh dalam hati, kenapa jadi ruwet begini?
Thalia mengedarkan pandangannya dan ternyata, banyak sekali orang mengelilingi mereka! Membuat Thalia seketika mengerti jika keributan yang ia buat sudah menarik perhatian orang-orang.
"Aduh Pak... Saya itu bukan begal!" Ucap Thalia sungguh - sungguh.
"Dimana ada penjahat ngaku! Udah kamu ikut saya aja ke kantor polisi!" Ujar satpam itu tegas.
Mata Thalia terbelalak mendengar ucapan satpam itu.
"Polisi?!" Ulang Thalia tak percaya sekaligus kaget.
'Aduh... Gimana nih...? Masa gue mau dibawa ke kantor polisi?!' Panik Thalia dalam hati.
Thalia memutar otaknya, mencari cara untuk meyakinkan satpam itu kalau ia bukan begal!
Thalia melihat Rida yang turun dari motornya masih dalam keadaan kesakitan, sepertinya Rida belum sadar dengan apa yang sedang terjadi, karena teknik kuncian biasanya menguras energi lawan.
Dengan cepat Thalia berpikir, dan tanpa pikir panjang Thalia menarik lengan Rida dan memeluknya.
"Saya bukan begal Pak! Saya itu pacarnya dia!" Ujar Thalia dengan lantang, yang seketika membuat kesadaran Rida kembali sepenuhnya.